My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Ilegal


__ADS_3

Suara pintu terbuka lalu tertutup terdengar.


"Kau ngapain ke kamar Xi Cha??" tanya Yoan fokus pada game nya tanpa menatap Haara.


Haara tak menyahut dia fokus dengan kegiatannya,


Yoan mem pause game nya menatap Haara,


"Duduk di bawah," seru Haara.


Pria itu mengerutkan keningnya bingung.


"Aku pinjam hair dryer milik Xi Cha, biar ku keringkan rambutmu". Seru Haara lembut,


Yoan menghela nafasnya sambil menahan senyumnya, pria itu menuruti duduk di lantai dengan punggung di sandarkan ke kaki Haara.


Haara mulai menyisir rambut pria itu dengan jari-jari tangannya,


Ini kali pertama ia mengeringkan rambut seorang pria, suami nya sendiri.


Haara terkagum-kagum dengan rambut coklat terang pria itu,


Yoan meringis saat merasa rambutnya di tarik,


"Ah, maaf! A-aku tak bermaksud menjenggut rambutmu!" seru Haara tak enak.


"Lalu kau sedang apa?" tanya Yoan mengusap rambutnya.


"Mm, mengecek rambutmu sungguh asli coklat terang sampai ke akarnya~" kekeh Haara malu.


Yoan yang mendengar ucapan gadis nya tertawa,


"Mengenai itu, rambutmu kenapa kau mewarnainya menjadi coklat?? Aku sudah bilang bukan? Jika kamu tak boleh mewarnainya sebelum kau lulus sekolah AtHaara~" seru Yoan memutar tubuhnya menatap Haara tajam.


Haara merapatkan bibirnya,


"Aku suka rambutku yang sekarang." sahut Haara.


Pria itu tak menyahut, ia masih menatap Haara dengan tatapan datar.


"Main game lagi saja okey? Aku sedang mengeringkan rambutmu," seru Haara takut.


"..."


Haara menghela nafasnya,


"Apa kau tidak suka dengan warna rambutku yang sekarang??" tanya Haara.


"Tidak,"


Haara terdiam,


"Aku tak ingin kau terlihat dewasa," sahut Yoan datar,


"Dewasa gimana??"


"Aku ingin kau terlihat seperti anak-anak AtHaara~" sahut Yoan mengambil hair dryer di tangan Haara dan mematikkannya.


"Apa aku terlihat tua dengan warna rambut coklat?!" tanya Haara kesal.


"Tua? Aku tak mengataimu tua, melainkan dewasa, aku suka kamu yang terlihat seperti anak-anak." sahut Yoan menduduki dirinya di sebelah Haara.


Gadis itu menunduk,


"Aku sangat suka rambutmu yang sekarang, tapi aku ingin kau tidak mewarnainya saat kau masih sekolah."


"Bisa kah kau bicara jangan membingungkanku?? Tadi kau bilang tak suka dengan warna rambutku yang sekarang, dan baru saja kau mengatakan kau sangat menyukai rambutku yang sekarang, ga jelas!" tanya Haara ketus, ia membuang pandangannya dari pria itu.


Yoan menghela nafasnya dan menarik dagu gadis itu lembut.


Cup!


Haara membelalakan matanya, Yoan mencium bibirnya sekilas.


"Karena kau terlihat lebih menarik dengan rambut berwarna coklat." seru Yoan dengan suara beratnya.


"Me-menarik??"


Yoan mengangguk,


"Aku hanya ingin melihatmu sampai lulus sekolah dengan rambut hitam, karena kau terlihat seperti anak-anak dengan rambut hitam, aku ingin membuat diriku sadar jika dimana saat aku berfikir liar atau lepas kendali, aku ingin membuat diriku sadar jika istriku itu masih seorang siswi SMA." jelas Yoan.


Haara mengerjapkan matanya tak percaya dengan alasan yang pria itu katakan.


Yoan memainkan rambut Haara,


"Rambutmu yang sekarang membuatku menjadi tertarik dan mudah berfikir liar, AtHaara~" seru Yoan menatap rambut Haara dengan tatapan sayu.


