
Krik!! Krikk!! Krikk!!
Sunyi~
Tak ada perbincangan antara Yoan dan Haara di dalam lift.
Ting!
Haara melangkah membuntuti Yoan keluar dari lift, sungguh ia merasa senang sekaligus malu.
ia merasa senang saat Yoan memanggil teman-temannya untuk menjelaskan padanya tentnag mereka ikut mengantar Yoan yang mabuk ke apartemen.
semua masalah nya berpusat pada Jessi, karena Jessi melarang teman-teman Yoan untuk mengantar pria itu sampai depan pintu dan Jessi memaksa agar dirinya sama yang merangkul Yoan.
Tubuh Haara terasa panas dingin, perasaan seperti ini membuatnya benar-benar gugup berterusan saat di dekat pria itu.
Tapi ia suka perasaan gugup pada pria itu saat ini.
Ceklek!
Yoan membuka pintu apartemennya yang diikuti Haara di belakangnya.
Yoan menghentikan langkahnya saat telah berada di dalam apartemen, ia memutar tubuhnya untuk menatap Haara.
Terlihat Haara salah tingkah di tatap olehnya, itu membuat Yoan senang bukan main.
"A-aku akan buat minuman untuk pereda rasa pengar mu." gugup Haara jalan melewati Yoan.
*Pengar: efek seseorang setelah mabuk berat, kadang merasa mual atau pusing.
Yoan tak bisa menahan senyumannya yang mengembang, dia benar-benar sangat bahagia sekali.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Yoan telah menghabiskan teh jahe yang Haara buatkan untuknya.
ia telah merasa jauh lebih baikkan.
Yoan terus melirik ke arah pintu kamar,
"dia sungguh pergi mandi kan? sudah setangah jam lamanya dia brlum keluar juga." bingung Yoan.
"Apa ia tidur di kamar mandi?" bingung Yoan.
• • •
Haara membuka pintu kamar mandi nya sedikit, ia mengintip keluar untuk memastikan keberadaan Yoan ada atau tidak.
"huwaa~ kenapa gugupku semakin parah sih~" rengek Haara.
Haara menarik nafasnya dan menghembuskannya, ia berusaha untuk menenangkan dirinya saat ini.
"Semangat AtHaara!" semangat nya pada dirinya sendiri.
Ia pun melangkah keluar kamar.
"E-eh!" terkejut Haara menghentikan langkahnya.
Ia terkejut sekali karena saat membuka pintu kamar, ia mendapati Yoan yang mau masuk ke dalam kamar.
"Sudah selesai mandi nya?" tanya Yoan.
Haara mengangguk malu,
"Aku kira kau tertidur di dalam kamar mandi." kekeh Yoan.
"Ti-tidak kok!" sahut Haara gelagapan.
Yoan menahan senyumnya menatap Haara dalam.
Haara yang ditatap pria itu salah tingkah bukan main.
"Yoan~ kenapa menatapku terus sih~" rengek Haara tersipu malu menutup wajahnya.
"Hey, kenapa menutup wajahmu? Coba lihat sini." seru Yoan mencoba menyingkirkan tangan Haara yang menutupi wajahnya sendiri.
"Yoan nya ngeliatin aku terus~ aku malu~" rengek Haara.
"Hm? Malu? Kemarin-kemarin aku tatap kamu gak malu, malah balik menatapku dan berkata 'kenapa menatapku?' Begitu." kekeh Yoan gemas.
"Kemarin-kemarin itu kan beda dengan sekarang~" rengek Haara.
"Beda nya kalau sekarang kau sudah mengatakan cinta juga padaku, iyakan?" tanya Yoan masih mencoba menyingkirkan tangan Haara yang menutupi wajah gadis itu sendiri.
Haara tak bisa menimpali ucapan pria itu, karena itulah faktanya.
Yoan menarik kedua tangan Haara dan menurunkan tangan gadis itu.
"Aku ingin kembali mendengarnya." seru Yoan.
"De-dengar apa???" tanya Haara panik.
"Pernyataan cintamu padaku lagi." seru Yoan menatap dalam Haara.
