
Glek!
Haara menelan salivanya susah, jantungnya berdegup kencang menahan takut.
Cup!
Haara membelalakan matanya terkejut, pria itu mencium bibirnya.
Tak hanya mencium, pria itu bermain-main dengan bibir gadis itu sebentar.
Yoan memundurkan kepalanya menatap gadis nya yang terlihat tegang.
Haara mematung tak bisa melawan, kini pria itu tengah memainkan rambutnya.
Nafas Haara tertahan saat pria itu menundukkan kepalanya ke leher nya.
Deru nafas yang panas membuat Haara tak bisa bernafas saat itu juga.
Kriet!
"Arh~" ringis Haara.
Haara memejamkan matanya rapat, ia sedang menahan sakit di lehernya.
Pria itu menggigit lehernya,
Haara menghela nafasnya berat saat pria itu membuat kecupan dilehernya.
Ia hanya pasrah, tubuhnya tak bisa melawan.
Haara kembali meringis saat daun telinganya di gigit oleh pria itu.
"Ini akibat kau membantah, tak mendengarkan ucapanku, dan juga mencuekiku." bisik Yoan dengan suara baritonnya, hal itu membuat bulu kuduk gadis itu merinding.
Haara menatap Yoan takut, pria itu menatap nya datar dan tajam.
Yoan bangkit berdiri menatap Haara yang perlahan menduduki dirinya.
"Ganti baju sana, pakai hoodieku, aku tak memiliki celana yang pas untukmu, kau pakai celana yang kau gunakan itu saja." seru Yoan dingin.
Haara mengangguk dan melangkah pergi ke kamar mandi.
●•●•●•●•●
• • •
Haara membuka pintu kamar mandi dan mengintip.
Ia telah selesai mengganti bajunya.
Perlahan ia pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat pelan.
Haara mengepalkan tangannya kuat, hoodie pria itu terlihat sangat kebesaran di tubuhnya, namun sungguh terasa hangat di tubuhnya tidak seperti tadi.
Pria itu tengah menatap keluar jendela, menatap salju dengan deras nya turun.
'Langsung tidur saja, apa aku hampiri dia ya?' batin Haara bingung.
Haara berfikir jika masalahnya hanya masalah sepele, ia tak akan percaya jika pria itu marah karena masalah ganti baju.
"Yoan~" seru Haara ragu.
Pria itu yang terpanggil pun memutar tubuhnya menatap gadis itu yang berdiri di belakangnya.
"Kembali tidur." seru Yoan.
Haara hanya menunduk.
"Membantahku lagi?" tanya Yoan datar.
"maafkan aku Yoan~" seru Haara cepat.
"..."
"Maaf Yoan~" gemetar Haara.
Terlihat bayangan pria itu mendekatinya, hal itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Pria itu menyingkapkan rambut gadis itu.
Tubuh Haara terasa tegang saat pria itu mengelus bekas jejak yang pria itu buat beberapa menit yang lalu.
Haara meringis menahan sakit.
"Sakit?" tanya Yoan.
Haara mengangguk.
Pria itu mengambil sesuatu dalam saku celananya, Haara tak tahu apa itu.
Rasa dingin terasa di luka lehernya.
Haara ingin memegang lehernya, namun pria itu menahan tangan Haara lembut.
"jangan dipegang, aku mengolesinya dengan krim salep." seru Yoan berat.
Haara terdiam kikuk saat pria itu meniupi lehernya.
"Ini adalah hukuman perdana yang ku berikan padamu jika kau tak menurut padaku, menurutmu pasti ini hanya masalah sepele, tapi tidak menurutku, karena aku merasa jika ucapanku yang bisa di sebut sebuah perhatian padamu tadi kau abaikan, aku benci itu." jelas Yoan menatap Haara datar.
Tebakan pria itu benar!
"aku paling tak suka kau meremehkan atau juga mengabaikan apa yang aku inginkan, padahal aku sepeti itu demi dirimu agar kau baik-baik saja." seru Yoan.
