
Haara duduk disofa dengan wajah yang ia usahakan agar terlihat tenang, benar-benar membuatnya panas dingin.
"Diminum es sirup nya Ra." tawar kakaknya Alka.
Haara hanya tersenyum lalu meminumnya sedikit,
"Jadi benar kalian satu kelompok?"
"Mm i-iya, jadi kami membagi bagi tugas itu, dan tugas yang Alka tunjukkan kepada kak Aldo kemarin itu adalah tugas bagian Alka." jelas Haara,
"Ahh~ seperti itu."
"Haara?" panggil Aldo
Haara menatap Aldo ragu,
"Masih marah ya?" tanya Aldo ragu,
"Mm~"
"Maafin aku ya, aku tak tahu jika kau takut dengan sikapku~"
"Iya kak Aldo jujur saja aku kurang suka jika kakak seperti itu."seru Haara ragu.
"Iya aku minta maaf jadi membuatmu tak nyaman." senyum Aldo,
Hal itu membuat Haara sedikit tenang,
"bagaimana tugasmu sudah dikerjakan?" tanya Aldo,
"Mm, sudah." dusta Haara mengalihkan pandangannya.
"Coba ku lihat." pinta Aldo mencoba menatap Haara.
"Itu .."
"Do? temannya Alka ya?" tanya seorang pria yang tak Haara kenal.
"Iya, temannya Alka."
"Hey, aku Daniel, temannya Aldo, siapa namamu?" tanya pria bernama Daniel itu duduk disebelah Haara.
"Haara, ini cemilannya." seru Alka duduk disebelah Aldo.
"Oo~ Haara ya namanya~" seru Daniel,
"Eh? kak Daniel, sejak kapan kau duduk disebelahnya?"
"Baru saja, sudah punya pacar belum?" tanya Daniel, Aldo pun langsung melempar bulatan kertas ke Daniel.
"Aduh, apa si?" -Daniel,
"Jangan ganggu, hush!" usir Aldo,
"Siapa yang ganggu, aku tuh sedang bicara dengan Haara, ya gak Haara?" seru Daniel duduk makin mendekat.
"Kak Daniel, jangan ganggu, Haara gak suka lho pria yang antusias an seperti mu." sindir Alka.
"Antusias apanya sih Ka?" kekeh Daniel mencoba mendekati Haara lagi,dengan tak sopan Daniel menggandeng Haara.
"Niel!" -Aldo
"Apa si~"
"Aku pamit pulang dulu, permisi."pamit Haara buru-buru mengambil tas nya dan pergi.
"Haara hey Haara~ yahh belum juga minta nomornya."
"Kak Daniel! ihh, Haara tuh gak suka ya! kalau kak Daniel itu bersikap seperti itu!" seru Alka mengejar Haara.
"Sikap ku aneh gimana coba, hey Alka, yahh ditinggal~"
• • •
Haara memijat pelipis nya sambil berlari, ia benar-benar tidak suka!
Entah kenapa jika ada seorang pria seperti itu membuatnya ketakutan,bagi nya itu menyeramkan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Ini adalah hari kedua dimana Haara terlihat murung, bagaimana tidak? kejadian 2 hari lalu membuatnya seperti ini.
Haara hanya melamun saat ia baru datang, ia masih saja kefikiran, ia takut jika pria itu mengikutinya seperti kejadian 1 tahun lalu jika ia diikuti seseorang yang mengaguminya seperti seorang stalker.
__ADS_1
Alka menatap Haara dari tempat duduk nya.
Alka masih saja merasa bersalah, Riza pun mengusap-usap pundak Alka tujuan untuk menenangkan Alka dari rasa bersalahnya.
Semua siswa pun duduk dikursinya masing masing, karena pelajaran akan segera dimulai.
●•●•●•●•●
Bel istirahat pun telah berbunyi, siswa berhamburan keluar kelas, entah kemana tujuan mereka, namun banyak yang pergi mengarah ke kantin.
Suara ketukan terdengar, Riza langsung menatap kearah pintu mendapati ada Yifan dipintu kelasnya.
"Sebentar ya." seru Riza ke Alka dan Haara, ia melangkah kearah Yifan.
• • •
"Aku titip jaketku, lokerku belum aku bersihkan." menyodorkan jaketnya.
"Sekotor apa lokermu memangnya?" tanya Riza mengambil jaket Yifan.
"Kotor sekali, banyak sekali .."
"Iya iya aku tahu, surat cinta dear Yifan.! sela Riza,
"Syukurlah kau menyadarinya." kekeh Yifan, namun tatapannya fokus ke belakang Riza sekilas.
"Kenapa sih dengan itu anak?" tanya Yifan,
"Panjang ceritanya."
"Ceritakan padaku nanti~"
"??" bingung Riza,
"Kak Ammar ingin aku mengawasinya, karena kak Yoan tak begitu perduli, jadi ia ingin perintahnya di atas namakan perintah kak Yoan." jelas Yifan.
"Aku tak curiga, aku sudah menduganya~" kekeh Riza,
"Tapi kenapa kak Ammar yang memerintahmu? kenapa bukan tuan Yoan?ku kira itu permintaan tuan Yoan?" tanya Riza bingung,
"Begitulah, dia cuek~ mungkin kak Yoan tak menyangka jika calon istrinya itu banyak pengagum rahasianya~"
"Kau sedang membicarakan dirimu ya?" sindir Riza,
"Kenapa jadi aku?"
