
Suara isak perlahan terdengar, Haara menutup wajahnya dan tangisnya pun pecah saat itu juga.
Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu kamar mandi.
Ia pun mulai menangis histeris dengan suara air kran yang menyamarkan suara tangisnya.
Tubuhnya merosot di pintu kamar mandi, ia memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya.
"Ngga mungkin! Aku ... ARGGHHH!!" tangis Haara menarik rambutnya kuat.
"Ngga mungkin! Ngga mungkin aku hamil!!" tangis Haara kencang dan tertahan.
Ya, testpack itu memberikan hasil dua garis merah, dia positif hamil.
Dengan kasar Haara menyobek kertas persegi panjang itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Fikirannya pun menjadi kenyataan, kekhawatiran nya pun jadi kenyataan saat ini.
Bahkan ia mencoba mengingat saat terakhir kali ia meminum pil pencegah kehamilan itu, ia baru teringat satu hal bodoh.
Ia tak memberi jangka waktu untuk obat itu bekerja, ia baru mengingatnya.
"Kenapa aku sampai lupa! Bahkan obat itu belum bekerja, aku dengan santai dan percaya membiarkan Yoan menyetubuhi ku!!!" sesal nya.
Tubuhnya gemetar, wajahnya semakin memucat saat itu juga.
Dengan gerak cepat ia mengambil ponselnya di saku piyama tidur nya dan langsung menelfon Yoan.
Namun nihil, pria itu tak mengangkat telfon dari gadis itu.
Ia pun mencoba lagi dan lagi, namun hasilnya tetap nihil.
"Yoan~ ku mohon angkat telfonnya~" tangis Haara semakin pecah.
Tut! Tut! Tut!
Haara menyerah, pria itu benar-benar tak bisa di hubungi sama sekali.
"Yoan~ aku harus bagaimana~" isak nya.
"Aku merindukanmu~ cepatlah pulang Yoan~ aku takut~" sesenggukan Haara.
●•●•●•●•●
Haara dengan tatapan kosong pun melangkah keluar dari kamar mandi.
Matanya sembab dan memerah.
Fikirannya sudah lebih tenang saat ini, meski ia masih tidak bisa menerima kenyataannya.
Karena ia akan mengorbankan dirinya tidak bisa masuk Universitas untuk beberapa bulan yang akan datang.
Seketika semuanya pun sirna.
Tok! Tok! Tok! AtHaara~ buka pintunya~
Haara perlahan menatap ke arah pintu kamar.
Dengan langkah pelan ia membuka pintu kamar nya yang terkunci itu.
Terlihat jelas wajah panik kedua orang tua nya dan Anna saat itu juga, mereka bertambah panik saat melihat mata sembab dan wajah pucat Haara.
"Ya ampun AtHaara! ada apa denganmu!??" tanya Juan terkejut.
Haara hanya diam dengan tatapan kosong.
"Sayang?? Kamu kenapa?? Wajah kamu juga pucat sekali, ada apa sayang??" tanya Lucy juga panik.
"AtHaara, jawab." panik Anna melihat tak ada respon dari Haara.
"Papa, mama, kak anna, kenapa kalian telat? Bahkan aku hampir tenggelam kedalam mimpi ku yang sangat menakutkan." seru Haara meneteskan air matanya.
"Mi-mimpi??"-Anna.
Seketika Haara langsung memeluk Lucy erat.
"Mimpi ku sangat seram sekali, sampai aku sulit sekali bangun, kenapa kalian baru datang disaat aku bangun dari tidur ku??" dusta Haara, ia sedang berbohong sekarang.
"Hahh~ jadi karena mimpi, bermimpi apa kamu hingga menangis membuat matamu sembab dan wajahmu sepucat ini?" tanya Juan prihatin.
"Sangat seram papa, ta-tadi ... a-aku menonton film horor yang sangat menyeramkan hingga tanpa sadar aku ketiduran dan terbawa mimpi." sahut Haara lagi-lagi berdusta.
"Tidur di kamar kakak yuk? Kita tidur bersama." seru Anna lembut.
Haara mengangguk.
