My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Tak Menerima Kehadirannya Lagi


__ADS_3

Haara dan Yoan bangkit berdiri saat menyadari jika sang nenek telah tiba diruangan itu,


Haara tersenyum kikuk saat nenek menatapnya dengan senyuman lebar


"Ahh, she is really very beautiful~" seru sang nenek memeluk Haara,


Haara melirik Yoan disampingnya, pria itu tersenyum tipis sambil mengangguk,


Haara yang mengerti isyarat Yoan pun membalas pelukan sang nenek,


Pelukan pun berakhir, Haara tersenyum kikuk,


Ia tak tahu harus bicara apa, bahkan bahasa inggria nya sangatlah buruk,


"Yoan~ my grandson!, Grandma missed you a lot~"


"(Yoan~ cucuku, nenek sangat merindukanmu)" seru nenek memeluk Yoan erat,


Haara dapat melihat sang nenek menangis saat memeluk Yoan, ia terkejut saat melihat nenek memeluk Yoan sangat erat layaknya tidak bertemu sejak sekian lamanya.


Stephannie merangkul Haara,


"Mama Stephannie, nenek menangis" seru Haara panik


"Iya, nenek sangat merindukan Yoan, begitu juga Yoan, karena Yoan itu lebih dekat dengan nenek daripada sama mama" senyum Stephannie,


Haara menatap Stephannie bingung,


"Karena dari kecil Yoan itu tinggal dengan nenek" seru Stephannie menjawab kebingungan Haara,


Haara mengangguk angguk paham, ia melihat Yoan juga yang sangat senang bertemu dengan neneknya, dapat dilihat ekspresi sayang dan rindu sekali dengan nenek nya.


Haara tersenyum senang saat melihat kedua nya, sang nenek yang menangis terharu, dan Yoan yang tersneyum bahagia bertemu dengan neneknya.


• • •


Sang nenek menduduki nya di sofa,


"Sweet girl, come here, sit with me" seru sang nenek menepuk nepuk sofa disebelahnya,


Haara menatap Yoan polos,


"Nenek minta kau duduk disebelahnya, duduklah" seru Yoan lembut,


Haara mengangguk dan duduk disebelah sang nenek,


Yoan menduduki dirinya di sofa lain, sofa diseberang hadapan Haara diikuti dengan Yifan yang duduk di sebelah Yoan


"Geez, my granddaughter-in-law's so beauty" seru sang nenek,


Haara tak paham apa yang diucapkan sama sekali,


"Nenek bilang menantu mama ini sangat cantik" seru Stephannie yang duduk di sebelah Haara mencubit pipi Haara gemas,


"Ahh, thank you grandma" seru Haara kikuk,


"What is your name, my dear?"


"My name is AtHaara Martin" sahut Haara,


"AtHaara?"


"Usually .. called Haara" sahut Haara ragu,


"Haara? Your name is very pretty"


"(Haara? Namamu sangat cantik)"


"Thank you grandma"


Yoan memerhatikan 3 wanita dihadapannya,


Sesekali ia menatap Haara yang kebingungan dan meminta mamanya mengartikan arti dari ucapan neneknya dan sang mama yang menjawab jawaban dari Haara,


"Seperti nya istrimu itu harus mengikuti les bahasa inggris dan bahasa mandarin" seru Yifan,


"Hampir 12 tahun dia sekolah, ia hanya bisa bahasa inggris dasar saja, kenapa ia bisa naik kelas?" seru Yoan heran,


Yifan mendengarnya terkekeh,


"Apa kau tak terima jika Haara naik kelas sebelum nya?" kekeh Yifan,


"Seharusnya dia tinggal kelas saja" sahut Yoan dengan savage


Yifan menahan tawa nya mendengar ucapan Yoan yang begitu menyakitkan,


"Ucapan mu terlalu jahat kak" seru Yifan,


"Do you love Yoan, Haara?" tanya sang nenek membuat Yoan menatap neneknya terkejut,


"Ha?" terkejut Haara


"if you Yoan? do you love Haara?"


"(kalau kamu Yoan? Apa kamu mencintai Haara?)" tanya sang nenek kepada Yoan,

__ADS_1


Yoan terdiam,


"I'm .."