Riza terkekeh,
"Sepenasaran itukah?" tanya Riza terkekeh,
"Jika dia tak baik-baik saja, aku yang kena nanti, jika di fikir-fikir, aku ini seperti bodyguard saja ya." seru Yifan menghela nafas.
"Akan ku ceritakan nanti."
"Jadi benar ada masalah ya?"
"Ku ceritakan nanti tunggu ditempat biasa, aku bilang pada mereka berdua dulu~"
"Yifan." panggil Haara melangkah mendekati Yifan.
"Ada apa?"
"Ajari aku fisika juga dong~" mohon Haara.
"Kenapa aku?" bingung Yifan,
"Karena kau paham, aku minta ajari denganmu~ tak apa kan Riza?" tanya Haara.
"Tak masalah kok."
"Tuh Riza saja tak masalah~"
"Kenapa tak minta ajarkan padanya saja."
"Siapa maksudmu?"
"Kak Yoan~"
Haara menghela nafasnya.
"Hahh? kenapa dia?!
"Karena ia lebih paham dari aku."
"Paket lengkap!" seru Alka takjub,
"aku duluan." pamit Yifan melangkah pergi,
"Ah iya, mulai sekarang coba kau andalkan dia saja~" seru Yifan,
__ADS_1
Haara menghela nafasnya kasar.
• • •
"Ra? mau kekantin? ke kantin yuk?" ajak Alka.
Haara mengangguk dan tersenyum,
"Aku ada urusan sebentar dengan Yifan, nanti aku menyusul." seru Riza memasukkan jaket Yifan kedalam tas nya.
"Baiklah, cepatlah menyusul ya." seru Haara.
Riza mengangguk dan mereka pun jalan berlawanan arah.
• • •
Tak ada perbincangan dari Alka maupun Haara di aula sekolah saat ini, Haara yang sibuk meilhat sekelilingnya, sedangkan Alka berfikir untuk membuka pembicaraan.
"Haara? bagaimana dengan .. Tugasmu?"
"Tugas? ah, aku lupa~ aku ingin telfon kak Ammar, semoga ia bisa membantuku mengerjakan tugas ya Alka~" seru Haara merengek.
"Sebentar ya Alka aku telfon kak Ammar."
"Ah iya."
sesegera mungkin menelfon Ammar.
●•●•●•●•●
Angin berhembus di rooftop dapat dirasakan sejuknya angin itu di siang hari ini, kata demi kata terbentuk sebuah kalimat pun terucap membuat lawan bicaranya mendengarkan dengan baik ucapan seseorang dihadapannya saat ini.
"Kau bercerita seperti ini, apa Haara tahu?kau sudah minta izin padanya?" tanya Yifan.
"Ku rasa tak perlu, lagi pula ini demi kebaikan Haara juga, sepertinya ia butuh seseorang buat melindunginya." seru Riza menatap Yifan.
"Jangan menyuruhku, itu bukan tugasku~"
"Lalu siapa lagi, kau yang mengatakan sendiri jika Haara itu kakak iparmu."
"Yang jelas jangan aku, tapi pria itu tak mengikutinya kan?"
"Aku dan Alka selalu mengantarnya pulang, takut jika kejadian ia diikuti seseorang 1 tahun yang lalu terjadi lagi."
"Pantas saja jika dirinya seperti itu saat ini,pria itu bersikap tidak sopan pada calon kakak iparku ternyata." seru Yifan terkekeh,
"Lalu untuk apa aku cerita ini padamu jika kau tak ingin melindungi Haara?" hela nafas Riza.
"Jelasnya jangan aku." seru Yifan menolak lagi, ia memainkan ponselnya dan meletakkannya di telinganya.
"Kau .. Menelfon siapa?" bingung Riza,
Yifan hanya tersenyum.
●•●•●•●•●
"Kau sudan minum Vitaminmu?" tanya Ammar datang membawa secangkir coklat panas.
"Belum~"
"Cepatlah minum~ kerjaanmu sungguh tak ada habis-habisnya~" khawatir Ammar,
Yoan pun berdiri dan melangkah pergi,
"Kau mau kemana?"
"Kau menyuruhku minum Vitaminku kan?vVitaminku ada dimobil." seru Yoan.
"Biar ku ambil saja, berikan kunci mobilmu."
Yoan menatap Ammar bingung,
"Aku tak ingin karyawanmu melihatmu berantakan seperti ini, dasimu yang miring, baju yang tak rapih, rambutmu pun acak acakkan, aih! kacau sekali kau!" seru Ammar bergidik ngeri.
"Hari ini aku akan menjadi bos mu, aku ingin nanti kau tak lembur, dan juga segera pulang lalu tidur!" perintah Ammar.
"Ha?" seru Yoan mengangkat sebelah alisnya.
Ponsel Ammar tiba-tiba saja berbunyi ada panggilan masuk, tanpa berfikir lagi Ammar mengangkat telfon itu dan meninggalkan Yoan.
"Bos? bahkan ia seperti seorang ibu~" seru Yoan merenggangkan tubuhnya.
Terdengar sebuah nada dering dari ponsel Yoan, ia mendapat sebuah telfon,
"Yifan?"
...•...
...•...
__ADS_1
...{Bersambung}...
...•...