
Satu minggu telah berlalu,
Pagi hari kemudian.
"Hoeeeekk!! Hoeeekk!! Uhuk uhuk!!"
Seketika Yoan membuka matanya tiba-tiba dan lari kedalam kamar mandi.
Benar saja, dapat ia lihat Haara yang membungkuk di depan wastafel.
Yoan membantu memegangi rambut terurai Haara yang sudah berubah warna menjadi warna asli rambut gadis itu, Yoan juga memijat tengkuk Haara pelan.
'selama satu minggu ini AtHaara tidak hanya pagi hari saja ia muntah seperti ini, bahkan siang hari dan malam hari pun kau terus muntah-muntah, aku sungguh tak tega melihatnya~' batin Yoan merasa sangat kasihan pada Haara.
Crazz!!
"Sudah?" tanya Yoan lembut.
Haara memgangguk cepat.
"Aku lemas Yoan~" keluh Haara memeluk tubuh Yoan.
"Aku bopong ke kamar ya?" ucap Yoan.
Haara mengangguk.
Dengan hati-hati Yoan membopong tubuh Haara dan menduduki tubuh Haara di tepi kasur.
Haara menatap Yoan yang membungkuk sambil mengusap perutnya.
"Sayang~ anak papa, mama setiap pagi, siang hingga malam terus muntah-muntah, jadi tubuhnya lemas, jangan buat mama mual-mual seperti ini lagi ya? Kasihan mama nya lho sayang~ jadilah anak yang baik ya? Papa dan mama sangat mencintaimu." seru Yoan lembut.
Cup!
Haara tersenyum senang saat Yoan mencium perutnya yang agak membuncit itu.
Haara mengusap rambut coklat pirang Yoan sayang, ia menatap Yoan yang perlahan menegakkan tubuhnya.
Dengan gerak cepat Haara memeluk leher Yoan erat.
"Sayangnya aku sama Yoan~" rengek Haara.
"Hahh~ aku pun menyayangimu AtHaara." seru Yoan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Haara.
"Hey, aku belum mandi." kekeh Haara mendorong tubuh Yoan paksa.
"Aku hanya peluk saja kok." sahut Yoan polos.
"Aku tahu, tapi aku bau belum mandi." sahut Haara bangkit berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Yoan ikut berdiri.
Cup!
"Mau mandi Yoan, habis itu buat sarapan." sahut Haara mengecup pipi Yoan sekilas.
"Mmm~ AtHaara." panggil Yoan.
"Hm?"
"Mari kita mandi bersama."
Deg!
"H-ha?!" terkejut Haara.
"Boleh ya? Lagi pula kita sudah melihat tubuh tanpa ..." -Yoan.
"Stop! Jangan di lanjut! Mesum!" sela Haara dengan wajah tersipu merah.
"Mesum sama istri sendiri tak ada masalahnya lho~" seru Yoan membisikkan.
Haara hanya diam membeku.
"Boleh ya? Aku janji hanya mandi saja, tak akan macam-macam." sahut Yoan mengangkat tanganya berjanji.
Haara kini larut dalam fikirannya.
"AtHaara?? Ayolah~ boleh ya?" mohon Yoan.
"Hm, boleh, asal jangan macam-macam." sahut Haara berniat masuk ke dalam kamar mandi.
Yoan tersenyum senang mendengarnya, namun dengan cepat Yoan menahan tangan Haara.
"Tunggu dulu." cegah Yoan.
"Apalagi Yoan?" sabar Haara.
"bukakan bajuku." sahut Yoan tersenyum lebar.
"Ha?!"
●•●•●•●•●
• • •
Yoan membantu Haara duduk di kursi bar dapur perlahan.
"Kamu duduk." seru Yoan.
"Aku mau masak Yoan." sahut Haara lemah.
"Tidak tidak, tubuhmu sedang lemah seperti ini, aku tak akan izinkan kamu masak." sahut Yoan.