Haara mematung seketika mendengar ucapan pria itu.


"Jangan lupakan suamimu yang umurnya terpaut 6 tahun denganmu, fikiran seorang pria dewasa seperti ku lebih berbahaya daripada pria yang seumuran denganmu." seru Yoan menatap Haara dalam.


Haara terhipnotis dengan tatapan pria itu, tatapannya fokus menatap mata coklat pria itu.


"Umurku yang sekarang itu semakin kesini semakin mudah tergoda dengan hal sekecil apapun itu, apalagi perubahan warna rambut dari gadis yang aku cintai, naluri pria dewasa lebih berbahaya dengan gadis yang di cintainya, jangan buat aku menjadi seorang yang ilegal, nona."


Deg! Deg!


Haara mencengkram seprei kuat,


Haara memang menyadarinya, saat rambutnya telah berubah menjadi warna coklat, pria itu terlihat lebih berbahaya.


ia mengira jika pria itu melakukannya karena Yoan sudah terang-terangan menyatakan cinta padanya, namun alasannya sepele dan di luar dugaan.


"Aku juga dapat info dari Yifan, kau itu menjadi perbincangan hangat di sekolah karena warna rambutmu yang sekarang, itu membuatku tak suka sekali." jelas Yoan membuang pandangannya.


Haara menatap Yoan menunjukkan wajah tak suka,


'Apa Yoan sedang cemburu kah?' batin Haara,


"Kau dengan rambut hitam saja banyak sekali pria yang mengagumimu, apalagi dengan rambut coklat? Kau terlihat semakin cantik, AtHaara~" seru Yoan cemburu.


"Dan juga, cinta mu padaku sudah menghilang, sekarang aku sedang mencoba mengembalikkan rasa cintamu padaku, aku takut di saat kau belum mencintaiku lagi, kau menyukai teman pria seumuran denganmu." merajuk Yoan.


Haara terkekeh melihat Yoan yang merajuk dan cemburu.


Yoan menatap Haara datar,


"Aku serius AtHaara, aku tidak suka." seru Yoan serius.


Haara langsung terdiam.


"Saat itu, kau melarangku untuk mewarnai rambutku, apa dibalik dari alasan itu?" tanya Haara,

__ADS_1


"Aku tidak suka jika kau itu terlihat seperti gadis yang nakal, aku lebih suka melihat gadis yang baik-baik." sahut Yoan menunduk.


"Aku mewarnai rambutku karena saat kita masih salah paham, ku teringat dengan ucapanmu, kau bilang jika kau menyukai rambutku yang berwarna hitam, jadi aku merubahnya untuk membuatmu tidak suka padaku." jelas Haara.


Yoan mendecih,


"Yang ada kau semakin membuatku menggila, AtHaara~" sahut Yoan memijat pelipisnya.


"Kau lebih menyukai rambutku yang berwarna coklat, apa kau yakin ingin melihatku dengan rambut berwarna hitam lagi?" tanya Haara,


"kau terlihat cantik dengan warna rambut hitam sekalipun~" seru Yoan menutup wajahnya,


"Sungguh??" tanya Haara tersenyum menatap Yoan yang menutup wajahnya.


"Hm, lebih baik kau jaga diri dariku dengan warna rambutmu yang sekarang, kau membuatku berfikir liar saat di kamar seperti ini." seru Yoan menatap Haara dengan tatapan menggoda.


"A-apa aku harus ke salon sekarang??" seru Haara bergidik takut.


Yoan memejamkan matanya,


"Arghhh~ At ... Haa ... ra~" hela nafas Yoan memanggil nama Haara keras,


"Hm?" dehem Haara dengan wajah polos,


"Wajahmu~ kenapa kau membuat hasratku tersiksa AtHaara?" tanya Yoan menatap Haara dalam.


Haara bangkit berdiri sambil memeluk dirinya sendiri.


Haara menatap Yoan takut.


Yoan mengusap wajahnya gusar dan melangkah keluar dari kamar.


