My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Pacar?


__ADS_3

Suara ketikan keyboard terdengar dikesunyian kelas, hal itu membuat Alka dan Riza bertanya tanya apa yang di lakukan sahabatnya itu.


"Ra? ngetik apa? bukannya tidak ada tugas yang harus di kirim lewat email bukan?" tanya Riza penasaran.


"Ah, aku sedang bantu kak Anna, ia harus menyalin tulisan ini ke Word, karena ia benar-benar sibuk untuk mempersiapkan pernikahan nya dengan kak Ammar." jelas Haara.


Mereka berdua mengangguk-angguk paham.


"Banyak juga, mau gantian nanti?" tanya Alka menawarkan.


"Tidak usah~ biar aku saja." senyum Haara.


"Jika lelah gantian saja, pasti kak Anna juga akan merevisi ulang nanti." seru Riza.


"Sungguh mau bantu? nanti gantian??" tanya Haara,


"Iya Haara, kami bantu oke."


"Uuu makasih ya Riza, Alka~" senang Haara.


●•●•●•●•●


Suara pintu terbuka, menampakkan Ammar membawa sebuah dokumen dan melangkah mendekati Yoan yang sibuk membaca dan menandatangani dokumen, ia mengesampingkan dahulu revisi dokumennya.


"Yoan."


Sang pemilik nama hanya berdehem menanggapi panggilan Ammar,


"Jam 11 siang nanti kau kedatangan tamu dari perusahaan X."


Yoan melirik jam tangannya, jam telah menunjukkan jam 10:20, ia menghela nafas lelah.


"Kau tadi pagi ku dengar membawa separuh dokumen-dokumen ke kantor, apa kemarin kau lembur mengerjakkannya dirumah?"


"Ya seperti itulah~" seru Yoan menatap Ammar dengan suara lelah, ia menyandarkan dirinya di kursi kerjanya saat ini.


"Wajahmu kacau sekali, jangan-jangan kau tak tidur??"


"Aku tidur~"


"Pasti tidurmu sangat tidak cukup, jangan paksakan dirimu~" prihatin Ammar.


"Bagaimana aku tak memaksakan diriku jika banyaknya dokumen ini harus aku segera selesaikan~ apalagi merevisi dokumen-dokumen yang aku terima dari China ini~" jelas Yoan.


"Ya setidaknya kau mengerjakannya jangan terlalu ..."


"Kau pun sama bukan?"


"??"


"Aku harus menyelesaikannya segera, aku juga harus mempersiapkan pernikahanku, aku tak ingin libatkan gadis itu."


"Libatkan?"


"Ya~ dia harus fokus sekolah saja, bahkan sekarang ia sudah kelas 12, ia harus fokus belajar saja, aku tak ingin dia kefikiran mengenai persiapan pernikahan ku dnegannya~"


Ammar yang mendengarnya tersenyum,


"Setidaknya Haara mambantu sedikit, anak itu mudah merasa bersalah dan tak enakkan~"


"Ya~ dia akan berpartisipasi untuk mencoba gaun pengantinnya nanti."


"Ya itu juga Anna pasti berpartisipasi bodoh!" kesal Ammar dengan jawaban Yoan.


Yoan hanya terkekeh menanggapi kekesalan Ammar.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku segera, biar aku bisa membantu~" seru Ammar.


"Kapan kau menyelesaikannya? harusnya secepatnya kau menyelesaikannya~" sahut Yoan.


"Kau! bukan itu jawaban yang aku ingin dengar darimu!" emosi Ammar.


"Lalu jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?" tanya Yoan santai.

__ADS_1


"Darah tinggi lama-lama aku bicara denganmu, sudah lupakan, aku tak butuh pujian."


"Pujian? kau ingin sebuah pujian dariku atas ucapanmu tadi?" tanya Yoan lanjut mengerjakan tugasnya.


"Zhao Yoan Ti-En!!" geram Ammar.


"Ha? itu namaku, ada apa kau memanggilku?" cuek Yoan.


"Bodo amat."


"Wah, bahasa mu benar-benar keren!" seru Yoan menatap takjub Ammar.


"Oh jelas, aku sudah mengetahui bahasa gaul di Indonesia ini, kau ingin belajar tidak dari ku?" tawar Ammar dengan nada sombong.


"Aku tidak tertarik." sahut Yoan yang kembali fokus.


"Sabarkan diriku." seru Ammar tersenyum sambil mengusap dadanya.


●•●•●•●•●


Jam pelajaran ke 4, fokus setiap murid kepada tulisan dipapan tulis dapat terlihat, pelajaran Fisika adalah pelajaran inti dari jurusannya saat ini.


"Hari ini kalian akan diberi tugas, karena sebelumnya sudah 2 minggu menjelaskan tentang pembelajaran ini, kalian akan diberikan soal." seru guru menjelaskan.


• • •


Membolak balik dan membuka halaman demi halaman dibuku paket, ia sangat jenuh saat ini.


Pembukaan pembelajaran baru dengan tugas mandiri, mengerjakan tugas yang diberikan guru setelah selesai menjelaskan tadi, itu membuat nya malas karena langsung terjun ke soal-soal yang memusingkan.


"Haara apa kau paham soal ini?" tanya Alka,


"Hahh, tidak paham~ fisika bukanlah bidangku~" keluh Haara.


Bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran selesai.


"Tugas ini akan dijadikan PR, kalian semua harus mengerjakkan tugas ini, jika tidak mengerjakkannya, maka jangan harap bisa mengikuti ulangan harian, ulangan harian akan menjadi nilai tambahan diujian kalian nanti." seru guru yang merapihkan peralatannya.


"Sampai jumpa dihari Senin." seru guru itu pergi.


"Aku akan tanya Yifan nanti, dia faham dengan tugas seperti ini." seru Riza bergumam.


"Enak sekali mengandalkan pacarmu~ aku ingin mengandalkan kakakku saja harus menyogoknya dengan makanan." sedih Alka.


"Bilang saja itu tugas kelompok, dan Haara juga satu kelompok denganmu." seru Riza.


"Eh? kenapa aku?" tanya Haara heran.


"Jelas jelas kakak Alka itu mengidolakanmu." -Riza,


"Mengidolakan, memangnya aku itu artis." sahut Haara.


"Sudahlah, bantu Alka~ kakak Alka pasti akan membantunya." seru Riza.


"Iya Haara, tak apa ya aku pakai namamu~" mohon Alka.


"Terserah kamu saja, asal jangan berujung menggibahkanku." seru Haara malas.


"Tidak kok, paling jika ia bertanya tentangmu, aku jawab deh!" cengir Alka,


"Sama saja tahu!" -Haara,


Haara mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.


"Sedang rindu dengan tuan Yoan ya?" tanya Riza melirik ponsel Haara,


"Ih apaan si~ bukan, punya nomornya saja tidak."


"Sungguh? kenapa tidak minta??" -Alka,


"Ngga penting juga."


"Kau tahu bukan tuan Yoan itu siapamu sekarang?" tanya Riza.

__ADS_1


"Memangnya siapa nya aku?" tanya balik Haara.


"Pacarmu!!" seru Alka semangat, hal itu membuat Haara refleks langsung menutup mulut Alka.


"Pelankan suaramu Alka bodoh! ini di kelas!" bisik Haara geram.


Mereka jadi pusat perhatian,


"Hehe maaf, maaf ya semua!!" teriak Alka,


Haara menenggelamkan kepalanya di kedua lipatan tangannya diatas meja.


●•●•●•●•●


Ammar mengakhiri panggilan dari Anna, cukup lama berbincang ditelfon, mereka benar-benar lupa waktu.


"Yoan, tadi kau bilang apa?" tanya Ammar.


Yoan melirik Ammar tajam,


"Janganlah marah, aku kan sedang berdiskusi dengan Anna~" kekeh Ammar,


"Berdiskusimu hanya 3-5 menit, tapi selebihnya hal tak penting." seru Yoan dingin.


"Jadi kau mendengar semuanya ya?? aduh aku ketahuan." cengir Ammar,


Yoan kembali fokus kepada berkasnya, tak memperdulikan Ammar,


"Hey, kau marah? maaflah~ tadi kau minta aku ambilkan apa??" bujuk Ammar mendekati Yoan.


"Tidak jadi, hausku sudah hilang." sahut Yoan datar.


"Aih, ayolah~ masa kau marah denganku~ apa kau cemburu aku telfonan dengan Anna??" goda Ammar memegang pundak Yoan.


"Singkirkan tanganmu! aku masih normal bodoh! ucapanmu membuatku merinding~ apa jangan-jangan kau yang tak normal??" seru Yoan menatap Ammar tak percaya,


"Jangan di anggap serius, aku bercanda, aku pun normal you know? habisnya ucapan dan tingkahmu seperti gadis yang cemburu kepada pacarnya sendiri." ketawa Ammar.


"Karena kau mengabaikan perintah bos mu sendiri!" kesal Yoan.


"Kau tak paham Yoan~ yang tadi itu aku dan Anna sedang mengobati rindu tahu."


"Baru kemarin kalian bertemu? kau bilang sudah rindu?? yang benar saja."


"Ahh kau iri ya, kalau iri bilang bos~" goda Ammar.


"Tidak, untuk apa aku iri."


"Bohong~ kau iri, jika iri kau telfonan saja sama Haara sana, terakhir kalian bertemu saat pertemuan 3 keluarga bukan?"


"Kenapa aku harus menelfon gadis itu?" tanya Yoan membaca berkasnya,


"Kalian itu harus saling akrab lho, seminggu aku telah menikah, kalian menikah lho."


"Tak perlu, kami juga sudah berbincang bincang saat itu~"


"Berbincang apa? bahkan kau berbincang dengan Haara dibawah pohon saat itu, membuatku sempat mengira kalian sepasang hantu yang baru mati beberapa hari." seru Ammar mengawur.


"Kau tidak sedang melawak kan?"


"Tidak lucu ya? lupakan~ baiklah tadi anda meminta kepada saya untuk ambilkan apa Mr. Yoan yang terhormat??" tanya Ammar dengan formal.


"Secangkir coklat hangat." sahut Yoan yang tetap fokus.


"Baiklah, mohon tunggu Mr. Yoan yang terhormat." sahut Ammar pergi.


Yoan melirik sekilas kepergian Ammar,


"Ucapan formalnya membuatku emosi saja."


...•...


...•...

__ADS_1


...{Bersambung}...


...•...


__ADS_2