
Haara ternganga saat ia melihat Yoan di depannya ini nyata.
Suaminya ada di sini!
"Mau ku aduin tidak??" tanya Yifan pada Andre, Fikri dan Dio.
"Fan! Fan! Bercanda Fan, jangan Fan!" takut Fikri.
"Fan bercanda woy! Ada beneran orangnya, mati aku~" seru Andre.
"Fan ngadu you and me, end!" seru Dio mengancam.
Haara menatap Vika, Diana, Fellysha dan ketiga teman Fellysha bergantian, pandangan mereka terfokus pada Yoan.
"Mereka kenapa?" tanya Yoan.
Haara pun langsung menatap Yoan yang menatap aneh Yifan yang sedang berdebat.
"Bukan apa-apa, tunggu! Kamu kok bisa disini?? Kamu ngapain disini??" tanya Haara tak habis fikir.
"Aku? Disini sedang mengetes pembimbing berbakat dalam program bimbingan belajar yang termasuk dalam jadwal ku." sahut Yoan santai.
"H-ha??! Hey, sejak kapan??" tanya Haara ternganga.
Yoan membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada Haara.
"Sejak sekarang, karena aku ingin istriku lulus dengan nilai sempurna dengan pembimbing yang sudah mahir." bisik Yoan.
Haara menahan senyumnya saat mendengar ucapan Yoan.
Yoan yang melihatnya ikut tersenyum.
"Manis banget senyumnya ya ampun, melting aku~" bisik Diana berbinar.
"Stt, memujinya dalam hati saja, kedengaran Yifan di aduin lho." bisik Vina.
"Aku takut tak bisa mengajarimu belajar karena kesibukanku, jadi aku berfikir untuk lakukan ini untukmu, maaf aku tak bisa mengajarimu." seru Yoan pelan merasa bersalah.
Haara menggeleng.
"Tidak usah di fikirkan, yang ada aku berterima kasih padamu karena kamu sudah memperdulikanku sampai segininya, Yoan." terharu Haara.
Yoan mengelus rambut Haara sayang.
"Hoi Yifan!" panggil Yoan dengan cepat merubah raut nya menjadi raut datar.
"Iya, apa?" tanya Yifan.
"Masuk sana, paman memanggilmu sebelum mereka semua masuk, jangan mengulur waktu." seru Yoan.
"Ah! Hampir lupa, untuk kalian berdua, ingat ini sekolah, jaga sikapmu kak Yoan." seru Yifan pada Haara dan Yoan m, ia pun masuk ke dalam.
Semua pun terdiam setelah Yifan masuk ke dalam.
"Ahahaha, canggung begini, Diana duduk yuk, dekat adik kelas!" seru Vika.
"Hahah, Ayo ayo." tawa hambar Diana.
Fikri, Dio, dan Andre pun mengikuti Diana dan Vika yang jelas tanpa di ajak.
"Untuk kalian berdua." panggil Yoan.
Vika dan Diana terdiam sejenak mereka bersamaan menunjuk dirinya diri sendiri.
"Terima kasih sudah menemani bocah ini saat kedua sahabat nya tak masuk." seru Yoan mengacak-acak rambut Haara.
"Ihh!! Yoaaan!!" kesal Haara.
"Ahaha, sama-sama kak." sahut Diana kaku.
"Haara anaknya asyik juga kak, jadi akan mudah ia mencari temannya." kaku Vika.
Yoan tersenyum simpul pada Vika dan Diana, hal itu membuat Vika dan Diana salah tingkah.
"Penipu." seru Haara sangat pelan.
"Hm? Penipu apanya?" anya Yoan bingung.
"Kakak? Bahkan kamu lebih pantas di panggil om." seru Haara dengan suara berbisik.
Yoan yang mendengarnya tertawa.
"Berarti kamu suka om-om ya? Wah! Mengesankan." seru Yoan menggoda Haara.
"Ihh, apaan sih!" salah tingkah Haara.
