My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Balas Budi


__ADS_3

"Karena kau yang meminta bantuan padaku sendiri tadi, tak ada alasan aku menolak."


Haara tertegun mendengarnya,


"Aku hanya ingin menilaimu tadi, apa kau sungguh ingin aku bantu atau tidak, pada awalnya aku menolak karena kau meminta bantuanku lewat Ammar, jujur saja aku tak menyukai orang seperti itu." jelas Yoan dengan suara pelan kembali fokus.


Penjelasan Yoan sedikit menyindirnya saat ini,


"Kan sudah ku bilang aku takut jika kau menolak." sahut Haara benar-benar merasa tersindir.


"Belum juga mencoba untuk berbicara langsung padaku, sudah takut saja." balas Yoan cuek.


Haara tersenyum menanggapinya,


"Kenapa tersenyum??" heran Yoan menatap Haara sekilas.


"Jadi .. Apa kau tulus membantuku?" cengir Haara menatap Yoan.


Yoan pun balik menatap sambil mengerutkan keningnya.


"Tidak terpaksa membantuku, kan? iyakan iyakan iyakan?" binar Haara mengedipkan matanya beberapa kali.


Yoan tak bisa menahannya, ia tertawa kecil melihat kelakuan gadis disebelahnya kanannya itu, ia pun tak menyahut dan kembali memisahkan lembar-lembar kertasnya.


"Hey tuan Yoan jawab pertanyaanku!" kesal Haara.


"Hmm~" dehem Yoan,


"Cih, bahkan dari jawabanmu, kau tak tulus membantuku." kecewa Haara.


"Jangan ganggu aku, aku sedang fokus." sahutan Yoan yang tak Haara duga.


"Jawab aku dulu! nanti pengajaran yang kau berikan menjadi sebuah keterpaksaan bagiku!" tuntut Haara.


"Hm~"


"Aku tak paham dari deheman mu itu tahu!" geram Haara.


"Aku tulus membantumu, jadi sekarang kau diam, aku harus fokus." sahut Yoan cuek,


Haara menghela nafasnya, ia mengerjakkan tugas nya yang sedikit lagi selesai.


Haara menutup bukunya dan perlahan merangkak ke hadapan Yoan, ia melihat lihat setumpuk kertas yang dipisah pisahkan oleh Yoan.


"Apa yang kau lakukan? kembali kerjakan tugasmu." bingung Yoan menatap Haara diseberang meja.


"Tugasku sudah selesai." sahut Haara masih terfokus dengan kertas kertas diatas meja.


"Coba kulihat."


Haara mengambil bukunya dan memberikannya pada Yoan yang didepannya.


Ada 4 tumpukkan berbeda-beda, ia mengintip setiap lembar kertas yang tertumpuk disana,


"Sudah benar, kau boleh pulang."


"Aku mau bantu!"


"??"-Yoan,


"Aku mau membantu, sepertinya asyik!" seru Haara lagi,


"Apa yang asyik? ini bukan mainan, hari sudah sore, pulanglah."


"Aku sedang menawarkan niat baik lho, biar ku bantu, lagi pula aku tidak menawarkan bantuan untuk sebuah ucapan terima kasih ku kok~"seru Haara cemberut,


Yoan tak menjawab, ia hanya menatap Haara saja.


"Aku saja membantu kak Anna mengetik tugasnya di Word kok, nanti kau cek ulang saja hasilnya." seru Haara bersikeras.


Yoan menghela nafasnya, Yoan menepuk sofa disebelahnya.


"Kemarilah, biar ku jelaskan."


●•●•●•●•●


Ammar membaca pesan balasan dari Haara, ia tersenyum saat membacanya.

__ADS_1


"Sudah ku kira Yoan tak mendengar ucapanku, percuma aku menyuruhnya pulang tapi ia mengerjakkan semuanya di apartemennya, syukurlah Haara ingin membantunya~"


Suara sepatu terdengar semakin jelas mendekatinya, Ammar mencari seorang pengguna sepatu itu.


"Anna?"


"Lho? kemana Yoan?"


"Ku suruh pulang untuk istirahat, tapi ia membawa dokumen dokumennya, sama saja bohong."


"Seharusnya kau perhatikan saat dia pulang tadi." sahut Anna,


"Tadinya ingin seperti itu, tapi Yifan datang kesini untuk menemui Yoan."


"Tumben, ada apa?"


"Entahlah, aku tadi di ruanganku untuk mempersiapkan berkas meeting tadi, ayo." ajak Ammar menarik tangan Anna.


• • •


"Haara tak menemuimu?" tanya Anna.


"Menemuiku kenapa?"


"Untuk membantunya mengerjakkan tugasnya lah, dia tak menghubungimu?" bingung Anna,


"Ahh, ia menghubungiku."


"Lalu?"


"Aku suruh Yoan membantunya."


"Yoan? tapi kan kau suruh Yoan pulang??"


Ammar mengangguk menanggapi pertanyaan Anna.


"Jangan bilang Yoan membantu Haara mengerjakkan tugas di apartemen Yoan sendiri" curiga Anna.


"Hehe~" terciduk Ammar,


"Maaf~ tapi aku lakukan ini agar mereka lebih akrab, begitu pula Haara yang harus mulai mengandalkan Yoan kedepannya nanti, lagipula tanpa aku suruh, Haara ingin membantu Yoan." jelas Ammar.


