
"Mentalmu akan terganggu seperti dulu lagi" seru dokter Wang berat saat mengatakan dengan sejujurnya.
Yoan terdiam saat mendengarnya tak ada ekspresi dari pria itu, tatapannya kosong.
"Aku harus mengkonsultasi pasienku, aku tinggal ya" pamit Dokter Wang,
Ammar melirik ke arah Yoan, sahabatnya itu tak bisa berekspresi sedikitpun,
Ia teringat ucapan Haara kemarin malam
...'Itu .. Akan mempengaruhi mentalmu .. Lagi'...
Matanya membulat sempurna saat mengingat ucapan gadis itu,
Ada kata 'lagi' diakhir ucapannya
Yoan menatap Ammar dengan tatapan tak percaya,
"Apa kau menceritakan semuanya pada Haara, Ammar?!" emosi Yoan bangkit berdiri,
Ammar pun ikut berdiri perlahan, ia mengangguk,
Yoan mencengkram kedua pundak Ammar dan menatap nanar Sahabatnya itu,
"Kenapa kau berceritakan ini padanya!"
"Karena dia berhak tahu Yoan" sahut Ammar menatap Yoan sendu,
"Dia tak perlu tahu mengenai diriku!jangan pernah menceritakan apapun padanya!" emosi Yoan
"Kenapa kau marah?! ucapan ku tak salah sedikitpun! dia istrimu sekarang! ia berhak tahu, jangan buat dirinya menjadi orang asing dalam hidupmu!" sahut Ammar kesal,
Yoan tercegang mendengarnya,
"Kenapa kau berusaha menutupi ini darinya? bahkan ia sudah tahu jika kau memiliki trauma yang berat, kau sendiri yang menunjukkan ke traumaan mu itu di depannya, sekarang kau berusaha untuk menuntupi apa Yoan?" tanya Ammar sendu,
Perlahan kedua tangannya melemah dan turun dari pundak Ammar,
"Aku tak menyuruhnya sedikitpun untuk mencaritahu masa lalumu, tapi ia sendiri yang bertanya padaku kemarin,lalu apa gunanya aku berbohong padanya? ia perlu tahu" jelas Ammar serius,
"Apa ia bertanya tanya padamu?" tanya Ammar menatap Yoan yang tertunduk,
"Apa aku pun tak perlu melarangnya yang ingin masuk dalam ke kehidupanku?" tanya Yoan tersenyum miris,
"Jangan menutup dirimu saat ia ingin masuk dalam kehidupanmu, kau tahu apa artinya?" tanya Ammar tersenyum,
Yoan menatap sahabatnya yang tersenyum,
"Secara tak langsung ia mengatakan akan menerima masalalu mu" seru Ammar,
Yoan terkejut mendengarnya,
●•●•●•●•●
Haara membuka matanya perlahan, ia tertidur diruang santai,
Ia menduduki dirinya perlahan, tangannya mencoba mencari sesuatu,
"Ponselku? ah iya aku tak punya ponsel" serunya dengan suara bangun tidurnya.
Matanya terbelalak saat jam dinding menunjukkan jam enam kurang,
"Ya ampun aku niatnya cuma tidur 2 jam kenapa jadi 4 jam,aduhh~" serunya yang bangkit berdiri,
Meski masih sedikit sakit, namun sakitnya tidak seperti tadi pagi,
"Masak apa ya? hmm~ lagi keingin makan makanan pedas" serunya pada diri sendiri
"Ahh aku butuh musik~hampanya hidupku tanpa ponsel~aku ingin bertukar pesan Riza dan Alka" rengek nya,
Haara bersenandung saat ini, tangan nya yang sibuk memotong bahan bahan untuk dimasak,
Memakan waktu 20 menit akhirnya masakannya pun selesai, ia memasak 4 jenis makanan, dari makanan berkuah dan tidak, dan satu menu yang ia sukai, daging pedas manis asin.
Haara menghirup daging pedas buatannya, ia menutup hidungnya karena baunya begitu menyengat pedas dihidung nya,
Ia melangkah berbalik untuk menata menu terakhir di meja makan,
"Astaga!! Yo Yoan! sejak kapan ..Tunggu?kau .. Sudah pulang dari tadi??" tanya Haara menyadari jika pria itu memakai baju santai,
Yoan mengangguk, ia tengah bersandar di meja bar saat ini.
__ADS_1
"Kapan? kenapa aku tak melihatmu pulang??" bingung Haara,
"Setengah jam yang lalu" sahut nya mengambil potongan daging di mangkuk yang sedang Haara pegang dan memakannya,
"Huaah!!~" kepedasan Yoan yang secepat kilat mengambil air minum di kulkas,
Haara menatap Yoan bingung,
"Apa yang kau masak itu? La Ji Zi?" tanya Yoan yang kepedasan,
"La Ji Zi? apa itu?" tanya Haara polos,
"Makanan China yang terkenal sangat pedas katanya" seru Yoan meminum air nya lagi,
Haara mengangguk paham,
"Ahh hahhh!! pedas nya tak mau hilang" panik Yoan yang masih merasa kepedasan,
Haara menyimpan daging pedas nya di meja bar, ia mengambil air hangat dan menyodorkan pada pria itu,
"Pedas nya akan hilang lama jika meminum air dingin, minum air hangat" seru Haara menyodorkan,
Yoan mengambilnya dan meminumnya perlahan, dapat Haara lihat, mata pria itu berlinang,
Yoan menatap Haara bingung,
"Untuk apa kau memasak makanan sepedas itu??"
