
"Kissing~" bisik Alka dengan nada jahil.
Seketika wajah Haara panas, ia terkejut apa yang Alka bisikkan padanya.
"ALKA!!"
Riza yang melihatnya menutup telinganya.
"Itu tak mungkin!" malu Haara,.
"Kenapa tak mungkin, bahkan nanti saat kalian sudah sah, kalian pasti akan 'itu' lho~"
"Ng-ngga akan, dia gak akan melakukannya!" tolak Haara,
"kau mau kan, kissing dengan tuan Yoan~" tanya Alka menggoda Haara,
"Aku juga tidak! aku tak ingin ia mengambil ciuman pertamaku!"
"Hahh, dia itu nanti akan menjadi suamimu Haara~" seru Riza membuka pembicaraan,
"Me-memangnya harus? aku tak mau!" seru Haara, panas di wajahnya tak kunjung hilang.
"Lalu kau ingin memberikan ciuman pertamamu pada siapa??" tanya Alka
"Mm, dia tak akan melakukannya~"
"Seyakin itu? bahkan dia itu pria lho, pasti ia menginginkan hal semacam itu~" jelas Riza.
"I-iya aku tahu ia pria, tapi .. Dia tak mencintaiku, biasanya ciuman itu terjadi saat mereka saling jatuh cinta~" sahut Haara,
"Bagaimana denganmu?" -Riza
"Bagaimana apanya?"
"Kau menyukainya?" tanya Riza,
"Eh? tiba-tiba bertanya hal ini, tidak! aku tidak menyukainya!"
"Berarti belum saatnya, pasti kau akan secepatnya menyukainya, bahkan mencintainya" cengir Alka,
"E-eh? kenapa kau seyakin itu?" tanya Haara,
"Tak mungkin kau tak akan menyukainya bahkan mencintainya, tuan Yoan itu tampan, keren, cool, berwibawa, uuuhh, dia sempurna sekali!!" sahut Alka dengan mata berbinar.
"A-awalnya aku juga berfikir seperti itu, tapi dia itu benar-benar kepribadian ganda!"
"Mm? kenapa kau berkata seperti itu?" bingung Riza,
"Karena sikapnya yang dengan cepat berubah-ubah, nanti dia itu berada di mode jahilnya, dan nanti dengan cepat ia akan berubah ke mode cuek, dingin, berwajah datar hingga menakutkan, bagaimana aku tak menyebutnya kepribadian ganda!" jelas Haara kesal,
"Tapi awalnya kau suka kan~" goda Alka,
"Iya, sekarang tidak!"
"Tak boleh seperti itu, aku maklumi sikapnya berubah-ubah. tak masalah, yang penting dia tetap tampan~" binar Alka,
"Alka, kau sedang berbicara dengan siapa?" seru Riza mentap Haara,
"Calon istrinya, aku tak lupa itu" -Alka,
__ADS_1
"Haara ingatlah, jangan terlalu membencinya, nanti kau kemakan omonganmu sendiri lho." seru Alka lagi,
"Kalau suka dan cinta pun tak apa, kalian akan bersuami istri juga nanti" seru Riza,
"Ka-kalian senang sekali membuatku malu atas ucapan kalian tentang ku" geram Haara.
●•●•●•●•●
Hari yang melelahkan bagi Anna saat ini, ia cukup sibuk menghandle semua pekerjaannya, sampai jatah pekerjaannya untuk dua hari kedepan, ia kerjakan dalam seharian ini, ia tak ingin pekerjaannya menumpuk dan mengganggu fikirannya saat mempersiapkan acara peenikahannya nanti.
Waktu nya hanya 2 minggu, itu sangatlah membuat fikirannya sangat terbebani, sangatlah mendadak, ia tak bisa membelakangkan atau melalaikan urusan persiapan pernikahannya.
Ia dan Ammar harus mempersiapkannya dengan matang dengan waktu yang benar benar singkat.
Ia mendapat sebuah telfon dari Ammar kekasihnya, Ammar memberitahukan kepada Anna bahwa dirinya sedang berada di lantai bawah, pria itu menunggunya.
Rasa lelahnya seketika hilang, pria itu seperti menyihir Anna dengan kata kata yang ia lontarkan lewat telfon, sukses membuat Anna tersenyum, sesegera mungkin ia merapihkan dokumen dokumennya dan membawanya.
• • •
"Ammar~" panggil Anna menghampiri Ammar yang berada di depan kantor ia bekerja.
"Membawa dokumen-dokumen itu lagi?" tanya Ammar,
"Aku harus menyelesaikannya."
"Apa sebegitu banyaknya kamu mengerjakan dalam satu hari??" khawatir Ammar.
"Tidak kok, aku minta kepada papa untuk memberiku pekerjaan untuk beberapa hari kedepan,"
"Kau yakin? jangan memaksakan dirimu~" khawatir Ammar dengan nada sedikit marah.
