
"Lalu tadi mau kemana?" tanya Yoan menatap Haara yang berdiri disebelahnya.
"Aku kira salah tempat" dusta nya,
"Bahkan kafe didepan kantor ku hanya kafe ini." ucap Yoan.
Haara terdiam tak menjawab ucapan Yoan.
"Duduk." -Yoan,
Haara pun menuruti, ia pun duduk di seberang sofa dihadapan Yoan.
Haara gugup saat ini, benci rasanya dengan perasaan gugup yang tengah menguasainya saat ini.
"Ammar bilang kau ada perlu denganku, ada perlu apa?" tanya Yoan menatap Haara.
"Ha? kak Ammar tidak mengatakannya padamu?" tanya Haara
"Mengenai apa?" tanya balik Yoan,
Haara mengeluh dalam hati, ia menggigit bibirnya untuk menghilangkan ketegangannya saat ini.
Ia tak menyangka jika Ammar hanya mengatakan jika dirinya ada perlu dengan Yoan, tidak menjelaskan apa tujuan ia datang menemui Yoan saat ini.
"Kenapa kau tegang seperti itu? bahkan kau tidak sedang ujian lisan." decih Yoan,
"Sungguh kak Ammar tak menjelaskan apa tujuanku menemui mu?" ragunya bertanya.
Yoan yang masih menatap Haara menanggapi pertanyaan gadis itu dengan hanya menggeleng-geleng.
Lagi lagi ia mengeluh dalam diam.
"Kenapa Ammar harus yang menjelaskan tujuanmu? bahkan kau sendiri yang memiliki perlu denganku." seru Yoan yang belum mengalihkan pandangannya dari Haara.
Haara hanya menunduk, ia benar-benar gemetar saat ini.
"Hey~" panggil Yoan mencoba menatap Haara,
"Tolong bantu aku mengerjakan tugas!" seru Haara menatap Yoan tegas.
Yoan tersenyum miring,
"Mm~ bagaimana ya?"sahut Yoan meletakan dagunya ditelapak tangannya yang ia tumpu kan dimeja,
"A-aku harus mengumpulkannya hari Senin, aku tak ingin dihukum karena tak mengerjakkannya, kumohon bantu aku mengerjakkannya~ kak Ammar dan kak Anna sibuk, aku minta tolong Yifan, yang ada aku disuruh minta tolong padamu." seru Haara menunduk.
"Jadi .. Kumohon bantu aku mengerjakan tugas~ jika tidak, a-ku tak dapat ikut ulangan harian~" jelas Haara masih menunduk ia bicara nada memohon.
Tak ada sahutan dari pria itu, perlahan Haara mengangkat kepalanya, matanya membulat sempurna.
Yoan masih menatapnya tenang.
"Ke-kenapa kau menatapku! jangan-jangan kau tak mendengar ucapanku tadi ya!?" marah Haara dengan wajah yang tersipu.
"Aku dengar kok~" sahut Yoan menyandarkan dirinya di bangku sofa sambil menahan tawa.
"Bisa tidak sih, jangan membuat ku emosi!"ucap Haara menahan kesal,
"Tidak, itu sebuah hiburan untukku." sahut Yoan terkekeh, ia menjilat bibirnya untuk membasahi bibirnya.
Haara dengan cepat mengalihkan pandangannya, benar-benar membuat jantung nya berdetak tak kharuan.
"Ammar sudah menjelaskan tujuanmu bertemu denganku."
Haara terkejut dan menatap pria didepannya tak percaya,
__ADS_1
"Apa??! la-lalu kenapa kau bohong??!"
"Aku hanya ingin kau mengatakan tujuanmu sendiri padaku, kenapa tak mengatakan nya secara langsung saja?" sahut Yoan membuka jasnya.
"Aku takut kau tak mau membantuku~" sahut Haara pelan,
"Ikut aku." ajak Yoan yang sudah berdiri.
Haara mengangkat kepalanya untuk menatap Yoan,
"Kemana?"
Yoan tak menyahut, ia pergi meninggalkan Haara.
"E-e-eh! tunggu aku~" seru Haara mengejar Yoan.
Yoan pun bergegas masuk kedalam mobil nya ia melempar jasnya ke kursi belakang dan tak lama Haara menyusul naik ke dalam mobil, mengetahui Haara sudah naik, ia langsung menancap gas mobilnya.
• • •
Haara kebingungan saat ini, kemana Yoan akan membawanya~
"Ini bukan arah kerumah ku." bingung Haara,
"Siapa yang mau kerumahmu."
"Lalu mau kemana?"
"Apartemenku." sahut Yoan santai,
"HA??!!!! APARTEMEN? tu-tunggu-tunggu-tunggu! kenapa ke Apartemenmu????!!!!" teriak Haara terkejut,
Yoan menutup telinga kirinya, telinga benar-benar sakit mendengar teriakan Haara,Yoan tak menanggapi, ia hanya berdecak saja.
"Aku tak berniat macam-macam padamu, kau minta aku membantumu mengerjakan tugas milikmu kan? jadi duduk diam dan jauhi fikiran negatifmu itu mengenaiku." jelas Yoan yang fokus mengendarai.