"Ini untukku, aku suka makanan pedas" seru Haara riang,
"Kau mencoba ingin meracuni perutmu??"
"Perutku sudah bersahabat dengan pedas, jadi tak masalah" sahut Haara membawa daging pedas nya ke meja makan,
Yoan melangkah ke meja makan dan menduduki dirinya,
Mereka pun mulai makan,
Yoan menatap gadis di depannya memakan makanan yang membakar lidahnya tadi dengan lahap, Yoan menatap Haara tak percaya,
"Kau mau lagi?" tanya Haara menggoda Yoan,
"Enak lho"
"Aku tidak suka makanan pedas" sahut Yoan,
"Lemah, makanan pedas saja tidak suka" sahut Haara meledek,
Yoan tak menghiraukan ledekan gadis itu.
• • •
Makan malam pun berakhir, Haara mencuci peralatan makan tadi.
Ia sedikit terkejut saat Yoan mengambil spon di tangannya,
"Aku yang cuci, kau keringkan piring dengan lap saja, sambil duduk" seru Yoan,
"Eh? mm baiklah" sahut Haara mengambil kursi dan mulai mengelap piring, mangkuk dan sendok yang Yoan cuci.
"Bagaimana kakimu? sudah bisa berjalan normal?" tanya Yoan fokus mencuci piring,
"Sudah, tadi diurut membuat kakiku lebih enakan dan tak begitu sakit" jelas Haara menatap lututnya,
"Perbannya sudah diganti?" tanya Yoan,
"Mm sudah tadi siang"
"Sekarang?"
"Mm belum"
Yoan memutar kran air dan mengeringkan tangannya,
"Ganti perban dulu" sahut Yoan mengambil lap ditangan Haara dan mengeringkan sisa peralatan makan yang ia cuci tadi,
"Esok saja"
Yoan menyimpan lap itu menatap gadis di depannya sambil menghela nafasnya,
"Sudah sembuh kok" sahut Haara pelan,
__ADS_1
"Obati dulu" seru Yoan,
"Tidak, aku takut mengobati lukaku sendiri" sahut Haara cepat, tatapannya masih pada lutut nya
"Biar aku yang mengobati"
Haara menatap Yoan tak percaya,
"Tidak tidak! a aku ngantuk aku mau tidur" seru Haara bangkit berdiri,
Langkah nya terhenti saat Yoan menghalangi langkahnya,
"Baru bangun tidur beberapa menit lalu beralasan ngantuk?" tanya Yoan menatap Haara nanar, ia melangkah mendekati Haara
Haara memundurkan langkahnya demi langkah saat Yoan melangkah terus mendekat,
"I iya iya aku mau diobati" sahut Haara menahan tubuh Yoan agar tak melangkah terus mendekatinya.
• • •
Haara memerhatikan Yoan yang berjongkok didepannya tengah membuka perban lukanya,
Ia merasa gugup sekali,
Yoan membersihkan luka di lutut Haara menggunakan air hangat,
Haara meringis saat merasa perih saat Yoan mengeringkan luka nya,
Yoan yang mengetahui meniup lutut Haara,
Haara menatap pria itu tersenyum, Yoan terlihat fokus dan hati hati saat mengobati lututnya itu,
"Aw aw aw perih perih perih huwaaa perih!!" ringis Haara menyadari jika lututnya di beri obat merah, ia mengipas ngipas kan lukanya yang terasa perih,
"Diamlah, aku belum selesai" seru Yoan menahan kaki Haara,
"Tapi tapi ini perih sekali tahu!" sahut Haara gemetar,
Yoan menatap Haara yang meneteskan air matanya, dengan panik Yoan meniup luka Haara dan mengipas ngipaskan tangannya,
Haara mengusap air matanya, jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah panik pria itu,
"Masih perih?" tanya Yoan menatap Haara panik,
Haara menggeleng lemah,
Yoan menghela nafasnya lega, ia pun mulai memperban lukanya,
Haara menutup mulut dan hidungnya dengan punggung tangannya, ia merasa malu tadi menangis saat diobati,
Yoan menduduki dirinya disebelah Haara, ia merapihkan obat obatan dan memasukkan nya ke kotak p3k
"Kenapa menangis? cuma diobati saja nangis, cengeng" seru Yoan fokus pada kotak p3k,
"Perih tahu! kau pun saat ku obati meringis karena merasa perih!" sahut Haara kesal,
"Tapi aku tidak sampai menangis saat di obati" sahut Yoan melirik ke Haara sekilas,
"Karena kau itu pria, jika kau menangis itu sangat menggelikan, pria itu tidak boleh menangis tahu" sahut Haara ketus,
"Kata siapa pria tidak bisa dan tak boleh menangis?" tanya Yoan yang tatapannya fokus kedepan,
Haara tak menjawab,
"Pria juga bisa menangis" sahut Yoan,
"Ya .. Pengistilahan, pria juga bisa menangis saat masih kecil"
"Lalu apa pria tidak boleh menangis saat ada hal yang menyakiti hati nya atau menangisi hal yang paling berharga baginya?" tanya Yoan menatap Haara,
"Eh?".
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏
__ADS_1