
"Alka? .. Ri Riza??" seru Haara tercegang.
Mendengar nama Riza disebut Yifan mengalihkan pandangannya untuk menatap Riza.
"Za?!" -Yifan.
Riza menatap Haara dan Yifan yang terkejut menatapnya.
"Za, aku dan Yifan ...,"
"Bisa jelaskan juga maksudmu juga Yifan, kenapa kau menarik tangan Haara secara paksa tadi di aula." seru Riza.
"Karena kepala sekolah memintaku untuk mencarinya." sahut Yifan dengan ekspresi tenangnya.
"Jika kepala sekolah yang memanggilnya, kenapa Haara menolak keras ajakkan mu lalu menarik paksa Haara?" tanya Riza tak berekspresi.
Mereka berdua diam, mereka benar-benar tak dapat menjawab atau memberitahu sebenarnya.
"Haara?" tanya Riza,
"I-itu karena ada alasan tertentu yang harus kami bicarakan." sahut Haara gemetar, jujur ia takut jika Riza salah faham dengan dirinya dan Yifan.
"Aku percaya padamu Haara, jadi tolong jelaskan padaku." seru Riza menatap Haara sedih.
"A-aku ...,"
"Ia di paksa Yifan menjadi saksi."
"Tuan Yoan!!" seru Alka berbinar menatap Yoan.
"Sa-saksi? saksi apa?" tanya Riza,
"Saksi bahwa bukan Yifan yang menempar bola ke kepala sekolah." sahut Yoan.
Riza menghela nafas lega, karena ia sudah menyangka semua ini salah faham.
"Haara? sepertinya ... Ini hoodie bukan milikmu."
Haara terkejut bukan main, melihat Alka didepannya mencoba untuk mengukur Hoodie itu pada Haara sendiri.
"Alka benar, itu ... seperti hoodie pria, milik siapa?" tanya Riza.
"I-itu .. Punya kak Ammar iya kak Ammar!" sahut Haara gugup.
ia benar-benar tegang sekali saat ini, bagaimana bisa Alka menyadari keberadaan hoodie itu? bahkan hoodie itu tadi berada ... Ia baru mengingatnya, tadi ia mengeluarkan hoodie itu!
"Kak Ammar?" bingung Riza,
Haara mengangguk mantap.
"Tuan Yoan!! aku ingin bertanya padamu!" seru Alka tegas, Alka berdiri tepat dihadapannya.
Yoan memundurkan langkahnya karena jarak Alka terlalu dekat dengannya.
Haara yang melihatnya berbicara dalam hati bahwa biasanya saja pria itu selalu memotong jarak saat dengan dirinya dalam hal tertentu, ia merasa pria sedang melawak saat dirinya membuat jarak pada sahabatnya, Alka.
"Apa?" sahut Yoan,
"Tolong beritahu aku siapa calon istri anda padaku~" seru Alka semangat,
Benar dugaannya!
"Aku tak akan mengizinkan anda pergi sebelum jawab." seru Alka lagi.
Haara benar-benar panik, ia tak tahu apa jawaban Yoan nanti, Alka benar-benar tak main-main dengan ucapannya, ia tahu betul sahabatnya itu.
Yoan dapat melihat Haara sesekali menatap dirinya, gadis itu panik.
Yoan memejamkan mata dan menghela nafasnya,
Ia berfikir sangat merepotkan sekali menangani salah satu sahabat calon istrinya ini.
"Aku tak bisa memberitahumu."
"Kenapa? aku kan cuma ingin tahu tuan Yoan~" seru Alka sedikit merengek,
"Aku minta izin dulu dengan calon istriku,"
Haara yang mendengarnya menatap Yoan,
"Biar calon istriku yang menentukan ke siapa saja aku boleh memberitahu identitasnya." tambah Yoan menatap Alka.
Haara melongo mendengar penuturan Yoan.
"Haa?? izin lagi?" seru Alka merengek,
"Yifan bilang jika ingin tahu harus izin dengan anda, lalu Haara bilang juga harus izin dengan anda, dan anda harus izin ke calon istri anda~ huwaa~" rengek Alka
__ADS_1
"Haara?" -Yifan bingung,
"Ho'oh, Haara saja tahu siapa calon istri anda, tuan Yoan~" seru Alka,
Yifan membelakangi mereka ber empat, Yifan benar-benar ingin ketawa, dengan keras ia menahan tawa nya.
Haara mengalihkan pandangannya saat Yoan menatapnya dengan alis terangkat sebelah, Haara benar-benar merasa sangat malu didepan Yoan saat ini.
"Haara~ kalian membuatku pusing." rengek Alka, jangan lupakan hoodie yang masih Alka pegang.
"Ee~ Alka, sudahlah, nanti kau akan mengetahuinya saat pernikahan tuan Yoan dan calon istrinya menikah kok." seru Riza melangkah mendekati Alka, ia ingin menenangkan Alka.
"Alka, akan kuberitahu siapa wanita itu." seru Haara.
Alka dan Riza menatap Haara.
"Begitu pula dengan Riza, aku ingin memberitahu padamu."
Alka dan Riza dibuat tegang dengan jawaban yang akan dikatakan Haara saat ini.
"Wanita itu adalah aku."
"APAAAA!!!!"
• • •
Tatapan yang masih tak menyangka yang dipancarkan untuk Haara saat menjelaskan panjang lebar, ingin membuat kedua sahabatnya faham.
