My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Tempat Mengadu


__ADS_3

Nafasnya tak beraturan, bagaimana tidak?setelah ia dari rumah Riza ia pergi ke halte bus untuk menaiki bus menuju apartemen Yoan.


namun saat ia turun dari bus ia langsung berlari tadi, ia bersyukur jika ia sudah tiba didepan pintu apartemen Yoan, sesegera mungkin ia menekan tombol bel apartemen Yoan.


Setelah kedua kalinya, akhirnya pintu pun terbuka.


Yoan menatap gadis didepannya bingung, gadis itu berkeringat dan ngos ngosan, apa ia baru saja berlari? itu pertanyaan dibenak Yoan saat ini.


"Masuklah." persilahkan Yoan masih dengan tatapan bingung.


Haara pun menatap Yoan sekilas dan melangkah masuk.


Haara duduk dilantai dengan kasar,


"Apa kau habis olahraga pagi? huh?" tanya Yoan penasaran.


Haara hanya menggeleng cepat dengan nafas yang masih belum teratur.


"Tadi~ .. Aku lari~.. Saat turun~ .. Dari bus~" jawab Haara ngos ngosan, ia mencoba membuka sepatunya.


Yoan melangkah melewati Haara yang sedang membuka sepatunya, ia melangkah ke arah dapur.


"Bahkan kau tidak sedang telat dalam hal penting." sahut Yoan,


Haara memegang dadanya, ia mencoba mengatur nafasnya, Haara mendongak keatas menatap Yoan yang berdiri disampingnya menyodorkan satu gelas air untukknya.


"Terima kasih." seru Haara langsung meminum airnya sampai habis.


Yoan duduk di sofa, ia menatap Haara masih bingung, tak ada sahutan lain dari gadis itu, gadis itu melirik nya dan melangkah duduk di sofa seberang kanannya.


Wajah gadis itu terlihat lesu,


"Apa yang terjadi tadi?" tanya Yoan penasaran.


"Tadi saat di bus, ada cowok yang kira-kira umur 20 tahunan."


"Kenapa dengan cowok itu?" tanya Yoan.


"Ia terus mengangguku karena aku tak memberitahu siapa namaku dan tempat tinggalku." jelas Haara pelan,


Yoan terkejut mendengarnya.


"Apa karena tadi kau lari? dia mengikutimu??" tanya Yoan serius,


"Saat aku mau bergegas turun dengan gerak cepat, ia mengikutiku turun, beruntung tadi didepan apartemen ada security." jelas Haara pelan, jujur saja ia masih syok.


"Kau tak apa-apa kan??"tanya Yoan penasaran,


Haara menatap Yoan perlahan, ia sangat suka penampilan Yoan saat ini, baju lengan pendek yang kebesaran dan juga ia baru menyadari jika pria itu memakai gelang berwarna merah tua dan biru tua, dapat ia lihat wajah Yoan yang menahan kesal, ia membatin, apa pria didepannya kesal saat mendengar ceritanya?


Dengan cepat Haara mengangguk,


Yoan jadi teringat ucapan Yifan saat menemuinya dikantor.


Yifan datang ke kantor Yoan kemarin itu memberitahu semua cerita apa yang terjadi dengan Haara belakangan ini.


Mendapat surat cinta misterius beberapa hari, dan juga mendapat perlakauan kurang ajar dari teman kakaknya Alka.


"Pergi sekolah, atau berangkat jangan naik bus lagi, dan juga jangan pulang sendiri, mengerti?"- Yoan,


"Seperti nya aku akan pulang dengan Alka, Alka selalu menawarkanku pulang bersama naik mobil jemputannya."


"Supirnya yang bawa? atau siapa?" tanya Yoan,


"Supirnya."


Haara merasa sedikit tenang saat bercerita kepada Yoan, ada satu hal lagi yang mengganjal yang ia ingin ceritakan lagi pada pria itu.


"Yoan~" panggil Haara ragu,


"hm?"


• • •


Yoan menghela nafasnya kasar saat mendengar cerita gadis di seberang kanannya itu, Haara menceritakan kekhawatiran Riza padanya mengenai pria bernama Daniel, Yoan merasa kesal saat ini, karena gadis disampingnya akan menjadi tanggung jawabnya nanti, ia sepertinya harus menjaga gadis di sampingnya ini.


Mengingat ucapan Yifan lagi, jika Haara cukup populer dikalangan pria, pada kenyataannya Haara memiliki paras wajah yang cantik dan juga baby face, Yifan mengatakan itu semua tanpa kebohongan memang kenyataan nya seperti itu.