"Begitukah? hahh aku maafkan~" pasrah Anna.


●•●•●•●•●


Dengan tatapan yang sangat fokus dan serius lembar demi lembar di simpan di tumpukkan kertas satu dan tumpukkan kertas lainnya, sesekali Yoan menatap gadis didepannya yang benar-benar fokus, ia terkekeh senang saat mengetahui jika gadis didepannya ini menuruti ucapannya untuk berhati-hati.


Yoan fokus menyalin tulisan dibuku ia pegang, ke aplikasi word dilaptopnya.


Ia melirik jam di tangannya, jam telah menunjukkan jam 15:57, sudah 3 jam kurang ia hanya berduaan dengan gadis didepannya ini.


Mengingat saat dimana Haara memberikan alasan yang membuat dirinya tersinggung tadi, kini gadis didepannya duduk tenang-tenang saja sekarang.


Yoan memijat matanya pelan, matanya benar-benar pegal dan kering, ia membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan buku yang ia pegang tadi.


"Sudah selesai?" tanya Haara,


"Mataku sakit, aku istirahatkan dahulu mataku." sahut Yoan dengan nada lelah.


Haara mengangguk-angguk paham.


●•●•●•●•●


Tok tok tok!!


"Masuk kak." seru Alka.


Pintu pun terbuka, Alka pun menghampiri adiknya.


Alka melirik kakaknya sekilas, dan kembali fokus kepada laptopnya.


"Kalau kau bosan, jangan jadikan aku bahan permainanmu."-Alka,


"Aku ingin tanya sesuatu padamu."-Aldo,


"Apa?"

__ADS_1


"Tentang Haara."


Alka menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya ke Aldo.


"Kenapa lagi sama Haara? jangan berulah lagi, kakak kan tahu sendiri Haara tidak suka ..."


"Sttt!! aku kesini bukan ingin dengar ocehanmu, dengar dulu."kesal Aldo.


"Iya terus apa?"


"Haara biasanya jika pulang dijemput tidak?" tanya Aldo.


"Kenapa memangnya?" tanya balik Alka.


"Daniel mau ke sekolah kalian buat minta nomor Haara~"


"Apa?! aduh si Daniel nggak paham penolakkan Haara kemarin apa?! Haara itu lebih tak suka dirinya dari pada kakakku!" oceh Alka.


"Tapi ia sudah memaafkanku!" kesal Aldo,


"Iya juga sih~ Haara suka naik bus kalau pulang belakangan ini, karena kakaknya sibuk."


"Hari senin nanti jangan biarkan Haara naik bus, apalagi pulang sendiri, aku takut jika Daniel berlebihan nanti." seru Aldo,


"Ah iya, makasih ya kak infonya."


"Karena aku khawatir dengan Haara, Daniel orangnya seperti itu." sahut Aldo keluar dari kamar Alka.


"Lebih baik Haara pulang bersamaku saja ,kali ini aku akan paksa dia, aku khawatir jadinya~" resah Alka.


●•●•●•●•●


Hari pun mulai gelap, jam telah menunjukkan jam 7 malam saat ini.


Haara berjongkok disamping Yoan yang tak bergeming.


Pria itu ketiduran~


Tadi saat hari masih sore ia ingin membangunkannya, namun mengetahui jika pria ini kurang beristirahat, ia membiarkan pria disampingnya tertidur.


Namun masalahnya hari sudah malam, ia harus pulang, ia inginnya langsung pulang saja, tapi ia renungkan terlebih dahulu untuk pamit pulang pada Yoan, terlebih ia takut jika pulang naik bus malam hari.


Ia kembali mengguncang dan menepuk nepuk pelan tangan kanan pria itu kesekian kali, ia sudah mencoba membangunkan pria itu 20 menit yang lalu,pria itu sangat susah dibangunkan.


"Yoan~ Yoan bangun~ aku mau pulang, aku pamit ya~"seru Haara menahan kesal.


Haara bersyukur kali ini, pria itu terbangun, dapat dilihat Yoan mengambil buku yang menutupi wajahnya dan bangkit duduk.


Wajah khas bangun tidur yang terlihat diwajah pria itu benar-benar tidak melunturkan ketampanan seorang Yoan.


Yoan mengacak-acak rambutnya dan merapihkan rambutnya, ia menatap Haara sebentar.


"Kenapa kau membiarkanku ketiduran." tanya Yoan dengan suara khas bangun tidurnya, Haara merinding saat mendengarnya, namun ia suka mendengarnya.


"Kau tampak kelelahan tadi, jadi aku biarkan kau tidur." sahut Haara berdiri,


Yoan melirik keluar jendela dua kali,ia terkejut, dan langsung melihat jam tangannya.


"Jam 7 lewat?! kenapa kau tak membangunkanku?" panik Yoan melangkah cepat ke kamar mandi.


"Kan sudah ku bilang tadi alasannya." sahut Haara cemberut.


setelah menunggu beberapa menit Yoan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar, ia mencuci wajahnya.


Yoan menatap Haara yang menatapnya, gadis itu cemberut.


"Padahal aku ingin membiarkan mu istirahat, tapi kau marah." seru Haara lesu,


"Aku tak marah padamu, hari sudah malam, aku harus mengantarmu pulang segera, tidak baik berada di tempat tinggal pria saat hari sudah menjelang malam."


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


__ADS_2