
Pedebatan dan kata kata penolakkan terdengar dipagi hari, membuat mamanya dan mama mertuanya kepusingan saat ini.
Bagaimana tidak?
Mereka membawa tukang urut ke Penthouse Yoan saat ini,
Papa dan papa mertuannya sudah pergi berangkat ke kantor karena ada urusan mendadak,
mamanya menyuruh agar Haara diurut dengan mengganti baju lebih pendek dan celana pendek
Itu sangat tidak mungkin, karena mengetahui Yoan masih berada di penthouse, itu sangat memalukan!
"Kamu pakai pakaian dalam kan sayang?" tanya Lucy yang blak blakan
"Mama! kenapa harus mengatakannya tanpa sensor si~" malu Haara menutup wajahnya malu,
"Lho kenapa? kamu tak pakai?"
"Mama! jangan di bahas lagi~" sahut Haara dengan wajah memerah,
Ia mengintip dari celah jarinya yang menutup wajahnya, ia menatap Yoan yang fokus sarapan di ruang makan,
Ia yakin jika pria itu mendengar ucapannya dengan mama nya.
Ia berada di ruang santai saat ini yang ruang nya bersebelahan dengan meja makan dan dapur,
"Apa karena masih ada Yoan ya? kamu malu ya?" goda sang mama mertua melirik Yoan sekilas,
Haara menatap Yoan yang bangkit dari kursi makan dan melangkah ke tempat cuci piring, pria itu bersikap seolah olah dirinya sedang tidak di bicarakan.
Tangannya perlahan turun dari wajahnya, Haara menatap pria itu, tak ada ekspresi dari pria itu.
Yoan yang merasa diperhatikan pun menatap gadis yang tengah memperhatikannya, Haara yang tertangkap basah pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mama dan tante Lucy, maaf~aku harus ke ke kantor sekarang" seru Yoan membungkukkan tubuhnya sekilas,
"Lho Yoan? bukannya masih sangat pagi?" tanya Lucy bingung
"Kemarin ada rapat yang aku batalkan, jadi aku akan rapat hari ini, ada beberapa berkas yang belum ku persiapkan" sahut Yoan ramah,
Haara menatap Yoan dengan raut curiga, bahkan kemarin pria itu pergi di siang hari hingga pulang malam dengan beralasan mengadakan rapat, ia merasa curiga jika Yoan membohonginya.
"Ahh, ya sudah berhati hatilah ya" sahut Lucy tersenyum,
"Iya tante"
"Tante?" tanya Lucy,
"Mm iya mama" sahut Yoan tersenyum kaku,
"Nah gitu, baru enak didengar" kekeh Lucy,
"Ahahaha, oh iya jangan lembur ya Yoan, kasihan Haara sendirian" seru Stephannie tertawa,
Yoan mengangguk dan melangkah pergi,
"Hey Yoan" panggil Stephannie, hal itu membuat Yoan menghentikkan langakahnya dan menatap sang mama,
"Tidak pamit dengan istrimu?" tanya Stephannie,
Haara menatap mama mertua nya terkejut,
Haara melihat Yoan yang melangkah mendekat ke arahnya membuat jantungnya berdegup kencang,
Haara mendongak menatap Yoan yang berdiri didepannya dengan tatapan polos,
Srett!!
Yoan mengacak acak rambut Haara,
"Aduduh Yo Yoan!" kesal Haara menatap Yoan yang juga menatapnya dengan tatapan datar,
"Aku berangkat ke kantor dulu" seru Yoan,
__ADS_1
Haara mematung saat itu juga,
Yoan pun melangkah pergi,
"Ehem ehem ehem, manisnya~" dehem Lucy
"Aduh aduh rasanya ingat aku lagi muda~ Yoan itu benar benar mirip sekali dengan Tao Ming" kekeh Stephannie malu,
Suara pintu tertutup terdengar, Haara baru tersadar dengan hal tadi,
"Sekarang Yoan sudah pergi,salin saja yuk" ajak Stephannie,
• • •
Lucy dan Stephannie menatap Haara yang menahan sakit saat tengah diurut,
"Hahh! dasar bocah kurang ajar!! berani beraninya dia mengganggu menantuku!" kesal Stephannie emosi,
"Aku pun berfikir seperti itu, beruntung sekali Yoan tidak telat menyelamatkan Haara, dia harus dihukum seberat beratnya" emosi Lucy juga,
"Ya benar! beruntung Yoan sudah melakukannya!"
Haara pun langsung menatap mama mertuanya
"Maksud tan .. Eh mama Stephannie?"
