My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Pertengkaran


__ADS_3

2 hari telah berlalu, akhirnya masa masa jenuhnya pun berakhir, bagaimana tidak? selama 3 hari ia mengalami kejenuhan luar biasa, karena Yoan terus menyuruhnya belajar, belajar, dan belajar.


Yoan geram melihat nilai dari tugas tugasnya mendapat nilai dibawah rata rata, maka dari itu pria itu mengajarinya tanpa kenal ampun.


Haara menatap sinis Yoan yang duduk dihadapannya, mereka sedang sarapan bersama,


Yoan yang menyadarinya menatap balik Haara yang menatapnya, seketika nyalinya ciut melihat tatapan tajam pria itu,


"Aku tidak ingin melihat nilaimu yang di bawah 80"


"Dibawah 60 saja, kenapa dibawah 80??itu terlalu berat untukku" keluh Haara tak terima,


"Jangan di bawah 70, jika dibawah itu, aku akan menambah jam belajarmu dirumah" ancam Yoan,


"Kau .., kenapa kau terlihat seperti papaku sekarang?? bahkan kau lebih kejam, apa kau berperan sebagai papa tiriku sekarang??" kesal Haara emosi,


"Aku berperan sebagai suamimu AtHaara" sahut Yoan meminum teh nya


Haara terdiam seketika mendengar sahutan Yoan,


"Ji ji jika kau berperan se sebagai su suamiku, bisa kah kau berhenti terlihat berperan menjadi seorang papa tiriku??bahkan pekerjaanmu itu bukan mengajariku!" pinta Haara gelagap,


"Aku hanya membimbingmu menjadi lebih pintar saja, karena aku hanya tak ingin memiliki istri bodoh" celetuk Yoan yang membuat Haara tertohok mendengarnya,


"Bo bodoh?? ka kau mengataiku bodoh??" tak percaya Haara,


"Kau memang bodoh" sahut Yoan,


"Aku tidak bodoh!"


"Benarkah? bahkan kemarin saja aku harus menjelaskan beberapa kali baru kau paham, apa itu tidak pantas disebut bodoh? sangat jelas itu" jelas Yoan benar benar menyeletuk,


Haara tertunduk saat Yoan mengatakan hal itu, ia bungkam,


"Dan juga jika kau memahami penjelasanku dalam sekali penjelasan saja, waktu belajarmu akan lebih cepat, bahkan kau terus terusan menyuruhku untuk mengulang dan mengulang apa yang sudah aku jelaskan, bahkan itu membuatku menghela nafas sabar" ucap Yoan panjang,


Haara mengepalkan kedua tangannya gemetar,


"Aku tidak suka ji .." -Yoan


"Terserah apa perkataanmu!! aku bodoh? iya aku memang bodoh!!" marah Haara berteriak,


Yoan menatap Haara datar,


"Jika kau tak suka memiliki istri bodoh sepertiku, seharusnya kau tak menikahiku!!, menikahlah dengan wanita yang pintar, jenius, dan juga sesuai dengan idealmu!! cari wanita yang sempurna sepertimu!!" seru Haara benar benar naik pitam, ia menahan agar ia tak menangis,


Yoan terkejut atas pernyataan gadis di hadapannya,


"Apa kau sadar ucapanmu itu benar benar sangat menyakiti perasaanku?Yoan?~" tanya Haara menunduk dengan suara sangat rendah,


Air matanya menetes, tubuhnya bergetar,


Yoan terkejut saat gadis didepannya menangis atas ucapannya,


Belum sempat bicara, Haara berdiri dan bergegas pergi dengan cepat,


Dengan cepat Yoan menyambar kunci mobil dan tasnya dan mengejar Haara,


• • •


Saat ia sudah di lantai dasar apartemen, dengan cepat ia lari keluar menuju halte bus,


Tak perduli rasa takut saat akan naik bus, yang lebih terasa adalah hatinya yang sakit dengan ucapan suaminya itu,


Bus baru saja tiba, dengan cepat ia menyelinap masuk segerombolan orang orang,


Ia menghapus air matanya, ia tak ingin dipandang aneh oleh orang orang,


Disisi lain~


Yoan hanya menatap bus yang sudah melaju pergi, ia mengacak acak rambutnya,


Ia terlihat sangat bersalah saat ini, ia menyadari jika ucapannya benar benar keterlaluan sekali, ini baru saja 3 hari pernikahan mereka, namun ia sudah membuat istrinya menangis dengan kata kata seperti sebuah penghinaan pada istrinya, dia merutuki dirinya yang sangat bodoh, ia tak mengejarnya, mungkin ia akan menyelesaikan masalahnya saat di Penthouse nanti malam.


