
Haara tersenyum senang saat melihat tumpukkan tumpukkan es krim, ia mengambil tiga es krim dan akan membayar es krim yang ia beli,
"aku ingin beli semua~ tapi takut Yoan marah karena aku terlalu serskah nanti" cemberut Haara
"Bibi, aku ingin bayar es krim ini" seru Haara ramah,
"Baik .. Ya ampun nak~ untung kamu baik baik saja~" khawatir bibi itu,
Haara yang memahami maksud ucapan bibi itu pun tersenyum kaku,
"Apa kamu baik baik saja? Apa kamu terluka atau tersenggol mobil itu?? Mobil itu benar benar tak bisa membaca rambu lalu lintas! Beruntung kamu selamat~" khawatir bibi itu memegang pergelangan tangan Haara,
"Aku baik .."
"Apa???"
Haara memutar tubuhnya mencari seseorang yang berucap tadi
"Apa yang terjadi sebelum aku tiba???" tanya Yoan lagi terlihat panik
"Tadi dia hampir tertabrak mobil yang melaju kencang saat akan menyebrang" jelas bibi itu,
Yoan yang mendengarnya langsung memegang kedua pundak Haara
"Kau terluka???"
"Mm itu .. Aku itu .."
"Bicara yang jelas!" tuntut Yoan,
"Aku baik baik saja, itu salahku juga yang bermain ponsel saat menyebrang, dan tadi ada seorang pria menyelamatkan ku, karena hal itu ia terluka saat menyelamatiku" jelas Haara,
Yoan menundukkan kepalanya sambil menghela nafasnya lega,
"Sungguh tak apa apa?" tanya Yoan lagi menatap Haara serius,
"Tidak Yoan~ aku baik baik saja" sahut Haara,
Yoan masih menatap Haara tanpa menyahut lagi,
"Aku serius, coba lihat sendiri, tak ada yang luka" seru Haara lagi meyakinkan Yoan,
"Kamu"
Haara mengerutkan keningnya bingung
"Kamu?" ulang Haara,
"Kamu benar benar tak pandai sekali menjaga diri AtHaara" seru Yoan datar, ia pun melangkah keluar dari toko,
"Eh Yoan"
"Ini es krimnya totalnya 16 ribu rupiah" seru bibi itu,
Haara pun memberikan uangnya dan mengambil plastik berisi eskrimnya,
"Terima kasih bibi" senyum Haara bergegas mengejar Yoan.
• • •
Haara melihat Yoan yang bersandar di mobilnya sambil melipat kedua tangannya, wajah pria itu terlukis sangat tidak bersahabat.
Haara melangkah mendekatinya dengan ragu,
"Yoan~" panggil Haara, namun tak ada sahutan dari pria itu,
"Kamu kok marah sih?" bingung Haara,
Yoan menatap Haara tajam
"Pertanyaanmu membuatku tambah emosi saja denganmu" seru Yoan menusuk,
__ADS_1
Haara menelan ludahnya berat,
"Masuk!" seru Yoan sebelum masuk kedalam mobil, ia menyuruh Haara masuk ke dalam mobil
Haara pun menurutinya.
●•●•●•●•●
Haara membuntuti Yoan yang masuk ke dalam penthouse,
Haara menarik tangan Yoan
"Yoan~" rengek Haara
"Aku minta maaf sudah membuatmu emosi karena kecerobohanku" tunduk Haara
Yoan mengehela nafasnya kasar dan memutar tubuhnya menghadap ke gadis itu,
"Aku tak butuh ucapan maaf darimu" seru Yoan menusuk,
Seketika jantung Haara berdegup terasa sakit setelah mendengar ucapan pria itu,
Haara menunduk,
"Yang aku butuhkan adalah janjimu, janji jika dirimu tidak ceroboh dan menjaga dirimu sendiri selagi tak ada aku!" seru Yoan marah,
Haara mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Yoan tadi,
"Kau itu tanggung jawabku AtHaara! papa, mama, dan kakakmu sudah memberikan sepenuhnya tanggung jawabmu padaku, apa jadinya jika saat itu keselamatan tak memihak padamu?! Apa yang akan difikirkan papa, mama, dan kakakmu jika hal itu terjadi?! bisakah kau jangan ceroboh?!" seru Yoan naik pitam,
Tubuh Haara gemetar, ia sangat takut kali ini, pria itu benar benar marah sekali padanya,
"A aku minta maaf Yoan~" seru Haara dengan nada takut
"Sudah ku bilang aku tak butuh maaf mu!" bentak Yoan,
Hatinya terasa sakit sekali saat Yoan membentaknya, tubuhnya makin bergetar hebat, mata nya terasa panas saat ini,
"Kau sangat menyebalkan dan merepotkan, kau tahu?" seru Yoan menusuk,
Haara menutup mulutnya agar suara isak nya tak terdengar
"Haara?" panggil Yoan,
Haara nggan menjawab,
