
3 hari telah berlalu, hari ini adalah hari Kamis, pelajaran telah usai dan mendapat keluhan dari siswa karena guru Fisika yang memberikan soal secara bekelompok, dalam 1 kelompok terdapat 8 orang,
Haara, Alka dan Riza tentu akan memilih untuk bersama, mereka pun memilih 5 orang teman sekelasnya untuk bergabung dengan kelompoknya
"Wah, kita akan satu kelompok" seru temannya yang kebetulan ketua kelas, ketua kelas itu bernama Vika,
"Iya, bergabung dengan geng Haara" seru satu temannya yang kebetulan seketaris kelas, ia bernama Diana,
"Ee geng? Bahkan aku tak memiliki geng" sahut Haara kaku,
Diana yang mendengarnya terkekeh,
"Baiklah, bagaimana sepulang sekolah kita mengerjakkannya di kelas? Mulai menyicil dari sekarang saja" seru Vika memimpin,
"Tak masalah" sahut Diana
"Oke, aku setuju" seru Riza,
"Aku juga, Haara?" tanya Alka,
"Baiklah, aku juga setuju" sahut Haara tersenyum
"Untuk kalian anak anak cowok, kalian bertiga buat barang praktikumnya ya" seru Vika,
"Memangnya kita mau buat apa?" tanya anak cowok bernama Andre,
"Bikin pembangkit listrik lampu saja" sahut teman lainnya bernama Fikri,
"Atau tidak, pemanas air" sahut satu anak cowok lagi bernama Gio,
"Jadi intinya mau bikin apa nih? Biar bisa bikin contoh soal dan penjelasan yang berhubungan dengan barang praktikumnya" seru Alka,
"Pendapatnya coba?" seru Fikri,
"Terserah kalian" sahut Diana,
"Masa terserah, yang jelas dong" sahut Gio,
"Ya~ yang mudah mudah saja yang penting pasti" sahut Diana,
Vika dan Riza yang mendengarnya menghela nafasnya,
"Pembangkit listrik lampu boleh tuh" seru Vika
"Pemanas air juga boleh" sahut Riza,
"Aduh, yang mana nih?" tanya Andre bingung,
"Haara?" panggil Gio,
"Ha?"
"Pilih aku atau Fikri" tanya Gio,
"Pilih?" bingung Haara,
"Pilih~ pilih~, apanya yang pilih kau dan Fikri, ngawur pertanyaanmu" seru Diana,
"Ya maksudnya pilih mana, ide ku atau idenya Fikri" sahut Gio terkekeh,
"Mm, dua dua boleh" sahut Haara,
"Dua dua?" seru Fikri
"Ya, seperti di gabung" sahut Haara,
Semuanya pun berfikir,
"Boleh tuh" sahut Riza
"Boleh boleh" sahut Diana,
"Jadi bikin dua macam nih?" tanya Andre,
Semua pun menngangguk,
"Ya sudah, pulang sekolah kita gambar desainnya bagaimana?" seru Andre
Semua pun setuju.
●•●•●•●•●
Haara meminum air jeruknya sambil menatap ponselnya di meja, ia berada dikantin saat ini.
Ia menghela nafasnya,
"Kenapa sih Ra, dari tadi di perhatikkan kau terlihat bingung" tanya Riza,
"Aku bingung, Yoan jemput aku tidak ya nanti" seru Haara,
"Dia tak bilang memangnya?" tanya Alka,
Haara menggeleng,
"Kirim pesan saja, bilang kau akan pulang telat karena ada tugas" seru Riza,
Haara menyetujuinya, ia pun mulai mengirim pesan pada pria itu,
"Makin kesini makin lengket saja deh, iya gak Riza?" tanya Alka menggoda Haara,
"Lengket sekali, wajarlah~" seru Riza mengangguk,
Haara melirik kedua temannya bergantian,
"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Haara,
"Kamu lah" sahut Alka tertawa,
"Ihh apaan sih" malu Haara,
"Malu malu segala nih" sahut Alka yang duduk dihadapan Haara,
"Iri ya~" seru Haara menyombongkan diri,
__ADS_1
"Tidak kok, bagaimana sudah dibalas belum dari mas pacar?" tanya Alka menggoda Haara,
"Belum, sepertinya dia sedang sibuk" sahut Haara,
Riza dan Alka menatap Haara terkejut,
Haara yang merasa diperhatikkan menatap mereka bingung,
"Ada apa?"