Begitu pula Yoan yang mengakuinya jika calon istri kecilnya itu memang memiliki paras cantik.


"Ku berharap padamu jangan keluar malam sendiri, dan juga harus perhatikan sekelilingmu." seru Yoan.


"Dan juga sesegera mungkin minta bantuan Yifan, jika mobil jemputan temanmu Alka belum tiba, ajak Yifan untuk menemanimu."


Haara menatap Yoan dan mendengarkan ucapan Yoan baik-baik,


"Aku ingatkan kau harus berhati-hati."


Haara mengangguk, dan mencoba menuruti ucapan Yoan.


●•●•●•●•●


Alka bergegas cepat ke ruang tengah, benar dugaannya.


"Kak Daniel!"panggil Alka menghampiri cowok itu,


"Eh Alka, kenapa? kangen ya~"


"Gak!"


"Ampun deh, galak banget, jangan galak galak ih, nanti gak ada yang suka lho~ contoh Haara dong dia feminim loh~" kekeh Daniel.

__ADS_1


"Jangan berharap lebih sama Haara deh kak!" sewot Alka mengambil air jeruk di kulkas.


"Siapaku kau ngelarang ku~"


"Haara sudah punya pacar, jangan ganggu dia."


"Serius??"


"Iya, jauh lebih tampan darimu lho, pantas saja Haara cinta mati padanya." sindir Alka.


"Belum juga menikah, masih bisa lah ditikung, hahaha."


"Kata siapa mereka sudah tunangan." seru Alka lagi,


"Selagi belum terjadi ya harus bergerak cepat sebelum jadi punya orang lah." bersikeras Daniel.


Ucapan Daniel membuat Alka panik,


"Sudah kuduga kau berbohong Ka." kekeh Daniel.


"Yehh siapa yang bohong, aku serius! dia sudah tunangan!"


"Jika benar pun, baru juga tunangan, selagi masih gadis gas terus!" sahut Daniel,


Alka benar-benar tak habis fikir dengan jalan fikir teman kakaknya ini, lebih tepatnya sahabat kakaknya ini.


"Kak Daniel, Haara itu tak suka lho sama kelakuan mu kemarin, itu buat Haara takut tahu!" marah Alka,


"Ah masa, ngada-ngada kau ini~" kekeh Deniel.


"Aku gak mengada-ngada, Haara .."


"Makin tak asyik saja bicara denganmu, aku keluar ya, dah." sela Daniel pergi keluar.


"Benar-benar hama!" teriak Alka.


●•●•●•●•●


Hari telah menjelang sore, jam menunjukkan jam 5 sore saat ini.


"Selesai!!" teriak Haara senang,


"Sudah diperiksa ulang?" tanya Yoan yang terfokus pada layar laptopnya.


"Sudah."


"Bagus" -Yoan,


Ponsel Yoan berbunyi menandakan ada telfon masuk.


Haara menatap layar laptop dan juga kertas yang Yoan salin tulisannya ke laptop tadi,


"Aku akan ke lantai dasar dahulu, bisa kau lanjut mengetik?" tanya Yoan yang bergegas keluar,


Haara merenggangkan tangan dan jemarinya dan mulai mengetik.


• • •


20 menit lamanya, Yoan tak kunjung kembali, kemana pria itu? itu pertanyaan gadis itu berulang kali.


Ia kembali mengetik ke lembar selanjutnya, sudah 2 lembar ini ia menyalin tulisan itu kedalam Word.


"Apa ia mengerjaiku? apa ia ingin aku menghabiskan lembar terakhir ini?" serunya pada diri sendiri.


Suara pintu terbuka menampakkan Yoan yang membawa kardus yang sudah terbuka dan membawa nya masuk bersama dirinya.


"Kau lanjutkan mengetik, aku ingin mengecek isinya." seru Yoan,


Haara melirik isi kardus itu, ia menghela nafas nya kasar.


"Apa kau tak bosan berhadapan terus dengan dokumen dan lembar kertas?? dua hari saja kepalalu sudah pusing." protes Haara.


"Tidak." sahut Yoan.


Haara hanya berdecih menanggapi jawaban singkat Yoan.


• • •


Haara membaca ulang tulisan yang ia ketik tadi yang bisa disebut merevisinya.


"Nih, sudah selesai." seru Haara,


Yoan pun menghampiri Haara dan mengecek ulang,


Haara menatap Yoan yang duduk disampingnya, pria itu tersenyum senang.


"Baiklah, mau ku traktir apa?"


●•●•●•●•●


Perutnya terisi penuh dengan makanan, minuman dan juga beberapa cup es krim.


