My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sebuah keputusan


__ADS_3

Tak ada perbincangan diantara mereka berdua, Yoan hanya fokus mengemudi.


Harum lavender dan juga harun parfum yang pernah ia hirup dari pakaian Yoan kini tercium jelas di dalam mobil milik pria itu sendiri, itu membuat fikirannya terus dipenuhi pria disampingnya ini.


Haara hanya fokus menatap keluar jendela, karena itu lebih baik dari pada harus merasakan canggung.


Ia benar-benar tak ingin berbicara sekarang, sikap Yoan yang tadi benar benar membuat nya bungkam.


Haara berbicara dalam hati,


'Apa Yoan marah dengannya?'


Jika marah pun ia berfikir marah karena apa? wajah pria itu aungguh sangat terlihat tak bersahabat saat ini.


• • •


Mereka telah tiba dipekarangan rumah Haara, sesegera mungkin Yoan memparkir mobilnya tepat dibelakang mobil milik Ammar.


Benar-benar tak ada pembicaraan diantara mereka berdua, Haara turun dari mobil nya, ia tak berniat menunggu pria itu, ia masuk lebih dulu kedalam rumahnya.


"Aku pulang~" seru Haara.


Semua orang disana menyambut kedatangan Haara dan juga Yoan yang tak lama menyusul.


"Yoan, Haara, duduklah, kami sudah menyelesaikan perbincangan antar 3 keluarga, dan kalian harus mengetahuinya karena kami semua sudah setuju." seru Tao Ming.


Haara melirik Yoan sekilas, begitu juga Yoan yang melirik Haara dan duduk disofa yang dipersilahkan untuk mereka, mereka duduk bersebelahan.


Tao Ming menghela nafas sebelum mengatakan kesepakatan semuanya kepada mereka.


• • •


"Hah? tanggal 13 September?!" terkejut Haara.


"Apa tidak terlalu cepat?" tambah Yoan yang sama terkejutnya.


"Apa kau lupa jika kepala keluarga ingin pernikahan kalian tidak melewati pertengahan bulan September?" tanya Tao Ming.


Yoan terdiam mendengar ucapan sang papa.


"Lalu, Ammar dan Anna pun juga akan menikah di tanggal 6 September." seru Juan Martin.


Yoan dan Haara kembali membelalakan matanya, ini sungguh diluar dugaan jika Anna dan Ammar akan menikah ditanggal tersebut, waktunya begitu singkat.


"Apa kalian semua serius?? bahkan waktunya tidak sampai satu bulan??!" seru Yoan tak menyangka,


"Papa paham Yoan, tapi ini benar-benar membuat kami bingung~ kami tak punya pilihan lain untuk memutuskannya secepat ini." seru Tao Ming.


Yoan menahan amarah nya saat ini, ia benar-benar sangat muak dengan keputusan yang tak dapat di ganggu gugat kepala keluarga Zhao.


"Ammar dan Anna kalian mulai sekarang harus mempersiapkan dengan sisa waktu yang tersisa." seru papa Ammar.


"Saya minta maaf telah membuat kalian repot, dan maaf saya permisi ingin menenangkan diri saya." seru Yoan pergi dengan nada menahan emosi.


Haara hanya menatap Yoan yang pergi keluar rumahnya, ia dapat melihat wajah pria itu yang menahan amarahnya.


"Yoan pasti sangat tertekan." seru Stephannie sedih.


Haara serba salah,


Ia bingung sekarang, apa ia harus menyusul Yoan atau ia membiarkan pria itu menenangkan dirinya sendiri?


sikap Yoan yang berubah drastis saat di parkiran sekolah tadi membuatnya berfikir beberapa kali.


Nafasnya tak kharuan, ia benar-benar kebingungan saat ini,


Sekilas ia teringat kejadian di ruang kepala sekolah tadi.


Baiklah, kini ia sekarang akan membiasakan diri dengan pria itu yang memiliki sikap yang dapat berubah-ubah kapan saja.


Haara menghembuskan nafasnya untuk bisa lebih tenang.


●•●•●•●•●


Yoan berjalan-jalan disekitar pekarangan rumah.


Ia benar-benar merasa sangat kesal sekali saat ini, ia telah membuat keluarga Haara, Anna dan keluarga Ammar menjadi repot karena perjodohannya.

__ADS_1


Dan juga ia lebih merasa bersalah kepada Haara.


Hari mulai gelap, angin malam mulai berhembus, itu dapat ia rasakan saat ini.


Suara pukulan terdengar saat ia memukul pohon yang berada didepannya saat ini, Yoan mengacak acak rambutnya.


Benar-benar pening sekali kepalanya memikirkan ini,


Ia bersandar pada pohon itu dan berakhir duduk dibawah pohon, ia memegang rambut belakangnya sambil tertunduk.


Seketika Haara terlintas dalam fikirannya.


Jika mengingatnya, ia benar-benar jahat pada gadis itu, karena ia akan mengambil masa remaja gadis itu, ia merasa bersalah saat di usia remaja gadis itu baru saja dimulai, seharusnya gadis itu bersenang senang, bukan harus memikirkan beban yang bukan seharusnya sekarang ia tanggung.


