
Haara mengerjapkan matanya sambil membuang pandangannya saat Yoan menatapnya mesum.
Srk! Srk!
Haara menatap Yoan yang sudah berdiri mengusap-usap rambutnya dan melangkah pergi.
"Apa dia marah? Marah karena aku tak bisa menjawabnya?? Ahh~ mood nya! benar-benar selalu over thinking." seru Haara.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Malam hari kemudian.
ZTAZZ!!!!!!
Haara tergelonjak kaget saat mendengar suara petir yang sangat menakutkan untuknya.
Ada fakta yang belum di ketahui, gadis itu paling takut dengan suara petir yang besar.
Apalagi ia tinggal di apartemen lantai paling atas, tempat penthouse-nya berada, suara petir rerdengar sangat nyaring sekali.
"Yoan mana ya?? Kenapa dia belum masuk ke kamar juga?? Apa pekerjaannya masih banyak??" seru Haara ketakutan.
"Dingin sekali~ padahal sudah pakai selimut dan baju tebal, tubuhku kenapa terasa tak enak sekali seperti ini? Uhh~ tak mungkin aku sakit, kan??" tanyanya pada diri sendiri.
ZTAZZ!!!!!
"KYAAAA!!" teriak Haara menutup telinganya.
"Huwaaa!! Yoaaan~" rengek Haara yang akan lari keluar dari kamarnya menuju ruang kerja pria itu.
Brak!
Langkah Haara terhenti saat Yoan datang membuka pintu kamar dengan membanting.
"Hey AtHaara?? Ada apa????" tanya Yoan dengan wajah panik.
"Huwaa!! Yoaaan~" rengek Haara lari memeluk Yoan erat.
Yoan pun membalas pelukan Haara.
"Ada apa, hm???" tanya Yoan khawatir.
"Petirnya, besar sekali suaranya, bahkan kilatnya sampai membuatku takut~" seru Haara mendongkan kepalanya menatap Yoan berbicara dengan suara gemetar.
Yoan melihat jendela yang sedikit terbuka di kamarnya, dan ...
ZTAZZ!!!!!
"Kyaa! Yoaan!!" teriak Haara memeluk Yoan sangat erat.
"Stt stt stt, sudah tak usah takut, ada aku." seru Yoan menepuk-nepuk punggung Haara.
Yoan yang merasa aneh langsung menyentuh kening Haara dan bergantian ke leher hingga menggenggam tangan Haara.
"Tubuhmu panas, kamu sakit???" tanya Yoan panik mendorong tubuh Haara lembut.
Dapat dilihat pipi gadis itu sangat merah, wajahnya terlihat pucat dan memancarkan tatapan sayu.
"Aku merasa tubuhku tak enak sekali Yoan, aku merasa kedinginan sekali, tapi didalam tubuhku aku merasa panas." sahut Haara kembali memeluk Yoan.
"Kita ke dokter sekarang!" seru Yoan panik.
"Ngga mau Yoan." tolak Haara.
"Aku benci dengan mu yang susah di atur, kita ..."
"Di luar pasti lebih dingin, aku tak akan kuat menahan dinginnya Yoan~" rengek Haara.
Yoan terdiam saat mendengarnya.
"Yoan, tubuhmu hangat sekali~" seru Haara bergumam.
Yoan menunduk menatap Haara yang menikmati rasa hangat dari tubuhnya.
'Demam nya terlalu tinggi membuatnya seperti ini.' batin Yoan.
"Aku akan ambil obat dan kompresan untukmu ya?" seru Yoan.
"Aku takut ..."
ZTAZZ!!
"kyaaa!!"
Sontak Haara kembali memeluk Yoan erat dengan tubuh gemetar.
"Ikut aku ke bawah jika seperti itu ya?" tanya Yoan lembut.
Haara mengangguk.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Kini mereka telah kembali ke kamar, Yoan terus mengecek suhu dari termometer, namun panasnya semakin tinggi.
"Yoaan~ tubuhku dingiiin sskalii~" isak Haara meringkuk di balik selimut.
Yoan benar-benar panik sekali tak tahu harus apa.
Tanpa fikir panjang Yoan membuka baju Haara membuat Haara terkejut bukan main.
"Yo-Yoan! Ka-kamu mau ngapain?!"
