My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Meminta Bantuan


__ADS_3

Ammar melangkah masuk kedalam lift sambil meringis.


Dengan memasang raut merasa tak tega, ia mencoba menjelaskan pada adik dari kekasihnya, ia benar-benar tak tega membiarkan Haara kesulitan dalam mengerjakkan tugas.


Ammar:


"Ee .. Haara~ hari ini aku tak bisa, esok pun tak bisa, karena aku dan Anna kakakmu besok harus foto prewedding, maaf ya~"


Haara:


"Iya tak apa kak Ammar, aku paham~tapi aku sungguh tak paham, bagaimana ini~" (rengeknya)


Ammar:


"Ah kau minta bantuan pada Yoan saja ya~dia itu lebih mahir dari ku lho."


Haara:


"Tidak! aku masih marah dengannya!"


Ammar:


"Eeehh, ayolah~ kau tak boleh lama lama marah dengan calon suamimu, Yoan memang menyebalkan, tapi pasti jika kau memohon padanya, ia pasti mau bantu~"


Haara:


"Aku harus memohon padanya? tidak akan!"


Ammar:


"Ah iya aku lupa jika Yoan banyak pekerjaan saat ini." (kekehnya)


Haara:


"Sepintar apa memangnya dia memahami tugasku?" (serunya dengan nada merendahkan)


Ammar:


"Sulit ku akui tapi dia itu lebih pintar dariku tahu." (kekehnya)


Haara:


"sulit dipercaya."


Ammar:


"Aku serius Haara~"


Haara:


"Aku sebenarnya malas sekali bertemu dengannya~"


Ammar:


"Ayolah~ kau tak mungkin memilih dihukum nanti karena tak mengerjakan tugaskan? kau datang saja ke kantor Yoan, nanti aku bilang pada Resepsionis dan meminta Resepsionis itu mengantarmu ke ruanganku."


Haara:


"Mm~ apa tidak apa aku minta bantuannya?"


Ammar:


"Jangan sungkan padanya~ dia pasti membantumu~ meski nanti kalian sedikit cekcok, tapi aku yakin dia bakal membantumu~ nanti aku bantu bicara padanya sebelum pulang."


Haara:


"Jika dia menolak beberapa kali aku pulang!"


Ammar:


"Aku akan bicara nanti dengan Yoan ya, kau datang saja, kau pulang jam empat sore kan?"


Haara:


"Mm~aku nanti pulang jam 1 sore, karena guru akan ada rapat."


Ammar:


"Oh oke, langsung saja kesini oke."


Haara:


"Hm~"


Ammar:

__ADS_1


"Kututup ya, sampai jumpa!"


Haara:


"Sampai jumpa."


• • •


Alka yang dari tadi memerhatikan Haara pun akhirnya bertanya, mereka tak istirahat di kantin melainkan mereka hanya beli minuman dan kembali kekelas, karena kantin yang ramai sekali.


"Bagaimana bagaimana???"


"Kak Ammar sibuk~"sahut Haara sedih.


"Baru saja aku mau kekantin, kalian tak makan dikantin?" tanya Riza.


"Kantin ramai, jadi aku dan Haara memutuskan makan dikelas saja." sahut Alka.


Riza mengangguk paham,


"Ayo pulang." -Riza,


"Ahh~ enaknya pulang cepat~ bagaimana kalau kita beli hamburger? aku lapar~" seru Alka merenggangkan tubuhnya.


"Baiklah, ayo."


●•●•●•●•●


Yoan meminum coklat panasnya sampai habis, ia mendapat panggilan dari Yifan sepupunya tadi, jika pria itu akan datang ke kantornya untuk membahas hal penting yang harus ia tahu.


Ia merasa bingung, sepenting apa sampai ia datang ke kantornya, bahkan ia tak mengatakannya lewat telefon saja.


"Ini Vitamin mu, minumlah~" seru Ammar membawa segelas air putih dan botol berisi vitamin.


"Kau bisa luangkan waktu sebentar?" tanya Ammar.


"Luangkan waktu untuk apa?"tanya Yoan meminum Vitaminnya,


"Hanya sebentar~ tolong bantu aku~"


"Kau minta bantuan apa dariku?" bingung Yoan,


"Luangkan waktumu untuk Haara~"


"Ha?" bingung Yoan mengerutkan keningnya,


"Aku kan harus menggantikanmu rapat 1 jam mendatang, ia minta agar diajarkan mengenai tugasnya." jelas Ammar,


Yoan menghela nafas mendengarnya,


"Hanya sebentar saja, kasihan~ biasanya dia mengandalkanku dan Anna ,namun kau tahu bukan sekarang aku tak bisa~"


"Tadi kau menyuruhku pulang~" seru Yoan merapihkan dokumen yang ia niatkan akan ia bawa pulang.


"Ayolah, bantu dia, biarkan Haara bergantung padamu mulai sekarang~ kau bisa bersantai diapartemnmu sambil mengajarinya diapartemenmu."