"Dua bocah itu kenapa tak masuk?" tanya Yoan.
"Ha? Mm~ mereka tepar." kekeh Haara.
"Tepar?" tanya Yoan bersandar di dinding.
"Tepar karena waktu jalan-jalan ke Bali, mereka demam." jelas Haara merasa tak nyaman di perhatikan teman-temannya.
"Beruntung kamu ngga." sahut Yoan menyelipkan rambut gadis itu di belakang telinga.
Sungguh Haara saat ini merasa gugup, sangat jelas dari gerak-gerik tubuhnya.
"Kamu kenapa sih?" bingung Yoan melihat tingkah Haara yang aneh.
"Aku merasa risih saja mereka mempertontonkan kita." sahut Haara pelan.
__ADS_1
"Biar saja, teman-temanmu terlihat pandai menyebar berita, terlihat dari wajah penasaran mereka." seru Yoan.
"Eh??"
"Dan pasti tiga pria hingusan itu, haluin kamu." seru Yoan dapat menebak semuanya dengan benar.
"Pria hingusan?? Kamu bisa saja!" sahut Haara tertawa kecil memukul tangan Yoan.
Yoan terkekeh.
"Ah, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Haara dengan raut serius.
Yoan mengangguk.
"Jauh lebih baik." sahut Yoan tersenyum.
"Hahh, aku kira kamu kerja di kantor." seru Haara sangat pelan.
"Aku memang kerja di kantor tadi, jam 10 tadi aku kesini, nanti aku akan ke kantor nanti jam 1 nanti, untuk menghadiri rapat-rapat yang sempat tertunda." jelas Yoan pelan.
"Kalian ayo masuk, kalian adik kelas juga masuk sekalian saja." seru Yifan yang sudah keluar.
"Makan siang dulu setelah dari sini, jangan lupa." seru Haara memperingatkan.
Yoan hanya tersenyum tipis.
"Yifan, habis ini, tak ada hal yang harus di lakukan untuk AtHaara untuk membantumu lagi, kan?" tanya Yoan pada Yifan.
"Tidak, kenapa? Mau ajak kabur?" tanya Yifan.
"Baiklah! AtHaara, kita makan siang bersama." seru Yoan pada Haara.
"Ha???"
●•●•●•●•●
Setelah mengantar setumpuk brosur pada ketua kelas di kelas lain Haara pun akan pergi keluar area sekolah untuk makan siang bersama dengan Yoan yang tengah menunggunya.
"Eh? Mau kemana Ra?" tanya Fikri.
"Ah, mau pergi keluar area sekolah." sahut Haara.
"Mau makan siang bareng tunangan mu yang tadi ya?" tanya Dio.
"Hehe, iya."
"Wah~ tunanganmu keren sekali ya, ku akui." seru Andre.
"Tentu saja! ya sudah, aku pergi ya, sampai jumpa." senyum Haara melangkah pergi.
"Hahh, seketika sekolah gempar dengan berita tunangannya Haara itu, insecure aku dengan visualnya, kalah saing." sedih Dio.
• • •
Haara tersenyum saat melihat Yoan yang duduk di meja makan outdoor.
Terlihat Yoan kini sedang fokus bermain game di ponselnya.
"Game terus~" seru Haara duduk di kursi seberang Yoan.
"Aku bosan." sahut Yoan menyimpan ponselnya.
"Bosan?"
"Iya, tadi saat kau belum ada." sahut Yoan.
"Aku tadi sudah pesan makan siang nya." seru Haara.
"..."
Tak ada sahutan, Haara pun menatap Yoan di depannya, kini pria itu tengah menatapnya dalam.
"Kenapa menatapku?" tanya Haara.
"Kemungkinan belakangan ini aku akan sibuk sekali, aku merasa bingung dan khawatir sekarang." curhat Yoan.
"Bingung? Khawatir? Kenapa? Apa pekerjaanmu itu sukar?" tanya Haara.
