
Haara fokus melihat sekitarnya,
tatapan yang jeli pada setiap objek, langkahnya terhenti saat melihat ada sayuran segar disana.
Yoan memerhatikkan Haara yang fokus mengamati sayuran sayuran disana.
Namun fokusnya teralihkan pada sesuatu,
"Apa wortel ini kekurangan zat melanin?" gumam Yoan,
Haara yang mendengarnya pun menatap Yoan,
"Wortel?"
"Iya, wortel ini berwarna putih" sahut Yoan,
Hal itu membuat Haara tertawa geli,
"Kenapa kau tertawa?" bingung Yoan,
"whahahahaha!!, Itu lobak tahu! masa tak bisa bedain mana wortel mana lobak? kau ini sedang melawak kah?" tawa Haara pecah,
"Aku keliru saja" sahut Yoan malu,
Haara menutup mulutnya untuk menghentikkan tawanya,
"Baiklah terserah apa katamu saja~".
• • •
Yoan membuntuti Haara dibelakang, saat gadis itu berhenti ia pun ikut berhenti
"Yoan, daripada terus membuntutiku, bantu aku ambilkan gula di sebelah, ambil 2 bungkus" seru Haara yang sibuk memilih bumbu lain
Yoan pun menuruti,
"Hmm, lada dan MSG dimana ya? Ah ini" seru Haara berbicara sendiri,
Yoan menyodorkan tepat di hadapan wajah gadis itu,
"Apa ini?"
"Gula"
Haara memeriksa 2 bungkus yang katanya 'gula' itu,
"Ini garam Yoan, gulanya ada diatas sana" jelas Haara menunjuk tempat gula berada
"Mereka sama saja, mana ku tahu ini garam" sahut Yoan mengambil 2 bungkus gula itu,
Haara menahan tawanya,
"Menertawakanku lagi?" kesal Yoan
"Tentu saja, padahal sebelumnya kau itu hidup mandiri, tinggal di apartemen, tapi kau tidak pandai memasak dan juga tidak pandai memilih bahan makanan, lalu apa yang kau makan saat pagi dan malam??" tanya Haara menatap Yoan heran,
"Untuk apa susah susah masak jika bisa membeli diluar" sahut Yoan yang menatap 1 bungkus gula dan 1 bungkus garam,
"Makanan diluar belum tentu sehat tahu" protes Haara mendorong troli nya,
"Apa yang kau lakukan?" tanya Haara,
"Mana gula mana garam?" tanya Yoan menyodorkan dua bungkus yang ia amati kepada Haara,
"Ini gula, dia seperti kristal dan seperti butiran tidak seperti bubuk, dan garam ini seperti bubuk dan terlihat kasar" sahut Haara menjelaskan,
Yoan mengangguk paham, ia menyimpan 2 bungkusan itu ke dalam troli.
"Hahh, aku ragu, apa kau benar benar pria jenius yang di bilang Yifan?"
Yoan melirik ke Haara,
"Ragu kenapa?"
"Bahkan kau tak bisa membedakan hal mendasar tentang sayuran dan bumbu bumbu"
"Itu tidak penting bagiku, lagi pula itu adalah keahlian seorang wanita" sahut Yoan cuek,
"Ada benar nya ucapanmu" kekeh Haara,
"Apa lagi yang belum?" tanya Yoan,
"Mm, sudah semua" sahut Haara.
• • •
Haara menghentikkan trolinya, ia menghela nafasnya, karena antrean tak begiu panjang, ia ikut mengantre.
"Ini" seru Yoan menyodorkan kartu ATM padanya,
"Eh? kenapa .."
"Apa kau berniat mencuri semua belanjaan? Bayar pakai kartuku" sahut Yoan,
Haara mengambilnya dan tersenyum kaku,
"Aku tunggu di sana" seru Yoan melangkah pergi.