Haara menghela nafasnya lega,


"Aku tak punya uang untuk ke salon, jika tidak secepatnya aku mengganti warna rambutku, habis aku!" gerutu Haara.


●•●•●•●•●


• • •


• •



"Apa?! Ka-kau mengatakan jika kau menginginkan hal 'itu' darinya??!" terkejut Ammar,


Ya, kini dirinya sekarang berada di balkon bersama Ammar.


"Tidak bodoh, aku hanya mengatakan agar dia jaga diri dariku." sahut Yoan menatap Ammar tajam,


"Aku itu hanya bertanya, jangan menunjukkan wajah serammu itu." kesal Ammar mendorong bahu Yoan pelan.


"Aku tak ingin egois Ammar," seru Yoan lesu.


Ammar menatap Yoan yang sudah mulai bercerita padanya.


"Aku tak ingin karena keegoisanku, masa depan AtHaara hancur karena tindakanku." seru Yoan lagi.


"Hm, kau benar! setidaknya sampai Haara lulus." sahut Ammar menatap pemandangan indah pepohonan tanpa daun.


"Aku tak ingin memaksa jika dia sudah lulus sekali pun, aku tak akan membuatnya takut karena belum siap." seru Yoan tersenyum sangat tipis.


"Aku ingin ia kuliah dan menggapai impiannya, aku tak ingin ia berfikir karena sebuah pernikahan muda untuknya ini, cita-citanya hancur begitu saja." seru Yoan memejamkan matanya.


"Salut aku denganmu, kau sungguh tak ingin terlihat buruk sedikit pun di depan Haara, ya." puji Ammar.


Di balik itu semua ...


Ada Haara yang sedang menguping bembicaraan dua orang pria dewasa di balkon.


Haara meremas baju depannya kuat,


Sungguh mengejutkan sekali pengakuan pria itu pada kakak iparnya, Ammar.


'Yoan sangat mengutamakan sekali masa depanku, ia tak ingin cita-citaku hancur karena diriku ini sudah menikah dan sudah berstatus sebagai istrinya.' batin Haara terharu.


'Yoan, aku sangat senang dengan semua alur pemikiranmu tentang ku dan keinginanku, aku beruntung sekali memiliki suami sepertimu, Yoan~' batin Haara sambil tersenyum cerah.


Haara mengintip dari sebalik dinding dan tersenyum sayang menatap punggung pria itu yang masih berbincang dengan Ammar.


'Aku menyayangimu, Yoan. Terima kasih.' batin Haara dan beranjak melangkah pergi.


Yoan menatap Ammar serius, ia baru teringat satu hal.


"Oh iya Ammar, aku sampai lupa membahas ini denganmu." seru Yoan mengerutkan keningnya, hal itu juga berlaku pula dengan Ammar.


●•●•●•●•●


Haara menduduki dirinya di ruang tengah, ia sedang memerhatikan Anna dan Xi Cha yang sedang asyik menonton acara di televisi.


"Wah! Kak Anna dan Xi Cha girang sekali, kalian sedang menonton apa sih?" tanya Haara bingung,


"Gishi! Kemarilah! Kita sedang menonton acara perlombaan di televisi, kemarilah dan kita tonton bersama!" seru Xi Cha antusias,


"Sungguh??" binar Haara,


"Iya, kemarilah! Jangan berduaan terus di kamar." sindir Anna mempersilahkan Haara duduk di tengah.


"Jangan-jangan kak Yoan melarang kakak untuk keluar kamar??" tanya Xi Cha.


"mm ..."


Haara teringat dimana pria itu selalu bertanya padanya yang akan keluar dari kamar.


"mm ... itu artinya iya~" seru Anna,


"wah keterlaluan sekali kak Yoan, aku baru kali pertama melihat kak Yoan seperti ini lho kak!" tambah Xi Cha antusias.


"Sungguh??"-Haara


Xi Cha mengangguk mantap.


Anna terkekeh melihat Haara terkejut.


