My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Safety


__ADS_3

Cuaca pagi yang tak mendung dan tak lah terik, cuaca kini sangatlah bersahabat.


Yoan terus menatap Haara yang masih terlelap di hadapannya.


Wajah gadis itu menunjukkan raut lelah, terdengar jelas suara nafas kelelahan gadis itu tidak bisa di bohongi.


Yoan tak berniat untuk membangunkan tidur pulas AtHaara meski perut nya terasa lapar sekali saat ini.


Pria itu perlahan turun dari kasur dan melangkah ke kamar mandi.


• • •


Haara perlahan-lahan membuka matanya, samar-samar terdengar suara kicauan burung bersahutan membuat gadis itu terbangun bukan karena terusik dengan kicauam burung-burung.


Ia melirik ke sebelahnya, ia tak mendapati Yoan di sebelahnya, ia meyakinkan jika pria itu ada di dalam kamar mandi.


"Ahw~" ringis Haara perlahan-perlahan menduduki dirinya mentap keluar jendela, tidak lupa ia menutupi tubuh depannya menggunakan selimut.


"Cuaca nya, ahh~ menenangkan sekali di hari libur seperti ini." gumam Haara tersenyum.


Namun, senyumnya tak bertahan lama karena ia teringat satu hal.


Yoan akan terbang ke Korea malam ini.


Srkk!


Haara terkejut karena tanpa sadar Yoan ada di belakangnya dan kini pria itu meletakkan dagunya di pundaknya.


Cup!


"Sudah bangun? aku kira kau akan bangun siang." seru Yoan mencium pipi Haara sekilas.


"Mm~ aku itu sebenarnya masih mengantuk, tapi aku harus buat sarapan untukmu, pasti kau lapar." seru Haara gugup.


Cup!


lagi-lagi pria itu mencium pipinya.


"Hmm~ aku lapar." seru Yoan dengan suara baritonnya, pria itu menyembunyikan wajahnya di leher Haara membuat gadis itu menahan geli.


"Kamu mau aku buatkan apa?" tanya Haara yang terusik.


pria itu tak menjawab, pria itu terlalu sibuk dengan kegemarannya mengendus leher Haara.


"ih! Yoaan~ hentikan! aku belum mandi! jangan dekat-dekat!" malu Haara mendorong tubuh Yoan.


"aku tahu kamu belum mandi, tapi aku suka harummu." seru Yoan yang mencoba mendekayi Haara.


Haara pun sigap menahan tubuh Yoan.


"tidak! aku sedang bertanya tadi kamu mau ..."


"Makan kamu boleh?" tanya Yoan menggoda.


Ucapan Yoan itu membuat hatinya berdegup kencang.


"Ka-kau wangi sekali, sudah mandi?" tanya Haara mengalihkan pembicaraan yang sudah jelas-jelas ia sendiri tahu jawabannya.


"Kenapa tanya? ah! jangan-jangan kamu kecewa karena aku sudah mandi duluan ya? tak apa deh aku mandi lagi, mau mandi bersama denganku?" tanya balik Yoan menggoda Haara.


"Ih! Yoan, pembicaraanmu pasti saja terus mengarah ke hal-hal mesum! sebal!" merajuk Haara.


"Ahahaha! Maaf maaf, jangan merajuk lagi ya, kamu mau sarapan apa? Kita delivery atau mau makan di luar?" tanya Yoan.


"Makan roti selai saja, dan aku juga mau makan bakpao isi daging Yoan." sahut Haara.


"Bakpao?" bingung Yoan.


"Hm, tapi beli di mana ya? jujur saja dari kemarin aku nonton drama lihat pemain nya makan bakpao, aku jadi ingin." kekeh Haara.


"Sepertinya delivery saja." seru Yoan mulai memesan di ponselnya.


Haara mengangguk senang.


●•●•●•●•●


Kini mereka telah berada di dalam mobil, mereka kini memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Lucy dan Juan.


Yoan melirik Haara yang terfokus melihat keluar jendela.


Gadis itu tak bicara apapun dan sedikitpun.


"AtHaara?" panggil Yoan.


"Hoamm~ Hm? Iya Yoan?" sahut Haara menguap.


"Kamu mengantuk?" kekeh Yoan.

__ADS_1


"Aku mengantuk." sahut Haara.


"Sedikit lagi sampai, nanti tidur di kamar saja ya." seru Yoan.


"Hm~ iya Yoan." gumam Haara mengucek-ngucek matanya.


●•●•●•●•●


Mereka kini telah tiba di rumah Juan dan Lucy, Yoan memarkitkan mobilnya di oekarangan rumah mertuanya, dan saat masuk ke dalam rumah mereka mendapat sambutan hangat dari Lucy dan Juan tentunya.


Lucy terkekeh saat melihat Haara yang merengek saat bicara dengan Yoan entah apa yang anaknya itu rengekkan.


"Ngga mau~ nanti bakpao nya datang, dan aku ketiduran beneran yang ada kalau aku tidur di kamar~" tolak Haara.


"Ya sudah, kemarilah, tiduran di pangkuanku." seru Yoan menepuk-nepuk paha nya.


Haara tersipu malu dan langsung menatap kedua orang tua nya yang menahan senyum saat melihat tingkahnya.


"Ng-ngga mau, bicara apa sih! ad-ada mama sama papa! ak-aku tiduran di bantal saja." tolak Haara.


"Malu-malu segala, anggap saja mama dan papa tak ada deh~" goda Juan.


"Ih papa~" seru Haara.


Ting! Tong!


Semua nya pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu, Haara menatap Yoan yang bangkit berdiri dan melangkah keluar.


"Yeyy!! Bakpao nya sudah dataaang!!" antusias Haara.