"Our marriage happened because of matchmaking not because of love, grandma" sahut Yoan


Haara terdiam saat mendengarnya, ia dapat sedikit mengartikan ucapan pria itu,


because of matchmaking berarti karena perjodohan dan juga not because of love, bukan kerena cinta,


"Grandma understands, but someday you will definitely love each other, grandma want that"


"(nenek paham, tapi suatu saat nanti kalian pasti akan saling mencintai, nenek menginginkan itu)" sahut nenek,


Yoan hanya diam tak menyahut lagi,


Haara hanya tersenyum mendengarnya, ia mencoba terlihat tidak tahu menahu.


●•●•●•●•●


Hari sudah menjelang malam jam telah menunjukkan jam 7 malam.


Ammar dan Anna datang 1 jam yang lalu, setelah melepas rindu dengan neneknya Yoan kini mereka sedang berkumpul bersama di ruang tamu,


Yoan baru saja keluar dari ruang kerja papa Yifan pun baru menyadari jika ada Ammar dan Anna disana,


"Lho? Kapan kalian datang?"


"1 jam yang lalu .. Mungkin, Haara mana?" tanya Anna,


"Tadi dia bersama Yifan di ruang keluarga, bermain game" sahut Yoan,


"Lho? Itu Yifan" seru Ammar menunjuk Yifan yang sedang berbincang dengan Yuu,


Yoan mengikuti arah pandang Ammar dan Anna,


"Yifan, Haara mana?" tanya Yoan,


"Dia tadi kelelahan main game, dia tertidur diruang keluarga tadi" sahut Yifan,


Yoan tak menyahut lagi, ia pun melangkah pergi meninggalkan Ammar dan Anna.


• • •


Yoan menghela nafasnya pelan saat melihat Haara meringkuk di sofa. Yoan melangkah mendekati Haara yang tengah tertidur pulas, ia menduduki dirinya di sofa tempat Haara tertidur


Yoan menatapnya dan membatin jika gadis itu pasti kelelahan karena habis pulang sekolah langsung membawa nya kesini,


"Wah, apa yang .." - Ammar,


Ammar langsung diam, ia melirik Haara, ia memahami arti desutan dari Yoan.


"Kau langsung membawa nya kesini setelah pulang sekolah?" tanya Anna berbisik,


Yoan menatap Anna dan mengangguk,


"Kalian akan menginap?" tanya Anna lagi,


Yoan menatap Haara yang masih tertidur tentunya,


"Besok ia sekolah, jika kami menginap, pasti hanya ada satu ruang kamar yang disediakan untuk aku dan Haara, kami tidak akan satu kamar tentunya" seru Yoan menjelaskan.


Anna tertegun mendengarnya,


Yoan bangkit berdiri,


"Aku akan izin pulang dahulu sebelum makin malam, kalian mau pulang sekarang apa nanti?" tanya Yoan,


"Sampai berapa hari nenek disini? Aku dan Anna masih merindukkan nenek lho" kekeh Ammar,


"Besok nenek pulang, karena mengingat Xi Cha sendiri dirumah" sahut Yoan,


"Kenapa adikmu tidak ikut juga?" tanya Ammar,


"Dia hari ini ikut berkemah di sekolah yang wajib untuknya ikut" sahut Yoan,


Ammar dan Anna mengangguk,


"Xi Cha sudah tahu kan jika kau sudah menikah? Apa kau merahasiakannya?" tanya Anna,


"Untuk apa aku rahasiakan, dia sudah tahu, ia ikut menyaksikan pernikahan ku lewat ponsel Yifan" jelas Yoan meninggalkan Anna dan Ammar


Ammar dan Anna menatap Yoan yang pergi.


●•●•●•●•●


Sebuah perbincangan antara sang nenek dan kedua anaknya dan kedua mertuanya terdengar serius sekali,


Pembahasan yang mengenai keadaan Yoan yang sangat dikhawatirkan oleh sang nenek,


Setelah mendengar keadaan belakangan ini tentang Yoan yang kembali mengalami traumanya itu membuat sang nenek sangat sedih sekali mendengarnya.


"I'm very sad to hear that, Yoan hasn't recovered from his trauma ~"


"(aku sangat sedih mendengarnya, Yoan belum pulih dari traumanya ~)" seru sang nenek,

__ADS_1


"Mama calm down and believe that Yoan can recover from his trauma"


"(mama tenang dan percaya Yoan bisa sembuh dari traumanya)" seru Stephannie


"He will be released from prison, what if Yoan met his?"


