
Haara tak tahu harus bagaimana, jika ia tak lapar, ia akan langsung pergi kelantai atas dan mengunci dirinya didalam kamar.
Ia dapat menyadari jika pria yang berdiri tak jauh darinya itu perlahan melangkah mendekat dan mendekat,
Tubuhnya terasa berat dan sulit untuk bergerak, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya pun bergetar seketika.
Haara memejamkan matanya rapat rapat, ia pun melangkah kesamping Yoan dan berniat akan pergi,
Belum sempat melangkah, Yoan menghentikan langkah Haara, ia menahan tangan Haara,
"Kau mau kemana?"tanya Yoan pelan,
Haara tak menjawab.
karena merasa tak ada sahutan dari gadis itu, Yoan menatap gadis yang sedang marah itu disampingnya,
"Aku lelah, aku mau istirahat" seru Haara lesu dan mencoba melepaskan genggaman tangan Yoan pada tangannya,
"Jangan bohong padaku"
Haara terdiam, ia merasa genggaman pria itu makin erat di tangannya,
"Lepaskan aku" pinta Haara pelan,
"Tidak, sebelum kau ikut makan bersama ku" ucap Yoan tegas,
"Aku tak lapar" sahut Haara cepat,
"Aku tidak suka kau berbohong AtHaara" sahut Yoan menekankan kalimatnya,
Haara menunduk,
"Jangan kira aku tak tahu dan tak mendengar ucapanmu yang mengeluh lapar tadi" tambah Yoan lagi,
"Aku akan makan dikamar" sahut Haara,
"Tidak ku izinkan"
"Ya! aku memang lapar, tapi biar aku makan dikamar" seru Haara menahan kesal,
"Aku tahu kau marah denganku, tapi kau harus menuruti kemauan suamimu" sahut Yoan,
"Temani aku makan, kita makan bersama".
• • •
Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring, tak ada pembicaraan antara mereka,
Mereka berdua hanya tertunduk dan fokus makan.
Haara bangkit berdiri sambil membawa piring piring kotor, ia melangkah ke tempat cuci piring.
Haara melirik kesamping mendapati Yoan yang menyodorkan piring kotor kepadanya, dengan perlahan Haara mencucikan piring sendok milik Yoan.
Yoan menduduki dirinya di meja dapur tepat disebelah Haara, ia dapat melihat jelas wajah istrinya itu yang terlihat masih kesal.
"Aku minta maaf" seru Yoan menatap Haara,
Haara fokus mengelap piring yang sudah ia cuci tadi, ia tak bergeming sedikitpun menganggap jika tak ada Yoan disampingnya.
"AtHaara" panggil Yoan menatap Haara lebih dekat,
__ADS_1
Haara tak menjawab, ia pun melangkah pergi.
"Hey~" panggil Yoan lagi menahan tangan Haara dan menariknya kepojokan,
Haara terkejut atas perlakuan pria yang berada didepannya ini,Ia tak bisa kabur karena kedua tangan Yoan menjaga arah kanan kirinya,
"Apa yang kau lakukan!" seru Haara emosi
"Aku sedang bicara denganmu AtHaara!" sahut Yoan menahan amarah,
"Apa kau tak mengerti ucapanku tadi? aku lelah~!" sahut Haara gemetar,
"Aku tak akan membiarkan mu mengunci diri didalam kamar dengan alasan tak ingin bicara denganku, jangan menghindar dariku!" emosi Yoan,
Haara menunduk, ia bungkam seketika, nyalinya ciut saat mengetahui pria di depannya tengah marah dengannya.
"Jangan bertingkah seperti anak anak!! bahkan kau harus sadar dirimu siapa sekarang!" ucap Yoan menekankan kata katanya.
"Kenapa jadi kau yang marah!!" teriak Haara menatap Yoan dengan air mata yang sudah membasahi pipinya,
Yoan terkejut saat Haara menangis,
"Seharusnya aku yang marah, seharusnya kau memaklumi sikap ku yang mencueki mu, bahkan kau juga harus sadar atas ucapanmu tadi pagi itu menyakiti perasaanku! perasaanku makin terluka bahwa kau memarahiku karena kau mengataiku bertingkah seperti anak anak!!" seru Haara marah besar,
"Kau juga harus sadar siapa aku! Statusku ini masih anak SMA! Aku ini masih anak remaja, tingkah ku memang seperti anak anak, aku tak memahami tentang rumah tangga!" seru Haara gemetar, ia menunduk sambil terisak.
"Istri mana yang tak marah jika suaminya sendiri menghina istrinya sendiri" ucap Haara melanjutkan,
Yoan menunduk, tangannya lemas, lagi lagi ia kelewat batas, dan ia lupa siapa istrinya ini, istrinya masih anak SMA. harusnya ia memahaminya, masalahnya bukannya mereda, yang ada makin menjadi runyam.
