My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Tak Ada Alasan Untuk Menolak


__ADS_3

Yoan ternganga mendengar jawaban gadis dihadapannya, benar-benar terang terangan dan secara langsung Haara menghinanya, sungguh ia merasa harga dirinya terinjak sekarang.


Yoan tak habis fikir, ia mengacak-acak rambutnya, ia berdiri dan melangkah mendekati Haara.


"E-e-eh, 2 meter 2 meter!" jaga-jaga Haara mulai melangkah mundur hingga ia bersandar dipintu.


Yoan menghela nafasnya, ia harus sabar.


"Kau tahu? jika ucapan mu tadi telah membuatku tersinggung?" tanya Yoan tersinggung.


"Ha? a-aku tak menyinggungmu." sahut Haara,


"Bahkan kau mengataiku tak memiliki etika." seru Yoan lagi dengan tatapan tajamnya,


"Sudah ku bilang aku tak menyinggungmu, ucapanku yang tadi itu bukan ku khususkan untukmu." jelas Haara panik.


"Lalu? untuk siapa?" tanya Yoan melipat kedua tangannya didepan dada.


"Ya .. Untuk pria yang .."


"Bahkan semua orang saat melihatku pun tahu jika aku adalah pria." sela Yoan menekankan ucapannya.


"Dan ucapanmu itu yang tadi mengarah juga padaku, jika bukan untukku, kenapa kau menjaga jarak sampai sejauh 2 meter?itu sama saja kau mengataiku." tambah Yoan menatap Haara datar.


Haara menunduk, ia tak bisa berkata-kata.


"Tapi sungguh aku tak bermaksud mengatakannya untukmu, aku minta maaf, seharusnya aku fahami terlebih dahulu ucapanku sebelum aku katakan." jelas Haara sangat merasa bersalah.


Yoan menghela nafasnya, ia merasa terlalu berlebihan mengungkitnya, ia tahu jika gadis didepannya ini tak berniat menyinggungnya, meski perkataannya benar-benar jelas menyinggungnya.


"Kemarilah." seru Yoan dengan nada rendah,


"Ha?" -Haara menatap Yoan,


"Jika ucapanmu yang tadi benar-benar bukan di lontarkan untukku, kemarilah." sahut Yoan duduk kembali di sofanya.


Haara mengangguk lemah dan mengikuti ucapan Yoan.


"Duduk."-Yoan,


Haara menurutinya lagi, ia masih merasa tak enak dengan Yoan.


"Mana buku tugasmu? dan juga kertas coretan." pinta Yoan,


Dengan cepat ia mengambil buku tugasnya dan juga buku coretan, Haara membuka lembar buku tugasnya.


Yoan menatap buku yang Haara keluarkan bersamaan dengan buku tugas tadi.


"Mm itu buku coretan yang biasa kak Ammar tulis beberapa cara dibuku ini." seru Haara menjelaskan.


Haara memerhatikan Yoan yang tengah membaca buku tugasnya dan mencoba menulis di buku coretan miliknya.


Tatapan Yoan benar-benar datar dan dingin, apa pria disampingnya ini tak tulus membantunya? itu adalah pertanyaan yang ada dibenak Haara saat ini, ia sedikit merasa tak enak sekarang.


"Mmm bukannya muatan A itu 0,4 nC dan muatan B itu 0,6 nC?dan jaraknya pun .. 8 cm?" tanya Haara bingung karena Yoan yang menulis penjelasan sebelum di isi.


"Ini contoh soal yang kubuat, jika contoh soal ini sudah kau pahami, kau bisa kerjakan tugasmu sendiri."


"Yah, sama saja bohong~" rengek Haara,


"Tentu kau yang mengisi, aku hanya akan menjelaskannya padamu."


Haara menekukkan bibirnya, hal itu membuat Yoan menatap gadis disebelahnya.


"Kau berharap aku yang mengisinya?"


"Tidak, kak Ammar yang menulis sambil jelaskan jawabannya dan aku yang menghitung." sahut Haara,

__ADS_1


"Hahh, pantas saja"-Yoan,


"Makannya kau jelaskan seperti kak Ammar saja~"


"Ini baru tugas, bagaimana jika kau ulangan dan ujian? apa gurumu yang akan menulis jawabannya dan kau hanya menghitung?" tanya Yoan,


"Tidak juga sih~"


"Lebih baik kau paham, itu lebih baik, jika kau paham, itu akan menguntungkan untuk dirimu sendiri." seru Yoan,


Haara mencerna ucapan Yoan tadi,


Pria itu benar.


"Aku tak pandai untuk memahami pelajaran dalam 1x penjelasan, itu yang membuatku khawatir dengan diriku sendiri~" seru Haara menjelaskan.


"Aku akan menjelaskan padamu, perhatikan." seru Yoan,


Haara menuruti ucapan Yoan sendiri, ia mulai menjelaskan pada gadis itu dengan beberapa coretan panah dan asal jumlah dari jawaban yang ia jelaskan.


• • •


Yoan mendorong buku coretan dengan soal baru yang ia tulis kepada Haara yang sibuk mengingat cara pengerjaan soal yang Yoan berikan tadi,


"Sekarang kau kerjakan ini sambil jelaskan padaku."


"Je-jelaskan?"


