
"Ada apa??" risau Haara
Tak ada jawaban dari pria itu, Yoan hanya menatap Haara sendu.
Tk!!
Haara terkejut, tubuhnya mematung.
Yoan yang tiba tiba saja meletakkan keningnya di pundak gadis itu.
Haara mencoba agar bisa mengendalikkan rasa gugupnya,
"Mimpi buruk .. lagi?" tanya Haara lembut, ia melirik Yoan,
Dapat Haara rasakan pria itu mengangguk sangat lemah,
"Sangat menyeramkan" sahut Yoan pelan dengan nada yang sedih,
Dengan perlahan dan ragu Haara mengusap punggung atas pria itu,
"Sudah tidak apa apa, itu hanya mimpi, tak usah difikirkan lagi ya~" seru Haara menenangkan,
Haara tercegang saat tangan pria itu terangkat dan ..
Yoan memeluk dirinya erat~
"Aku takut dia kembali, aku takut ia melukai seseorang yang berarti bagiku dan merebut kebahagiaanku, ia benar benar tak membiarkan ku hidup, Haara" seru Yoan dengan nada takut,
'Dia? Apa psikopat itu?'
Hal itu membuat Haara sedih seketika, ia mengingat pertemuan keluarga di rumah Yifan saat itu, jika pria itu akan kembali,
"Sebelum itu terjadi, kamu sudah harus baik baik saja"
"Lambat laun tanpa sengaja atau sengaja, jika takdir mempertemukkan kalian, mau tak mau kamu pasti bertemu dengannya, namun ada satu hal yang perlu kamu terapkan didalam dirimu"
Yoan melepaskan pelukkannya dan menatap Haara dengan raut sedih,
"Kamu tak boleh takut menghadapi dirinya, kamu hanya perlu berani, itu adalah satu satu cara!" tambah Haara menatap Yoan,
"Lagi?" seru Yoan dengan suara beratnya,
"Ha?"
"Jelaskan lagi, dan berikan alasan aku harus berani dan tak boleh takut" seru Yoan dengan tatapan sendu,
Haara merasa ikut sedih saat melihat tatapan pria itu yang di pancarkan untuknya,
"Agar ia tak akan melakukanmu seenaknya seperti dulu, kamu harus terlihat baik baik saja dan berani di depannya, jika kau terlihat tidak baik baik saja didepannya, ia bisa melakukan yang tidak tidak lagi padamu" sahut Haara menunduk,
"Dan juga, jangan biarkan ia merebut kebahagiaanmu, kau harus menjaganya, jangan biarkan ia menghancurkan kebahagiaanmu dan menyakiti orang yang berarti bagimu" seru Haara menatap Yoan serius,
Yoan mendecih,
"Apa aku mati saja, agar ia tak lagi berfikir akan melukai dan menyakiti orang orang yang berarti bagiku?" seru Yoan dengan tatapan kosong
"Jaga ucapanmu!!" bentak Haara,
Yoan kembali menatap Haara lesu dan .. Putus asa~
"Kau harus hidup Yoan! Aku tidak suka mendengarmu menyerah seperti ini!!"
"Apa kau akan senang melihat orang orang yang kau sayang sedih melihatmu pergi??" tanya Haara menahan tangisnya, ia benar benar merasa ada hantaman keras di hatinya saat mendengar Yoan putus asa seperti ini!
"Lalu apa yang akan aku lakukan? Katakan" tanya Yoan datar
"Kau harus menjaga orang yang kau sayangi, jaga selalu kebahagiaan mereka dan kebahagiaanmu! dan juga kau harus melindungi mereka, jika bukan kau siapa lagi, Yoan? Tidak mungkin orang lain yang akan lakukan itu, karena itu keinginan mu, bukan keinginan orang lain!" jelas Haara
Yoan mematung saat mendengar ucapan gadis itu
"Jadi jangan seperti ini,orang orang yang kau sayangi pasti tidak suka kau berkata seperti ini! kau harus hidup!" tambah Haara tegas
Yoan terkejut atas kalimat yang Haara berikan padanya, ucapan untuk membuatnya kembali berfikir positif,
"Jadi, jangan mau kalah dengannya! semangat oke?" seru Haara tersenyum tulus,
Yoan tersenyum tipis, ia merasa gadis ini yang memberinya nasihat dan juga menyemangatinya, ucapannya benar benar membuat dirinya merasa berguna sekarang.