Yoan tak menjawab, pria itu pun turut membuka bajunya, pria itu menidurkan dirinya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Kemarilah, akan ku hangatkan tubuhmu." seru Yoan menarik tubuh Haara kepelukkannya.
Hangat~
Haara merasa rasa dinginnya menghilang dikit demi sedikit.
"Bagaimana? Kau merasa hangat??" tanya Yoan.
Haara mengangguk.
"Sangat hangat Yoan~" senyum Haara.
Yoan bernafas lega mendengarnya, pria itu mengeratkan pelukkannya.
__ADS_1
"Detak jantung Yoan sangat cepat." seru Haara.
"Sungguh?" tanya Yoan.
Haara mengangguk.
"Kamu merasa gugup kah saat memelukku?" tanya Haara polos.
Yoan terkekeh.
"Yang ada aku merasa takut karena demammu tak kunjung turun." seru Yoan mengelus-elus rambut Haara.
"Jika aku tak demam, aku boleh mendengar detak jantungmu lagi?" tanya Haara polos.
"Mendengar detak jantungku lagi?" tanya Yoan menunduk.
Haara mendongak sambil mengangguk.
Cup!
"Boleh, kapanpun itu boleh." sahut Yoan mengecup kening Haara.
Haara tersenyum senang dengan respon dan Yoan yang mencium keningnya.
"Kau tak takut padaku?" tanya Yoan.
"Em aku ..."
"Jujur saja, aku tak akan marah." seru Yoan.
Haara terdiam sejenak.
"Aku akan takut saat Yoan marah padaku." sahut Haara.
"Dan aku takut jika Yoan sedang tersulut emosi seperti saat Yoan pukul Finn waktu itu, itu menyeramkan." tambah Haara.
"Aku lakukan itu karena aku merasa terancam akan kehilanganmu." shaut Yoan pelan.
"Yoan, apa kau percaya aku mencintamu?"
"Aku tak yakin." jujur Yoan.
Haara mengerutkan keningnya.
"Tak yakin?? Kenapa tak yakin?? Bahkan sebelumnya kau bilang kau yakin." tak menyangka Haara.
"Karena kau terus membuatku takut kehilanganmu, kau terus berlaku seenaknya tanpa perduli diriku yang takut kau di rebut pria lain." sahut Yoan melamun.
"Jika aku di rebut, apa kau tak mau merebutku kembali? Apa kau akan membiarkanku?" tanya Haara serius.
"Aku tak akan biarkan itu terjadi."
Haara tersenyum, ia memegang pipi Yoan mengelus pipi pria itu dengan jempolnya.
"Aku tahu kau tak akan biarkan itu terjadi, lagi pula saat diriku akan di rebut darimu aku akan berusaha untuk kembali padamu, kembali kedalam pelukanmu." seru Haara lembut.
Yoan menatap Haara dengan tatapan melemah.
"Kamu, aku ingin kamu membuat aku jatuh semakin dalam lagi atas cinta yang kamu berikan padaku, itulah yang kau butuhkan untuk membuatku tetap berada di pelukanmu." seru Haara.
Yoan memejamkan matanya rapat-rapat.
"Itu adalah salah satu kuncinya, jika kau membuat aku mencintaimu sangat dalam, aku tak mungkin memiliki sedikitpun fikiran untuk mengkhianati cintamu, yakinlah." nasihat Haara.
Yoan tak bisa menahan senyum bahagianya, pria itu memeluk Haara erat.
"Aku mencintaimu Yoan." seru Haara.
Haara terkekeh saking bahagia nya.
"Berikan aku kiss night." seru Yoan tiba-tiba.
Haara tiba-tiba mendongak.
"Tidak untuk malam ini."
"Ha? Kenapa???" kecewa Yoan.
"Aku sedang sakit, aku tak mau menularkan demamku padamu lewat sebuah ciuman, nanti saat aku sembuh saja ya?" seru Haara lembut.
"Tapi ..."
"Stt~ hitung saja bunganya, aku akan membayarnya dimana saatnya." sela Haara.
"Hahh~ baiklah, tapi ... Cium pipi boleh kan?" tanya Yoan.
Haara terkekeh dan mengangguk.
Yoan pun mencium pipi Haara lama, bergantian ke pipi satu lagi.
"Aw! Yoan! Kenapa kau gigit pipiku!" kesal Haara mengusap-usap pipi nya.