Haara pun diam menuruti ucapan Yoan,
Yoan yang mengetahui gadis disebelahnya menuruti ucapannya terkekeh pelan.
●•●•●•●•●
"Bagaimana? kau sudah paham?" tanya Yifan setelah menjelaskan cara-cara kepada Riza.
"Aku paham, tapi bisa kau contoh kan pertanyaan lain mengenai materi ini? guru dikelasku selalu memberi tugas kepada muridnya namun beda dari contoh yang ia berikan~" keluh Riza,
"Baiklah, sebentar~"
Riza memerhatikan sesuatu yang Yifan tulis.
"Oh iya~ kau tadi menelfon siapa sih?" penasaran Riza,
"Ahh~aku menelfon kak Yoan." sahut Yifan yang masih fokus menulis.
"Oh, jadi kau itu ke kantor tuan Yoan ternyata, penting sekali sepertinya." seru Riza mengangguk-angguk.
"Penting, ia harus mengetahui tentang hal yang kau ceritakan tadi siang padaku."
"Ha? kau .. Menceritakkan ceritaku padanya??"
Yifan mengangguk,
"Ia harus tahu, bagaimana pun nanti Haara akan jadi istrinya, dan Haara akan menjadi tanggung jawabnya nanti termasuk keselamatannya kan?" tanya Yifan menatap Riza sekilas.
"Ahh pantas saja kau menolak untuk melindungi Haara." kekeh Riza,
__ADS_1
"Ya iyalah, lalu tugas kak Yoan apa? lagi pula aku bisa tebak jika Haara tak akan bercerita tentang itu kepada kak Yoan atau juga sebaliknya, kak Yoan tak akan bertanya tentang hal apa yang mengganggu calon istrinya." jelas Yifan,
"Kau berfikir jauh sekali ya ahahahaha~" seru Riza tertawa, Yifan menanggapi dengan kekehan.
"Tadi saat kau akan on the way ke lestoran, tepatnya setelah urusan pengaduanmu itu selesai, aku menyuruh Alka dan Haara pulang, namun Haara terlihat terburu buru, ia bilang ingin kesuatu tempat, aku kefikiran dengannya." cemas Riza,
"Sungguh?" tanya Yifan menatap Riza tak percaya.
"Iya, ada apa? kau tahu dia kemana?" tanya Riza.
Yifan tertawa pelan,
"Ihh Yifan kau pasti tahu Haara kemana kan?" tanya Riza penasaran,
"Ia pergi menemui kak Yoan."
"Ha? serius??"
"Iya, tadi kak Yoan bilang, jika dongeng ku tentang Haara sudah selesai, ia harus bergegas pergi, ia bilang jika Haara meminta kak Yoan mengajarinya." jelas Yifan,.
"Ahhh~ pantas saja terburu-buru" kekeh Riza.
"Sudah jangan bahas mereka lagi, fokus."
"Iya iya~"
●•●•●•●•●
Terdengar bunyi saat card key milik Yoan ditempelkan disaklar yang terdapat dipintunya, Yoan pun masuk dengan membawa banyak dokumen Haara mengikuti pria didepannya saat ini.
Yoan meletakkkan dokumennya diatas rak sepatunya, pintu pun tertutup ia membuka sepatu nya menggantinya dengan sandal yang tersedia di apartemennya itu.
Yoan tak sengaja menatap gadis didepannya saat ini matanya tengah sibuk menatap setiap sudut apartemennya.
Ruangan yang tidak begitu sempit dan tak begitu luas, itu lah penilaian Haara saat melihat apartemen milik Yoan, ruangan yang tak pengap dan juga terdapat kaca besar yang menampakkan pemandangan luar,
Ada hal yang ia sayangkan, apartemen pria dihadapannya sangat berantakkan!
Tatapannya terhenti saat ia menyadari jika Yoan tengah menatap nya dengan tatapan dinginnya.
"Sudah melihat lihatnya?" tanya Yoan.
Haara hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal,
Yoan membawa laporannya dan meletakkannya di meja ruang utamanya.
Yoan menjatuhkan dirinya disofanya,
"Apa yang kau lakukan? sampai kapan kau ingin berdiri disana?" tanya Yoan terheran heran melihat Haara yang sudah melepas sepatunya namun ia berdiri beberapa meter dihadapan nya saat ini.
"Ini di apartemenmu, hanya ada aku dan kau, aku menjaga jarak 2 meter." jelas Haara.
"??? Apa maksudmu?" bingung Yoan dengan penjelasan Haara.
"Mama papaku dan kak Anna pernah bilang padaku, jika aku berduaan dengan pria di suatu ruangan aku harus menjaga jarak, saat ku tanya alasannya ke kak Anna, ia bilang kalau pria sedang berdekatan dengan wanita maka pria itu akan jadi pria yang tak punya etika atau memiliki fikiran kotor." jelas Haara yang bisa dibilang saat ini menunjukkan wajah polosnya.
"HAH??!!"
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1