
Anna menghentikkan mobilnya saat telah tiba disekolah adiknya, seperti biasa ia mengantar adiknya kesekolah jika waktunya sempat.
"Aku masuk dulu, kak Anna hati-hati~"seru Haara pamit.
Anna mengangguk.
"Oh iya kak."
Anna menatap adiknya yang kembali menatap dirinya.
"Kak Ammar .. Apa hari ini ia sibuk??" tanya Haara ragu.
"Yeah~ seperti itulah, kenapa?"
"Aku ingin minta bantuannya untuk mengerjakan tugas ku." sedih Haara,
"Tugas? sepertinya kau harus mengerjakannya sendiri kali ini~"kekeh Anna,
"Aku tidak paham, dan tak dapat mengisinya~ bahkan penjelasan guru berikan dengan tugasku berbeda~"rengek Haara.
"Ah atau kau hubungi Yoan saja, ia mahir sekali jika soal pelajaran." fikir Anna,
"Yoan?"
"Iya, ahh tapi dia sibuk sekali belakangan ini, aku khawatir dengannya." prihatin Anna,
"Khawatir kenapa? bahkan itu memang tugasnya." cuek Haara.
"Pekerjaannya lebih banyak dari sebelumnya, Ammar bilang padaku, jika dia benar-benar tidur hanya beberapa jam belakangan ini,Yoan harus menyelesaikan segera tugas-tugasnya, aku dan Ammar benar-benar kefikiran dengannya, takut jika ia drop." jelas Anna khawatir.
Haara hanya mendengarkan saja ucapan kakaknya, ia tak tahu harus mengatakan apa.
"Jika bisa kau bantu dia." kekeh Anna,
"Kenapa aku? akupun banyak tugas." tolak Haara.
"Aku tak memaksa kok, kau hubungi langsung Ammar saja, apa ia sibuk atau tidak." kekeh Anna.
"Begitukah? baiklah~" seru Haara turun dari mobil Anna.
• • •
Pagi-pagi dengan pasang wajah murung itulah yang terlihat dari wajah Haara, ia sungguh bingung sekali.
Mudah saja, ia tinggal menyontek, tapi ia ingin berusaha untuk memahami cara mengisi soalnya itu.
Ia butuh seseorang untuk mengajarinya, Anna dan Ammar benar benar sibuk saat ini, ia tak ingin menambah beban Anna dan juga Ammar.
Ia teringat ucapan kakaknya tadi mengenai Yoan, ia jadi kefikiran, apa segitu banyak pekerjaannya sampai pria itu hanya tidur beberapa jam?
"Haara."
"Za? baru datang juga?" tanya Haara dengan nada lesu.
Riza mengangguk atas pertanyaan Haara.
"Ada apa denganmu?"
"Aku belum mengerjakan soal fisika, bagaimana denganmu?"
"Aku juga belum."
"Lho? katanya mau diajari Yifan?"
"Yifan belum masuk pelajaran itu, pelajaran fisika baru akan diajarkan pada hari Jum'at" jelas Riza.
"Ahh~ tapi apa ia bisa?"tanya Haara.
"Sepertinya~ kemarin aku berikan soalnya padanya, ia baru melihat soalnya saja belum contoh soalnya, ia kemarin ada kumpulan OSIS." jelas Riza,
"Aku iri."
"Iri? kenapa?"
"Iri dengan otak encernya Yifan." cemberut Haara.
"Kau kira air~" kekeh Riza,
"Pengistilahannya tahu, habisnya ia mendapat peringkat pertama dikelasnya, benar-benar pintar, aku ingin sepertinya, sekali penjelasan saja langsung paham, sedangkan aku? harus dijelaskan 2-3 kali baru paham." curhat Haara,
"Minta ajarkan ke kak Anna kalau tidak kak Ammar saja."
"Mereka kan sibuk mengurusi persiapan pernikahan mereka~"
"Ah iya aku lupa, kalau seperti itu aku akan minta Yifan ajarkan aku, lalu aku ajarkan kamu."
"Sungguh?? ajarkan aku ya, jika masih tak paham~ aku nyontek ya." cengir Haara,
"Iya iya, makannya jangan murung lagi."senyum Riza.
"Aku sudah senyum, lihat!" senyum Haara,
"Baguslah~"kekeh Riza,
Mereka telah tiba dikelas, namun mereka mendapati Alka yang meletakan pipi kirinya di meja dengan wajah tak berekspresi.
__ADS_1
"Ka? kamu kenapa ka? Alka? hey jangan menakutiku!" khawatir Haara mengguncang guncang tubuh Alka.
"Aku benci memiliki kakak sepertinya~" seru Alka dengan ekspresi tak berubah sedikitpun.
"Kenapa dengan kakakmu?"t anya Riza dengan wajah tenang.