Haara yang mendengarnya bungkam.
"Bisa kau ucapkan lagi?" pinta Yoan menatap Haara..
"Aku ingin mendengar nya lagi." seru Yoan menunduk dengan perasaan penuh harap.
Haara tersenyum, perlahan ia mengangangkat tangannya, ia mengelus pipi pria itu.
Yoan secara perlahan menatap Haara yang tersenyum hangat padanya.
"Dengarkan baik-baik ya?" seru Haara.
"Aku, Zhao AtHaara, menyatakan jika diriku ini telah kembali mencintai suamiku sendiri, Zhao Yoan Ti En." seru Haara menatap kedua mata coklat pria itu dalam.
Yoan tak bisa menahan senyumnya, ia tersenyum lebar.
Yoan menarik Haara kepelukannya, Haara pun melingkarkan tangannya di tubuh pria itu.
"Aku mencintaimu juga, AtHaara~"
"Aku juga Yoan." sahut Haara lembut.
●•●•●•●•●
__ADS_1
• • •
Jam telah menunjukkan jam 12:14, mereka baru saja selesai makan siang.
Haara kini terlihat tengah asyik bermain game di ponsel milik Yoan di ruang tengah dengan Yoan yang menjadi penonton.
Yoan mengusap-usap rambut Haara yang bermain game sambil bersandar di dada bidangnya.
Yoan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang di mainkan gadisnya itu untuk melirik gadisnya yang sedang bermain game dengan wajah serius pun terkekeh.
"Huwaa~ aku kalah lagi~" rengek Haara menghela nafasnya kesal.
"Mau main game lain? Hm?" tanya Yoan.
"Aku suka sekali dengan game ini, tapi aku payah sekali memainkannya~" seru Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan.
"Tapi kau sudah kalah hingga beberapa kali." sahut Yoan mencium kepala Haara sekilas.
"Tapi Yoan~ aku kesal dengan gamers ini, dia selalu menyerangku bertubi-tubi, kesal!" cemberut Haara mendongakkan kepalanya.
"Biar aku yang kalahkan." seru Yoan mengadahkan tangannya.
Haara mengalihkan pandangannya pada tangan Yoan dan memberikan ponsel pria itu pada pemiliknya.
Haara membenarkan posisi nya agar lebih nyaman bersandar di dada bidang pria itu, ia pun fokus pada ponsel pria itu.
Haara membulatkan matanya takjub.
"Wah! Kamu jago sekali mainnya, apa kau dulu pernah bercita-cita ingin menjadi gamers?" puji Haara berbinar.
"Tidak, game hanya sebatas hobi ku." sahut Yoan.
YOU WIN!
Haara antusias saat mendengar kata itu dari ponsel Yoan.
Yoan tersenyum penuh kemenangan saat dirinya menang bermain game.
Haara mengambil ponsel pria itu yang di sodorkan padanya.
"Wahh!! Kau bahkan dengan mudah mengalahkan gamers tadi, aku tak bisa sama sekali, sekali tebas saja aku langsung mati, kamu hebat sekali." takjub Haara menatap layar ponsel Yoan.
"Jago bermain game tidaklah hebat, itu hanya sebuah hiburan untuk diri kita saja, beda dengan jago dalam belajar."
Haara menduduki dirinya tegak menghadap pria itu dan menatap pria itu bingung.
"dibanding dengan jago bermain game, lebih baik jago dalam pelajaran, itu akan membuat cita-citamu mudah tercapai." jelas Yoan.
"Iya juga ya, game hanya sebuah game, itu hanya hiburan untuk kita saja." paham Haara.
"Aku tak tahu apa aku pantas bertanya padamu atau tidak." senyum miris Yoan.
"Memangnya kamu ingin bertanya apa??" bingung Haara.
"Hahh~ aku ... Selalu ingin bertanya padamu, apa cita-citamu setelah lulus sekolah, aku merasa tak pantas saja bertanya itu padamu."
"Kenapa kau berkata seperti itu? Tidak pantas dari sudut mananya??"