"Masih belum kenyang, mau apa lagi?" tanya Yoan kepada Haara yang berada dibelakangnya.


Yoan menahan tawanya karena melihat gadis itu membungkuk sambil mengisyaratkan 'tidak' dengan tangannya.


Yoan masuk kedalam mobilnya dan diikuti oleh Haara.


"Sudah kenyang?" kekeh Yoan,


"Sudah!" sahutnya,

__ADS_1


"Tadinya aku berniat membuatmu bangkrut, tapi sepertinya tak bisa!" seru Haara menahan mual.


Ucapan Haara sontak membuat tawa Yoan meledak.


"Apa yang lucu?!" sewot Haara.


"Bahkan hanya membelikan makanan, minuman dan beberapa cup es krim saja tak sampai menghabiskan uang 500 ribu pun." sahut Yoan.


"Terserah apa katamu, perutku benar-benar penuh, aku jadi mual!"


"Kenapa harus memaksakan jika kau sudah kenyang?"


"Kapan lagi aku mendapat traktiran coba." seru Haara.


"Minta saja apa yang kau mau." seru Yoan.


"Uu ucapan yang manis sekali~" sahut Haara dengan nada meledek.


"Terima kasih pujiannya." sahut Yoan tak perduli.


"Cih, bahkan aku tak memujimu."


• • •


"Ingat perkataanku, bahwa kau harus jaga dirimu." seru Yoan membuka pembicaraan setelah berapa lama mereka terdiam.


"Hm iya." sahut Haara singkat.


"Hari kamis aku harus ke China untuk mengurus perusahaanku di sana, dan mulai esok sampai Rabu aku harus meeting dan menghandle pekerjaan Ammar." jelas Yoan pelan.


"Ke China??"


"Mm, kau andalkan Yifan, jika ada apa-apa andalkan dia." sahut Yoan fokus menyetir.


"Mm iya, aku akan jaga diri dan akan minta bantuan Yifan."


Yoan mengangguk,


Entah kenapa Haara merasa takut sendiri saat Yoan mengatakan akan ke China,


terasa jika sang pelindung telah hilang dalam dirinya.


"Mm berapa lama kau disana?" tanya Haara ragu.


"kurang lebih seminggu."


"Ha? kurang lebih seminggu??" terkejut Haara.


"Hm, butuh waktu lama mengurusnya karena Ammar tak bisa ikut denganku untuk membantuku."


"Lalu pernikahan kak Ammar dan kak Anna itu minggu depan, kau tak menghadiri pernikahan mereka??" tanya Haara serius,


"Aku akan pulang, lalu akan terbang lagi ke China."


"Sesibuk itukah kau? apa akan setiap hari kau sesibuk ini?" heran Haara.


"Tidak, karena saja aku mempercepat semua jadwal jadwalku." sahut Yoan.


"Kenapa harus dipercepat jika masih ada hari-hari lain?" bingung Haara.


"Kau tanya saja pada Ammar." sahut Yoan.


"Kenapa harus tanya kak Ammar jika aku bisa dapat jawabannya darimu?"


Yoan tak menjawab,


"Kau tak akan kabur kan?" curiga Haara,


"Kabur? apa maksudmu?"


"Mm kau bilang akan ke China di hari kamis, dan kau disana kurang lebih seminggu, jika kata-kata nya kurang lebih, bisa saja kau lebih satu minggu di China, dan aku mencurigaimu."


"Apa yang kau curigai??" tak paham Yoan,


"Kau lari dari perjodohan kepala keluarga Zhao." sahut Haara,


"Jika bisa, aku ingin nya seperti itu."


"Kau mengorbankanku??? jika kau kabur, surat wasiat perjodohan masih berlaku untukku, bisa-bisa aku dijodohkan dengan seorang dari keluarga mu juga, ahh menyebalkan!"


"Ahh, jadi kau inginnya menikah denganku ya." seru Yoan menggoda Haara.


"Hah? tidak juga!"


"Baiklah aku akan kabur, biar kau di nikahkan dengan salah satu anak dari keluarga Zhao saja."


"Tidak mau!"


"Ya berarti kau inginnya denganku, benar kan?"


"Tidak juga, ih hentikan! jangan dibahas lagi!!" sahut Haara marah,


Yoan tertawa renyah mengetahui Haara marah padanya,


"Lagipula jika aku kabur pun kau akan tetap dijodohkan oleh ku, saat aku tertangkap pun pasti kau akan tetap menikah denganku."


"eh?"


...•...


...•...

__ADS_1


...{Bersambung}...


...•...


__ADS_2