"Ini adalah kali kedua aku melihat Yoan yang menunjukkan rasa perhatian dan sayang setelah dirimu lho, Xi Cha. Namun yang membedakan, Yoan itu posesif sekali sepertinya dengan kakak iparmu." seru Anna pada Xi Cha menggoda Haara.


Haara tersipu malu.


"Apa terlihat seperti itu kah?" tanya Haara malu.


"Yoan sering sekali menimpali pertanyaan dan perkataan dengan tatapan tajam. Apa ia juga lakukan itu padamu?" tanya Anna.


"Mm .. Pernah, sangat menyeramkan." gosip Haara.

__ADS_1


"Sungguh?? Ia juga pernah menimpali ucapanmu dengan ucapan savage nya itu tidak???" tanya Anna lagi mulai menggosip.


"Pernah kak! Pernah! Ucapannya benar-benar pedas!" setuju Haara.


Xi Cha tak sempat melontarkan ucapan yang ingin ia katakan, sampai dimana ...,


"Asyik sekali membicarakan ku ya?"


Percakapan Haara dan Anna terhenti,


"YOAN!?"


Yoan memicingkan matanya menatap Anna dan Haara tajam,


Anna dan Haara mati kutu.


"Wanita memang suka sekali bergosip, sampai aku sendiri menjadi bahan gosip kalian, ahh .. Apa bahan untuk di gosipkan sudah tak ada lagi nona-nona??" seru Yoan datar,


"Bahkan yang di gosipkan itu sesuai faktanya." seru Anna menhindari tatapan tajam Yoan.


Haara menatap Yoan yang menatap Anna tajam.


Deg!


Haara menunduk saat Yoan gantian menatapnya.


Suara langkah kaki terdengar mendekat kearahnya.


Srett! Srett!


Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan yang berdiri didepannya yang mengusap lembut rambutnya.


Pria itu tersenyum tipis padanya.


"Secepat itu ekspresimu berubah pada Haara?? Wah! Salut aku!" seru Ammar takjub.


"Aku mau keluar dulu dengan Ammar ya?" seru Yoan lembut.


"Eh? Mau kemana?" tanya Haara pura-pura tak tahu.


"Mengantar Ammar ke suatu tempat, dia lupa jalan katanya." jelas Yoan.


Haara menatap Ammar yang terkekeh menatapnya.


Haara kembali menatap Yoan dan mengangguk.


Yoan pun melangkah pergi di ikuti oleh Ammar di belakangnya.


• • •


Xi Cha menatap Haara dengan tatapan sulit di artikan,


Namun Haara membalas dengan senyuman,


"Mau pergi sekarang??" tanya Anna,


"Boleh, ayo!" sahut Haara antusias.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Hari telah menjelang malam, jam menunjukkan jam 9 malam.


"Aku akan menyiapkan nya dulu ya, terima kasih sudah mengantarku! Kak Anna, Xi Cha!" senang Haara.


Xi Cha dan Anna mengangguk.


Haara memutar balik tubuhnya, langkahnya terhenti saat melihat Yuu dan Yifan yang berdiri di belakangnya entah sejak kapan.


"Yuu? Yifan? Mengejutkan saja~" seru Haara,


"Ah! Kau sudah tahu ya, sudah mau persiapan kah?" tanya Yuu,


Haara mengangguk antusias menenteng barang-barang di tangannya.


Anna mengerutkan keningnya menatap Yuu dan Yifan yang aneh.


"Ada apa dengan kalian??" tanya Anna.


"Ada kepala keluarga Zhao ingin bertemu dengan kak Yoan, kau dan kak Yuu." seru Yifan ragu.


Deg!


"Tak hanya kepala keluarga Zhao, Finn juga ada disana." seru Yuu.


Sontak Haara terkejut bukan main mendengarnya,


'Finn??! Ada apa lagi ini??!' batin Haara gemetar.


...•...


...•...


Author: "ngapain ya Finn kira-kira?🤔"


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...


...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...


...❗Jangan lupa untuk❗:...


...✔like,...


...✔vote,...


...✔rate 5 star, dan...


...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...


...📜Pesan dari Author:...


..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...


...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...

__ADS_1


...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...


__ADS_2