"Aku harus buat sarapan untukmu ke kantor Yoan, kamu hari ini ke kantor kan? Jadi kamu minggir, aku harus buat sarapan untukmu~" tolak Haara mencoba melewati Yoan.
__ADS_1
Namun dengan cepat Yoan menahan tubuh Haara.
"Aku tidak ke kantor hari ini." sergah Yoan.
"Tak ke kantor?? Kenapa??" tanya Haara.
"Pertanyaanmu ini, tentu aku tak ke kantor karena keadaanmu sedang seperti ini, bagaimana aku bisa meninggalkan mu sendirian di penthouse? Aku akan menjaga mu." sahut Yoan.
"Aku baik-baik saja Yoan~"
"Aku benci denganmu yang suka membantah, bisakah kau menuruti ucapan suamimu ini??" tanya Yoan sabar.
"Ma-maaf Yoan." tunduk Haara takut.
Yoan menghela nafasnya pelan.
"Sekarang kamu duduk, aku akan buatkan sarapan untukmu." seru Yoan lembut.
"Mau buat sarapan untukku? Hey~ aku tak yakin kau bisa masak, bahkan kau tak bisa bedakan mana garam dan mana gula dan mana wortel dan mana lobak." kekeh Haara menduduki dirinya.
"Benar juga, begini saja, aku akan masak dan kau memberikan ku arahan, bagaimana?" ide Yoan.
"Menarik, seperti main game saja, baiklah." semangat Haara.
"Yosh! Kau mau sarapan apa pagi ini?" tanya Yoan.
"Aku ... Mau pancake!" sahut Haara.
"Ah? Pancake?? Bagaimana cara buatnya??" bingung Yoan.
"Ahahah! Sekarang kita kumpulkan bahan-bahannya dulu, yang pertama tepung dan telur." perintah Haara.
"Tepung ya? Oke." sahut Yoan mulai mencari di dalam kulkas.
"Hanya ada telur, di mana tepung?" tanya Yoan.
"Ayolah~ tepung masa iya di kulkas, ada di lemari dapur di atas kepalamu Yoan~" kekeh Haara.
"Kau tak bilang, mana ku tahu." sahut Yoan mengambil.
"Coba ku lihat."-Haara.
Yoan pun memberikan tepung(?) yang ia pegang.
"Ini sagu Yoan~ tepung itu yang itu, bungkusnya berwarna biru." seru Haara.
"Sama saja, apa bedanya?" tanya Yoan menukarkan sagu itu dengan tepung.
"Jelas beda, warna sagu lebih putih Yoan." sahut Haara.
"Ahh~" mengerti Yoan.
●•●•●•●•●
Secara perlahan Yoan menyimpan pancake buatan nya di depan Haara.
"Ppftt!!" tawa Haara saat melihat bentuk oval pada pancake nya.
"Kenapa bentung nya memanjang seperti ini? Kenapa tak bulat?" tanya Haara.
"Sulit membulatkan nya, aku kurang mahir." sahut Yoan menggaruk tengkuknya malu.
"Coba ku makan ya." seru Haara.
Yoan dengan mata terbuka lebar dengan jantung berdegup kencang memerhatikan Haara yang akan memakan pancake buatannya.
Yoan menelan saliva nya saat Haara perlahan mengunyah pancakenya, namun gadis itu terdiam.
"Tak enak ya?" tanya Yoan ragu.
"E-enak kok!" sahut Haara kembali memakan pancake buatan Yoan itu.
Saat Haara akan memakan potongan pancakenya, dengan tiba-tiba Yoan menarik tangan Haara dan memakan pancake yang akan Haara makan.
"E-eh!"
Yoan terdiam sejenak.
"Belum matang." seru Yoan pelan.
Haara tersenyum kikuk melihat ekspresi kecewa Yoan di sebelahnya, ia mengusap pipi pria itu sayang.
"Hey, tapi ini enak lho! Lagi pula aku tak suka pancake yang begitu matang." hibur Haara.