"Kau menyuruhku membawanya ke apartemenku?!" tak percaya Yoan,


"Habis bagaimana lagi, aku sudah bilang pada direktur dari perusahaan yang aku ajak rapat nanti jika kau itu sedang sakit, jika kau terlihat di kantor, aku ketahuan bohong tahu!" jelas Ammar,


"Kenapa kau mengatakan hal itu???" tak menyangka Yoan


"Agar kau pulang dan istirahat." cengir Ammar,


"Kau tunggu saja, nanti dia datang."


Yoan menatap Ammar tajam, namun Ammar tak perduli.


"Aku akan kembali keruanganku, aku harus mempersiapkan berkas untuk rapat nanti." pamit Ammar.


"Oh iya, kau jangan macam-macam pada Haara oke." goda Ammar,


"Jangan berfikir negatif! kau menyudutkanku saat ini, awas kau!"seru Yoan marah.


"Maaf Mr. Yoan~whahahaha!!" tawa Ammar melangkah keluar.


Yoan duduk dimeja kerjanya sambil menggaruk rambutnya.


Suara ketukan pintu terdengar, Yoan pun mempersilahkan masuk.


Yoan menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya.


"Kau terlihat bukan seorang CEO saat ini."


"Berisik, pekerjaanku lah ya g membuatku stres!" sahut Yoan ketus,

__ADS_1


Yifan hanya terkekeh mendengar ucapan Yoan.


"Hal penting apa yang ingin kau katakan?"


"Sebaiknya kita bicarakan ini sambil duduk, karena aku akan mendongengimu kak Yoan~" kekeh Yifan.


●•●•●•●•●


Bingung~


Itulah yang ia rasakan saat ini, apa yang harus ia lakukan? apa ia akan pergi ke kantor pria itu atau tidak.


Ia tak mungkin menyontek dengan sahabatnya, ia tak enak~


Ia melirik jam nya, sudah 40 menit yang lalu sekolah dibubarkan, kini ia telah menghabiskan makanannya pula.


"Yifan ada urusan apa? sampai ia menyuruhmu menunggu disini?" tanya Alka.


"Urusan keluarga, ia menyuruhku menunggu disini lalu kami pergi ke rumahku untuk mengajariku." jelas Riza,


"Dirumahmu?" -Alka,


"Ada adikku dirumah." sahut Riza yang peka dengan kecurigaan Alka.


"Urusannya sudah selesai, kalian pulanglah~" seru Riza yang membaca pesan dari Yifan, ia merasa tak enak kedua sahabatnya menemaninya saat ini.


"Benar sudah jalan kesini?"


"Iya, terima kasih sudah menemaniku." sahut Riza tersenyum.


"Sama sama, ee ... Alka, aku harus pergi kesuatu tempat, kamu tak apa kan pulang sendiri??" tanya Haara.


"Mau ditemani tidak?" tawar Alka,


"Ti-tidak usah, aku duluan ya, sampai jumpa dihari senin Alka, Riza~" pamit Haara buru-buru.


"Iya hati-hati" -Riza,


Alka menatap kepergian Haara dengan raut bingung.


• • •


Dengan cepat ia berlari menghampiri bus yang berhenti, dengan cepat ia pun masuk kedalam bus, ia mengatur nafasnya saat ia sudah duduk.


"Akhirnya aku memilih meminta bantuannya" serunya sambil cemberut.


Bus pun tak lama melaju.


6 menit sudah bus melaju, tatapannya fokus keluar jendela bus, kendaraan pun mulai padat di jalan raya, ia berharap semoga pria itu mau mengajarinya.


Hari ini sudah menginjak hari ke lima ia tak bertemu dengan pria itu, awal pertemuan dirinya dengan pria itu selalu canggung, ia akan mengalaminya lagi nanti.


Ponselnya berdering,a da pesan masuk untuknya.


"Kafe diseberang jalan?" seru Haara membaca isi pesan dari Ammar.


Haara pun bergegas turun karena tujuannya sudah sampai, ia melihat keseberang jalan, terdapat sebuah cafe disana, ia pun bersiap untuk menyebrang.


• • •


Kafe yang tak begitu ramai pengunjung disana, suara lonceng kecil berbunyi saat pintu kafe itu terbuka.


Matanya pun ia fokuskan disetiap sudut kafe itu, pandangannya terhenti, dengan ragu ia melangkah mendekati pria itu.


Jantungnya berdegup, ia merasa gugup saat ini, apa ia harus lari saja? selagi pria itu belum menyadari keberadaan dirinya


Belum sempat ia berbalik, Yoan menyadari keberadaannya, ia menatap Haara sambil memiringkan kepalanya, ia terheran melihat Haara yang ingin memutar balik tubuhnya.


Haara mati kutu ternyata, ia memejamkan matanya sambil menggerutu pelan.


Ia membuka matanya perlahan dan melirik Yoan, pria itu masih memperhatikannya dengan raut datar.


Ia mengatur nafasnya dan melangkah mendekati Yoan.


"Setelah lama aku menunggumu, lalu kau mencoba untuk lari ya." seru Yoan memainkan cangkirnya.


"Ti~tidak!" gelagap Haara.


"Lalu? tadi mau kemana?"


...•...


...•...


...{Besambung}...

__ADS_1


...•...


__ADS_2