Haara merasa kedua pundaknya di pegang oleh pria di hadapannya saat ini,
"Hey kau menangis??" khawatir Yoan,
Haara menggeleng
Yoan tak percaya akan hal itu, ia pun mencoba menatap istri kecilnya itu,
Haara mencoba membuang wajahnya saat Yoan mencoba menatapnya,
"Tatap aku Haara" seru Yoan lembut,
Haara menggeleng cepat,
"Hey Haara, a aku minta maaf, aku lepas kendali, maaf aku membentakmu" seru Yoan panik saat mendengar Haara terisak,
Yoan pun menarik wajah Haara lembut untuk bisa menatapnya, dengan cepat Haara menghempaskan tangan pria itu,
"Haara~ aku minta maaf ya" seru Yoan lagi,
Haara menyingkirkan tangan Yoan dari pundaknya, namun Yoan dengan sigap menggenggam kedua tangan Haara,
"Lepaskan aku" seru Haara dengan suara serak,
"Tidak, sebelum kau baik baik saja" seru Yoan serius,
__ADS_1
"Aku baik baik saja" sahut Haara memberontak,
"Jelas kau menangis karena ucapanku, jangan mengatakan jika kau baik baik saja, aku paling benci seseorang berbohong padaku" seru Yoan tajam,
"Hiks! Jangan membentakku~ aku takut~ aku tidak suka di bentak~" tangis Haara pecah,
"Aku minta maaf, aku benar benar tak bermaksud untuk membentakmu tadi, aku refleks" seru Yoan mencoba menatap Haara yang menunduk,
Yoan benar brnar panik sekali melihat gadis itu nggan menyahut ucapannya, ia yakut gadis itu marah padanya
Isak tangis Haara semakin pecah, Yoan menyadari jika ucapannya benar benar berlebihan dan sedikit kasar,
Karena ia sedang kefikiran mengenai ucapan Yuu, gadis ini telah ia jadikan pelampiasan emosinya,
Yoan menarik tubuh mungil gadisnya kepelukkan nya,
Haara menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, tangis nya semakin menjadi jadi,
"Kau menyebalkan Yoan~ kau membuatku ketakutan, kau keterlaluan Yoan~ kau menyeramkan!~ aku tahu aku salah~" seru Haara dalam isaknya,
Yoan memeluk erat gadis itu dalam pelukkannya sambil mengusap lembut rambut gadis itu,
"Yeah, aku akan menerima apa yang kau katakan mengenai ku untuk kali ini saja" sahut Yoan tenang,
"aku aku aku tidak tahu kalau ada mobil~ rambu lalu lintasnya berwarna merah~ jadi aku menyebrang~ a aku mengirim pesan padamu kalau aku ada di toko es krim, la lalu ada mobil yang hampir menabrakku~ a aku takut~ ka kau bukannya menenangkan ku, kau malah memarahiku~ kau membuatku tambah ketakutan~ huwaaa~" jelas Haara sambil sesenggukan
Yoan terkekeh saat mendengar gadis itu bercerita sambil sesenggukan, ia sangat serius mendengar curhatan gadis itu yang sesenggukan terdengar tak jelas, namun berakhir dengan terkekeh saat mendengarnya.
"iya aku minta maaf~ lalu apalagi keluhanmu?" tanya Yoan terkekeh
"aku tak butuh maafmu!" seru Haara mencontek ucapan Yoan
Yoan menunduk menatap Haara dipelukannya
"itu perkataanku" seru Yoan bingung
"biar! kau telah membuat es krim ku mencair tak berbentuk! apa kau tahu aku sangat ingin es krim tadi, kau malah marah! sampai sampai aku mengurungkan niatku untuk memakan es krimku di mobil tadi karena wajahmu sangat menyeramkan, apa kau tahu batinku menangis karena tak ingin es krim ku mencair!? aku benci kamu Yoan~" isak Haara memukul dada bidang pria
Yoan yang mendengarnya tertawa
"jangan mentertawakanku! aku sedang marah denganmu Yoan!!!" tangis Haara makin pecah
"hey hey, iya iya aku tak mentertawakanmu lagi, ahh kau ini seperti anak kecil saja. seperti ini saja, aku akan belikan es krim baru untukmu, kau ingin es krim apa?" tanya Yoan membujuk
Haara menghentikkan tangisnya, ia mendongak menatap Yoan,
"Benarkah?" tanya Haara polos
Yoan terkekeh melihat perubahan gadis itu,
"Iya, aku belikan es krim untukmu" sahut Yoan melepaskan pelukannya pada Haara,
Haara mengusap air matanya,
"Belikan aku es krim bucket jumbo" seru Haara cemberut.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
__ADS_1
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