
Haara menyeruput es coklatnya sambil melihat pemandangan sore hari kota dari jendela besar penthouse nya.
Sungguh gambaran yang indah dengan langit berwarna jingga.
Tuk!
Haara sedikit terkejut dengan kehadiran Yoan yang tiba-tiba meletakkan dagu pria itu di pundaknya.
"Eh? Sudah bangun?" tanya Haara melirik ke wajah Yoan di pundaknya.
"Hm." dehem Yoan berat sambil melingkarkan tangannya di tubuh mungil Haara.
"Ah! Matahari nya akan terbenam!" seru Haara tersenyum kaku melihat matahari yang akan terbenam.
"Jadi dari tadi kau menunggu matahari terbenam ya?" tanya Yoan dengan suara baritonnya.
Haara mengangguk.
"AtHaara." panggil Yoan.
"Hm?"
"Aku ... malam ini ingin mengerjakkan tugas di kantorku yang tertunda, hanya untuk malam ini saja di ruang kerjaku, boleh ya?" seru Yoan ragu.
Haara tertegun mendengarnya, bahkan pria itu izin terlebih dahulu padanya.
"Apakah pekerjaannya banyak?" tanya Haara.
"Lumayan, agar kesibukkan ku bisa menjadi singkat waktunya." seru Yoan.
Haara tersenyum tipis.
"Boleh, asal jangan sampai larut malam sekali, jika itu terjadi aku akan menghukummu." ancam Haara.
"Menghukumku? Apa itu hukumannya?" tanya Yoan penasaran.
"Tidur di sofa ditambah tak ada ..."
"Baiklah, aku tak akan pernah berfikir unuk membantah ucapan istriku." sela Yoan yang tahu apa lanjutan ucapan Haara.
Haara terkekeh.
Cup!
"Eh!" terkejut Haara saat Yoan mencium pipi nya.
Pria itu mengambil es coklat milik Haara dan meminumnya habis.
"Ya sudah, aku ke ruang kerjaku dulu." seru Yoan memberikan gelas kosong dan pergi.
Haara ingin protes namun perlahan ia memegang pipinya dan tersenyum senang.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara telah selesai masak makan malam, ia menghela nafasnya lelah namun ia merasa senang dengan hasil masakannya.
"Sepertinya aku semakin mahir membuat Spaghetti Carbonara nya~" kekeh Haara.
"Hahh, tinggal bawa ke atas saja deh, pasti Yoan sudah lapar." senyum Haara membawa nampan berisi dua piring spaghetti carbonara dan dua gelas air putih."
• • •
Yoan menyandarkan dirinya di kursi kerjanya, ia merasa lapar saat ini.
"Ahh~ lapar, Haara sudah tidur belum ya?" gumam Yoan menatap langit-langit.
"Buat sendiri saja lah." seru Yoan bangkit berdiri.
Yoan membuka pintu ruang kerjanya, ia sedikit terkejut mendapati Haara yang berdiri di depan pintunya.
"E-eh, fiuh~ hampir saja, mengejutkan saja tiba-tiba keluar, baru saja mau aku ketuk." seru Haara.
"Ah, maaf aku tak tahu." sahut Yoan menatap spaghetti carbonara yang Haara bawa.
Haara sedikit pegal memegang nampannya karena Yoan tak berniat untuk memberinya jalan.
"Yoan, aku pegal, ayo kita makan ini bersama di ruang kerja mu." seru Haara ragu.
Yoan yang tersadar pun menggaruk tengkuknya.
"Ah, biar aku bantu." seru Yoan mengambil nampan di tangan Haara.
"Terima kasih." senyum Haara membuntuti Yoan yang duduk di sofa.
"Ku kira kau sudah tidur, baru saja aku ingin turun untuk buat makanan." seru Yoan.
"Tidur? Bahkan kau belum makan, mana bisa aku tidur." sahut Haara menata piring dan gelas di atas meja sofa itu.
Yoan tak bisa menahan senyum lebar nya.
"Lihatlah, ku buatkan spaghetti carbonara kesukaanmu! kau harus coba, aku semakin mahir membuatnya lho!" seru Haara antusias.
Yoan terkekeh.
"Suapi aku." seru Yoan menatap Haara.
Haara tersipu malu, ia pun menyendokkan spaghetti itu dan menyodorkannya di depan mulut Yoan.
"buka mulutmu." ucap Haara lembut.
Yoan tentu membuka mulutnya dan memakan spaghetti itu.
"Enak, kau sungguh semakin mahir membuatnya." puji Yoan serius.