• • •


Setibanya dikelas, Haara hanya menenggelamkan kepalanya di tumpukkan kedua tangannya,


Alka dan Riza baru saja ingin bertanya tanya dengan Haara, namun melihat satu sahabatnya yang sangat aneh membuat mereka mengurungkan niat mereka,


Bel masuk pun berbunyi semua siswa pun masuk kekelas dan duduk dikursi masing masing,


Haara membenarkan duduknya, ia membuang wajahnya sambil mengusap air matanya.


●•●•●•●•●


Suara ketukan terdengar dan menampakkan Ammar yang membawa lembaran kertas dan melangkah mendekati Yoan dengan ekspresi jahil,


"Ehem~pengantin baru~akhirnya pak bos hadir di kantor" goda Ammar,


Yoan tak menyahut,


"Eh selama tiga hari kalian ngapain saja di Penthouse?" penasaran Ammar yang penih selidik,

__ADS_1


Yoan menatap Ammar kesal,


"Bisa kau diam" seru Yoan dengan nada menyeramkan,


Seketika kekehan Ammar luntur,


Yoan menyimpan bolpoinnya kasar dan memijat pelipisnya,


"Kau kenapa terlihat sangat kesal?"


"Aku bertengkar dengan Haara tadi pagi" seru Yoan pelan,


Ammar mengerutkan dahinya,


"Kalian memang selalu bertengkar dalam hal kecil, bahkan kau tak menghiraukannya, tapi sepertinya pertengkaran kalian mengenai hal serius" seru Ammar menebak,


Yoan menghela nafasnya kasar,


"Jam berapa biasa ia pulang?" tanya Yoan,


"Jam 4 sore"


Yoan mengangguk menanggapinya


"Jangan bertanya apa apa padaku, aku sedang tidak ingin bicara" seru Yoan dengan nada tak bersahabat,


Baru saja Ammar membuka mulutnya untuk bertanya, namun Yoan sudah melarangnya bicara,


"Ya sudah aku mau kembali ketempat kerjaku, cepatlah selesaikan masalah kalian, tak baik menunda nunda penyelesaian masalah" nasihat Ammar pergi,


●•●•●•●•●


Istirahat pertama telah tiba, baru saja Riza dan Alka menghampiri kursi Haara namun ada seorang siswa yang mengatakan jika ia dipanggil guru Matematika untuk ulangan susulan seorang diri,


Haara pamit ke Alka dan Riza dan pergi keruang guru,


"Kenapa ya Za? matanya sembab seperti itu lho?" tanya Alka bingung,


"Masa bertengkar? mungkin tuan Yoan mengejeknya Haara kesal mungkin, bahkan kata Yifan, mereka sudah biasa seperti itu" jelas Riza positif thinking,


"Iya juga, semoga memang seperti itu" angguk Alka,


"Mau kekantin? sekalian kita belikan makanan dan minuman untuk Haara nanti setelah selesai ulangan susulan" ajak Riza,


"Baiklah, ayo"


• • •


Menunggu Haara selesai ulangan susulan, Riza dan Alka pun menunggu di kursi taman Biologi disana,


Haara tersenyum dan menghampiri kedua sahabatnya,


"Sudah selesai? bagaimana? susah ya~" tanya Alka melempar beberapa pertanyaan,


"Mm begitulah" sahut Haara,


"Duduklah, dan makan ini cepat, karena 8 menit lagi bel masuk" seru Riza menyodorkan roti mocca kesukaan Haara,


"Terima kasih" ucap Haara duduk di tengah,


Riza menatap Haara yang terlihat sedih,


"Kamu .. Baik baik saja Ra?" tanya Riza,


"Mm aku sedang bad mood saja" seru Haara mencoba tersenyum,


"Bohong, bahkan tadi saat kau baru datang kau sudah menangis" sahut Alka,


Haara memakan rotinya perlahan,


"Aku .. Bertengkar dengannya" sahut Haara berat,


"Bertengkar? ada apa? sampai sampai kau menangis, apa ia menyakitimu?" tanya Riza panik memeriksa tubuh sahabatnya itu


"Perasaanku yang sakit, karena ucapannya tadi pagi saat aku dan ia sarapan bersama" jelas Haara menahan air matanya,


"Apa yang ia ucapkan memangnya" tanya Riza,


Haara terdiam, ia sungguh tak kuat menceritakannya


"Tidak masalah kau tak ingin cerita, kami tidak memaksa" seru Alka melirik Riza ,


