
Haara melangkah turun setelah telah tiba di tempat wisata alam yang sangat indah di Bali.
Senyumannya mengembang saat melihat pemandangan hijau alami Bali yang sungguh mengangumkan.
"Indahnya~" berbinar Haara.
"AtHaara, mau cola?" tanya Riza menyodorkan minuman kaleng.
"Ah! Tidak." tolak Haara.
"Segar lho, biasanya jika di tawarkan cola selalu mau." heran Alka.
"Tidak, aku mau teh dingin saja." seru Haara menunjukkan minuman teh botol dinginnya.
Semua siswa dan siswi pun tak bisa membiarkan moment dan pemandangan alam hanya di lihat-lihat sebagai pemandangan indah saja, sebagian mereka ada yang memotret pemandangan dan juga ada yang selfie sendiri maupun bersama-sama.
"Kau tak mabuk?"
Haara menatap seseorang di sebelahnya yang sudah di dapati Yifan berjalan beriringan di sebelahnya.
"Tidak tuh." sahut ahaara ketus, namun sejujurnya ia merasa mual karena reaksi dari calon bayinya.
"kenapa? Takut dengan ancamanku ya??" sahut Haara memicingkan matanya menggoda Yifan.
"Repot jika kau mabuk karena aku beda bus denganmu, kak Yoan itu akan marah jika kau sampai drop." sahut Yifan jujur.
"bilang saja takut, susah sekali bilang takut." ucap Alka.
"Terserah deh." pasrah Yifan.
"Tenang saja Yifan, aku sebelum berangkat tadi sarapan yang banyak." seru Haara mengibaskan rambutnya hingga rambut panjanngnya itu hampir menampar wajah tampan Yifan.
"Rambutmu, kok lama-lama warna pirang nya memudar?" tanya Rizal.
"Wah benar, luntur." tambah Riza menyadarinya juga.
"Pirang nya hanya tahan beberapa bulan, tidak permanen." sahut Haara.
"Wah, pasti kak Yoan akan mengira kau mewarnai rambutmu ke warna semula." sahut Yifan.
"Jika aku mengubah warna rambutku lagi, ia akan marah padaku, ia takut warna rambut berefek bahaya." kekeh Haara.
"Penurutnya~" kekeh Yifan.
"Jelas dong." bangga Haara.
Drrt! Drrt!
Haara mengecek ponselnya, dan mendapati pesan baru dari Ammar yang mengirimi foto padanya.
"Kak Yoan ya? Benarkan??" seru Yifan.
"Ponselnya rusak, belum sempat beli baru karena sibuk, jadi Yoan pinjam ponsel kak Ammar untuk sementara waktu." jelas Haara mencari sinyal karena foto yang di kirim Ammar tidak terbuka.
"Ah~ Zal, naik fotoin aku di sana Zal, ayo." seru Yifan pergi.
"Gantian ya!" sahut Rizal pergi mengikuti Yifan.
"Gambar apa tuh?" penasaran Alka menatap layar ponsel Haara.
"Perasaanku tak enak." seru Riza.
Haara tak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya sama sekali, dan gambar pun terunduh.
Deg!
Mata Alka, Riza, dan Haara membelalak, dengan cepat Haara menyembunyikan ponselnya salah tingkah.
"Ehem! Kak Ammar~" dehem Haara salah tingkah dan membaca isi pesan dari Ammar setelah foto Yoan yang tidur bertelanjang dada.
Ammar:
"Maaf baru buka pesanmu, tapi sepertinya aku tak bisa bangunkan tidur nyenyak suamimu, dia kelelahan karena menyelesaikan kajian laporan sampai ketiduran sampai hari telah menjelang siang begini belum bangun, hehe~"
"Sampai ketiduran sambil pegang tab, kejamnya pekerjaannya pada dirinya." hela nafas Haara menatap foto yang Ammar kirim kan tadi.
"Tatap terus." seru Riza.
"Ya gapapa, sudah pernah lihat langsung juga." sahut Haara enteng.
Riza dan Alka menatap Haara terkejut.
"Heh! Serius??" terkejut Alka.
"Bertelanjang dada?? Secara langsung??" tanya Riza.
"Iya, kenapa sih?" kekeh Haara melihat ekspresi terkejut Alka dan Riza.
"Sudah sejauh mana kau." seru Alka.
Haara menelan saliva nya berat.
"Ingin tahu saja rahasia rumah tangga ku, wlee~" ledek Haara.
"Dasar pelit." kecewa Alka.
●•●•●•●•●
Kini mereka telah tiba di penginapan tradisional dengan penilaian terbaik dan terkenal.
__ADS_1
"Lelahnya~" rengek Alka menjatuhkan dirinya di atas kasur.
"Hey, beres-beres dulu sana, jangan langsung tidur, kopermu menutupi jalan." seru Riza.
"Nanti dulu, lelah aku." alasan Alka.
"Vika dan Diana apa mereka kesasar ya? Nanti yang ada masuk ke kamar yang salah lagi." seru Alka menduduki dirinya.
"Tidak mungkin, masa iya kesasar." sahut Riza.
"Kamar nya masing-masing, lucu ya." seru Haara menatap lima kamar tunggal di ruangan hotel nya saat ini.
"Dikira bakal dada kamar king size dan akan suruh tidur berlima dalam satu kamar." oceh Alka.
"Jika seperti itu, lebih baik aku sewa kamar hotel sendiri." sahut Haara.
Haara menduduki dirinya di kasur dan kembali menatap foto dimana suaminya tertidur tanpa memakan pakaian atas, pundak lebar pria itu sungguh sangat memukau baginya.
Haara:
"Yoan sudah bangun kak?"
Namun, tak lama dari itu, Ammar membalasnya.