"Dia tak ingin mengajariku~ yang ada aku dibilang bodoh!" seru Alka merengek.
"Ha? sungguh?? kakakmu itu benar benar .."-Haara,
"Haara, tolong bantu aku, ku mohon~"seru Alka menatap Haara penuh harap.
"A-aku?bantu apa??"
"Datang kerumahku hari ini kumohon, kau hanya datang saja tak apa, kau bilang itu tugas bagianku, jika aku tak mengerjakannya,kau juga bisa dalam masalah, karena kita sekelompok, kumohon~"pinta Alka dengan wajah memohon.
"Aa~ apa harus begitu??" tanya Haara bergidik ngeri.
"Iya, kumohon~"mohon Alka,
Haara menatap Riza, Riza hanya memberi isyarat agar Haara membantu Alka.
"Mm baiklah, aku .. Aku bantu."
"Sungguh?? terima kasih Haara!!" senang Alka,
"Ah i-iya." ragu Haara,
Ia jadi mengingat terakhir kali ia bertemu kakaknya Alka, kakaknya ingin sekali meminta nomor ponselnya, keantusiasannya sungguh mirip dengan Alka adiknya, itu membuatnya bergidik ngeri saat kakaknya meminta nomor ponselnya.
Namun saat itu ia bersyukur karena ia berhasil lolos, Alka sudah berjanji tak akan memberi nomornya pada siapapun termasuk kakaknya sendiri.
Ia pun terpaksa berbohong kepada kakaknya Alka bahwa ia sudah memiliki kekasih, alasan ia melakukan itu karena ia tak ingin kakaknya Alka meminta nomor ponselnya bahkan memintanya agar menjadi kekasihnya.
Ia berfikir, apa ia akan berhadapan bertemu langsung dengan kakaknya Alka lagi?meski saat itu kakaknya Alka sudah meminta maaf atas sikapnya yang membuat dirinya takut, tapi ia tetap merasa takut.
Ia bersikap biasa saja didepan Riza dan Alka saat membahas kakaknya Alka, ia tak ingin Alka dan Riza khawatir atas ketakutannya, terutama Alka, ia merasa tak enak dengan sahabatnya yang satu ini.
●•●•●•●•●
Haara membuka loker nya,lagi lagi~
"Hahh~ sudah hari keempat ini terjadi, siapa ya dia?" seru Alka melihat Haara mengambil surat dan juga bunga mawar di lokernya.
"Yang pasti pengagum rahasia Haara~"seru Riza,
"Hahh, lokerku bukanlah pemakaman yang selalu diberi bunga~" seru Haara menutup lokernya sambil menghela nafas.
"Siapa ..Yifan? sejak kapan kau .." -Haara yang menyadari Yifan berada disamping Riza.
"Aku pun tak tahu, dia tiba-tiba ada disebelahku." seru Riza yang terkejut melihat Yifan disampingnya.
"Wah~"
Yifan melangkah mendekati Haara,
"Calon kakak ipar, apa itu?" tanya Yifan menatap mawar dan surat yang Haara pegang.
"Wah? Calon kakak ipar? sungguh berani kau memanggil Haara seperti itu disini Yifan." seru Alka,
"Memang kenapa? fakta nya begitu." sahut Yifan menatap Haara.
"Bahkan tuan Yoan bukan kakak kandungmu, kenapa kau menyebut Haara kakak ipar?" tanya Alka bingung.
"Suka suka aku."
"Yifan, ini sekolah, bahaya jika ada yang dengar~" seru Riza pelan,
"Aku juga akan hati-hati dan berucap pelan kok." sahut Yifan yang tak mengalihkan pandangannya pada Haara.
"Ma-mana kutahu, surat dan bunga ini nyasar di lokerku~" seru Haara,
"Tak mungkin nyasar, bahkan pengagum rahasiamu menulis surat ini dan bunga itu untukmu." seru Yifan mengambil surat itu dan membaca tulisan di amplop itu, 'untuk: AtHaara Martin.'
"Kembalikan!" seru Haara garang sambil mengambil surat untuknya itu di tangan Yifan.
Yifan menatap Haara.
"Mawar .. Dan surat? ha! kau mendapat surat cinta??" tanya Yifan.
"Sudah 4 hari belakangan ini ia menerimanya." seru Alka,
"4 hari? mengagumkan sekali." kekeh Yifan dengan wajah tak percaya.
"Kenapa denganmu? bahkan dirimu lebih banyak mendapat surat, bunga bahkan pernyataan cinta." seru Riza menyindir.
"Za, jangan mulai oke? aku sedang membahas tentang kesalahan calon kakak iparku."seru Yifan menatap Riza lalu dialihkan lagi menatap Haara.