"Ma, pa. kami akan tidur, mama dan papa kembali ke kamar dan tidur ya, Haara biar aku yang tenangkan." seru Anna.
"Baiklah, jangan bergadang ya, Anna kamu harus fokus dengan kesehatanmu dan anakmu, kamu juga Haara." seru Juan mengusap rambut Anna dan Haara bergantian.
"Baik pa." senyum Anna.
Drrt! Drrt! Drrt!
Tatapan mereka pun terfokus pada ponsel yang Haara genggam.
"Yo-Yoan??!" tak menyangka Haara saat melihat ada panggilan masuk dengan tertera nama Yoan di ponselnya.
Dengan cepat ia mengangkat telfon itu.
__ADS_1
Yoan:
"AtHaara?? Ada apa kamu menelfon ku berulang kali?? Maaf aku meninggalkan ponselku di mobil, ada apa??"(nada panik)
Haara pun menangis saat itu juga, tangis nya pecah.
Akhinya~
Akhirnya ia bisa mendengar suara bariton suaminya itu, sekian lama akhirnya ia mendengarnya, ia sungguh merindukan suara pria itu, sangat merindukannya.
Haara:
"Yoaaaann~"(menangis histeris)
Yoan:
"Hey?? Kamu kenapa?? Kenapa kamu menangis??? Kamu baik-baik saja kan??"(panik bukan main)
Haara tak bisa menjawab karena ia kesulitan bicara, ia sesenggukan tak bisa menjawabnya.
Yoan:
"AtHaara?? Jangan buat aku panik tak kharuan seperti ini, aku akan alihkan ke video call."
Haara mengangguk cepat meski ia tahu Yoan tak dapat melihatnya ia mengangguk
Haara menutup mulutnya tak menyangka, ia sungguh sangat senang dapat melihat wajah pria yang sangat ia rindukan tertampang jelas di layar ponselnya.
Meski pria itu memakai topi, namun masih terlihat jelas wajah tampan pria itu dengan raut khawatir dan panik sangat tergambar jelas.
"Hey?? AtHaara? Kamu kenapa hm? Cerita padaku pelan-pelan, apa yang terjadi sampai membuat mu menangis?" tanya Yoan yang terlihat jelas wajah kelelahan dari pria itu.
Haara tak bisa menjawab, kesedihannya kini terganti dengan rasa bahagia karena dapat melihat wajah pria itu.
Ia terus memandangi wajah Yoan yang terlihat menuntut jawaban darinya.
"AtHaara?? Jawab hey?? Jangan buat aku kebingungan dan takut seperti ini hey?? Wajahmu juga pucat sekali, ada apa denganmu??" seru Yoan panik.
"Aku merindukan Yoaaan~" tangis Haara.
Yoan yang mendengarnya tersenyum sendu.
"Tak ada apa-apa Yoan, AtHaara mimpi buruk hingga ia menangis, ia pucat karena saking ketakutannya." jelas Anna.
Terdengar pria itu bernafas lega.
"Mimpi apa hm? Sampai kamu menangis dan ketakutan?" tanya Yoan lembut.
Haara kembali menangis, ia sungguh ingin memeluk pria itu sekarang.
"Apa seseram itu, hm? Jangan di ceritakan jika seperti itu, jangan di paksakan." seru Yoan yang terlihat naik ke dalam mobil lain.
Terdengar pria itu tertawa mendengarnya.
Tak hanya Yoan yang tertawa, Anna, Lucy, dan Juan ikut tertawa.
"Eh? Ada siapa saja? Kenapa aku mendengar suara tawa?" tanya Yoan bingung.
"Ada mama, papa dan kak Anna." sahut Haara dengan suara serak.
"Ah~ mama papa, selamat malam." seru Yoan.
"Kata mama dan papa malam juga." senyum-senyum Haara.
"Bagaimana? Kamu sudah lebih tenang hm?" tanya Yoan lembut.
"Sudah, apa aku menganggumu?? Maafkan aku." seru Haara merasa bersalah.
"Tidak mengganggu sama sekali, aku akan kembali ke apartemenku, aku baru saja bertemu CEO dari perusahaan lain." jelas Yoan.