"Aku benci ia" seru Haara meremas rotinya,


Riza mengusap usap pundak Haara untuk menenangkan,


"Jika kau ingin menangis, menangislah, agar perasaanmu lebih tenang" ucap Alka khawatir sambil mengusap air mata Haara,


Haara mengusap air matanya dan tersenyum,


"Aku sudah lebih tenang setelah bercerita sedikit ke kalian, maaf aku tak bisa cerita apa penyebabnya" ucap Haara menatap kedua sahabatnya bergantian,


"Iya tak apa, perasaanmu sudah tenang itu membuat aku dan Alka lega" sahut Riza,

__ADS_1


Haara mengangguk,


"Ee, roti dan minuman ini .. Dibeli menggunakkan uang siapa?" tanya Haara ragu,


"Uang Riza" sahut Alka,


"Mm, Za~aku berhutang dulu ya padamu, tadi aku hanya membawa uang untuk ongkos naik bus, aku tidak membawa uang lebih" ucap Haara menunduk,


"Iya tak apa kok, kapan saja boleh menggantinya" sahut Riza lembut,


"Apa .. Tuan Yoan tak memberimu uang jajan?" tanya Riza ragu,


"Memberi bagaimana?" senyum miris Haara,


"Iya .. Sekarang semua kebutuhanmu ditanggung ia lho" sahut Alka,


"Aku .. Tadi langsung lari turun saat kami bertengkar" sahut Haara pelan,


"Kasihannya sahabatku~marah saja tak apa, tunggu sampai ia meminta maaf sambil memohon maaf darimu" sahut Riza kesal,


Haara tersenyum sedih mendengarnya.


●•●•●•●•●


Haara turun dari mobil Alka, ya sahabatnya itu mengantarnya ke gedung Penthouse nya berada,


"Dilantai berapa kamu tinggal?" tanya Alka,


"Lantai 21" kekeh Haara,


"Berapa lantai gedung apartemen ini?"


"20 lantai" sahut Haara enteng,


"Ohh dua pul .. Dua puluh?? bahkan kau bilang tinggal di lantai 21??" terkejut Alka


"Ahahaha, lantai 21 itu Penthouse milik Yoan,aku tinggal dilantai khusus" sahut Haara tertawa,


"Wahh, aku benar benar ingin berkunjung ke penthouse kalian berdua" kagum Alka,


"Mainlah kapan kapan bersama Riza juga" senang Haara,


"Oke! ya sudah aku pulang ya sampai jumpa esok!" pamit Alka,


"Ya, hati hati"


Mobil Alka pun melaju pergi menjauh,


Haara mengambil kartu lift nya di kantung jas sekolahnya,


Perutnya berbunyi lapar, seketika ia memegang perutnya, ia pun bergegas masuk ke gedung apartemen.


• • •


Haara menghela nafasnya berat,ia harus memasak makanan saat ini, tak hanya untuknya, begitupula untuk suaminya,


Ia pun membuka jas sekolahnya dan menyimpan tas nya di sofa ruang santai, ia mengikat rambutnya dan melangkah ke dapur,


Ia memotong sayuran demi sayuran, ia akan memasak nasi goreng dan daging bumbu sekarang,


Ia mengusap lagi perutnya, ia merasa sangat lapar sekarang,


"Cepatlah matang wahai daging~" ucapnya,


Haara meminum banyak air untuk menghilangkan rasa laparnya untuk sementara waktu,


Ia termenung sebentar, ia berfikir bagaimana mengjadapi pria itu nanti jika sudah pulang?


Bahkan mengingat ucapan menyeletuk pria itu tadi pagi membuat jantungnya sesak,


Haara mengangkat dagingnya yang sudah matang dan memotongnya cincang, dan ia bersiap untuk memasak daging bumbu,


• • •


Haara mengusap keringatnya saat masakannya sudah selesai,ia tersenyum puas mengetahui masakannya enak, ia menyimpan daging bumbu itu di meja makan,


"Hahh tinggal buat nasi gorengnya" ucapnya lelah,


Ia mencampur sayuran, jamur, dan lainnya untuk campuran nasi gorengnya itu,


Tak membutuhkan waktu lama seperti memasak daging, beberapa menit kemudian pun nasi gorengnya jadi,


"Akhirnya jadi juga" ucapnya senang menyimpan dua piring nasi goreng di meja makan,


Gerakkan nya melambat saat ia menyadari jika ..


Yoan berdiri tak jauh darinya dengan menatap gadis didepannya lesu.


...•...


...•...


...{Bersambung}...

__ADS_1


...•...


Hai Readers dan juga author author hebat,terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya❤budayakan tinggalkan jejak😉


__ADS_2