"Adonannya masih terasa mentah di bagian tengah pancake nya, bagaimana kau sebut itu enak, AtHaara." sahut Yoan pelan.
"Sungguh ini enak! Ah! Apa kau tak suka bagian yang belum matangnya ya? Biar aku potong bagian belum matangnya ya? Aku suapi kamu." seru Haara dengan tangannya yang sibuk memotong pancake.
"Jujur saja AtHaara jika itu tak enak, kenapa kau bersikeras mengatakan itu enak?" tanya Yoan.
"Aku bicara sesuai fakta lho, ini enak, aku tadi hanya terkejut karena belum begitu matang saja." sahut Haara.
"Yoan~" panggil Haara lembut mencoba menatap Yoan, namun pria itu tak ingin di tatap olehnya.
"..."
"Hey~ ini sungguh enak~ hanya tak matang sedikit jangan kau fikirkan ya?" bujuk Haara.
"... Aku akan buatkan lagi ..."-Yoan.
"Tidak perlu, jika kau tak suka bagian belum matangnya akan aku potong untukmu ya? Jika kau mau buat lagi, kapan kau sarapan?" tanya Haara.
"Maaf aku tak mahir memasak." tunduk Yoan.
"Ayolah~ jangan seperti ini."
__ADS_1
"..."
"Yoan?"
"..."
Haara menghela nafasnya pelan, ia tersenyum saat melihat Yoan yang sepertinya merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Haara dengn perlahan memegang kedua pipi Yoan, menarik wajah pria itu dan ...
Cup!
Yoan mengerjapkaan matanya terkejut dengan perlakuan Haara yang tiba-tiba menciumnya.
Tak hanya itu, gadis itu ******* bibir nya lembut membuat dirinya terbuai dengan permainan bibir gadisnya itu.
Namun, saat akan membalas, gadis itu mengakhirinya, hal itu membuat nya sedikit kecewa.
"Jangan murung gitu ih~ aku tak suka kamu diam seperti itu, aku senang sekali lho, ini adalah kali pertama kau buatkan sarapan untukku, buatan suami tampanku ini, rasanya tak buruk, aku berani sumpah!" seru Haara serius.
Yoan yang mendengarnya tersenyum senang.
"Terima kasih telah memuji masakanku, aku janji aku akan buat makanan yang lebih layak dan enak di makan, aku janji!" sahut Yoan yakin.
"Baiklah, aku menantikan itu." kekeh Haara.
"AtHaara." panggil Yoan pelan.
"Hm?"
"Bisa kau cium aku seperti tadi lagi?" tanya Yoan ragu.
"Eh?"
"Aku bahkan belum sempat membalasnya." seru Yoan menatap Haara dalam.
Haara mengangguk dengan senyuman manis di wajah gadis itu, hal itu membuat wajah Yoan memerah saat melihat senyuman manis Haara.
"Senyuman mu, manis sekali." seru Yoan.
"Bisa saja." malu Haara.
"Duduk lah di pangkuanku." seru Yoan.
"Ha? Ti-tidak!" tolak Haara malu.
"Tak ada penolakan." sahut Yoan mengangkat tubuh Haara dan mendudukinya di pangkuannya.
"Yo-Yoan!" gelagap Haara.
"Aku suka posisi mu seperti ini." senyum kemenangan Yoan.
Haara salah tingkah saat ini, ia serba salah.
"Ayo, cium aku seperti tadi." seru Yoan mendongak, ia menatap Haara menggoda.
Glek!
Dengan perlahan Haara menunduk, ia memotong jarak wajah mereka berdua dan Haara kembali mencium hingga ******* lembut bibir Yoan lembut.
Yoan pun mulai menikmatinya, dan kini dunia rasa milik mereka berdua pagi ini.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."kita pake bumbu kemanisan dulu di pagi hari nih, berpesta Yoan ga jadi sunat😆 bagaimana pendapat di part kali ini nih? tulis di komentar ya😇"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐
__ADS_1