My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Suami as Pacar


__ADS_3

Haara telah siap mengenakan seragam sekolahnya, ia mengoleskan selai coklat dan kacang di roti yang ia pegang.


Tatapannya fokus pada Yoan yang tiba tiba datang dan duduk di kursi bar dapur tepat di sebelah gadis itu berdiri.


Haara mengerutkan keningnya melihat pria itu menutup wajahnya, terdengar pria itu menghela nafasnya kasar,


"Mm, kau baik baik saja?" tanya Haara pelan,


Tak ada sahutan dari pria itu,


"Apa .. Kepalamu terasa sakit lagi?" tanya Haara lagi,


Yoan menggeleng,


"Buatkan aku roti selai juga" seru pria itu menatap lesu Haara,


Haara memberikan roti yang ia buat tadi kepada Yoan,


"Aku inginnya selai kacang dan coklat" seru Yoan melirik roti itu sekilas


"Ini roti dengan selai kacang dan coklat" seru Haara kembali menyodorkan pada pria itu,


Perlahan Yoan mengambilnya dan memakannya,


Haara mengambil roti baru dan mengoleskan selai coklat pada rotinya,


Ia melirik Yoan sebentar, pria itu tampak tak seperti biasanya sekali,


"Jika kau kurang enak badan, lebih baik istirahat saja, tidak usah ke kantor dulu" nasihat Haara pelan,


"Aku hanya kurang tidur saja, aku baik baik saja" sahut Yoan lesu,


"Ah iya" sahut Haara memakan rotinya,


Yoan menatap gadis yang berdiri di sampingnya,


"Kenapa kau menatap ku?" tanya Haara bingung,


"Kalau makan duduk"


"ahh Iya iya" sahut Haara menduduki dirinya di kursi bar dapur tepat di sebelah pria itu,


Tatapan Haara tefokus pada ponselnya, sontak ia terkejut saat ponselnya di ambil Yoan,


"Eh, kenapa di ambil?"


"Habiskan dulu rotimu, jangan main ponsel"


"Iya iya, aku makan rotiku" cemberut Haara memakan rotinya,


"Jika kamu meng salah gunakan ponsel, terlalu mementingkan ponsel, aku akan sita ponselmu" ancam Yoan dengan tatapan tajam,


Haara menelan rotinya berat, ia mengangguk secara perlahan.


●•●•●•●•●


Hari ini Yoan akan mengantarnya ke sekolah, sebelum dirinya akan pergi ke kantor, pria itu menolak keras dan menarik paksa Haara yang memilih untuk naik bus daripada diantar dengannya ke sekolah.


Sesekali Haara mencuri curi pandang ke arah Yoan yang fokus menyetir sambil memijat pelipisnya,


"Kau .. sungguh baik baik saja?" tanya Haara ragu,


"hm~kepalaku sedikit pusing karena kurang tidur semalam"


"Jika pusing jangan pergi ke kantor dulu, istirahat saja, nanti aku minta kak Ammar .."


"Kemarin aku sudah tidak masuk ke kantor, aku sudah menunda merevisi dokumen tentang proyek diruanganku" jelas Yoan lesu,


Haara menatap Yoan dengan ekspresi panik,


Yoan yang merasa di perhatikan melirik Haara sekilas,


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Yoan tak bererkspresi,


"kau terlalu memaksakan diri~ ya aku memang tahu posisimu itu adalah seorang CEO"


"Baguslah kau paham"


"Aku hanya bisa menyuruhmu jangan memaksakan diri dan beristirahatlah, karena aku tak tahu harus berbuat apa dan bersikap seperti apa semestinya" seru Haara menekuk bibirnya,

__ADS_1


Yoan hanya mendecih mendengarnya,


Haara memainkan ponselnya tak berniat membuka pembicaraan lagi,


Haara mengingat sesuatu!


Haara menghela nafasnya kasar, hal itu membuat Yoan melirik gadis disebelahnya


"Ada apa?" tanya Yoan bingung,


"Gara gara kedatangan Yuu kemarin, membuatku di introgasi oleh teman temanku"


"Introgasi?"


"Hm, mereka memintaku agar mencomblangkan temanku dengan Yuu" seru Haara ketus


Yoan mengerutkan keningnya bingung


"Me .. Com apa?"


Haara yang mendengarnya terkekeh


"Mencomblangkan" kekeh Haara,


"Hmm, apa artinya?"


"Mencomblangkan itu mereka memintaku agar menjodohkan Yuu dengan temanku"


"Ahh, seperti kepala keluarga Zhao ya?" sahut Yoan pelan dan polos


Sontak Haara tertawa mendengarnya,


"Ya~ bisa di bilang seperti itu!" tawa Haara,


Yoan mengangguk angguk paham,


"Kalau kau membantu mereka pun, Yuu tidak akan mau" sahut Yoan,


"Aku sudah tahu jawabannya, bahkan dia mengatakannya padaku"


"Hahh, mereka pun bertanya tanya tentang kedatanganmu di hari senin, saat menjemputku dengan Yifan, pasti mereka itu ingin kembali mengintrogasiku" frustasi gadis itu,


"Tentang siapa kamu dan siapa Yuu , kenapa aku bisa dekat dengan saudara Yifan, itu membuat mereka bingung"


"Lalu? Kau jawab apa?"