"Maafkan aku~" seru Yoan memejamkan mata,


Mata nya kembali terbuka saat ia menyadari ada ...


"Yoan?"


Sontak Yoan mendongak keatas,


"Ah! ternyata kau~" seru Yoan dengan suara pelan dan kembali tertunduk,


Yoan terkejut saat tiba.tiba Haara dihadapannya


Haara menatap Yoan sambil berlutut didepan pria itu.


Ia tak menyangka gadis yang ia fikirkan tadi sekarang berada didepannya sekarang,


"Yoaan~" panggil Haara sambil melambaikan tangannya didepan mata pria itu.


Pria itu melamun,


Hal itu sukses membuat Yoan tersadar dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


"Kau .. Baik-baik saja?" tanya Haara mencoba menatap pria itu.


"Bahkan kau tahu apa jawabannya bukan?"


Haara menghela nafas, jawaban Yoan benar-benar jujur sekali, padahal ia itu hanya berbasa basi.


Mereka terdiam sejenak,


"Kau sedang apa tiba-tiba didepanku tadi? membuatku terkejut saja." seru Yoan pelan.


"Tentu saja mencarimu." sahut Haara.


Ia merutuki mulutnya, degup jantungnya tak beraturan seketika saat ia mencuri pandang ke arah pria didepannya, Yoan tengah menatap dirinya.


"Ja -jangan menatapku!" gelagap Haara tunduk.


"Kenapa memangnya?" tanya Yoan dengan suara beratnya.


"Dan juga, bisa kau kontrol suaramu!" seru Haara makin salah tingkah,


"Bodoh, kau mau aku mengubah suaraku seperti apa? bahkan ini suaraku~" sahut Yoan masih dengan suara beratnya.


"Terserah apa katamu!" sahut Haara gelagapan.


Mereka terdiam kembali, Haara lagi-lagi mencuri pandang ke Yoan,


Ia merutuki Yoan yang kini masih menatapnya.


"Yo-Yoaaann!~ jangan menatapku~" seru Haara yang terdengar merengek padanya,


"Aku tanya kenapa memangnya?"


Haara membatin 'lagi-lagi suaranya~'


"Aduh kau ini! jangan menatapku~" mohon Haara benar-benar malu sekali,


Tak disangka hal itu membuat Yoan terkekeh,


"Jangan tertawa!" malu Haara, ia benar-benar malu karena salah tingkah di depan Yoan saat ini.


"Mentertawakan mu adalah obatku~"seru Yoan tertawa.

__ADS_1


"Eh?"


"Cuma bercanda, jangan di anggap serius." seru Yoan datar,


"Hih, menyebalkan!" geram Haara.


●•●•●•●•●


• • •


• •



"Apa?! tanggal 13 September?? itu satu bulan lagi! "terkejut Alka,


"Iya, cepat sekali, kak Anna dan kak Ammar akan menikah ditanggal 6 September."


"Sungguh membuat banyak kejutan belakangan ini." seru Riza.


"Maaf ya~ kehidupanku penuh sekali kejutan untuk kalian~" cengir Haara,


"Kejutan sekali Haara, sampai membuat jantungku berdetak seperti sedang jatuh cinta." sahut Alka,


"Terlalu berlebihan Alka~" seru Riza,


"Hey Riza~ aku serius~"


"Memangnya bagaimana rasanya?setahuku kau tidak pernah merasakannya." seru Riza menusuk,


"Riza~ ucapanmu sungguh menusuk hatiku." dramatis Alka memegang dadanya,


Haara terkekeh melihat perdebatan kedua sahabatnya itu,


"Oh iya Ra, apa acara pernikahanmu akan mengundang banyak orang??" tanya Riza,


"mm ..tidak, pernikahanku hanya di hadiri kerabat dekat saja."


"Haara~ kami diundang kan??!" -Alka


"I-iya, itu pasti."


"Syukurlah, aku akan melihat akad kalian dan juga ... Itu ~" goda Alka,


"??"


"Haara masih polos Alka, jangan kau racuni Haara dengan ucapanmu~" hela nafas Riza,


"Memangnya kenapa? bahkan itu sudah bukan hal yang dilarang untuk diucapkan~ mengingat kita sudah kelas 3 SMA Riza~" sahut Alka membela diri,


"Iya aku tahu itu~"


"Kalau seperti itu kita ajarkan Haara agar tidak terlalu polos, bagaimana Riza?" semangat Alka.


"Tetap jangan,"


"Lho kenapa? kau ini tak asyik Riza."


"biar tuan Yoan sendiri saja yang mengajarinya~" kekeh Riza,


"Aduh mungkin tuan Yoan akan langsung mempraktikannya tanpa mengajari Haara lebih dulu~"


"Eehh~ kalian ini apa yang kalian bicarakan? mempraktikan? mengajarkanku? mengajarkan ku apa~??" frustasi Haara,


Dengan wajah jahil, membisikkan sesuatu pada Haara.


"Hey Alka~" -Riza,


"Sstt!"


"Apa sih Ka?" tanya Haara mendapati Alka tak kunjung bicara,


Tanpa ragu Alka membisikkan 1 kata, sontak bisikkan Alka membuat Haara membelalakkan matanya.


...•...


...•...

__ADS_1


...{Bersambung}...


...•...


__ADS_2