Haara yang mendengarnya terharu, pria ini memanglah tidak mudah di tebak apa yang ada di dalam fikirannya.
Yoan membalikkan tubuhnya untuk pergi mengambil air, namun gerakkannya terhenti.
Ia merasa bajunya di tarik, hal itu membuat Yoan menatap gadis nya yang masih tertunduk.
"Aku mohon maafkan aku, Yoan~" seru Haara sedih.
Yoan menghela nafasnya pelan.
"Janji tidak akan membantah ucapanku lagi?" tanya Yoan membungkukkan tubuhnya menatap gadisnya yang lebih pendek dari nya itu.
"A-aku janji!" seru Haara gugup.
Yoan mengusap rambut Haara sambil tersenyum tipis.
"Gadis baik, kembali pergi tidur." seru Yoan.
Haara mengangguk dan melangkah ke kasur dan menidurkan dirinya, ia memutar tubuhnya ke samping membelakangi pria itu yang masih berdiri di tempat.
• • •
Beberapa menit sudah berlalu
Haara memejamkan matanya rapat-rapat, ia tak bisa tidur.
Ia menyadari jika pria itu belumlah berbaring di sebelahnya.
Rasa bersalahnya makin besar terasa di hatinya.
Rasanya ia ingin sekali bangun dan bertanya apa pria itu masih marah padanya hingga tak memiliki niat tidur disampingnya?
Tapi ia mengurungkan niatnya itu, ia tak berani membantah ucapan pria itu yang menyuruhnya bergegas kembali tidur.
__ADS_1
Haara mencoba menenangkan dirinya saat kasur di sebelahnya terasa bergerak, pria itu kini berada di belakangnya.
Ia merasa selimut telah menyelimuti tubuhnya, pria itu menyelimutinya.
Srett!
Haara tercegang saat pria itu memeluknya dari belakang.
"Hm? belum tidur?" tanya Yoan dengan suara beratnya mencoba menatap Haara.
Ia ketahuan!
"Kenapa masih belum tidur?" tanya Yoan.
"A-aku kefikiran Yoan." sahut Haara pelan.
"Kefikiran aku? Kenapa?" tanya Yoan menarik tubuh Haara agar menghadap dirinya.
Haara memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan pria itu, ia tak bisa menatap pria itu, ia tak kuat!
"A-aku berfikir jika Yoan masih marah dengan ku, tanpa sadar aku menunggumu berbaring di sebelahku, namun aku tak mendapatinya, aku berfikir kau masih marah denganku dan nggan tidur di sebelahku~" jelas Haara sedih.
"Berhentilah berfikir seperti itu, aku hanya bersikap tegas padamu, aku tidak marah padamu." seru Yoan menangkup kedua pipi Haara.
"Sungguh? Lalu kenapa lama sekali berbaring disebelahku??" tanya Haara cemberut.
"Aku sedang bertukar pesan dengan Direktur penyelengga pameran seni, tadi nya ia ingin bicara lewat telefon, tapi aku melarangnya karena aku takut menganggu tidurmu." jelas Yoan tenang.
Haara kembali tak menyangka, sungguh ia terharu lagi mendengar alasan pria itu.
"Kau sungguh membuatku takut!" seru Haara menahan senyumnya.
Yoan tertawa kecil saat Haara salah sangka padanya.
"Ayo kita tidur."
Haara mengangguk.
Yoan memeluk tubuh gadisnya, menyembunyikan gadisnya di dalam pelukkannya.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Pagi hari kemudian.
Yoan mengikuti istrinya yang sibuk memilih baju di toko baju, gadis itu antusias karena banyak baju yang terlihat bagus sekali.
"Yoan, aku boleh beli berapa baju?" tanya Haara menatap Yoan.
"Terserah kamu, mau satu toko baju di toko ini juga tak masalah." sahut Yoan santai.