●•●•●•●•●
Yoan membuka pintu belakang mobilnya dan memasukkan belanjaan bahan bahan di kursi belakang mobilnya,
Haara menyodorkan kartu ATM itu pada pria itu,
Yoan pun mengambilnya,
"Kau mau makan apa?" tanya Yoan,
__ADS_1
"Hm? Ee terserah kau" sahut Haara,
"Aku malas berfikir, aku tak menerima jawaban terserah" sahut Yoan menatap Haara,
Haara mulai berfikir, Haara tersenyum jahat,
"Aku .. Ingin makanan yang pedaaaaasss sekali, aku ingin hot spicy chicken!!" seru Haara semangat,
"Tidak dengan makanan pedas!" sahut Yoan cepat,
"Eeeh tadi kau bertanya sendiri padaku, ya aku inginnya makan makanan yang super pedas" tak mau mengalah Haara,
Yoan menghela nafanya geram, ia menatap Haara tajam,
"Iya iya, tidak dengan makanan pedas, bagaimana dengan lestoran Jepang di mall ini?".
• • •
Haara menyebutkan makanan yang ia pesan kepada pelayan, setelahnya pelayan itu pergi.
"Mm Yoan" panggil Haara,
Yoan menyahut dengan deheman,
"Aku .. Aku lupa beli persiapan dan beberapa snack untuk besok, kau .. Tak keberatan menemaniku?" tanya Haara ragu,
Yoan yang fokus pada layar ponselnya pun menatap Haara sambil mengerutkan keningnya,
"Atau ..kau tunggu dimana gitu, takut nya bosan"
"Lebih bosan jika aku menunggumu" sahut Yoan kembali fokus pada ponselnya,
"Ah iya juga"
"Berapa hari acara berkemahnya?"
"Dua hari"
"Ku harap kau tak ceroboh dan mengikuti intruksi dari gurumu, jangan membantah lagi" peringat Yoan
"Iya iya" cemberut Haara,
"Itu yang kau katakan tadi saat aku menyuruhmu menunggu di mobil, tapi kau seakan tak perduli, jika itu terjadi aku benar benar akan menghukummu" seru Yoan dengan tatapan tajam,
Haara mengangguk dengan ekspresi takut.
●•●•●•●•●
Dari sebuah termos kecil, kotak bekal, gelas hingga mangkuk Haara memasukkannya dalam keranjang,
"Aku butuh sendal dan kaus kaki yang cukup tebal" serunya pada diri sendiri,
kemana dengan Yoan? Pria itu sedang pergi ke toilet
"Tinggal ke tempat snack dan minuman!" seru Haara,
"Haara?"
"Rizal?"
Rizal berjalan mendekati Haara dengan senyum senang,
"Wah! merasa terhormat kau mengingat namaku!" sahut Rizal terkekeh,
"Ahahaha bisa saja" kekeh Haara juga,
"Kau .. Dengan siapa Rizal?"
"Dengan teman temanku disana" tunjuk Rizal, 5 orang yang tak jauh dari dirinya dan Rizal,
"Kalau kamu? Sendiri?"
Haara sedikit kikuk saat di tanya,
"Aku .. Dengan .. Pacarku" sahut Haara,
Rizal melihat sekeliling hingga kebelakang Haara,
"Dimana dia?"
"Sedang ke toilet, aku disuruh menunggu disini" sahut Haara,
"Wah, jadi apa sungguh kau sudah memiliki pacar? Rumor itu sungguh cepat sekali tersebar, ku dengar dia anak kuliahan ya?"
Haara tertohok mendengarnya, nyatanya sungguh percaya mereka jika Yoan anak kuliahan,
'Mereka akan terkejut jika mengetahui berapa umur Yoan sebenarnya'
"Dari Universitas mana?" tanya Rizal,
"Itu .."
"Haara?"