"Jadi ... Aku bisa video call lebih lama denganmu?" tanya Haara ragu.
"Tentu, tadinya aku mau menelfonmu karena aku luang, tapi aku ragu kau sudah tidur dan mengganggu tidurmu." jelas Yoan.
"Tidak apa! Jika kau luang telfon aku saja! Aku akan angkat! Kapan pun itu! Tengah malam pun akan aku angkat!" seru Haara yakin.
"Ahahaha!! Baiklah~" tawa Yoan pecah.
Haara tersenyum lebar, ia tak merasa kesal jika Yoan menertawakannya kali ini, itu tak masalah untuknya.
"Kak Anna, mama, papa, aku tidur di kamar ku saja, aku mau video call an dengan Yoan." senyum cerah Haara.
"Baiklah, sepertinya keadaanmu telah kembali jauh lebih baik." kekeh Anna.
"Hehe, aku masuk ke kamar ku dulu ya." senyum manis Haara masuk ke dalam kamar nya.
Gadis itu menduduki dirinya di kamar dengan senyum yang tak luntur sama sekali.
"Manis~"
Haara menatap Yoan di layar ponselnya bingung.
"Apa yang manis?" tanya Haara bingung.
"Senyummu." senyum menggoda Yoan.
Haara menggigit bibir bawah nya untuk menahan senyumnya.
"Jangan gigit bibirmu seperti itu, ahh~ aku ingin sekali menciummu." seru Yoan menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
Haara tertawa kecil saat melihat ekspresi Yoan yang frustasi.
Yoan ikut tertawa mendengar suara tawa Haara, itu membuatnya ikut senang mendengarnya.
"Apa kegiatanmu setelah ujian?" tanya Yoan.
"Tidur, mandi, dan makan." sahut Haara terkekeh.
"Kenapa tak belajar?" tanya Yoan.
"Belajar?" bingung Haara.
"Belajar untuk masuk Universitas." sahut Yoan.
Seketika Haara terdiam, raut nya pun seketika berubah.
"AtHaara? Ada apa?" tanya Yoan bingung melihat raut merenung tiba-tiba AtHaara.
"Yoan."
"Hm?"
"Jika aku tak mau kuliah .... bagaimana?" tanya Haara ragu.
Yoan yang mendengarnya pun mengerutkan keningnya bingung.
"Tak mau kuliah?? Kenapa tiba-tiba tidak mau?? Apa karena kamu belum kefikiran jurusan apa yang akan kau ambil?" tanya Yoan bingung.
Haara menggeleng.
"Ku rasa ... aku tak mau kepusingan karena belajar lagi, aku ingin jadi pelukis, membuat komik online, atau menjadi penulis." jelas Haara.
Yoan terdiam sejenak.
"Bahkan itu juga butuh belajar." sahut Yoan.
"Ak-aku dapat nilai sempurna pelajaran Seni dan bahasa Indonesia, dan juga Riza dan Alka bilang lukisan ku sangat bagus dan juga aku tunjukkan cerita fiksi yang ku buat juga mereka bilang sangat menarik! Jadi, aku tak perlu kuliah, itu membuang-buang waktuku." senyum Haara, namun siapa sangka Yoan merasa curiga dengan Haara karena senyuman gadis itu terlihat sendu.
"Jelaskan sejujurnya, kenapa kau tak mau kuliah, AtHaara." tanya Yoan tajam.
'apa ia curiga?' batin Haara.
Haara mengalihkan pandangannya takut melihat tatapan tajam Yoan.
"Aku sudah mengatakan dengan sejujurnya Yoan." sahut Haara gelagapan.
Yoan memicingkan matanya.
"Apa ada hal yang kau sembunyikan dariku??" mengintimidasi.
"...eh?"
"Ku bilang jawab dengan sejujurnya, tak usah mengelak, kau ketahuan sedang berbohong padaku." seru Yoan memicingkan matanya.
Deg!
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."sekiranya Haara akan terus terang ga ya?Yoan sampai peka Haara lagi bohong.🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1