"Itu terlalu berlebihan, oh iya! Untuk acara nanti malam .. Kau bilang akan memberi sambutan bukan?" tanya Haara.
Yoan mengangguk.
"Dan memberikan sebuah pidato pembukaan acara." sahut Yoan.
"Pidato? Kau sudah mempersiapkan dirimu?? Untuk besok, ucapan apa saja yang ingin kau ucapkan??"
"Hanya sebuah pidato saja, itu bukanlah hal yang sulit, lagi pula itu rancanganku sendiri, aku bisa menjelaskannya." sahut Yoan santai.
"Hahh, kenapa aku bertanya seperti itu padamu, pasti bukan hal yang mendebarkan untukmu seorang CEO." seru Haara memilih pakaiannya.
Yoan terkekeh.
"Ahh, kau yang akan memberi sambutan dan berpidato, kenapa aku merasa hatiku berdegup kencang karena takut ya?" seru Haara heran.
"Kau tak takut??" tanya Haara polos.
Yoan menahan senyumnya sambil menggeleng.
"Jiwa seorang pemimpin yang baik, tuan." takjub Haara.
Haara menghitung baju yang ia pilih,
"Mau cari di tempat lain lagi?" tanya Yoan,
"Ah tidak, sepertinya aku kebanyakan memilihnya, aku akan memilih beberapa pasang baju untuk aku kembalikan." seru Haara.
"Beli semua itu, tak pelu menguranginya." sahut Yoan.
"Eh? Ini terlalu banyak, sebentar aku pilih dulu mana yang ..."
Haara tertarik saat Yoan menarik tangannya melangkah ke arah kasir.
"Eh Yoan, ini kebanyakan!" seru Haara saat Yoan mengambil baju-baju pilihannya dan di simpan di meja kasir.
"Habis ini kita cari baju dress untuk kau pakai malam ini dan esok malam." seru Yoan mengambil kartu ATM nya di dompet nya.
Jujur saja ia merasa tak enak sekali, tapi pria itu pasti akan mengatakan tak perlu sungkan atau tak perlu merasa tak enak dengannya jika ia mengeluh tak enak.
●•●•●•●•●
Mereka kini telah tiba di toko lain, Yoan menarik tangan Haara masuk ke dalam toko yang besar itu.
"Gèwèi gùkè, huānyíng lái dào wǒmen de gòuwù zhòng xīn." seru karyawan di toko itu.
Haara tersenyum kikuk.
"Mereka bilang apa?" tanya Haara.
"Hanya mengucapkan selamat datang kepada pelanggan." sahut Yoan melihat sekitar.
Haara mengangguk paham.
"Duìbùqǐ, nǐ néng gàosù wǒ zhè jiā diàn lǐ zuì hǎo de yīfú ma?" seru Yoan,
"Shì de, xiānshēng, gēn wǒ lái." seru salah satu karyawan itu meminta Yoan dan Haara mengikutinya.
"Ayo kita ikuti dia." seru Yoan.
Haara pun menurut.
• • •
Haara mengerjapkan matanya saat para karyawan datang dari setiap sudut memegang satu persatu dress di tangannya.
Mata Haara berbinar saat melihat satu drees yang menarik perhatiannya.
"Yoan! Bagaimana dengan ..."
"Terlalu terbuka." sela Yoan cepat.
"Kalau ini?" tunjuk Haara kepada baju berwarna merah tua.
"Rok nya terlalu pendek."
"Kalau ini?"
"Tidak."
"Ini?"
__ADS_1
"Tidak."
"Ini?"
"Tidak."
Haara menghela nafasnya gusar,
"kalau semuanya tidak, tak usah beli baju!" merajuk Haara.
Yoan menghela nafasnya,
Haara mendengar Yoan mengatakan sesuatu pada karyawan di sana.
Haara mengerutkan keningnya saat semua karyawan bubar.
"Kemana mereka semua?"