Haara pun melangkah pergi ke kamarnya,
Ia menangis sejadi jadinya di kamar.
• • •
• •
•
Alarm ponselnya berbunyi nyaring, Haara mematikkan alarm di ponselnya kesal,
Ia melihat jam di ponselnya,matanya terbelalak saat melihat jam telah menunjukkan jam 7:15.
Dengan cepat ia lari ke kamar mandi,
Beberapa menit kemudian ia pun turun kelantai bawah penthouse nya,
Ia lari ke arah dapur, ia tak mendapati pria yang ia cari disana.
"Sepertinya ia sudah berangkat" seru Haara pelan,
Ia tak sempat membuat sarapan, ia mungkin akan sarapan disekolah jika sempat.
• • •
Benar benar sebuah perjuangan yang tidak sia sia, akhirnya ia dapat masuk ke area sekolahnya sebelum gerbang nya tertutup tadi. Begitu juga ia dapat masuk kekelas beruntung sekali pelajaran pertama gurunya tidak dapat hadir.
"Tumben telat" ucap Alka
"Iya, aku kesiangan" sahut Haara,
__ADS_1
"Matamu bengkak,kau semalam menangis lagi?" tebak Riza,
"Mm ya sedikit" senyum Haara, memainkan ponselnya,
Ia melihat ada 2 notifikasi pesan masuk diponselnya,
Pesan itu dari Yoan, dengan ragu ia membuka pesan di ponselnya.
Pesan yang panjang terlihat di layar ponselnya, ia membaca isi pesan yang pria itu kirim padanya.
Pesan itu menjelaskan permintaan maaf Yoan karena kejadian kemarin saat pria itu ikut marah padanya, dan juga meminta maaf karena telah mengambil kesenangan masa remajanya untuk menikah muda dengannya. ia merasa menyesal dan bersalah karena Haara ikut masuk dalam perjodohan keluarganya, tak seharusnya ia melibatkannya saat itu, ia mengatakan juga jika Haara berhak marah besar padanya atas sikapnya yang pemarah.
dan terakhir ia pun meminta maaf atas ucapannya yang benar benar menyakiti perasaannya, ia berniat hanya ingin membimbing Haara agar ia tak kesulitan belajar, dan membuat gadis itu berhasil dan lulus dengan nilai terbaik, agar ia bisa kuliah dengan jurusan dan universitas yang ia ingin kan, itu adalah niatnya, ia tak berniat untuk menghina dirinya.
Haara menutup mulutnya, ia benar benar tak menyangka jika Yoan memikirkan masa depannya, dan juga secara tak langsung Yoan mengizinkan dirinya kuliah. ia berfikir jika ia tak akan bisa kuliah, namun perkiraannya salah.
Kini Haara merasa bersalah dan berlebihan dengan ucapannya kemarin, sesungguhnya perjodohan keluarga itu Haara sudah menerimanya, ia berkata berlebihan semalam kepada Yoan.
Ia terkejut saat membaca isi pesan singkat kedua Yoan kirim padanya,
'Aku membuat omelete,jangan lupa sarapan'
Ia tak menyadari jika pria itu memasakkan omelete untuknya, ia merutuki dirinya yang tak sadar jika ada omelete di meja makan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Alka melihat tingkah aneh Haara,
Haara tak menyahut, ia hanya menyodorkan ponselnya, ia terlihat panik sekarang.
Riza membaca isi pesan dari Yoan tadi di ikuti oleh Alka yang ikut membacanya,
Mereka terdiam sejenak,
Riza mengembalikkan ponselnya sambil berdehem, lain dengan Alka yang menutup mulutnya,
"So sweet"seru Alka,
"Jadi kemarin kalian bertengkar kerena tuan Yoan mengataimu bodoh?" tanya Riza,
Haara mengangguk,
"Aku merasa kesal awalnya tadi saat ia meminta maaf karena kau marah saat tuan Yoan mengataimu bodoh, namun saat mendengar alasannya, itu membuat aku tak berfikir untuk marah" ucap Riza,
"Ia pun menyadari kesalahannya dan membuatkan mu sarapan" seru Alka,
"Aku .. Tak memakan sarapan yang ia buat" seru Haara meringis,
"Lho?kenapa??" tanya Riza,
"Aku tadi berfikir jika aku telat, aku tak sempat membuat sarapan tadi" rengek Haara,
"Hahh~kau ini, bahkan ia susah susah buat sarapan lho" ucap Alka,
"Kau jelaskan saja saat pulang" seru Riza,
"Baiklah, aku akan meminta maaf padanya" sahutnya kini merasa bersalah.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
__ADS_1
...•...
Hai Readers dan author author keren dan hebat!😍 terima kasih sudah membaca ceritaku😊 jangan lupa Like, Vote, Ratenya dan juga komentarnya yang paling ku tunggu tunggu😇 budayakan tinggakan jejaknya ya kak😍