"Meski tak mudah, tapi aku yakin kau bisa" seru Haara pelan ia menyandarkan dirinya di sofa ia gugup saat Yoan masih menatapnya,
Ia mencuri curi pandang kearah pria di hadapannya, ia terpaku.
Yoan tersenyum sangat tulus,
"Memang tidak salah sepertinya"
"Hm?" bingung Haara,
"Mempercayaimu dan cerita semuanya padamu"
"Eh?"
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberiku nasihat, ucapanmu benar benar memotivasiku" seru Yoan,
Haara seketika salah tingkah mendengar ucapan Yoan yang membuatnya merinding,
Srek!!
"A aduh~!!" keluh Haara saat Yoan mengacak acak rambutnya,
"Ada apa dengan wajahmu, mengerikan sekali!" seru Yoan meledek,
"A aku hanya terkejut saja dengan perkataanmu yang tadi!"
"Apa yang salah dengan ucapanku? Apa aneh??" tanya Yoan memiringkan kepalanya menatap Haara
"Tidak juga sih~" sahut Haara membuang pandangannya kearah lain,
Sret!!
Entah keberapa kalinya ia terkejut, ia terkejut saat Yoan yang menyandarkan kepalanya di pundaknya,
"Eh, Yoan!" panik Haara mencoba menyingkir
"Diamlah~ aku pinjam pundakmu, aku benar benar tidak bisa tidur karena mimpi sialan itu" seru Yoan menatap Haara dengan wajah lelah
Haara kembali tenang, perlahan ia kembali menyandarkan dirinya di sofa untuk membiarkan pria itu kembali bersandar dipundaknya, dapat ia rasakan Yoan menyandarkan kepalanya di pundaknya lagi.
Seketika suasana menjadi sunyi~
Haara melirik kesampingnya berniat untuk mengecek pria itu sudah terlelap atau belum,
Wajah lelah dan tenang tergambar dari wajah pria itu, nafas tenang dan perlahan juga dapat ia rasakan, pria itu sudah terlelap.
Ia mengingat keluhan pria itu tadi, 'menyeramkan sekali' itu benar benar membuatnya merasa menyakitkan sekali,
Ia belum memahami, sungguh belum memahami 2 hal, yaitu ..
Hal apa yang membuat pria gila itu ingin sekali membunuh Yoan dan juga siapa pria gila itu?
'Mama Stephannie' batin Haara
Ia teringat dengan Stephannie, Yuu dan Yifan tak bisa menjawabnya, mereka menyembunyikkannya dari Haara entah apa alasannya, berarti ia hanya bisa mengandalkan Stephannie atau tidak Tao Ming, ia sungguh penasaran sekali,
'sepertinya aku harus berkunjung ke rumah tante Stephannie dan paman Tao Ming saat Yoan pergi ke kantor, tapi kapan?' batin Haara kebingungan
Suara getaran terdengar di indra pendengarannya, ia mencari cari asal bunyi getaran itu,
Ia melirik kesampingnya, ada panggilan masuk dari ponsel Yoan,
"Seketaris Gina?" seru Haara membaca nama yang menelfon,
"Merasa tidak sopan jika aku mengangkatnya" bimbangnya,
Ponsel itu berhenti bergetar, ia pun kembali menyimpan ponsel itu.
Haara menghela nafasnya, ia benar benar bosan,
Zhao Yoan Ti-En~
Pria ini, pria yang sudah menjadi suami nya ini adalah pria yang ia kagumi saat pertama kali bertemu di lestoran burger dengan sebuah kesalahan tertukarnya makanan.
Ia tak membohongi dirinya sendiri, pria ini sangatlah sempurna dimata siapapun termasuk dirinya, namun semua sirna saat ia mencurigainya karena bertanya tentang dimana rumahnya lalu memanggilnya 'om om mesum'.