"Yoan sudah menuntut agar bocah itu di hukum seberat beratnya, karena juga banyak wanita menjadi korbannya" sahut Stephannie mengusap pundak Haara,
"Oh iya sayang~mama mencoba menelfonmu kemarin petang, tapi ponselmu tak aktif" seru Stephannie,
"Ah, itu .. Ponselku rusak"
"Rusak?" -Lucy
"Mm saat aku sedang mangangkat telfon dari Yoan, aku ketahuan dengan cowok itu, ia langsung mambanting ponselku hingga pecah layarnya" jelas Haara pelan,
"Aduhh~gemas!! gemas sekali aku ingin mencakar wajah bocah sialan itu!!" kesal Stephannie geram,
Haara tertawa kaku menanggapinya,
"Eh? ku rasa tidak perlu, aku punya uang tabungan aku akan beli dengan uang tabunganku saja" seru Haara panik,
"Uang tabunganmu simpan saja, Yoan pasti akan membelikannya, minta saja mau ponsel apa" sahut Stephannie antusias,
"Tidak perlu yang mahal mahal sepertinya" sahut Haara kaku,
"Tidak apa, beli ponsel yang tahan air, tahanbanting, tahan injak, atau tahan lempar sekalian ya" seru Stephannie membuat Haara tertawa,
"Uu manis nya~" gemas Stephannie mencubit pipi Haara,
Haara tersipu malu saat itu juga,
"Jangan sungkan minta apa apa padanya ya~ uang dia itu sekarang uangmu juga ya" senyum Stephannie,
Haara menatap mamanya, mamanya tersenyum dan mengangguk,
"Iya mama Stephannie" senyum Haara,
"Uu gemasnya" seru Stephannie memeluk Haara,
●•●•●•●•●
• • •
Fikirannya larut entah kemana saat ini, hari akan menjelang siang, ia merasa leluasa karena kerjaannya tak menumpuk.
Tok tok tok!!
Suara pintu terketuk, suara langkah sepatu terdengar mendekatinya saat ini,
"Apa saja yang kau ceritakan kepada Haara mengenai traumaku?"
Ammar terdiam sejenak,
__ADS_1
"Hanya mengenai kesehatanmu yang harus Haara perhatikan" sahut Ammar,
"Apalagi?"
"Tentang konsultasi dokter Wang juga" sahut Ammar,
Yoan memijat pelipisnya,
"Bagaimana konsultasinya kemarin? kenapa kau tak pamit kepada Haara kemarin? ia menunggumu pulang lho" seru Ammar prihatin,
"Aku tak ingin membebankan fikirannya setelah apa yang terjadi padanya kemarin" sahut Yoan,
Ammar terdiam, ia kagum dengan jawaban sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ammar duduk di meja kerja Yoan,
"Tadi pagi kedua orang tua ku dan kedua mertuamu datang .."
"Kedua mertuamu juga lho" kekeh Ammar,
Yoan menetralkan tenggorokkan nya,
"iya, aku sempat bingung mereka datang membawa tukang urut juga"
"Tukang urut? apa tubuhnya merasa pegal?" tanya Ammar,
"Katanya harus di urut agar tubuhnya lebih rileks" sahut Yoan,
Ammar mengangguk paham,
Suara ringisan terdengar, Ammar menghampiri Yoan khawatir,
"Yoan?? kau kenapa??" panik Ammar memegang pundak Yoan,
Yoan terpejam sambil memegang kepalanya, ia menahan sakit dikepalanya,
Perlahan lahan Yoan kembali normal, ia menghela nafasnya kasar,
"Kepalamu .. Sakit lagi??" tanya Ammar khawatir,
Yoan menutup wajahnya sambil mengangguk,
"Kita temui Dokter Wang sekarang" seru Ammar khawatir.
●•●•●•●•●
Di rumah sakit彡
Yoan menduduki dirinya di sofa yang ada di ruangan Dokter Wang,
"Kau terlalu stres Yoan, apa yang kau fikirkan? sampai membuat emosimu naik, itu yang menyebabkan kepalamu sakit, bahkan aku sudah peringatkan padamu untuk kendalikan emosi dan fikiranmu agar tidak mengingat traumamu" jelas dokter Wang khawatir,
Yoan bersandar sambil mendongakkan kepalanya,
"Itu sangat sulit sekali ku kendalikan, mengingatnya sedikit saja membuat ingatan itu menguasai fikiranku" sahut Yoan lesu
"Tak ada cara lain, kau harus bisa mengendalikan fikiranmu agar tak tertuju pada ingatan itu, jika ini terus terjadi seperti yang aku sampaikan kepada Ammar bisa saja ..-"
Ammar membuang wajahnya, Yoan tak mengetahui jika Ammar menemui dokter Wang kemarin dan menceritakan keadaan sahabatnya itu.
Tak ada lanjutan dari dokter Wang, Yoan mengubah posisi duduknya, ia menumpu siku kanan kirinya di kedua lututnya,
"Katakan" sahut Yoan menatap serius dokter Wang dan Ammar bergantian
"Mentalmu akan terganggu seperti dulu lagi".
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