"Kau .. Tak ingin memarahi kami karena menggodamu?" tanya Riza terkejut
"Biasanya jika di ledekin kamu selalu mengelak dan selalu mencari topik baru" tambah Alka,
Haara terkekeh,
"Tidak" sahut Haara tersenyum
"Curiga aku" seru Riza,
Alka membulatkan matanya,
Dengan cepat Haara mengisyaratkan untuk tidak berteriak
"Jangan jangan!! Kau!! Sudah menyukainya??!" tanya Alka memajukkan kepalanya
Haara melirik Alka dan Riza menahan tawanya
"Kenapa sih kalian??" tawa Haara bangkit berdiri dan pergi
Riza dan Alka pun langsung mengejar Haara,
"Hey Haara!!" panggil Alka,
• • •
Brak!!
Alka menggebrak loker membuat Haara tertawa,
"Benar dugaanku dan Riza!!" seru Alka,
"Wah, sejak kapan kau menyukainya?" tanya Riza,
"Sejak .. Malam aku pulang dari tempat berkemah, ahh malu sekali rasanya aku bercerita ini pada kalian" sahut Haara tersipu, ia mengambil buku paketnya di lokernya,
"Benar benar sebuah kemajuan sekali, kau sebelum menyukainya, dia sudah menjadi milikmu seutuhnya, jadi kalau sudah punya rasa tidak takut jika dia menyukai gadis lain, karena itu tak akan mungkin, lambat laun dia juga pasti akan menyukaimu, atau .. Menyatakan perasaannya padamu" seru Riza panjang lebar,
"Benar, wahh!! Coba ceritakan bagian mana yang membuatmu menyatakan bahwa kau menyukai nya?" tanya Alka,
"Hmm, banyak!" kekeh Haara
"Oh ,ayolah~ ceritakan, menyicil saja tak apa apa" seru Alka antusias,
"Ahahah, nyatanya membicarakan ini membuatku suka senyum senyum sendiri deh" seru Haara malu,
"Ee Riza, jangan bilang aku menyukai Yoan kepada Yifan ya, anak itu sepertinya tak pandai menjaga rahasia, oke?" seru Haara
Riza tersenyum dan mengangguk.
●•●•●•●•●
Haara mengecek ponselnya, pria itu belum membalas pesannya sejak tadi istirahat,
"Aduh dia tak membalas lagi~" gumam Haara,
"Siapa?" tanya Diana yang tiba tiba dibelakangnya, hal itu membuat Haara terkejut,
"Diana? Terkejut aku, mm itu .. Pacarku" seru Haara menahan senyum,
"Bertengkar?"
"Ha? Tidak, kami baik baik saja, aku takut dia menjemputku, padahal aku akan kerja kelompok, pulang agak telat" jelas Haara
Haara sedikit terkejut saat ponselnya berdering ada panggilan masuk,
Haara melirik ke teman temannya
'Aduh, sekalinya diharapkan, dia menelfon lagi~' batin Haara,
Riza mengisyaratkan angkat saja,
"Mm, aku angkat telfon dulu ya" izin Haara ke pojokkan kelas,
Haara:
"Hallo?"
Yoan:
"Aku hari ini pulang agak telat, kau pulang naik taksi saja, jangan naik bus! Mengerti!?" ( dengan nada menekan)
Haara:
"Kau tak membaca pesanku?"
Yoan:
"Pesan?"
Haara:
"iya, aku kira kau pulang seperti biasa, aku pun pulang agak telat, ada kerja kelompok yang harus di diskusikan"
Yoan:
"Hm, aku tak baca pesanmu, jika sudah selesai dan akan pulang kirim pesan padaku"
Haara:
"Baik, tap .."
