My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Bulan Desember


__ADS_3

Musim Dingin~


Musim dingin di bulan Desember, waktu sungguh sangat cepat berlalu, dan tepat di bulan Desember ini satu tahun yang lalu hubungan mereka hampir terpecah karena kesalah pahaman.


Mereka hampir bercerai.


Jika dirinya mengingat saat-saat itu, sungguh kenangan yang sangat memilukan hati sekali, jika saja kebenaran tak terbukti, ia dapat mengartikan jika dirinya dan Yoan tak lagi bersama, kemungkinan besar pula pria itu menetap di Korea bersama wanita lain, istri baru Yoan pengganti dirinya.


Lalu? Jika kebenaran terbukti di saat dirinya bercerai dengan Yoan, ia berfikir apa ia tak akan perduli jika ia sudah berpisah dengan Yoan dan bahkan Yoan yang telah menikah dengan wanita lain?


Entah lah ia tak tahu.


Hal itu telah berlalu, ia tak ingin mengingatnya lagi.


Sungguh sangatlah spesial di bulan Desember ini, keistimewaan di bulan Desember ini berawal dari tahun lalu.


Ya, semua selalu berawal dari satu tahun lalu.


Hal yang paling tak bisa Haara lupakan adalah di saat Yoan yang menyatakan cinta padanya dan meminta dirinya agar memberi kesempatan padanya agar bisa membuatnya kembali mencintai pria itu lagi dan membuatnya bahagia.


Sungguh tak hanya sebuah omong kosong, Yoan bersungguh-sungguh membuktikan ucapannya pada dirinya, sungguh Haara merasa jika hidupnya sangatlah bahagia apalagi kini sudah mendapati kehadiran dua malaikat kecil yang lucu menggemaskan sebagai bukti cinta diantara dirinya dan Yoan.


Awan mendung, perlahan air hujan turun membasahi tanah.


Hujan yang sungguh menenangkan hati sekali.


'Nenek, apa nenek bisa melihatku dan Yoan? Lihatlah, kami memiliki dua orang malaikat kecil yang cantik dan tampan, mereka lahir dan hadir karena kami saling mencintai nenek, aku sudah menepati janjiku pada nenek dan membuat hidup Yoan yang di penuhi ketakutan pun telah hilang.' batin Haara menatap langit yang gelap dari jendela penthouse nya.


'Dan juga, nenek. Apa nenek tahu? Ternyata kami pernah bertemu tepat dimana saat Yoan sedang dalam pelariannya, aku yang telah datang menolongnya, dan membuat Yoan berhasil kabur beberapa tahun lalu, aku sungguh tak menyangka jika pria yang ku tolong itu adalah Yoan, nenek~ hatiku sakit sekali saat mengingat kejadian itu.' batin Haara lagi meneteskan air matanya.


Srett!


Secara tiba-tiba, Yoan datang dan langsung melingkarkan tangannya di perut Haara, hal itu membuat Haara dengan cepat mengusap air matanya


"Eh? Lho lho lho?? Hey, kamu kenapa?? Kenapa kamu menangis??" tanya Yoan memutar tubuh Haara agar menghadap dirinya, terlihat raut wajah pria itu sangat khawatir.


Haara menggeleng.


"Yiran dan Yu Xi sudah tidur?" tanya Haara.


"Mereka sudah tidur, hey jawab dulu pertanyaanku, kenapa kamu menangis??" panik Yoan mengusap air mata Haara.


"aku hnaya teringat hal lampau, dimana tepat satu tahun yang lalu, pernikahan kita di uji dengan sebuah kesalah pahaman dan hampir bercerai." isak Haara.


Yoan yang mendengarnya seketika merasa jantung nya mencelos.


"Jika saja, kebenaran tidak terbukti saat itu, lalu bagaimana kehidupan ku dan kehidupanmu Yoan? Kita mungkin saja sudah berpisah dan ... memiliki kehidupan masing-masing." seru Haara mencengkram baju Yoan.


"Dan ... dan kamu ... kamu pun sudah menikah dengan wanita lain~" tangis Haara.


"Kau salah."


Haara mendongak saat Yoan mengatakan itu.


"Aku tak akan menikah dengan wanita manapun dan juga perceraian tak akan pernah terjadi di antara kita." seru Yoan menatap Haara sayu.


"Ta-tapi, pasti saat itu aku akan bersikeras agar membuat diriku terlepas darimu." sahut Haara cepat.


"Apa kau lupa keegoisanku?" tanya Yoan.


"keegoisan?"


"keegoisanku itu adalah aku yang tak akan pernah melepaskanmu, meski mama papa kita memaksaku melepaskanmu, aku tak akan lakukan itu." sahut Yoan.


Haara mengingatnya, pria itu memang pernah mengatakan itu.


"Dan saat kau mengatakan sudah tak mencintaiku lagi dan ingin bercerai, rasa keegoisanku menguasai diriku, aku berfikir jika aku akan membawamu kabur dan hidup bersamaku, menjauh dari semua orang yang menentangku bersamamu, kau ingat itu??" tanya Yoan.


dengan perlahan gadis itu mengangguk.


"Tapi, itu sama saja kau menentang keinginan kepala keluarga Zhao."


"Aku tak perduli, aku sungguh benci dirinya yang selalu mengatur kehidupanku, hidup dengan wanita pilihanku itu adalah hak ku, bukan hak nya." sahut Yoan santai.