"Pipi mu seperti bakpao, hangat." kekeh Yoan.
"Bakpao?? Kau lapar ya? Masa pipi ku di bilang bakpao~" sahut Haara cemberut.
"Hmm, iya aku lapar ingin menerkammu."
Tak!
Haara memukul pundak Yoan.
"Awas saja kalau berani! Aku suruh tidur di sofa!" seru Haara mengancam.
"Iya tidak jadi deh~" pasrah Yoan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Pagi hari kemudian.
Haara membuka matanya saat sinar matahari menerobos masuk dari tirai transparan di kamar nya dengan Yoan.
Gadis itu menduduki dirinya sambil mengucek-ngucek matanya.
Ceklek!
"Sudah bangun?"
Haara menatap Yoan yang membawakannya sarapan.
"Itu apa Yoan?" tanya Haara dengan suara serak.
"Sarapan mu." sahut Yoan menyimpan nampan berisi sandwich dan segelas susu di atas nakas.
__ADS_1
Tk!
Haara mendongakkan kepalanya saat Yoan meletakkan telapak tangannya di keningnya.
"Hah~ kita ke dokter ya?" tanya Yoan.
"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Haara.
"Tapi AtHaara ..."
"Aku tak suka dengan rumah sakit Yoan, menyesakkan sekali bau obat-obatan di sana! Minum obat yang ada saja nanti juga sembuh." sela Haara.
Yoan menghela nafasnya sabar.
"Baiklah, jika demammu tidak sembuh juga, aku akan memaksamu untuk kita pergi ke dokter, paham?" tanya Yoan tajam.
"Paham Yoan." sahut Haara takut.
"Ya sudah, pakai bajumu lalu sarapan, apa kau berniat ingin menggodaku?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya.
"Ha? Maksudnya ..." Haara mengikuti arah pandang Yoan.
"Kyaaaa!!" teriak Haara menutup tubuh atasnya yang hanya mengenakan pakaian dalam, ia sungguh tak ingat hal yang terjadi semalam.
"Pakai baju nya, jika kelamaan aku bisa menerkammu." seru Yoan duduk di tepi kasur menatap Haara menggoda.
"Kamu nya! Pergi dulu sana!!" gugup Haara bukan main.
Yoan pun menurut.
"Stop!" seru Haara cepat.
"Ap ..."
"Jangan nengok!" sela Haara cepat.
"Baiklah, ada apa menyuruhku stop?" tanya Yoan.
"Diam begitu saja, tak perlu keluar, jangan membalikkan tubuhmu sebelum aku suruh! Mengerti?!" seru Haara mengingatkan.
"Hm~"
"Hm apa?? Jawab yang benar!"
"Hm hm~"
"Ihhh Yoaaan!"
"Iya sayang~ aku ngga akan balik badan sebelum kamu yang suruh~" seru Yoan menggoda Haara.
"Yo-Yoaan!"
"Sudah? Aku balik ..."
"Beluuumm! Awas balik badan!" panik Haara.
Yoan tertawa kecil mendengar kepanikan Haara.
"Masih saja malu denganku, aku itu sudah ..."
"Stop! Jangan dilanjutkan! Dasar mesum!"
"Mesum dengan istri sendiri tak akan masalah kan?" tanya Yoan.
"Masalah jika istrinya masih di bawah umur 21 tahun!"
"Terlalu lama, bahkan itu masih ada 3 tahun lagi."
"..."
"AtHaara?" panggil Yoam saat tak mendapat sahutan dari Yoan.
"Hahh~ baiklah aku ..."
Ucapannya terhenti saat tidak mendapati Haara di atas kasur.
Indra pendengarannya mendapati suara air mengalir dari dalam kamar mandi membuatnya mengerutkan keningnya bingung.
"Kapan dia lewat pergi ke kamar mandi nya?"
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...❗❗❗...
...🚨 attantion🚨...
...othor akan double up kurang lebih jam 15:00 ya😇 di tunggu oke kakak-kakakku, terima kasih perhatiannya😇😇...
...🚨🚨...
...Author: "sebelumnya othor minta maaf karena kemarin ga update ya😭 karena othor lagi kurang sehat kemarin huhu😭...
...oke, gimana pendapat part kali ini nih? tulis di komentar ya kakak-kakak😊😍"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