
Haara diam membisu karena seseorang di depannya ini adalah Zen yang kini melangkah mendekatinya dengan tersenyum manis padanya.
Grep!!
"Aku merindukanmu." seru pria bernama Zen itu memeluk Haara erat.
Sontak Haara yang tersadar pun langsung mendorong tubuh pria itu.
"Ara chan??" terkejut Zen.
Nafas Haara tersegal-segal saat itu juga.
"Kau tak mungkin lupa denganku, iyakan? Aku Nakayama Zen, pria yang kau cintai." seru Zen menjelaskan.
"Ka-kamu ngapain disini?!" seru Haara menatap Zen dengan mata memerah.
Zen tersenyum sendu.
"Aku mencarimu~" seru Zen.
" ... Ha?" -Haara tersenyum masam.
"Aku mencarimu sekian lama dan akhirnya aku bertemu denganmu, AtHaara." seru Zen.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Haara datar.
"O nīchan, panggil aku O nīchan (kakak)." seru Zen.
"Ini di Indonesia, bukan di Jepang." sahut Haara tak berekspresi.
"Benar juga, jika seperti itu panggil aku kakak, aku sedikit tak nyaman kau memanggil namaku dan juga ..."
"Aku lebih nyaman bicara seperti ini." sela Haara.
" ... Eh??"
"Aku tanya kenapa kamu mencariku? Untuk apa? Sadarlah kau sudah memiliki istri." seru Haara menatap Zen tajam.
Zen memicingkan matanya menahan senyumnya.
"Kawaii! (Lucunya!) apa ini caramu menunjukkan rasa cemburumu padaku? Berbeda seperti dulu." kekeh Zen.
"Cih! Cemburu? Untuk apa aku cemburu dengan mantan pacarku yang menikah muda dengan wanita lain? Ah! Maaf, maksudku untuk apa aku cemburu pada suami dari wanita lain?" tanya Haara terkekeh.
"Suami siapa? Aku ini akan segera menjadi pria single." sahut Zen santai.
Haara mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu??" bingung Haara.
Zen menatap Haara dalam.
"Aku akan menceraikan istriku." sahut Zen enteng.
Haara yang mendengarnya terkejut.
"Aku akan menceraikan nya, hubungan kami tidak layaknya seperti suami istri pada umumnya, hubungan kami itu aneh." jelas Zen.
Haara hanya diam mendengarkan cerita mantan kekasihnya itu.
"Kenapa kau ingin menceraikannya?" tanya Haara.
"Karena aku tak pernah bisa mencintainya." sahut Zen santai.
Zen menghela nafasnya panjang.
"Dia itu menyebalkan! Dia tidak seperti dirimu, dia itu bodoh! makanya aku berfikir akan menceraikannya!" seru Zen kesal mengenai istrinya.
Haara hanya menatap Zen datar.
"Dan juga yang perlu kau tahu, kenapa aku ingin menceraikannya, itu karena aku telah menemukanmu." seru Zen tersenyum.
Haara sontak menbulatkan matanya terkejut bukan main.
"Ap-apa???!" terkejut Haara.
"Aku minta maaf memutuskan hubungan kita dengan alasan yang kekanak-kanakkan sekali, karena saat itu aku terpaksa, karena aku harus menikah dengan wanita itu!"
Seketika kepala Haara rasa ingin pecah saat mendengar ucapan bodoh mantan kekasihnya itu.
"Mari kita menjalin hubungan lagi, dan setelah kau lulus ayo kita menikah." seru Zen tersenyum tulus.
" ... Zen." panggil Haara.
"Ya?"
"Jadi tujuan mu mencariku untuk mengajakku flashback?" kekeh Haara.
"Iya, kau benar." senyum Zen.
"Dan kau akan menceraikan istrimu karena ingin kembali menjalin hubungan denganku dan menikah denganku??"
"Kau pandai sekali!"
"Apa kau waras??" tanya Haara.
Zen mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau bicara seperti itu?" -Zen.
"Karena itu cocok untukmu, kau tak waras!" sahut Haara tak berekspresi.
