My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Perhatian Kecil


__ADS_3

"Aku tak marah padamu, ini sudah malam, aku harus mengantarmu pulang segera, tidak baik berada di tempat tinggal pria saat hari sudah menjelang malam." jelas Yoan berdiri didepan Haara,l.


Haara berdehem panjang, ia salah sangka ternyata.


Yoan melirik dokumen yang berada diatas meja.


"Kau .. Mengurutkan halaman-halaman 4 dokumen milikku??" tanya Yoan tak percaya.


Haara tersenyum dan mengangguk.


Yoan benar-benar tak percaya jika Haara mengerjakkannya sampai 4 dokumennya.


"Tadi aku sudah mengecek ulang, halamannya sudah benar tersusun, tapi jika kau ingin memeriksanya ulang tak apa." jelas Haara.


Yoan masih fokus menatap 4 tumpukkan kertas-kertas dokumennya.


Haara melirik Yoan,


Pria itu tersenyum senang,


Haara pun ikut tersenyum, ia bangga atas pekerjaan yang ia kerjakan.


• • •


Mobil terparkir didepan gerbang rumah Haara,seperti yang di katakan tadi, jika Yoan mengantar Haara pulang.


"Menganai tadi, terima kasih sudah membantuku." seru Yoan.


"Bukan masalah besar, tadi itu memang melelahkan, tapi tak usah difikirkan, karena itu keinginan ku untuk membantumu." sahut Haara menyombongkan diri.


"Dan .. Anggap yang tadi itu ucapan terima kasihku karena kau meluangkan waktumu untuk mengajarkanku, baru kali ini aku memahami jelas pelajaranku." tambah Haara terkekeh.


Yoan ikut terkekeh mendengarnya,


"Besok .. boleh aku bantu lagi?" tanya Haara ragu.


Yoan menatap Haara tak percaya,


"Boleh?"-Haara


"Tidak perlu." tolak Yoan mengalihkan pandangannya.


"Lho kenapa??" bingung Haara,


"Besok hari liburmu, jangan luangkan waktu mu untuk .."


"Lagipula aku yang ingin membantu kok, bahkan tadi masih ada 3 dokumen lagi yang belum di selesaikan." seru Haara bersikeras.


"Tidak usah, biar aku selesaikan sendiri sisanya." tolak Yoan lagi,


"Tidak masalah, ya ya ya." sahut Haara,


Yoan menghela nafasnya sambil menatap Haara disampingnya.


"Kenapa kau bersikeras sekali? apa kau tak paham penolakkan ku?" tanya Yoan,


"Jangan bilang kau menyukai apartemenku? apa kau lupa dengan ucapanmu sendiri tadi? jika kau tak boleh berduaan dengan pria di suatu ruangan?takut jika pria itu berubah tak punya .."


"Aku hanya bosan saat hari libur, jadi biarkan aku membantumu~" sahut Haara menunduk.


"Kau tak takut jika aku macam-macam padamu?" goda Yoan.


Haara langsung menatap Yoan terkejut,


"Awas saja jika kau macam-macam padaku!" sahut Haara marah.


Yoan tertawa kecil saat Haara marah.


"Aku percaya padamu jika kau tak akan melakukan hal itu padaku." seru Haara pelan.


Yoan menyembunyikan keterkejutan atas ucapan Haara dengan wajah santainya, gadis disampingnya percaya sepenuhnya pada dirinya.

__ADS_1


"Lagipula kenapa kau menolak bantuanku?padahal aku tahu jika kau sedang kualahan dengan pekerjaanmu." bingung Haara,


"Kau ingin tahu apa alasannya?" tanya Yoan dengan wajah savagenya.


"Iya kenapa?" sahut Haara penasaran,


"Karena aku tak ingin berhutang budi padamu." sahut Yoan.


Hal itu membuat Haara menatap Yoan tak percaya atas jawabannya.


"Aku tak percaya kau mengatakan hal itu!jawaban yang sangat mengecewakan!!menyesal sekali aku membantumu!!" marah Haara, dengan cepat Haara membuka pintu mobil Yoan.


"Hey, tunggu dulu." kekeh Yoan menahan tangan Haara.


"Lepas!" bentak Haara,


"Aku bercanda~ jangan dianggap serius." seru Yoan menahan tawanya.


"Gak usah mengelak jika itu bercanda! kau memang tak tahu terima kasih!" sahut Haara benar benar kesal.


"Tadi kau bilang tidak percaya aku mengatakan hal tadi, makannya kau tak usah percaya ucapanku yang tadi."sahut Yoan.


"Sekarang aku percaya, jadi lepaskan aku!" jawab Haara.