"Sungguh?? Ahh~ senangnya!" bahagia Haara.
Yoan pun dengan lembut mengambil garpu dan sepiring carbonara di tangan Haara.
"Lho? Kok di ambil?" bingung Haara.
"Aku makan sendiri, kamu makanlah spaghetti mu, kita makan bersama." seru Yoan mencubit hidung Haara pelan.
"Baiklah, ayo kita makan bersama." sahut Haara dengan senyuman tak pernah luntur.
__ADS_1
• • •
Yoan melirik Haara disampingnya yang terlihat jelas gadis itu menahan ngantuk, mereka telah selesai makan beberapa menit yang lalu.
"AtHaara~"
"Ah iya Yoan apa??" sontak Haara.
"Kamu sudah mengantuk, pergilah tidur." seru Yoan.
Haara memgucek-ucek matanya sambil mengangguk-angguk.
"Apa pekerjaanmu masih banyak?" tanya Haara.
"Sedikit lagi selesai kok, kamu pergi tidur duluan saja." senyum Yoan.
"Aku akan menunggumu saja sampai selesai." sahut Haara cemberut.
"AtHaara~ pergi tidur sekarang, pekerjaanku sedikit lagi selesai, aku akan menyusul nanti." seru Yoan menangkup kedua pipi Haara dengan satu tangannya membuat bibir Haara maju seperti bebek.
"Sungguh?" tanya Haara kesulitan bicara.
Yoan mengangguk.
Cup!
Yoan mencium bibir Haara sekilas.
"Akhu mawu taruh ini ke bawah dulu barhu phergi thidur." seru Haara kesulitan bicara.
"Sebentar, aku ingin meminta jatah malam ku dulu." seru Yoan gemas.
Haara mengangguk paham.
Cup!
Yoan kembali mencium bibir Haara lama, pria itu memberikan ******an kecil dan menjadi ******an yang menuntut.
"Awh! Yoan sakit~" rengek Haara.
"Aku merasa gemas pada bibirmu, baiklah aku akan sedikit lembut." seru Yoan dengan tatapan sayu.
Yoan kembali mencium Haara dan terus-terusan memperdalam ciumannya pada gadisnya itu.
Sungguh sangat candu sekali bibir mungil gadis nya itu.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Keesokan.
Pagi hari kemudian.
Seperti biasa Yoan mengantar Haara ke sekolah.
Namun kali ini sedikit berbeda, hal itu membuat Haara kebingungan karena Yoan memparkir mobilnya di area sekolah nya.
"Eh, Yoan??? Kenapa di parkir sampai ke area sekolahku???" bingung Haara.
Haara tak berani menimpali, karena ia sadar jika mood pria itu sedang buruk.
"Kau turun saja, arah ke ruangan paman dan kelas mu beda arah, bukan?" tanya Yoan dengan cepat merubah ekspresinya.
'Pantas saja pakai baju santai.' batin Haara.
"Kamu sendiri? Tak aku antar??" tanya Haara.
Set!
Haara memundurkan tubuhnya saat Yoan yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada dirinya.
"Kenapa? Takut aku di godain siswi SMA yang seumuran denganmu, hm?" goda Yoan.
"Ng-nggak! A-aku cuma nanya saja, kenapa bahasnya kesitu-situ sih??" gugup Haara.
"Jadi tak apa aku di godain siswi di sekolah ini?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak boleh!" sahut Haara cepat.
"Tadi katanya ngga takut aku di godain siswi di sekolahmu." goda Yoan lagi.
Haara menatap Yoan tajam.
"Jika kau berani merespon, ku pastikan aku akan merespon pria lain!" ancam Haara turun dari mobil Yoan.
Yoan yang mendengarnya terkekeh, sisi lain ia merasa menyesal telah menjahili Haara dan mendapat ancaman yang membuat hatinya mencelos.
"Ancamannya sungguh sangat menyeramkan." seru Yoan melirik ke arah Haara yang lari masuk ke dalam pintu utama sekolah.
Yoan memakai topinya dan juga jaketnya, ia tak ingin siswa-siswi menyadari kehadirannya sebagai tunangan dari istrinya sendiri ini di kenali murid-murid.
Bruk!
Yoan menutup pintu mobilnya, ia menundukkan topinya dan melangkah masuk ke pintu utama sekolah.
• • •
"Cih! Awas saja berani merespon dia! Menyebalkan!" kesal Haara cemberut saat berjalan di aula.