Zen mematung saat itu juga.
"Apa kau tak memikirkan perasaan istrimu? Bagaimana perasaan istrimu saat tahu jika kau akan menceraikannya hanya karena aku??" tak habis fikir Haara.
"Biar saja! aku tak perduli, karena aku hanya bisa mencintaimu~" seru Zen sendu.
"Tapi aku sudah tak mencintaimu lagi! Aku sudah lama membuang perasaanku padamu!!" bentak Haara.
Zen hanya terkekeh.
"Aku tak percaya."-Zen.
"Apa? Tak percaya?? Aku bicara sesuai faktanya!"
"Bohong!"
"Lebih baik kau kembali ke Jepang dan minta maaflah pada istrimu sebelum semuanya terlambat, percuma kau ada disini, sia-sia." seru Haara frustasi.
"Kamu ... bercanda kan, AtHaara??"
"Cih! Hey, Zen. bahkan dulu kau sendiri yang memintaku untuk membuang cintaku padamu, kau ingat? aku bicara serius, aku sudah membuang perasaanku padamu."
Tubuh Zen gemetar hebat saat mendengarnya.
"Aku minta sekarang kau buang perasaanmu padaku, karena mempertahankan rasa cintamu padaku itu akan sia-sia." seru Haara dingin.
"Aku tidak bisa AtHaara~"
"Aku bisa! kenapa kau tak bisa???" tanya Haara.
Zen yang mendengarnya tak habis fikir pada Haara.
__ADS_1
"Hatiku sudah di isi oleh sosok pria yang sangat mencintaiku begitupun aku juga yang sangat mencintainya." jelas Haara.
"..."
"Jangan ganggu aku lagi, karena kami sudah bertunangan dan akan menikah." seru Haara melangkah pergi.
Hati Zen kembali tertusuk dan membuat sayatan dalam di dalam hatinya, sungguh perih sekali.
Ts!
Haara meneteskan air matanya saat melangkah turun tergesa-gesa.
Itu bukan lah air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.
Karena apa? Ia merasa bangga pada dirinya, karena hatinya tak merasakan apa-apa lagi pada Zen, ia merasa bersyukur karena ia telah benar membuang sebuah cinta.
'Ya, kini di hatiku hanya ada Yoan, tak akan pernah bisa digantikan lagi.' batin Haara tersenyum.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Bel pulang telah berbunyi, semua siswa pun bersorak senang dan akan keluar dari zona kebosanan mereka di saat tak belajar.
"Hahh~" hela nafas Haara saat membaca isi pesan dari Yoan yang akan pulang lembur.
"Pesan taksi deh." ucap gadis itu melangkah keluar.
"AtHaara."
Langkah Haara terhenti, ia memutar bola matanya malas dan kembali melangkah.
"Biar ku antar pulang ya." senyum Zen.
"Tak usah."
"Sekalian aku ingin bertemu mama papa mu, aku antar pulang ya?"
Haara menghela nafasnya kasar.
"Apaan sih! Segala mau bertemu orang tua ku, itu tak akan terjadi!" kesal Haara melangkah meninggalkan Zen.
"Ara chan~"
"Namaku AtHaara! Bukan Ara!" seru Haara.
"Lalu kau pulang naik apa?" tanya Zen mengikuti Haara.
'Hahh, aku baru saja mau pesan taksi online kesini, jika ku pesan sekarang akan lama datangnya, aku malas sekali jika harus berdebat dengan Zen~' batin Haara menangis.
"Ara chan." panggil Zen menahan tangan Haara.
"Lepas!" emosi Haara menghentakkan tangan Zen.
Bukannya marah, pria itu terkekeh.
"Aku hanya ingin bertemu mama papa mu saja kok, sudah lama sekali tak bertemu, sejak kita berkencan waktu SMP." seru Zen.
Haara memejamkan matanya meredam emosi nya.
Ada banyak pasang mata memerhatikan mereka berdua.