"Aku telah membuat cita-cita masa depan yang ingin kau gapai hancur karena sebuah pernikahan." seru Yoan melamun.
Haara menggenggam tangan Yoan.
"Jangan menyalahkan takdir, mungkin jika perjodohan kita itu tak terjadi, aku tak mungkin bersamamu sekarang." seru Haara.
"Dan .. Mungkin saja kau sudah menikah dengan wanita lain selain kak Anna." senyum miris Haara.
"Dan mungkin juga ..."
"Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Jika takdir itu menciptakan mu itu untukku, mau bagaimana pun alur kehidupan, kita akan dipertemukan dan akan bersama." jelas Yoan cepat.
Haara tertegun dengan ucapan Yoan, ucapan pria itu sangatlah benar.
"Dulu saja kita bertemu, itu adalah pertemuan pertama kita di Jepang. Pertemuan kita tidaklah baik sekali, dimana kau menyelamatkan nyawaku dan pergi tanpa jejak saat aku akan menemuimu, namun akhirnya kita dipertemukan lagi setelah 2 tahun kemudian." senyum Yoan mengelus-elus pipi Haara.
Haara pun ikut larut dalam ingatan masa lalu saat ia menyelamatkan dan mendonorkan darah pada suaminya itu.
"Aku sangat frustasi dan hampir putus asa mencari keberadaanmu. Namun saat aku sudah di ambang keputus asaan, aku pun di pertemukan oleh mu, sungguh takdir sangat baik sekali." senyum Yoan melamun.
"Maka dari hal itu aku percaya kau diciptakan memanglah untukku." seru Yoan.
Haara menunduk, ia tersenyum tipis, ia dapat merasakan misterinya sebuah takdir.
Yoan meletakkan keningnya di pundak gadis itu.
"Sejauh apapun, kemana pun kau pergi, kau akan tetap kembali padaku, bertemu denganku, begitupun sebaliknya, karena kau adalah tulang rusukku." seru Yoan berat.
Haara memeluk pria itu sambil mengusap pundak pria itu.
"Kau pandai sekali, tuan~" kekeh Haara.
Pria itu tak menyahut lagi,
1 detik ... 2 detik ... 3 detik ... 4 detik ... 5 detik dan teterusnya,
Haara merasa curiga pada pria itu.
Haara menggigit bibir bawahnya saat merasakan Yoan mengendus-endus dilehernya.
"Aku suka sekali harum khas mu, AtHaara~" seru Yoan dengan suara baritonnya.
Yoan menarik Haara secara tiba-tiba krdalam pelukkannya, hal itu membuat Haara sedikit terkejut karena pergerakan pria itu sangat cepat.
Suara ringisan Haara yang lebih terdengar seperti membangkitkan hasrat kaum pria itu pun membuat Yoan mulai berfikir liar.
"Aku tak ingin melakukan hal di luar batas, jadi aku ingin kau tak meloloskan suaramu yang membuatku berfikir liar itu, paham?" bisik Yoan
Gadis itu mengangguk.
Haara menahan nafasnya dan menutup mulutnya rapat-rapat saat pria itu telah melakukan aksinya untuk membuat 'jejak' di leher nya.
Hembusan nafas pria itu terasa berat dan panas sekali di lehernya.
Haara meringis dan mencengkram erat pundak Yoan saat pria itu menggigit lehernya pelan.
Beralih dari satu titik ke titik yang lain,
Jejak merah demi jejak merah lainnya telah Yoan tinggalkan di leher gadis nya itu.
Haara menghembuskan nafasnya, tubuhnya melemah karena detak jantungnya yang berdetak sangat kencang membuat tubuhnya gemetar dan lemas perlahan-lahan.
Yoan beralih menatap wajah gadisnya yang menunjukkan wajah sayu padanya.
Cup!
__ADS_1
Belum sempat Haara bernafas lega, pria itu membungkam mulutnya dengan mulut pria itu.
Haara memejamkan matanya perlahan,
Yoan memundurkan kepalanya menatap Haara yang menunjukkan wajah teraipu malu, Yoan pun memutuskan untuk kembali mencium bibir gadis itu lebih dalam lagi.