Yoan mengangguk,


"Aku tak pandai berkata katanya~"


"Aku tidak menilai penuturan ucapanmu, aku hanya ingin tahu pencapaian pemahamanku, cepat jelaskan." tuntut Yoan,


Haara menelan ludah perlahan, ia tak mengira jika ia harus mengerjakkannya sambil menjelaskan,


"I-iya"gugupnya,


●•●•●•●•●


"Baiklah, cukup sekian meeting hari ini." seru Ammar mengakhiri,


Semua rekan meeting pun bubar,


"Pak Ammar, apa Mr. Yoan baik-baik saja?" tanya CEO yang meeting bersama nya tadi.


"Ah iya, ia baik-baik saja, beliau sakit kepala karena belakangan ini ia kurang tidur karena mengurus pekerjaannya yang menumpuk." jelas Ammar,


"Ah seperti itu, baiklah kalau saya dan rekan saya pamit, saya berharap meeting selanjutnya ia bisa ikut berpartisipasi." ramah CEO dari perusahaan lain itu.


"Itu pasti, berhati-hatilah." senyum Ammar,


Ammar mengecek ponselnya, jam telah menunjukkan jam 2 kurang.


"Hahh, apa Haara menemui Yoan ya? jika iya, apa tugasnya banyak? aku menyuruhnya pulang itu untuk dia istirahat, semoga tak banyak." hela nafas Ammar mengirim pesan kepada Haara.


●•●•●•●•●


Ia sukses menjelaskan dan mengisi soal yang diberikan Yoan tadi, sekarang ia pun terfokus untuk mengerjakkan tugasnya.


Ia melirik Yoan didepannya, ia telah pindah posisi yang kini duduk di bawah, ia merasa nyaman duduk dibawah.


Pria itu tengah sibuk memisah-misahkan kertas demi kertas di tangannya ke atas meja.


Haara beralih melirik 6 tumpuk dokumen tebal yang isi nya pun sama setumpuk kertas.


Ia bergumam, apa sebegitu harus cepat diselesaikankah tugasnya? sampai pria dihadapannya ini harus mengerjakkannya juga di kediamannya?

__ADS_1


"Alihkan pandanganmu ke bukumu, fokus kerjakan tugasmu." seru Yoan yang terfokus dengan kertas kertas ditangannya.


Haara mengerjapkan matanya, ia ketahuan.


"Aku hanya heran, kukira kau pulang ke apartemenmu karena pekerjaanmu telah selesai."


Tak ada sahutan dari pria itu, Haara menghela nafasnya kasar, hal itu membuat Yoan meliriknya sebentar.


"Aku bolos menghadiri rapatku sendiri dan digantikan oleh Ammar."


"Bolos? wah! bahkan kau lari dari tanggung jawabmu, tuan~"


"Ammar yang menyuruhku, itu bukan kemauanku."


"wah sepertinya CEO nya telah berganti~" sahut Haara terkekeh,


Yoan lirik Haara disamping kanannya sekilas, berkat tatapannya Haara terdiam.


Dering ponsel terdengar, menampakkan sebuah pesan dari 'kak Ammar'


"Berkirim pesan apa dia padamu?" tanya Yoan.


"Ingin tahu saja." sahut Haara meletakkan ponselnya setelah membalas pesan.


"Jika ia bertanya padamu tentang aku membawa setumpuk dokumen atau tidak, katakan tidak."


Haara menatap Yoan bingung namun sesegera ia kembali fokus pada ponselnya karena Ammar mengirim pesan lagi padanya,


Haara membaca isi pesan itu tak percaya, ucapan Yoan tadi adalah isi dari pesan yang ia baca saat ini.


"Apa kau mencuri dokumen-dokumen ini?sampai sampai tebakkan mu benar jika kak Ammar menanyakkan soal dokumen dokumen ini?" tanya Haara menunjuk setumpuk dokumen.


"Dokumen ini milikku."


"Lalu? kenapa ucapanmu tadi tertulis dari isi pesan kak Ammar tentang dokumen dokumen?"


"Ammar menyuruhku agar hari ini aku pulang dan istirahat, ia sudah beberapa kali tadi mengingatkanku agar tak membawa dokumen-dokumen ini pulang." jelas Yoan.


"Kenapa tak dengarkan ucapan kak Ammar saja."


Yoan menatap Haara sambil berdecih.


"Aku ingin nya seperti itu, tapi aku harus meyelesaikan segera, aku tak bisa bersantai sedikit pun karena pekerjaanku selalu mengganggu fikiranku."


Ia salah menilai sepertinya, jadi ini alasannya, ia menilai Yoan benar-benar tidak bisa menyepelekan tanggung jawabnya.


Ada satu hal yang mengganjal dalam dirinya, kenapa pria didepannya ini membantunya mengerjakkan tugasnya tanpa menolak karena ia tengah sibuk seperti ini?


Ia mencuri pandang ke arah Yoan yang kembali fokus dengan kertas kertasnya itu, wajah yang memang tampak kelelahan itu tak dapat dibohongi.


"Jika pekerjaanmu banyak, kenapa kau membantuku mengerjakkan tugasku?" tanya Haara menunduk.


Yoan melirik gadis disamping kanannya,


"Aku bahkan menambah bebanmu." tambah Haara merasa bersalah.


"Tadinya aku tak ingin membantumu." sahut Yoan.


Haara sontak menatap Yoan,


"Karena kau yang meminta bantuan padaku sendiri tadi, tak ada alasan aku menolak."


...•...


...•...


...{Bersambung}...

__ADS_1


...•...


__ADS_2