"Tingkahmu~ sama sekali tak berubah, masih seperti anak kecil saja." kekeh Lucy.


"Benar sekali, Yoan pasti kepusingan saat menghadapi sikap kebiasaanmu seperti ini." tawa Juan.


"Tidak pa, melainkan aku menyukainya, menggemaskan." seru Yoan duduk di sebelah Haara.


"Yo-Yoan~" tersipu Haara.


Lucy dan Juan terkekeh mendengar kejujuran Yoan.


"Papa, mama, aku sengaja beli banyak, mari makan bersama." senyum Yoan.


"Terima kasih, nanti kami makan." sahut Juan.


"hahh~ dari bau nya sangat enaak!" antusias Haara akan mengambil bakpao, namun siapa sangka Yoan menahan tangan Haara.


Lucy dan Juan yang mendengar kewaspadaan kecil Yoan pun saling senggol menyenggol.


Begitu juga Haara yang tak bisa menahan senyumnya menanggapi kewaspadaan Yoan.


"Ini, makan pelan-pelan." seru Yoan dengan raut waspada.


"Iya Yoan~"


"Aduhh~ jadi ingat masa muda jadinya, AtHaara tingkahnya ini sangat mirip dengan mama, sangat mirip." tawa Juan.


"Papaa~" seru Haara semakin malu.


Haara menatap Yoan yang terkekeh di sampingnya.


• • •


Kesunyian kini terasa jelas di kamar, Yoan terus menatap Haara yang tidur di pangkuannya.


Sesekali ia menyisir rambut gadis nya yang tengah terlelap sambil memeluk tangan kanan pria itu.


"Beberapa bulan, aku pasti akan merindukan moment-moment kau bertingkah manja padaku seperti saat ini, AtHaara." sedih Yoan.


Ingatan hal yang membuatnya bahagia semalam terngiang di benaknya, ia terkekeh saat mengingat wajah malu-malu dan menggoda gadis itu semalam.


"Wajah dan tingkahmu benar-benar seperti anak kecil, seharusnya orang-orang yang melihatnya hanya sekedar gemas saja, tapi kenapa yang ada mereka menyukaimu, seperti aku juga." heran Yoan mengusap pipi Haara sayang.


Drrt! Drrt!


Suara getar notifikasi pesan masuk terdengar, Yoan dengan perlahan menarik tangannya yang Haara peluk erat itu.


"mm~ Yoann~" gumam Haara kembali memeluk tangan Yoan erat, hal itu membuat Yoan terkekeh.


"Gemasnya~ hahh, terpaksa ambil pakai tangan kiri." gumam Yoan menahan gemas, pria itu dengan susah payah mengambil ponselnya di kantong sebelah kanan.


Ia mendapat pesan dari Anna yang menanyakan keberadaannya dengan Haara dimana, dan dengan perlahan karena sulit, ia membalas pesan Anna mengetik dengan tangan kiri.


"Ku harap, hal-hal yang membuatmu bahaya tak akan terjadi lagi AtHaara." seru Yoan penuh harap.


Ceklek!


"Waaa! Ap ..."

__ADS_1


"Sttt!!!" desut Yoan pada Anna dan Ammar yang datang.


"Ahh~ sedang tidur~" seru Ammar berbisik.


Anna terkekeh saat melihat kewaspadaan Yoan yang takut membuat adik nya terbangun di pangkuannya.


"Tumben dia tidur? Apa semalam dia tak cukup tidur?" tanya Anna bingung.


"Dia kurang tidur karena lelah brlajar." sahut Yoan beralasan.


"Hahh, ujiannya besok ya? sungguh ia memiliki keinginan belajar sendiri??" tanya Anna.


"Aku yang menyuruhnya belajar, karena ini adalah ujian, aku menakutinya jika ia tak giat belajar, maka ia tak akan lulus." sahut Yoan.


"Baguslah, meski dulu aku menakutinya begitu, ia tak memperdulikan ucapanku, seperti nya ia lebih takut denganmu ya~" kekeh Anna.


"Sepertinya begitu." kekeh Yoan juga.


"Jangan terlalu seram, nanti Haara akan mimpi buruk saat melihat wajah serammu saat marah dan serius." seru Ammar.


"Omong kosong, dia memang takut padaku, namun takutnya ia padaku kini jatuhnya ia akan menjadi lebih penurut dan menghargai setiap ucapanku demi kebaikannya juga." sahut Yoan tersenyum tipis.


"Adik ipar yang baik, terus bimbing adikku yang masih kecil ini ya." seru Anna.


"Tanpa kau suruh aku akan lakukan itu."


"Tidurnya lelap sekali, sampai kita bicara pun ia tak terusik sama sekali." heran Ammar.


"Biarlah, mungkin dia sangat nyaman tidur di pangkuan Yoan." seru Anna memaklumi.


"Oh iya, Ammar. Mengenai perintah yang ku suruh kau tak lupa kan?" tanya Yoan.


"Ah! Tenang saja, mereka akan ikut nanti malam ke Bandara, karena tugas mereka akan mulai berjalan nanti malam." jawab Ammar.


"Bagus, sekiranya aku masih sedikit lega." sahut Yoan.


"Mereka? Ikut nanti malam ke Bandara? Tugas mereka? Mereka siapa?" tanya Anna bertubi-tubi.


Ammar dan Yoan tersenyum penuh arti, hal itu membuat Anna bingung.


"Bodyguard yang ku pekerjakan untuk menjagamu dan juga AtHaara." sahut Yoan.


"Ha! Bodyguard??" terkejut Anna.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Auhor:...


..."langsung pekerjakan bodyguard dong😆 waspada yang sebenarnya nih😆 gimana pendapat part kali ini nih? tulis di komentar ya😁"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐

__ADS_1


__ADS_2