Namun perlahan tatapannya berubah menjadi kebingungam saat melihat siswa-siswi lain menatap nya dengan tatapan aneh dan langsung membicarakannya.
'Ada apa ini? Kenapa dengan mereka? Kenapa menatapku seperti itu semua??' bingung Haara.
"Haara!!"
Haara yang terpanggil pun membalikkan tubuhnya.
"Alka Riza, kenapa kalian ..."
"Sepertinya kita terlambat Alka." eru Riza ngos-ngosan saat melihat kebelakang Haara.
"Ha?" bingung Haara.
"Adik AtHaara."
__ADS_1
Haara yang mendengar namanya di panggil pun kembali membalikkan tubuhnya.
"Kak .. Ray, kak Yura?? Ada apa ya?" tanya Haara pada dua orang guru pembimbing di depannya.
"Datang juga, ikut kakak ke lapangan yuk!" ajak Ray.
"Eh ngapain kak?" bingung Haara.
"Sudah ikut saja." seru Yura menarik Haara ke arah lapangan.
"Aduh, Yifan mana sih?? Itu anak pasti kesiangan!" kesal Riza.
"Kita harus gimana sekarang??" panik Alka.
"Kita ikuti saja, ayo!" seru Riza.
• • •
Haara kebingungan setengah mati karena kini para guru pembimbing atau bisa di sebut separuh senior alumni dari sekolah ini empat tahun yang lalu berkumpul semua di lapangan.
Haara melirik sekitarnya, kini ia sedang menjadi tontonan siswa-siswi disana.
"Kak Yura, kenapa sih?" tanya Haara kebingungan.
"Lihat didepanmu." seru Ray.
Haara menatap ke depannya, ia mendapati Zen di depannya yang memegang bunga dengan senyuman bahagia di wajahnya.
Haara membelalakan matanya terkejut.
'Jangan bilang dia ... ZEN! Benar-benar tak waras!!' batin Haara takut dan kesal.
"AtHaara, ayo kita flashback!" seru Zen dengan nada keras membuat siswa-siswi yang mendengarnya terkejut dan berbisik-bisik.
"Aku telah mencarimu, dan akhirnya menemukanmu, bisakah kau memberiku kesempatan untuk kembali?" tanya Zen.
Haara memejamkan matanya rapat-rapat, kini semua nya telah mengetahui hubungan dirinya dan Zen dimasa lalu.
"AtHaara, perlu kau tahu, aku dari dulu hingga sekarang masih mencintaimu! Ayo kita flashback dan menikah setelahnya."
Sorakan dari para senior terdengar dan mengucapkan kalimat 'terima' berulang kali.
"Bahkan aku sudah menjawabnya, aku sudah tak mencintaimu lagi! Apa kau tak dengar!?" sahut Haara menahan malu.
"Aku tak percaya itu, cinta pertamamu itu adalah aku, aku tak percaya kau sudah melupakanku, bahkan kau sangat mencintaiku." seru Zen melangkah mendekati Haara.
"Apa pendengaran mu bermasalah?? Aku sudah tak mencintaimu lagi! Bahkan aku sudah bertunangan dengan pria yang mencintaiku begitupun aku juga mencintainya!!!" bentak Haara emosi.
Zen memegang kedua tangan Haara erat.
"Lepas!!" bentak Haara meronta.
"Tapi Haara ..."
Tk! BRUK!!
Genggaman tangan Zen terlepas, pria itu terjatuh.
Semua nya yang menonton pun terkejut.
Haara dan Zen sontak terkejut melihat siapa yang datang.
"Yo-Yoan??" terkejut Haara mematung.
Yoan menarik Haara untuk bersembunyi di belakangnya.
"Siapa lagi ini??" tanya Zen kesal menhingat kejadian saat di tendang Yuu dan di halangi lagi dengan Yifan.
"Beraninya kau mengucapkan pernyataan menjijikan itu pada gadis ku, bedeb*h sial*n." seru Yoan datar.
"H-ha??! Beraninya kau ..."
Ucapan Zen terhenti saat Yoan membuka topinya, Yoan menatap Zen tajam dan penuh kebencian.
"Tu-tuan Yoan???!" terkejut Zen.
Semua guru pembimbing atau bisa disebut senior alumni disana terkejut bukan main, namun lain cerita dengan para adik kelas dan teman satu angkatan dengan Haara yang bersorak gembira.
"Jangan kau sentuh tangan kotormu pada tunanganku!" seru Yoan dengan tatapan kilat.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "kira-kira bakal berantem ngga ya? padahal itu di sekolah🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