"Yifan dan Yuu itu sepupuku, tapi mereka tak percaya" sahut Haara kesal jika mengingatnya,


"Lalu kau menganggapku apa didepan teman temanmu?"


Haara terdiam sejenak,


"Mereka mencurigaiku, jika antara kau dan Yuu itu pacarku" sahut Haara jujur,


"Kenapa mereka tak percaya jika Yifan dan Yuu itu sepupumu?"


"karena aku baru baru ini akrab dengan Yifan itu di kelas 12 sekarang, di kelas 10 dan 11 mana ada dia itu mengenalku"


"Kenapa ia tak mengenalmu?" tanya Yoan lagi,


"Karena dia itu pria populer di sekolah~bahkan dia seperti seorang idola saja, banyak sekali penggemar wanitanya, banyak sekali yang menyatakan cinta secara langsung atau lewat surat yang di simpan dilokernya" sahut Haara,


"Ahh, sama sepertimu berarti" sahut Yoan,


Haara menutup mulutnya karena secara tak langsung ia membicarakn tentang dirinya sendiri,


Haara mencuri curi pandang kearah Yoan,


Suasana mobil seketika menjadi sangat mengerikan,


Yoan menghentikkan mobilnya saat telah sampai di depan gerbang sekolah gadis itu,


"Apa gunanya menyimpan surat sebanyak itu?"


"Eh?"


"Aku tak ingin kau menyampah di penthouseku dengan surat surat cinta dari penggemarmu itu" seru Yoan dengan nada menekan,


"A aku sudah membuangnya~ bahkan surat surat itu selalu ada di lokerku~" seru Haara frustasi,

__ADS_1


"Bahkan aku sudah menutupi celah celah pintu loker ku, tapi tetap saja masih bisa masuk!!" kesal Haara


"Tinggal umumkan saja jika dirimu sudah punya pacar pada teman temanmu, apa susah nya" seru Yoan memiringkan tubuhnya menatap Haara,


"Pa pacar?? Ta tapi aku tidak punya .."


"Ya, punya nya suami" sela Yoan menatap Haara,


Haara tercegang mendengarnya, ia salah tingkah saat mendengarnya,


Yoan menyodorkan tangan kirinya, membuat Haara menatapnya bingung,


"Copotkan gelangku"


Haara menatap pria itu dengan tatapan yang tentunya masih di landa kebingungan,


Ia menatap tangan pria itu,


"Dua duanya?" tanya Haara,


"yang berwarna merah" perintah pria itu,


Haara mengangguk dan membuka gelang itu,


Saat gelang itu telah terbuka, Yoan langsung mengambil gelang itu, ia menarik tangan kiri Haara yang membuat gadis itu sedikit terkejut.


Haara mengerjapkan matanya saat Yoan memakaikan gelang itu di pergelangan tangannya,


"Eh? Kenapa di pakaikan ditanganku??" heran Haara,


"Umumkan saja jika aku itu pacarmu"


"Ha?!!" terkejut Haara bukan main,


"Ada apa?" tanya Yoan menatap Haara,


"Eum, pa pacar??"


"Kenapa terkejut seperti itu? Bahkan kedudukan kata 'pacar' itu lebih rendah daripada kata 'suami' bukan?"


Haara masih terkejut saat itu, secara tiba tiba saja Yoan mengatakan itu, membuat dirinya pening,


"Apa kau inginnya menganggap Yuu pacarmu?" tanya Yoan tajam,


"A aha~ bu bukan, tidak kok, a aku mm, apa tidak apa apa mengatakan itu?" tanya Haara polos,


"Lalu kau ingin mengatakan aku suamimu?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya,


"Ti tidak, sungguh tak masalah aku mengatakan kau pacarku?" tanya Haara,


"Tidak masalah sama sekali, yang masalah jika kau memperkenalkan Yuu sebagai pacarmu" sahut Yoan tajam,


Haara tersipu mendengarnya, dapat dilihat raut pria itu terlihat tidak suka mengatakannya,


"Jangan di hilangkan"


"Ah baiklah, akan aku jaga barang pinjamanmu" sahut Haara senang, ia memakai tas nya,


"Aku memberikkan nya padamu"


"Eh?"


"Aku hanya berpesan untuk menjaga baik baik gelang itu, gelang itu adalah gelang kesukaanku" seru Yoan


Haara mengerjapkan matanya, jantungnya berdegup,


"Baiklah, terima kasih gelang nya, aku .. Masuk dulu, mm berhati hatilah" seru Haara cepat turun dari mobil,


Haara pun lari masuk kedalam sekolah,


Yoan tersenyum tipis, dan menginjak gas mobil nya pergi.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏


__ADS_2