"Bagaimana jadinya jika kak Yoan tahu, bahwa kau mendapat surat dan bunga mawar selama 4 hari berturut turut ya??" goda Yifan.
Alka memejamkan matanya, ia sadar, seharusnya ia tak mengatakan jika Haara sudah mendapatkan surat cinta empat hari berturut-turut.
"Ko-kok jadi membahas Yoan sih!"gugup Haara.
"Tentu saja, kak Yoan itu calon suamimu, ingat itu." seru Yifan dengan suara pelan.
__ADS_1
"Ku laporkan saja ya, jika calon istrinya nakal."seru Yifan ber aba-aba akan menelfon.
"Yifan Yifan Yifan, apaan sih, jangan buat masalah deh~"seru Haara,
"Aku hanya melaporkan saja."
"Jangan! kau keterlaluan Yifan~"malu Haara.
"Lalu ku tanya, kau kemanakan 3 surat dan bunga sebelumnya?" tanya Yifan mendecih,
"A-ada dirumah." tunduk Haara malu,
"Kau simpan?? kenapa tak dibuang?"
"Itu terlalu keterlaluan~"
"Sebaiknya di buang, karena kau harus menjaga perasaan kak Yoan nantinya."seru Yifan.
Haara menatap Yifan tak paham,
"Kak Yoan akan menjadi suamimu nanti, seharusnya kau mulai belajar menjaga perasaannya, ya ... Meski kalian berdua belum saling mencintai." jelas Yifan, hal itu membuat Alka dan Riza salut atas ucapan Yifan.
Yifan pun melangkah pergi,
Haara memikirkan ucapan Yifan tadi.
Yifan benar, meski mereka tidak saling mencintai, mungkin lebih baik ia belajar untuk menghargai Yoan meski Yoan belum menjadi suaminya, kelak nanti ia harus menghargai status Yoan nanti.
"Hahh, anak itu benar-benar berfikir dewasa, aku salut sekali." seru Alka menatap arah perginya Yifan.
Riza menatap Yifan pergi dengan tersenyum kagum.
●•●•●•●•●
Hari telah menjelang sore, perjalanan yang melelahkan, akhirnya ia telah tiba dikantornya, ia menyandarkan dirinya di dinding lift.
Ia benar-benar lelah sekali belakangan ini,
Ia benar-benar menambah porsi pekerjaanya 4x lebih banyak daripada porsi biasanya ia kerjakan.
Yoan mencari sesuatu disetiap saku jas hingga celananya.
Sebuah botol kecil berisi kapsul, itu adalah kapsul Vitamin yang ia beli tadi.
Jam tidurnya berkurang, ia hanya tidur 3 jam saja sehari.
Ia memijat pelan matanya, ia merasa blur, karena semalam ia menyalin berkasnya kedalam bentuk print an.
Yoan melangkah masuk kedalam ruangannya.
Helaan nafas berat ia hembuskan,
'Dokumennya bertambah, sejak kapan??' batin pria itu.
Mungkin ia sungguh harus membelakangi menyusun halaman berkas dan golongan golongan dokumennya yang diberikan papanya beberapa hari yang lalu.
"Yoan?" seru Ammar yang baru tiba,
"Kau baik-baik saja?"
Yoan membalikkan tubuhnya mendapati Anna disana,
"Anna?" seru Yoan dengan suara lesu.
"Hahh, Yoan~ jadi keadaanmu lebih kacau dari apa yang Ammar ceritakan ya~" prihatin Anna.
"Kau pun .. Kurusan." khawatir Anna memerhatikan wajah Yoan.
"Aku sungguh lelah sekali~kau tahu?" seru Yoan duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Beristirahatlah, kau benar-benar kacau sekali~ nanti yang ada kau drop bodoh!"kesal Anna.
"Kenapa dengan wajahmu?"kekeh Yoan menatap Anna.
"Wajahku? aku sedang marah denganmu!"
"Kenapa dengan ku? aku baik baik saja, aku mau lanjut periksa dokumen itu sebelum .." -Yoan berdiri,
"Duduk!!" seru Anna menghentak, ia menarik Yoan, hal itu membuat Yoan tercegang dan kembali terduduk.
"Hahh, aku ingin melanjutkan pekerjaanku." tak terima Yoan.
"Istirahat sejenak, dan juga aku tamu disini, aku memintamu duduk, lupakan sejenak pekerjaanmu!" marah Anna,
Ammar yang melihat perkelahian antara Anna dan Yoan terkekeh, memang Anna saja yang bisa membuat Yoan tak bisa mengelak.
"Baiklah, lalu aku harus apa?"
"Duduk dan diam!" -Anna,
Yoan berdecak sambil menyandarkan dirinya disofa.
...•...
...•...
__ADS_1
...{Bersambung}...
...•...