"Tapi Yoan ..."

__ADS_1


"Tapi apalagi?? Mau tanya yang aneh-aneh lagi??" sela Yoan tajam.


"Bu-bukan, aku mau tanya." gugup Haara.


"Tanya apa?"


"Kau bilang ... Kau tak suka kepala keluarga Zhao mengatur hidupmu termasuk dengan siapa wanita yang menjadi pendampingmu, lalu ... Kenapa saat aku di jodohkan oleh mu kau tak berusaha menentangnya??" tanya Haara.


Pertanyaan Haara seketika membuat Yoan terdiam.


"Entahlah, saat itu aku sudah mengenalmu sewaktu pertemuan ekstrem saat pelarianku di Jepang, entah kenapa aku berfikir tak perlu menolakmu menjadi calon istriku." sahut Yoan.


"Eh?"


"Aku merasa jika kau itu adalah gadis yang sangat menarik, kau itu bertolak belakang dengan wanita-wanita lainnya, ya memang ku tahu jika kau adalah gadis SMA, dan hal itu dirimu mendapat nilai plus dariku."


"Gadis .. Ahh~ jadi seleramu itu seorang gadis SMA ya~"


"Tidak juga."


"Tadi kau bilang?"


"Gadis SMA seperti mu yang aku suka, gadis yang terlihat polos namun bersikap dewasa di dalam." sahut Yoan menatap Haara dalam.


Haara tersenyum saat mendengarnya.


"Lebih memilih dibelikan makanan daripada di belikan barang branded, kau sunggu aneh." kekeh Yoan.


"Makanan lebih enak Yoan, untuk apa beli barang branded? Mahal! Buang-buang duit, aku benci boros." sahut Haara dengan serius.


Yoan mencubit hidung Haara gemas.


"Lihatlah, fikiranmu ini sungguh sangat dewasa sekali." seru Yoan bangga.


Haara terkekeh mendengarnya.


"dan juga gadis polos pecinta makanan manis itu lebih menggoda, aku suka gadis polos yang nakal." goda Yoan.


"ih~ mulai deh~" malu Haara membalikkan tubuhnya membelakangi Yoan.


"Hm?"


"Aku merasa lega pada diriku karena telah mengabulkan permintaan nenek." seru Haara.


Yoan meletakkan dagu nya di pundak Haara, kembali melingkarkan tangannya di perut gadis itu.


"Aku merindukan nenek." seru Yoan pelan.


"Aku juga, waktu sungguh begitu cepat, padahal aku baru bisa merasakan kehadiran seorang nenek, namun secepat itu nenek pergi." sedih Haara.


"Sulit untuk aku terima, dimana seseorang yang hadir harus pergi selamanya, itu sungguh berat sekali untukku." seru Yoan melamun.


Haara menarik tangan Yoan dan mencium telapak tangan pria itu lama, hal itu membuat Yoan mengerjapkan matanya.


"Tapi kau masih memilikiku, nenek telah berpesan padaku untuk memberikan cinta padamu, namun tanpa di beritahu, aku akan memberikannya." seru Haara menatap Yoan di pantulan jelndela.


"Terima kasih AtHaara, terima kasih telah hadir di hidupku dan memberikan cinta untukku." senyum sendu Yoan.


Haara mengangguk dengan senyuman manisnya.


Cup!


Haara menatap Yoan di pundaknya saat pria itu mencium pipinya.


Namun, pria itu kembali mencium pipinya berulang kali.


"Ahaha~ Yoan aduh~" kekeh Haara mencoba melepaskan diri.


"Diamlah, aku ingin menciumnya lagi." seru Yoan.


"Sudah ah~" tolak Haara, gadis itu mundur menjaga jarak saat dirinya sudah terlepas dari Yoan.


"AtHaara."


"Apa?"

__ADS_1


"Kau sudah baik-baik saja kan?" tanya Yoan ragu.


"Baik-baik ... Maksudnya?"


"Sudah dua minggu lebih saat kau melahirkan." sahut Yoan.


"Iya memang benar, kenapa sih?"


"Aku menginginkannya malam ini." seru Yoan.


"Menginginkan ... tunggu tunggu, aku masih takut, aku masih merasa nyeri, jangan sekarang-sekarang ya?" tolak Haara lembut.


Yoan menghela nafasnya kecewa.


"Sabar ya? Tunggu aku pulih ya?" seru Haara menenangkan Yoan.


"tapi aku menginginkannya." merajuk pria itu.


"Yoan~ ayolah, pahami aku ya? Luka jahitanku belum kering lho."


"Baiklah, aku akan menunggunya." sahut Yoan dengan raut kecewa.


"Kau mau aku lakukan apa? Mau ku cium? hm?" tanya Haara lembut.


Yoan tersenyum miring.


Pria itu menunjuk leher nya, hal itu membuat Haara salah tingkah.


"Membuat banyak jejak di leherku, kau bisa iyakan?" tanya Yoan menunjukkan smirknya.


Haara mengerjapkan matanya dan merapatkan bibirnya.


"h-ha?!"


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author:...


..."maknanya, takdirnya Yoan ya dengan Haara begitupun sebaliknya, tapi kalau saat itu Yoan dan Haara berpisah, keegoisan Yoan seram juga ya😣"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2