"Tidak, bukan itu, pekerjaanku mudah, yang aku bingungkan serta khawatirkan itu adalah dirimu." seru Yoan.
"Aku??"
"Ya, jika aku lembur pulang malam, aku khawatir denganmu." seru Yoan melamun.
Haara tersenyum mendengar kekhawatiran pria itu padanya.
"Aku akan baik-baik saja kok." sahut Haara.
"Kau bicara seperti itu tapi aku tetap merasa perasaanku tak enak belakangan ini entah kenapa." seru Yoan merasa resah.
Haara terdiam sejenak mendengar ucapan Yoan, seketika ia seperti sedang Deja Vu.
"Aku bukan anak kecil Yoan, jangan buyarkan urusan pekerjaanmu karena aku, ya?" seru Haara menggenggam erat tangan Yoan di atas meja.
"Tetap saja, saat aku memikirkan nya perasaanku tak tenang." seru Yoan larut dalam fikirannya.
Haara menatap Yoan dalam, sikap dan raut pria itu terlihat aneh sekali.
"Kau baik-baik saja? Kau terlihat aneh Yoan." seru Haara serius.
"Aku baik-baik saja, perasaanku tak enak entah kenapa." seru Yoan melamun.
__ADS_1
Sebelah tangan Haara mencengkram rok nya kuat, jantung nya berdegup kencang karena perasaan tak enak yang pernah ia rasakan pun di rasakan Yoan saat ini.
'Ada apa ini??' -Haara.
"Ahh~ sepertinya aku terlalu banyak fikiran karena pekerjaan ku menumpuk, karena kemarin aku memikirkan ini, jadinya perasaan ku campur aduk." seru Yoan.
"Ahaha~ ya, pasti karena kau banyak fikiran." tawa hambar Haara.
Haara jadi teringat saat melihat seseorang tadi di lorong sekolah, tapi ia menepis keras dugaannya itu, itu tak mungkin orang itu.
●•●•●•●•●
Haara melambaikan tangannya saat Mobil Yoan melaju pergi menjauh.
'Perasaan kami seperti terhubung, kami sama-sama bisa merasakan perasaan tak enak itu secara bergantian, benar-benar aneh.' batin Haara melangkah masuk ke area sekolah.
"Ke rooftop saja kali ya? Minum susu pisang yang di belikan Yoan tadi, pasti menyenangkan." senyum Haara berlari kecil.
• • •
Hembusan angin hari yang akan menjelang sore terasa sejuk sekali.
Haara menghembuskan nafasnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Sejuknya~ nyaman sekali disini!" seru Haara lari ke besi pembatas.
"Mukashi to onaji, watashi no on'nanoko.
(Sama seperti seperti dulu, gadisku.)"
Deg!
"Omotta tōri, okujō ni iku.
(Pergi ke rooftop seperti yang ku harapkan.")
Sontak Haara membalikkan tubuhnya.
Mata Haara membulat sempurna, tubuhnya mematung seketika, hatinya mencelos saat melihat siapa seseorang yang sedang mengajaknya bicara menggunakan bahasa Jepang itu.
'Tidak mungkin! Tidak mungkin ini dia! Tak mungkin pria yang ku lihat di lorong itu adalah dia!' batin Haara menolak.
"Okujō ga sukina AtHaara.
(AtHaara yang menyukai rooftop.)" seri pria itu melangkah mendekati Haara.
'tidak, ini sungguhan, dia ... ZEN!!!?' -Haara membelalak.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "siapakah Zen?? adakah yang tahu??😫 ini akan menjadi masalah terakhir untuk hubungan Haara dan Yoan, ...
...he came back! dia kembali lagi.😢"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...🚨Please penilaiannya ya kakak-kakak semua🚨...
...karena itu semua sangat berharga untuk author sendiri😇🙏...
...Hallo kakak-kakak Readers dan kakak-kakak author hebat😍...
...Terima kasih telah setia membaca karya pertama ku ini ya😇...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1