Haara menengok kebelakang nya, mendapati Yoan yang melangkah mendekat,
Haara terkejut saat Yoan mengambil keranjang belanjaannya,
"Maaf aku lama" seru Yoan lembut,
Haara tersenyum dan menggeleng arti 'tidak apa apa'
"Dia siapa?" tanya Yoan mengintimidasi,
"Ah! dia teman sekolahku Rizal namanya, ia temannya Yifan juga" seru Haara,
"Ah Hallo salam kenal" seru Rizal, ia menyadari jika teman temannya ikut menghampirinya
__ADS_1
Yoan tersenyum,
"Ya sudah, aku dan teman temanku pergi ya, aku tak ingin ganggu kencan mu dengan pacarmu, sampai jumpa!" cengir Rizal pamit,
"Ke kencan" terkejut Haara,
"Sudah selasai?" tanya Yoan,
"Mm ya sudah"
"Ya sudah ayo"
• • •
Antrean yang sepi dan kosong membuat Haara bernafas lega lagi saat berada diposisi atrean ke dua kali nya.
"Totalnya seratus sepuluh ribu rupiah" seru pegawai kasir,
"Tunggu seben .."
Gerakkan Haara untuk mengambil uang di dompet di hentikkan oleh Yoan,
"Saya bayar dengan kartu ATM" seru Yoan pada pegawai kasir,
"Yoan? Tidak usah~ pakai .." ucapannya terhenti saat Yoan menatap nya, ia tahu maksud tatapan itu.
●•●•●•●•●
Haara mendorong troli yang berisi plastik belanjaannya beriringan dengan Yoan,
entah kenapa ia merasa tak enak belanja sebanyak ini pria itu yang membayarnya.
Yoan yang berinisiatif membuka pintu belakang mobilnya dan memasukkan belanjaan istrinya kesana,
"aku .. taruh trolinya dulu" seru Haara mendotong troli itu dengan langkah cepat,
saat Haara telah menyimpan troli itu, ia fokus pada Yoan yang masih berdiri ditempat sambil menatapnya,
Yoan memandang Haara yang semakin mendekat,
"ada apa? kenapa tak masuk ke dalam mobil?" bingung Haara,
pamdangannya teralih pada sebuah benda yang di sodorkan pria itu,
"eh?"
"ambil"
"ta tapi, tidak .."
"ku bilang ambil, ini ku berikan padamu" seru Yoan menyodorkan kartu ATM yang berbeda dari sebelumnya pria itu membayarkan belanjaannya,
"ha?! untukku??"
"hm"
Haara hanya menatap ATM itu, Yoan meghela nafasnya menggenggam tangan gadis itu dan meletakkannya di telapak tangan gadis itu,
"beli barang barang yang kau butuhkan, jangan membeli barang yang tidak penting, aku tidak suka wanita yang senang menghamburkan uang" seru Yoan,
"ka kau serius memberikan ini untukku??"
"pertanyaan yang sama seperti aku membelikkan mu ponsel baru, iya" sahut Yoan sabar,
Haara menatap ATM di tangannya,
"kenapa memberikkannya padaku?" tanya Haara,
Yoan menarik nafasnya menahan amarah,
"pertanyaan macam apa itu?"
Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan yang lebih tinggi tentunya dari dia,
"aku berikan itu karena aku tak ingin kau membeli atau membayar apapun dengan uang tabunganmu, kenapa kau tak minta saja padaku?" tanya Yoan bingung,
"aku .. "
"jangan katakan lagi kalimat 'tak enak padamu' AtHaara"
ahaara menggaruk kepalanya yang tak gatal,
"seperti yang ku ucapkan saat itu, uangku sekarang uangmu juga, kau juga menjadi tanggung jawabku sekarang" seru Yoan datar,
Haara yang mendengarnya pun langsung gugup,
"sudah ku katakan jangan sungkan meminta apapun padaku, kau tahu? jika kau seperti ini terus kau benar benar tak menganggapku suamimu" seru Yoan membuang pandangannya,
Haara terkejut atas penuturan pria itu,
"a aku tidak bermaksud seperti itu" sahut Haara cepat,
Yoan tak menyahut
"a aku minta maaf! a aku tak akan sungkan meminta apapun padamu, aku janji!" seru Haara mantap,
Yoan menatap Haara tajam,
"ku pegang janjimu" sahut Yoan.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...