Ammar:
"Belum, dia masih tidur."
Haara:
"Apa kalian berdua tidak ada jadwal hari ini?"
Ammar:
"Ada, mengesahkan perusahaan di Gangnam akan di adakan nanti malam dan besok malam."
Haara:
"Biarlah dia tidur, jangan di bangunkan, kasihan Yoan, dia mengeluh lemas dan kelelahan padaku, raut wajahnya pun tak bisa di bohongi."
Ammar:
"Kau benar, dia akan terlihat lemah di depanku dan mengeluh lelah padamu, namun ia tak pernah menunjukkan jika ia lelah dan mengeluh lelah di depan orang lain."
Haara yang membaca isi pesan dari Ammar merasa tak tega sekali.
Haara:
"Dia sungguh memaksakan diri, aku sungguh khawatir dengannya."
Ammar:
"Perasaan khawatir itu pasti ada dalam dirimu, ah iya, kau tour kemana?"
Haara:
Ammar:
"Waw, Bali, pasti menyenangkan, bersenang-senanglah, jaga dirimu baik-baik;) berangkat naik apa?"
Haara:
"Itu pasti. naik kereta, lalu naik bus."
Ammar:
"Berapa hari kamu di sana?"
Haara:
"Tiga hari dua malam, cukup lama untuk menghabiskan kapasitas memori;D"
Ammar
"Benar benar, ah! Yoan semalam bilang jika ia minta kirimkan foto-fotomu ke nomor ponselnya."
Haara:
"Lho? Dia sudah beli ponsel baru??"
Ammar:
"Aku baru saja kembali beli ponsel untuknya, ia memintaku untuk membelikannya, namun belum ia aktifkan ponselnya."
Hal itu membuat Haara antusias senang bukan main saat mengetahuinya.
Haara:
"Oke kak, aku akan mengirimkan ke nomor nya, terima kasih sudah mau berbagi ponsel sementara dengan Yoan ya kak Ammar;)"
Ammar:
"Yo sama-sama, aku akan meminta paket data berpuluh-puluh GB padanya, ia sudah janji padaku."
Haara terkekeh saat membaca isi pesan Ammar.
Ammar:
"Ah! Dia sudah bangun aku hampir terkejut karena dia tiba-tiba di sebelahku tadi."
Haara bangkit berdiri tiba-tiba, membuat Alka dan Riza menatapnya bingung.
__ADS_1
"Ingin telfon~ sepertinya tidak sekarang." sedih Haara.
"Telfon saja."-Riza
"Dia baru bangun tidur, biar dia makan dulu, jika tidak ia akan memilih tak makan jika aku menelfonnya." seru Haara menduduki dirinya.
"Baru satu beberapa jam lho ga ketemu~" seru Diana entah sejak kapan sudah tiduran di kasurnya.
"Beberapa jam?? Salah besar, mereka sedang LDR-an sudah hampir satu bulan mereka tak bertemu dan jarang bertukar kabar." jelas Alka.
"LDR-an? Satu bulan? Pacar mu kemana lagi?" tanya Vika.
"Dia ... Sedang berlatih mengurus perusahaan cabang baru di Korea." jelas Haara pelan mengambil snack di dalam tas nya.
"Cabang? Cabang baru?? Memangnya berapa cabang perusahaan yang pacarmu punya??" tanya Diana terkejut.
"Empat, dan sekarang lima." sahut Haara mengingat-ingat.
"Kereeennn, sultan nya~" terkagum-kagum Diana.
"Iri ya~ sama aku juga, ideal sekali pacarmu itu Haara, idaman semua kaum wanita." seru Vika mengakuinya tanpa sungkan.
"Aku tahu itu, tak usah di ragukan lagi." sahut Haara bangga.
"Bagi-bagi sama aku dong." seru Diana.
"Nggak! Enak saja, dia punya ku seorang!" tolak Haara.
"Bukan bagi-bagi pacarmu, itu bagi-bagi dong snack nya, jika bagi pacarmu, aku sadar diri, pacarmu itu sepertinya sangat bucin parah sekali sama kamu, iya gak Vika?" tanya Diana.
"Benar, dari pandangan matanya terlihat jika mas mu itu sangat cinta sekali sama kamu, insecure rasanya tertolak secara langsung." dramatis Vika.
"Ahahahahaha!! Kalian bisa saja~" tawa Haara memberikan snack nya pada Diana.
"Kalian tepat sekali! Bucin nya parah sekali! Bahkan jika Haara berduaan dengan kak Yoan, aku dan Riza tak di anggap ada sama kak Yoan." seru Alka antusias menjelaskan.
"Ah! Benar! Sungguh keterlaluan!" sambar Riza.
Haara yang mendengar keluhan Alka dan Riza tawa nya pecah, ia tertawa terbahak-bahak.
"Ayolah~ Alka, Riza, jika mau protes kenapa tak langsung sama kak Yoan saja?? Kenapa ke aku~" seru Haara masih tertawa.
"Ngga deh, lebih baik diam saja." sahut Riza.
"Takut ya?" goda Haara.
"Pasti kau tahu jawabannya." sahut Alka.
"Tapi dia tak nyeremin lho, tanya Vika dan Diana~" sahut Haara.
"Iya gak serem kok." sahut Diana.
"Jangan tertipu! Di ..."-Alka.
"Alka! Jika kau berani menjelekkan Yoan, aku aduin ke dia!" ancam Haara.
Alka yang mendnengarnya pun menutup mulutnya rapat-rapat.
"Maaf, khilaf." sahut Alka.
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Auhor:...
..."keponya Alka😆 sampai tanya sudah sejauh mana😆 sudah sejauh mana coba tebak😋"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