"Hey aku bercanda, serius bercanda, aku hanya tak ingin waktu libur mu dihabiskan untuk membantu pekerjaanku." seru Yoan kualahan.


Haara terdiam sejenak, ia tak lagi memberontak.


"Bercandanya gak lucu tahu!" sahut Haara masih kesal.


"Maaf~" jawab Yoan lembut, ia melepaskan tangan Haara yang ia tahan tadi.


Haara pun bergegas turun,


"Oi."


Haara merasa terpanggil pun menunduk menatap Yoan.


Haara terdiam sejenak, ia mengangguk dan menutup pintu mobil pria itu.


Mobil Yoan melaju menjauh dan menghilang dari pandangan Haara.


"Kenapa dia menyebalkan sekali, aku sampai mengira jika ucapannya itu benar, nyatanya dia mempermainkanku, dasar menyebalkan! karena aku melihat lembar kertas jadwalnya yang menumpuk, itu membuatku bersikeras ingin membantu pekerjaannya, aku akan minta traktiran es krim padanya esok! lihat saja!!" oceh Haara geram.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Keesokan hari kemudian,


Anna melihat Haara turun dari kelantai dasar, ia terheran karena adiknya berpakaian rapih.


"Mau ikut antar kakak foto prewedding?" tanya Anna bingung.


"Mm~ aku .. Ada urusan, aku mau ke rumah Riza untuk menitipkan bukuku." sahut Haara,


"Ahh~ dikira mau ikut, hati-hati ya, hari minggu itu ramai tidak seperti hari biasanya." nasihat Anna,


"Iya kakakku~ ya sudah mama, papa, kak, aku berangkat ya~"pamit Haara…


• • •


Lalu lalang kendaraan yang ramai dihari minggu benar-benar memadatkan jalan saat ini, Haara menghela nafasnya, malas sekali rasanya keluar rumah.


"Hah~ tak apa, daripada di rumah, bosan."semangat Haara melangkah menuju halte.


Ia melirik jam tangannya, jam menunjukkan jam 8 pagi, halte bus benar-bebar padat saat ini, ia pun menunggu bus sambil berdiri.

__ADS_1


Tak lama pun bus tiba, dengan cepat ia masuk kedalam bus.


●•●•●•●•●


"Riza, turunlah ayo sarapan~"panggil mama Riza.


"Iya ma~" sahut Riza yang turun kelantai dasar, pandangannya terfokus pada ponselnya, ia mendapat sebuah pesan dari Haara.


"Hm? kerumahku? apa Alka belum memberitahunya tentang cowok bernama Daniel itu ya?" serunya bertanya tanya.


Ia sesegera mungkin membalas pesan Haara dengan sebuah pertanyaan pertanyaan, namun tak ada balasan dari temannya itu.


"Makan dulu." seru Rafa,


"Sebentar, temanku bilang ingin kerumah."


"Siapa?"


"Ku beri tahu juga kau tidak akan kenal." sahut Riza mulai memakan sarapannya.


Rafa hanya menghela nafasnya,


Rafa adalah sepupunya yang baru datang beberapa minggu dari Perancis, Rafa lebih tua satu tahun dari Riza, Rafa kuliah di Perancis mengambil jurusan Hukum, ia pernah tinggal di Indonesia, SMP selama 3 tahun di Indonesia bersama Riza.


• • •


Tak henti-hentinya melirik jam di ponselnya, jam sudah menunjukkan jam setengah 9, namun Haara tak kunjung tiba.


Rafa pun duduk di samping Riza dengan tatapan bingung.


"Temanmu belum tiba?"


"Belum, kemana ya itu anak." tak tenang Riza.


"Memang kenapa dengan temanmu itu?kau terlihat panik sekali." penasaran Rafa,


"Ini tentang keselamatannya."


"Sebahaya itukah?"


"Tidak juga sih, tapi aku harap ia tak keluar sendirian."


Riza bernafas lega saat melihat Haara yang melangkah kedepan gerbang rumahnya.


"Hah,itu dia."


Riza melangkah untuk membuka gerbang rumahnya,


"Ra, lama banget sih? darimana?" tanya Riza.


"Jalanan macet tadi, tahu sendiri sekarang hari minggu."


"Pesanku kenapa tak dibalas, bikin khawatir saja!" seru Riza sedikit kesal,


"Kenapa khawatir sih? aku tidak apa-apa kok."


"Alka menelfonmu tidak semalam?" tanya Riza tak sabaran.


"Nelfon? tidak, dia tidak menelfonku."


Riza menggaruk rambutnya yang tak gatal, benar dugaannya.


"Kenapa sih?" tanya Haara bingung.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


__ADS_2