"(Dia akan dibebaskan dari penjara, bagaimana jika Yoan bertemu dengannya?)" khawatir sang nenek,


"Before that happens, pray if Yoan is okay"


"(Sebelum itu terjadi, do'akan Yoan akan baik baik saja)" seru Tao Ming


"I hope that they will be well and will reconcile after meeting ~"


"(Saya berharap mereka akan baik-baik saja dan akan berdamai setelah bertemu ~)" seru Stephannie menangis,


Yifan dan Yuu menatap Stephannie sendu,


"I won't want to see him again, and don't expect me and him to reconcile after meeting!"


"(aku tidak akan mau bertemu dengannya lagi, dan jangan berharap aku dan dia akan berdamai setelah bertemu!)" seru Yoan yang tiba tiba datang,


Semua orang diruangan itu menatap Yoan,


"I will recover if he disappears or dies!"


"(Saya akan pulih jika dia menghilang atau mati!)" marah Yoan,


"Yoan, tapi .." - Tao Ming,


"JANGAN BAHAS DIA LAGI!!" teriak Yoan,


"Bahkan dia akan membunuhku!! Dia itu seorang psikopat!!" seru Yoan naik pitam,


Stephannie bangkit berdiri dan melangkah mendekati Yoan,


"Berhenti disana! Ajngan membujukku, Jangan harap aku akan menuruti permohonan mama yang satu ini!!" seru Yoan,


Stephannie menghentikan langkahnya terkejut,


"Bahkan dulu aku sudah pasrah jika aku akan mati dan tak akan bertemu kalian" seru Yoan menunduk,


"Ia menyiksaku habis habisan karena ia merasa kesal dan marah mengetahui aku masih bisa bertahan dan masih hidup, akupun tak tahu kenapa aku masih hidup saat itu, Padahal aku disiksa olehnya selama 1 tahun!! aku selalu menangis saat aku sadar dari pingsan ku karena mengetahui aku belum kunjung mati"


Stephannie menutup mulutnya sambil menangis mendengarnya, ini adalah kali pertama Yoan bisa menjelaskan kejadian sebenarnya,


"sendirian, ditempat yang lembab, gelap dan dingin, aku sellau emnahan rasa takutku saat ia datang dan menunjukkan senyum gilanya!"


"aku ingin mati saja, namun, takdir masih menginginkan aku hidup dan kembali hidup normal seperti sekarang, meski aku masih terjebak dalam ingatan dulu" seru Yoan


"Karena dirinya membuatku larut di waktu waktu jika mengingat kejadian yang ia lakukan padaku, hingga aku hampir membunuh Yuu saat itu"


Yuu menatap Yoan dengan tersenyum miris, ia tak sepenuhnya menyalahkan Yoan saat mengetahui jika Yoan luar kendali dan hilang kesadarannya.


"Aku tak ingin kembali melukai seseorang karena ilusi bayang bayang masa laluku"


"Jadi ku mohon jangan bujuk atau memintaku untuk menerima dan memaafkannya" seru Yoan


Tangis Stephannie pecah saat mendengar keluhan anaknya itu.


"AKH!!"


Semua orang diruangan itu terkejut saat mendengar Yoan merintih sambil memegang kepalanya menahan sakit,


"Yoan!" panik Stephannie mencoba mendekati Yoan, namun tangan Yoan mengisyaratkan untuk tidak mendekat kearahnya,


Yoan memejamkan matanya sambil meringis kesakitan memegang kepalanya,


Kakinya terasa lemas untuk menopang tubuhnya,


"Kak Yoan!!" panik Yifan menghampiri Yoan yang akan jatuh,


Bruk!!


Yifan menghentikkan langkahnya,


Yoan jatuh terduduk,


Yoan merasa ada yang aneh, ia perlahan membuka matanya,


Haara menahan Yoan agar kepala pria itu terbentur ke lantai,


Terdengar suara panik dan raut wajah panik dari gadis itu,


"Yoan!!" teriak Haara panik


Secara perlahan kesadaran Yoan pun hilang.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...

__ADS_1


hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏


__ADS_2