Belum selesai bicara panggilan terputus,
__ADS_1
"Hihh, kenapa panggilannya terputus? Dasar tidak sopan!" oceh Haara melangkah ke tempat berkumpul teman temannya.
●•●•●•●•●
Hasil diskusi pun selesai, hari pun akan gelap, jam sudah menunjukkan jam setengah enam,
"Alka aku ikut naik mobilmu ya" seru Haara habis mengirim pesan pada Yoan,
"Dia gak menjemputmu?" tanya Riza,
"Tadi dia bilang ditelfon ada urusan, jadi tak bisa jemput juga" sahut Haara,
"Haara, tidak dijemput?" tanya Andre,
"Mm, tidak"
"Pulang bersama ku saja ya?" tawar Gio antusias,
"Ah tidak perlu" kaku Haara,
"Ehem ehem, bau bau mancari kesempatan nih" seru Vika,
"Kenapa sih, iri saja" sahut Gio
"Ehh, pacar Haara itu cemburuan lho, jangan! jangan!" seru Alka melarang,
Haara yang mendengarnya menatap Alka tak percaya dengan ucapannya,
"Yehh, kan cuma antar pulang saja kali, kan temen sekelas yang baik, iya tidak Haara?" seru Gio,
"Haha iya, tapi tidak usah, aku pulang sama Alka saja" sahut Haara lembut,
"Fik, aku nebeng di motormu ya?" seru Diana,
"Bayar ongkos ya"
"Ya ilah, searah juga, pelit banget!" sahut Diana memukul pundak Fikri,
"Terserah deh" sahut Fikri pasrah
"Ajak Riza pulang saja tuh Gio" seru Andre,
"Gak ah, bisa bisa aku di santet Yifan yang ada" seru Gio bergidik ngeri,
"Yifan orang china mana tahu santet, main santet itu bukan dia sekali lagi pula" sahut Vika,
Riza, Alka dan Haara yang mendengarnya terkekeh,
"Oh iya Haara, jika pacarmu itu bersaudara dengan Yifan, berarti dia juga orang china dong?" tanya Diana,
Haara mengangguk sambil tersenyum,
"China lahir di Indonesia, apa China asli nih?" tanya Andre,
"China asli lah, dia lahir di China" sahut Haara cepat,
"Ehem ehem, disahutnya cepat sekali" goda Alka,
Haara memukul pelan pundak Alka malu,
"Tuh Fik, tipe ideal Haara itu orang China, kau orang mana?" tanya Gio,
"Kenapa aku? kau saja, kau orang mana?" tak terima Fikri tanya balik ke Gio,
"orang perumahan dekat desa" sahut Gio
Haara yang mendengarnya tertawa kecil,
"Eh eh eh, lagi pula mereka akan bertunangan lho, sudah tak ada peluang" seru Vika,
"Wah, kalau tentang itu kau sungguh akan bertunangan??" tanya Diana antusias,
Haara mengangguk,
"Wahh sungguh sudah serius ya kalian" seru Diana,
"Musnah sudah harapanku~" seru Andre merengek sambil melangkah ke parkiran,
Vika dan Diana tertawa jahat saat mendengar keluhan Andre,
"Ndre, aku tunggu di gerbang ya" seru Vika
"Fik aku juga tunggu depan gerbang ya!"
"Iya" sahut Fikri,
"Lho kalian?" tanya Riza,
"Kami tetanggaan, tidak perlu di jemput tinggal numpang ke dia saja" sahut Vika tertawa,
Riza pun mengangguk paham,
"Lho Haara? Itu pacarmu" seru Diana,
"Mana mana?" tanya Vika mencari cari,
Haara yang melihatnya mengerutkan keningnya bingung,
"lho?" -Haara.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...
...jangan lupa like👍...
...rate⭐⭐⭐⭐⭐...
__ADS_1
...dan komentarnya 💭😊...
...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...