"Sungguh berita mengejutkan! Haara!!maafkan aku~" seru Alka pura-pura menangis,
"Eeehh? Ke-kenapa kau minta maaf?" tanya Haara bingung.
"Karena mencoba mendekati tuan Yoan~" seru Alka.
"Sudahlah~ kau kan sudah tahu~ jadi tolong rahasiakan semuanya demi aku, ya? aku percaya dengan kalian sepenuhnya, aku merasa bersalah jika tidak memberitahukan hal ini kepada kalian~" seru Haara memegang tangan kedua sahabatnya.
"Aku merasa senang kau mempercayai kami dan juga jujur pada kami, kami janji akan menjaga rahasia ini demi kamu." sahut Riza tersenyum.
"Iya Haara aku terharu~" tambah Alka,
"Terima kasih aku sayang kalian~huwaa!!" histeris Haara yang dramatis memeluk kedua sahabatnya.
"Kami juga huwaa!!" -Alka,
Yoan mengehela nafas melihat pemandangan pelukan didepannya,
'hahh~ dasar remaja SMA.' batin Yoan.
Mereka mengakhiri pelukan mereka,
"Yifan? kamu sudah tahu jika itu Haara?" tanya Riza,
"Iya aku sudah tahu." kekeh Yifan,
"Ee ... Alka, bisa kau berikan hoodie itu padaku?" pinta Haara,
Alka menatap hoodie yang ia pegang dari tadi,
"Ya ampun, Haara maaf-maaf, hoodie kak Ammar jadi ...,"
Yoan mengambil hoodie itu dari tangan Alka,
"Bukan punyanya Ammar, ini milikku!" seru Yoan dengan nada kesal karena hoodienya sepertinya kusut karena diremas-remas oleh Alka tadi.
"Milik anda?! ya ampun maaf tuan Yoan aku terbawa suasana!" cengir Alka,
Yoan memeriksa hoodienya, benar saja hoodie nya kusut.
"Haara, jadi benar itu hoodie tuan Yoan?"
"I-iya." kekeh Haara salah tingkah.
Yoan menyodorkan hoodienya kepada Haara, Haara menatap Yoan dan hoodie itu bergantian.
"Lipatkan, aku tak bisa." seru Yoan.
"Ehem ehem tersedak aku melihatnya." sindir Alka mengalihkan pandangannya, Alka pun memilih menghampiri Riza dan Yifan.
"Temanmu yang satu itu aneh." seru Yoan.
"Jangan meledek sahabatku!" tak suka Haara menatap Yoan sinis,.
Yoan lupa jika Haara masih marah dengannya,
"Haara aku pulang ya, supir ku sudah tiba." seru Alka,
"Ah iya, hati-hati."
__ADS_1
"Iya, tuan Yoan antar Haara pulang ya, sampai jumpa!" pamit Alka.
Yoan hanya menanggapi dengan deheman saja.
"Kak Yoan, aku pulang duluan." seru Yifan,
"Hm, berhati-hatilah."
"Haara aku pulang duluan ya, tuan Yoan aku pamit duluan." seru Riza,
"Hm" -Yoan,
"Iya Riza, Yifan jangan ngebut-ngebut naik motornya, nanti Riza takut lho!" nasihat Haara,
"Iya calon kakak ipar, aku duluan ya." pamit Yifan juga.
"Yi-Yifaaaannn!!!"
Riza yang mendengarnya terkekeh dan memukul Yifan yang menggoda sahabatnya itu.
• • •
"Ini sudah ku lipat." seru Haara cemberut, ia memasukkan hoodie nya ke dalam papperbag dan menyodorkan pada pria itu.
"Masih marah denganku?" tanya Yoan mengambil papperbag itu,
Haara tak menyahut ia meninggalkan Yoan di kebun Biologi.
Yoan menghela nafasnya, nyatanya gadis itu masih marah padanya, ia pun bergegas mengejar Haara.
• • •
Langkah gontai Haara semakin cepat, pengakuan tadi benar-benar memalukan!
Beruntung sekolah sudah sepi saat ini.
Yoan menarik tangan Haara, otomatis Haara menghadap Yoan sekarang.
"Mundur! mundur!" seru Haara mengisyaratkan juga dengan tangannya.
Yoan mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa aku harus mundur?"
"Tadi saja kau menjaga jarak dengan Alka, kau juga jaga jarak denganku!"
Yoan melangkah mundur satu langkah,
"Jangan ikuti aku." perintah Haara,
"Pulang denganku."
"Aku mau ke toko buku, pulang saja sana!" dusta Haara mengusir, ia tak pandai beralasan.
"Sepertinya kau tak butuh ponselmu." seru Yoan melangkah meninggalkan Haara,
"Ponsel? Yo-Yoan tunggu~" seru Haara mengingat jika ponselnya masih pada Yoan.
Yoan tak menyahut, ia membuka pintu mobilnya.
"Tu-tunggu Yoan~"
Yoan menatap Haara datar,
"Kembalikan ponselku."
Yoan mengambil ponsel Haara di saku jas nya, dan memberikannya pada Haara.
"Papamu memintaku menjemputmu." seru Yoan dingin,
"Papa?"
"Mau pulang denganku atau tidak? aku tak memaksa." seru Yoan menatap Haara.
Haara menelan ludahnya, ia berfikir jika 'secepat inikah sikap Yoan berubah?'
"Aku ..."
"Aku pulang denganmu saja." jawab Haara.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1