"Please Zen, aku tak ingin mereka semua membuat gosip mengenai sikapmu yang memaksaku seperti ini!"
"Tapi biarkan aku antar ..."
Haara dan Zen menatap seseorang yang melangkah mendekat ke arah mereka berdua.
"Yifan?!"
Yifan mengerutkan keningnya bingung.
"Maaf kak, kenapa kakak terlihat memaksanya sekali? sampai pegang-pegang seperti tadi? bahkan dia menolak kakak lho." tanya Yifan menarik Haara untuk sembunyi di belakangnya.
"Ah, apa kau tunangan nya?" tanya Zen.
"Aku ..."-Yifan.
"Yifan! Urusanmu sudah selesai kan?? ayo kita pulang!" seru Haara memotong ucapan Yifan.
"E-eh, AtHaara~" seru Yifan seloyongan saat Haara menarik tangannya ke parkiran.
Zen hanya menatap datar Haara yang pergi bersama Yifan.
●•●•●•●•●
Yifan mematikan motornya setelah sampai di depan gerbang rumah Haara.
Yifan membuka helm nya, ia ingin bertanya sesuatu pada kakak iparnya itu.
"Terima kasih ya Yifan, aku masuk dulu." seru Haara melangkah pergi.
Tk!
Langkah Haara terhenti saat Yifan menahan tangannya, pria itu pun turun dari motornya.
"Tunggu dulu, aku mau tanya mengenai kakak pembimbing yang tadi itu ngapain kamu." seru Yifan menduduki dirinya di motornya.
Haara terdiam sejenak.
"Mm~ pasti kau tahu alasannya apa." kekeh Haara.
"Tapi kau seperti kenal padanya, cara bicaramu dan sikapmu sangat jelas sekali kalau kau seperti mengenal kakak pembimbing itu." seru Yifan benar.
"Tidak, kami baru-baru ini saja akrab, dia memaksaku untuk diantar pulang olehnya, hanya itu." seru Haara berdusta.
"Bohong. AtHaara, kau itu sepertinya tak mahir dalam berbohong ya?" tanya Yifan.
"A-apaan sih! aku serius!"
Yifan mencoba untuk percaya.
"Jika ada apa-apa bilang, jika dia menggangu mu bilang padaku, saat ini kau tergantung padaku jika di sekolah, kak Yoan pasti akan sibuk belakangan ini." jelas Yifan.
"Gaya bicaramu, kau seperti sedang bicara pada Riza saja." kekeh Haara.
"Beda, aku katakan ini padamu karena aku tak mau kakak iparku kenapa-kenapa, itu bakal menjadi bencana untukku dari kak Yoan, paham? Apalagi sekarang dia semakin bucin sekali denganmu." seru Yifan mengoceh.
Haara tertawa mendengarnya.
"Kau mau mampir dulu? Ku lihat kau sibuk sekali tadi, kau belum makan siang tadi ya?" tanya Haara.
"Nanti saja si rumah." senyum Yifan.
"Mama kamu itu kan sedang di luar kota, apa kau bisa masak?" tanya Haara.
"Paling beli makan di luar." sahut Yifan.
"Ahh~ mau makan bersama ku tidak? Di dalam ada mama ku, kita makan bersama." seru Haara.
__ADS_1
Yifan terdiam ragu.
Haara membawa helm Yifan dan masuk ke dalam halaman rumahnya.
"Hoi, helm ku mau kau bawa kemana??"
"Makan dulu, aku sedang baik hati padamu, ayo bawa motormu masuk." seru Haara masuk ke dalam rumah.
"Ahh~ tak apa lah, makan enak itu ya makan gratis." seru Yifan naik ke motor nya.
●•●•●•●•●
"Yifan mau tambah lagi nasi nya?" tanya Lucy.
"Ah, ngga bibi, sudah kenyang." tolak Yifan.
"tak usah malu jika mau nambah ya~" seru Lucy.
"Iya Yifan, biasanya juga malu-maluin." timpal Haara nambah nasi.
"Kau ... Tunggu? Kau nambah lagi?? Ini sudah yang ke tiga kalinya lho, AtHaara." tak percaya Yifan.