"Aku menyuruh mereka mencari 4 pasang dress terbaik yang terlihat sopan dan untuk seorang gadis remaja, bukan baju kurang bahan seperti tadi." sahut Yoan kesal pada pelayanan di toko itu.
Haara mengulum senyumnya dalam diam.
Yoan mengalihkan pandangannya pada karyawan-karyawan yang kembali membawa baju yang Yoan inginkan.
Yoan tersenyum tipis, pria itu memberikan kartu ATM nya pada salah satu karyawan, keempat karyawan itu pun pergi.
"Eh?? Apa masih belum cocok 4 drees tadi?? Padahal 4 dress itu sangat bagus dari dress yang kau bilang tua itu." seru Haara tak percaya.
"Aku membeli 4 dress itu." sahut Yoan.
"Ha?"
Tak menunggu lama, satu karyawan datang memberikan 4 papperbag besar dan juga mengembalikkan ATM milik Yoan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Haara menghela nafasnya lelah, kini dirinya berada di sebuah lestoran.
Yoan mengerutkan keningnya,
"Kamu kenapa?" tanya Yoan bingung.
Haara terkekeh,
"Kaki ku pegal sekali karena habis keliling-keliling."
"Ketahuan sekali kau tak pernah olahraga ya?" seru Yoan .
"Hehe, benar. Aku tak suka sekali pelajaran olahraga, melelahkan." sahut Haara.
"Umurmu itu masih muda, rajinlah jaga kebugaran tubuhmu, lihatlah buktinya sekarang, baru jalan segitu sudah pegal, payah." ledek Yoan.
"Aku itu olahraga, tahu! setiap hari Selasa di sekolah, kau saja yang tak pernah olahraga, terlalu sibuk dengan pekerjaanmu." sahut Haara balik meledek.
"Aku masih bisa menyempatkan untuk olahraga di pagi hari, kau saja yang tak pernah tahu." sahut Yoan.
"Ah, masa?"
Yoan mengangguk,
"Kau tak percaya??" tanya Yoan.
"Ya, aku tak percaya, seorang Yoan mana ada waktu untuk olahraga?" sahut Haara enteng,
Yoan menghela nafasnya,
"Padahal kau sendiri sudah melihat tubuhku, masih bisa-bisa nya tak percaya ucapanku." seru Yoan menatap Haara datar.
Haara mematung, seketika terlintas ingatan saat dirinya melihat tubuh berotot pria itu pada saat ...
Dengan cepat Haara menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Plak!
"Ahaw!" ringis Haara memegang kedua pipinya yang terasa sakit, ia tak sadar jika ia menepuk kencang wajahnya.
"Hey? Kau ini apa-apaan? Membuatku terkejut saja tiba-tiba menepuk wajahmu, hey!" terkejut Yoan berdiri menghampiri Haara.
Yoan menangkup kedua pipi Haara dengan wajah bingung.
Haara menatap mata pria itu,
Tatapan mereka bertemu.
Lagi-lagi terbayang!
Dengan cepat Haara memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggeleng-geleng kan wajahnya.
Yoan mengangkat sebelah alisnya curiga.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Yoan.
"Eh?!"
"Setelah aku mengatakan tentang kau yang telah melihat tubuhku saat itu, kau langsung menutup wajahmu." jelas Yoan.
Haara tercegang, pria itu lagi-lagi bisa membaca fikirannya.
Yoan memajukkan kepalanya memotong jarak wajah mereka.
Haara membulatkan matanya menahan nafas.
"Sepertinya gadis ku sudah mulai berfikir nakal, ya?" seru Yoan dengan tatapan menggoda.
...•...
...•...
...Author: " whahah😆 tercyduk teroos!😆😆"...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...
...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...
...❗Jangan lupa untuk❗:...
...✔like,...
...✔vote,...
...✔rate 5 star, dan...
...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...
...📜Pesan dari Author:...
..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...
__ADS_1
...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...
...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...