Anna terkekeh mendengar ucapan dan melihat ekspresi Ammar
"Jangan mengalihkan pembicaraan, dengarkan ucapanku, jangan memaksakan diri." seru Ammar serius,
"Iya iya, aku hanya ingin nanti saat kita cuti setelah menikah aku tak ingin pekerjaanku menumpuk, atau harus mengerjakan pekerjaanku dirumah, sama saja bohong~" jelas Anna.
"Lagipula aku hanya merangkum isi dokumen ini untuk presentasi rapat 1 sampai 3 hari kedepan kok, dan juga menyalin tulisan tangan ini ke laptop kok." seru Anna.
Ammar menghela nafasnya, ia benar benar tak habis fikir dengan kekasihnya ini yang akan menjadi istrinya nanti,
"Bagaimana dengan pekerjaanmu??" tanya Anna saat menyimpan dokumen dokumen itu di mobil,
"Aku menunda tugasku yang ku tinggalkan saat aku marah dengannya, aku juga akan mengerjakannya dirumah."
"Samanya~"
"Aku hanya tak enak dengan Yoan, Yoan saat itu mengerjakan separuh tugasku yang ku tinggalkan, dan sekarang ia juga harus merevisi dokumen dokumen dari China, benar benar lebih berat sakali sekarang fikirannya." jelas Ammar.
"Mungkin ia juga berfikiran sama seperti kita, ia akan menyelesaikan revisi dokumen-dokumen itu secepatnya"
"Kau benar, aku melihat dia tadi sangat sibuk sekali, ia berangkat pagi sekali, istirahatnya pun hanya sebentar saja, dan kembali merevisi dokumennya, aku kasihan dengannya, aku ingin membantu~namun pekerjaanku sama menumpuknya~" jelas Ammar yang prihatin dengan sahabatnya.
"Aku juga sama menumpuknya~ kita prihatin saja dengan nasib kita masing-masing." kekeh Anna,
Ammar hanya mengangguk-angguk.
"Ya sudah, ayo."
__ADS_1
●•●•●•●•●
Hari akan menjelang malam, ia masih fokus dengan dokumen-dokumennya itu,
Ia harus menyusun dokumen dokumennya itu sesuai tanggal tanggalnya, itu benar benar menguras fokus pengelihatannya, urutan tanggal dokumen dokumen itu sungguh berantakan!
Belum lagi ia harus mencocokkan kertas-kertas itu dari tahun ke tahun~
Yoan menatap dokumen yang belum ia revisi, helaan nafas lelah dan wajah lelah terlihat jelas, Yoan memijat pelipisnya, kepalanya benar benar pusing sekali.
Bagaimana tidak? selama seminggu ia mengerjakkannya, ia baru memeriksa 7 dokumen, itu juga ia mengerjakkannya lembur.
"1 .., 2, 3, 4 .., ... ...,hahh 8 dokumen lagi~, belum menandatangani berkas berkas dan juga rapat~" keluh Yoan,
Ia mulai mengganti tugasnya, yaitu membaca berkas yang harus ia tanda tangani.
"Sepertinya keinginanku mengerjakkan hal mudah di kabulkan, sekalinya terkabul membuatku pusing mengerjakkannya." seru Yoan terkekeh.
●•●•●•●•●
Jam telah menunjukkan jam 10 malam, Haara mendapati Anna dengan wajah lelah, Anna duduk di sofa lalu Haara menghampirinya sambil membawa air sirup.
"Kak Anna, ini"
"Terima kasih Haara, peka sekali kamu." kekeh Anna meminum air sirup itu,
"Tumben kakak lembur? papa saja sudah pulang tadi jam setengah sembilan."
"Hahh, iya, aku tadi habis mencari tempat untuk pernikahan, belum gaun, cincin, jamuan, dan juga dekorasi tempat, dan juga fotografer, hahh masih banyak lagi." frustasi Anna.
"Benar-benar repot sekali kakak, mau aku bantu separuh pekerjaan kakak tidak?"
"Mm, kamu sibuk tidak?"
"Memangnya ada yang bisa aku pahami kak?"
"Ada, kamu tinggal menyalin tulisan tangan, salin itu semuanya di Word."
"Boleh! biar kubantu!"
"Sungguh??? terima kasih Haara adikku sayang~!!" seru Anna memeluk Haara senang,
"iya kak, sama-sama~" kekeh Haara,
"sepertinya Yoan harus meminta bantuan juga padamu." kekeh Anna.
"eh?"
"anak itu sedang revisi, pekerjaannya sangat mudah, hal itu membuatnya jenuh mengerjakkannya." jelas Anna.
Haara menyahut dengan senyum kikuk,
"ya sudah aku mau mandi, nanti aku antar kertas tulisan tangan yang akan kamu ketik di word setelah aku mandi ya." senyum Anna.
Haara mengangguk pelan dan menatap kakaknya pergi ke lantai atas.
...•...
...•...
__ADS_1
...{Bersambung}...
...•...