Haara terkekeh saat mengingat kejadian itu, ia tak menyangka jika Yoan yang ia juluki pria mesum ini menjadi suaminya
Pria yang misterius, memiliki sikap dan sifat yang cuek dan dingin. menyebalkan, Jahil, menyeramkan dan jangan lupa ucapannya yang sangat savage! benar benar biadab! Itulah yang ia simpulkan.
Namun ..
Dibalik semua itu Yoan memiliki sikap dan sifat yang hangat padanya.
Dan juga ada kesedihan dan ketempurukkan yang pria itu alami di balik semua itu.
Menjalani sebuah pengobatan untuk berjuang menghilangkan traumanya,
Sangat menyakitkan jika ia melihat pria itu mengingat kejadian masa lalunya tanpa di minta untuk di ingat.
Ia merasa senang saat Yoan mulai terbuka dengannya, ia tidak merasa asing lagi dimata pria itu, keluh kesahnya selalu di ceritakan kepadanya.
Deg!
Jantungnya tiba tiba berdegup kencang. Entah kenapa ia teringat dimana sikap manis yang Yoan berikan padanya terngiang di benaknya.
'Ada apa dengan jantungku? Kenapa wajahku terasa panas saat mengingat itu? Kenapa aku ingin tersenyum saat mengingatnya??' batin Haara.
•
• •
• • •
●•●•●•●•●
__ADS_1
• •
•
Suara dering terdengar nyaring di indra pendengar Haara, membuat Haara memaksa membuka matanya,
Itu adalah bunyi dering ponsel Yoan.
Ia melirik kesampingnya, pria itu masih setia bersandar di pundaknya
"Masih orang yang sama~" seru Haara pelan,
Ia mengguncangkan tubuh Yoan untuk membangunkan pria itu,
"Yoan, ponselmu ada panggilan masuk" seru Haara ragu membangunkan pria itu,
Tak ada respon dari pria itu, Haara menghela nafasnya kembali berusaha membangunkan pria itu,
"Yoan?~"
Yoan hanya berdehem malas,
Panggilannya kembali berakhir, ia melihat ada 4 kali panggilan masuk, namun tak lama dari itu, panggilan dari orang yang sama kembali masuk,
"Yoan~, Seketaris Gina menelfonmu dari tadi" seru Haara kembali mengguncangkan tubuh pria itu,
"Angkat saja denganmu, tanya ada apa~" perintah Yoan pelan dengan suara beratnya,
"Eh? Tapi Yoan~" panik Haara,
"angkat saja~" sahut Yoan dengan nada khas bangun tidur nya, Haara dnegan ragu mengangkat telfonnya,
Haara:
"Hallo?"
Seketaris Gina:
"Hallo, lho? Suara wanita?"
Haara:
"Ah iya" (kaku)
Seketaris Gina:
"Apa aku salah sambung? Tapi ini benar nomornya Mr Yoan" (gumamnya)
Haara:
"Ini benar nomornya .. Mr Yoan, saya .. Istrinya" (salah tingkah)
Seketaris Gina:
"Istri??! ah maafkan saya, saya tidak tahu"(panik)
Haara melirik Yoan yang terbangun dan duduk tegak, kesadaran pria belum terkumpul,
Haara:
"Hmm iya tidak apa apa"(terkekeh)
Yoan merenggangkan tubuhnya dan menidurkan dirinya di sofa,
Seketaris Gina:
"maaf menganggu anda, apa mr Yoan ada? saya telah menelfon beberapa kali tapi tidak di angkat, karena ada hal yang mendesak"
Haara:
(melirik Yoan yang tertidur di sofa) "mr Yoan sedang tidur~ mm, boleh kabarkan hal mendesak itu kepada saya saja? nanti saya sampaikan habis ini" (gugup)
Seketaris Gina:
"terima kasih nyonya Zhao, jadi seperti ini"
Haara mendengarkan baik baik ucapan Seketaris itu, setelah semua telah disampaikan seketaris itu, panggilan pun Haara akhiri.
Haara melirik Yoan yang sudah terbangun, pria itu menatapnya dengan wajah bantalnya,
'menggemaskan' batin Haara
Haara menyimpan ponsel pria itu di meja,
"Kenapa kau menyuruhku mengangkat telfon dari karyawanmu?" tanya Haara.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
__ADS_1
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...