"Aku lapar."
"Nanti kalau kau gendut kak Yoan ngga mengenali mu lho." seru Yifan.
"Mana ada, lagi pula aku mau makan sebanyak apapun tak akan pernah bisa gemuk." sahut Haara.
"Haara itu memang begitu Yifan, mau makan sebanyak apapun dia itu susah gemuk, entah kemana makanan yang ia makan larinya jika ia tak gemuk." heran Lucy.
"Sungguh? Wah, jika seperti itu kau harus tahu batasan, nanti perutmu bisa-bisa buncit dan tak bisa nafas." tak percaya Yifan.
"Tenang saja, perutku masih kuat menampungnya." seru Haara menepuk-nepuk perutnya.
"Jika tahu seperti itu, kau ikut saja lomba makan ramen saat itu di Jepang, kau ini! Sungguh tak bisa memanfaatkan kelebihanmu itu." gerutu Yifan.
"Mau nya seperti itu, tapi Yoan melarangku makan mi terlalu sering, yang ada aku di marahin dia, padahal mi termasuk makanan kesukaanku, tapi Yoan melarang." cemberut Haara.
"Yoan benar, jadi sekarang kamu jarang makan mi dong? sayang?" tanya Lucy.
"Jarang sekali, dia hanya mengizinkanku makan mi dua minggu sekali saja, kebangetan!" kesal Haara.
"Good! Istri yang baik! pasti kau pun takut dengan sisi galak nya kak Yoan, iya kan??" tanya Yifan.
Haara mengangguk cepat saat mengunyah nasinya.
"Benar! Dia benar-benar sangat menyeramkan jika sedang marah! Meski hanya di tatap, dia itu seperti punya tatapan kilat dimatanya, ihh merinding!" seru Haara menggosip.
Lucy dan Yifan yang mendengarnya tertawa.
"Apa kesalahanmu waktu itu sampai buat kak Yoan marah?" tanya Yifan.
"Banyak sih, waktu malam tahun baru ia memarahi ku karena aku memaksa untuk di belikan es krim dan minuman dingin." seru Haara.
"Lho? Kenapa?" tanya Lucy
"Salah aku juga sih mah, karena saat itu aku baru keluar dari rumah sakit waktu sakit perut karena lagi datang bulan, dia langsung mendiami ku dan memberikanku tatapan kilatnya itu." sahut Haara menjelaskan.
Lucy terkekeh.
"Kamu juga yang salah, Yoan gak akan larang jika itu tak salah." seru Lucy.
"Lalu apa lagi?" tanya Yifan.
"Yang ku ingat saat dia menyuruhku ganti baju dengan baju hoodie nya saat di Guangzhou, saat itu aku kesana tanpa membawa salinan sama sekali." ingat-ingat Haara.
"Aku saat itu sudah sangaaaattt ... ngantuk sekali, tapi dia terus menyuruhku bangun dan ganti baju, alasannya karena saat itu salju turun lebat sekali, aku juga yang salah." kekeh Haara.
"Lalu? Dia marah?" tanya Yifan.
Haara mengangguk.
"Ahh~ sudah jangan di bahas, nanti telinga Yoan sakit karena di bicarakan, habiskan makan mu Yifan, kalau perlu nambah." seru Haara mengalihkan pembicaraan.
Karena jika Yifan bertanya lebih jauh apa yang ia dapat saat itu, ia tak tahu harus jawab apa.
• • •
Sisi lain~
"Ahh~ telingaku berdengung terus!" seru Yoan kesal saat keluar dari ruang meeting.
Ammar terkekeh.
"Tandanya ada yang sedang membicarakanmu tuh." seru Ammar.
"Mitos! sudahlah, siapkan jadwal berikutnya." seru Yoan.
Ammar masih terkekeh.
"Siap Mr. Yoan!"
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "bagaimana pendapatnya nih? bagian mana yang menarik perhatian kakak sekalian di part ini? tulis di komentar ya~🤗"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