Dengan gerakan ragu, Haara mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan perlahan-lahan ia mulai membalas ciuman pria itu.
Yoan yang mendapat sebuah balasan pun tersenyum senang dan langsung meraup habis bibir istri kecil nya itu.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Hari telah menjelang sore pukul 16:17.
Yoan terus menatap Haara yang tengah tertidur di pahanya yang dijadikan bantalan kepala gadis itu.
"Kenapa kau semakin kesini semakin menggemaskan saja AtHaara~" seru Yoan sangatlah pelan.
Kulit putih, bulu mata yang lentik, hidung kecil mancung dan bibir merah yang mungil yang sedikit terbuka dan wajah polos gadis itu membuat Haara dimata Yoan itu seperti seorang anak kecil.
Dengan perlahan Yoan mengusap lembut pipi gadis itu.
"Mmm~"
Yoan menarik tangannya yang menyentuh pipi gadis nya itu dengan cepat, ia telah membuat Haara terganggu.
Yoan mengusap-usap rambut Haara untuk membuat gadis itu kembali tertidur.
"Gemas nya~" seru Yoan pelan.
Yoan menatap leher gadis nya itu, ia tersenyum bangga saat melihat banyaknya karya yang ia tinggalkan di leher gadisnya ini.
●•●•●•●•●
Dengan perlahan-lahan Haara membuka matanya, pemandangan yang ia lihat bukanlah langit-langit apartemennya, melainkan pemandangan wajah suaminya yang membungkuk, pandangan pria itu kedepan, Yoan baru saja akan menyimpan sesuatu di atas meja.
Yoan yang menyadari Haara terbangun pun menatap Haara.
"Ah, sudah bangun? apa aku mengganggumu? Maaf." seru Yoan mengusap-usap rambut Haara sayang.
Haara menggeleng polos, gadis itu menduduki dirinya sambil mengucek-ucek matanya nya sebentar.
Yoan terkekeh melihat Haara yang menatapnya dengan wajah polosnya.
Yoan tak bisa menahan rasa gemas nya, ia menangkup kedua pipi Haara dan mencium bibir gadis itu sekilas.
Cup!
Yoan menatap Haara, gadis itu masih menatap nya dengan tatapan polos khas bangin tidurnya gadis itu.
"AtHaara~ kesadaranmu sudah terkumpul? hm?" tanya Yoan.
"Belum." sahut Haara dengan suara serak.
"Aku tak bisa menahannya, gemasnya akuu~"
Cup!
Cup!
Cup!
Cup!
Yoan memberikan ciuman berterusan di di kedua pipi gadis itu.
"Yoaaan~" rengek Haara.
Cup!
Yoan kembali mencium bibir Haara dan kembali ******* bibir Haara lembut.
Haara tak bisa membalas perlakuan pria itu, karena kesadarannya belum terkumpul sempurna, ia hanya bisa memejamkan matanya menikmati permainan bibir pria itu.
Beberapa menit berlalu, hal itu membuat Haara geram, ia mendorong tubuh Yoan yang tak mengakhiri hasrat nya itu.
"Yoaan~ sudah ih~ Aku mau ke kamar mandi~" rengek Haara.
"Baiklah, pergilah." seru Yoan terkekeh.
Yoan menatap Haara yang jalan dengan malas masuk ke dalam kamar.
Yoan mengusap bibirnya yang basah,
Fikirannya pun mulai kesana kemari, fikiran pria itu bisa di artikan sudah mulai liar.
"Jaga fikiranmu Yoan~" seru Yoan menutup wajahnya.
...•...
...•...
...Author : " moment-moment di part ini masih bisa dibaca untuk sekarang, namun tidak buat besok😆 maka dari itu aku publish part ini sekarang saja deh wheheh😂...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋 Hai, kakak-kakak author hebat!👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa:...
...-Like...
...-Vote...
...-Rate 5 star...
...- komentarnya juga ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
__ADS_1
...See you tomorrow😇...