My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Bahayanya Jauh Dari Pengawasan


__ADS_3

Taman yang tak begitu ramai, Haara tersenyum saat melihat seorang anak kecil yang berlarian.


Hari semakin panas rasanya, tubuhnya basah dengan keringat,


Haara menduduki dirinya di kursi taman, ia mengipas ngipasi dirinya dengan tangannya, ia merasa sangat berkeringat.


"Ahh, seharusnya aku tidak memakai hoodie tadi, panas sekali~" keluh Haara menyeka keringatnya,


Haara mencoba menyanggul rambutnya tanpa menggunakkan ikat rambut,


Haara terkejut saat ada anak laki laki jatuh didepannya, dengan cepat Haara menghampirinya dan menenangkan anak kecil laki laki itu agar tidak menangis,


"Eh, adik lucu tidak boleh nangis ya, anak laki laki harus kuat, oke?" seru Haara menyemangati,


Anak kecil itu berhenti menangis dan anak laki laki itu mengangguk,


"Aku tidak nangis lagi kok kakak cantik!" seru seorang anak kecil itu tersenyum sangat manis


"Nah seperti ini baru jagoan" seru Haara tersenyum,


"Terima kasih kakak cantik" seru anak kecil itu,


"Sama sama, ah kamu dengan siapa adik manis?" tanya Haara melihat sekitar,


"Ah! Kamu disini ternyata" seru seorang pria ngos ngosan,


Haara mendongakkan kepalanya, seorang pria yang terlihat sepantaran dengannya,


"Ah, apa .. Anak kecil ini adik anda?" tanya Haara berdiri,


"Ah iya, dia adikku" senyum pria itu menatap Haara tak mengerjapkan matanya


"Adik lucu, apa dia kakakmu?" tanya Haara pada anak kecil itu,


Anak kecil itu mengangguk mantap, anak kecil itu pun pergi berlari kearah anak anak lain yang sedang bermain.


"Ahh, tadi adik anda jatuh, tolong perhatikkan, takut jika ada penculikan anak anak, itu sangat bahaya" seru Haara perhatian, bahwasannya Haara sangat menyukai anak kecil,


"Bahkan kita terlihat seumuran, jangan terlalu formal" seru pria itu,


"Ee~ bahkan saya tak mengenal anda" sahut Haara ragu,


"Mudah saja, bagaimana kalau kita kenalan" seru pria itu memotong jarak antara mereka


Haara memundurkan tubuhnya,


"Ee maaf tapi saya rasa perkenalan antara anda dan saya tidaklah memiliki .."


"Kamu punya pacar? Boleh minta nomor ponselnya?" tanya pria itu,


"Eh? Untuk apa??" terkejut Haara


"Mm untuk kenal lebih dekat, jadi teman mungkin, kamu tinggal disekitar sini ya?" seru pria itu menyodorkan ponselnya,


Haara memundurkan langkahnya


"Ah maaf apa aku menakutimu?? Aku hanya ingin berteman dan kenal lebih denganmu" seru pria itu memundurkan langkahnya sambil tertawa,


Haara merasa ingin kabur saat ini, ia merasa takut, ia hanya bisa menunduk,


"Jadi bisa aku meminta nomor ponselmu? Tidak akan ada yang marah kan?" tanya pria itu membungkukkan tubuhnya untuk menatap Haara


Haara merasa takut saat pria itu menatapnya


"eh, tidak usah takut deng .." seru pria itu maju satu langkah, tiba tiba pria itu terdorong


"Yoan?!" seru Haara terkejut,


"siapa sih? tolong jangan mengganggu" seru pria itu minggir

__ADS_1


pria itu melangkah untuk mendekati Haara


Seketika Haara bersembunyi dibelakang Yoan, ia memeras baju Yoan kuat,


Yoan menengok kebelakangnya sebentar, dapat ia rasakan bajunya di cengkram kuat oleh Haara, gadis itu ketakutan,


"Lho? Kok malah sembunyi~" seru pria itu bingung mencoba melangkah


Yoan mendorong pria itu lagi


"Apaan sih! Siapa sih kau?! Main nyerobot saja, ikut campur urusan aku dan dia saja! Minggir!!" emosi pria itu,


"Pergi" seru Yoan tajam,


"Pergi? Cih, seharusnya kau yang pergi orang asing!" seru pria itu menatap Yoan tajam


Haara makin bersembunyi dibelakang Yoan, Yoan merasa remasan baju yang ia kenakan semakin erat,


"Yoan, aku takut" seru Haara gemetar,


Yoan yang mendengarnya menghela nafasnya menahan emosi


"Urusan? Urusan apa? Sepertinya gadisku tidak memiliki urusan dengan pria rendahan sepertimu, pemalak!" seru Yoan,


"Apa!? Apa kau bilang!!?" tak terima pria itu menarik kerah baju Yoan


Namun dengan cepat Yoan menarik tangan pria itu dari kerah bajunya, Yoan menarik kuat kerah baju pria itu, membuat pria itu membelalakkan matanya terkejut


Haara yang melihatnya terkejut saat mengintip dibalik tubuh Yoan,


"Memang nyatanya seperti itu bukan?" srru Yoan mencengkram kuat kerah pria itu,


"Yo Yoan~" panggil Haara melihat Yoan yang emosi, ia mencoba menenangkan Yoan yang emosi,


"berani nya kau menganggu tunanganku" seringai Yoan


Haara yang melihatnya panik, ia menatap sekitar, banyak orang yang mengelilingi dirinya,


"Yoan sudah Yoan, banyak yang melihat" seru Haara menarik tangan Yoan dan mencoba membawa Yoan pergi,


"Yoan lepas, Yoan sudah!" seru Haara meninggikan nada bicaranya,


Yoan melepaskan cengkraman pada kerah baju pria itu,


Haara menarik tangan Yoan membawanya pergi.


●•●•●•●•●


Haara menghentikkan langkahnya di pinggir danau yang sepi akan ada orang disana,


Haara perlahan lahan melepas genggaman pada tangan pria itu,


Haara tak berniat membalikkan tubuhnya


"Kenapa kau kesini?" tanya Haara ketus,


"tak ingat waktu kamu" sahut Yoan tajam


"Biar saja, kau yang menyuruhku pergi sendiri, jadi terserah aku dong aku mau pulang kapan" sahut Haara dengan nada tak bersahabat,


"pulang ke penthouse" seru Yoan datar


"Tidak"


"Hahh, mau kemana lagi kamu?" tanya Yoan sabar,


"Kemana saja boleh, itu bukan urusanmu" sahut Haara melipat kedua tangannya di depan dadanya,


"AtHaara~" panggil Yoan menahan kesal,

__ADS_1


"kembali saja sana ke penthouse dasar pria tidak peka!" seru Haara pergi,


Yoan yang mendengarnya tak percaya wanita itu mengatai dirinya 'pria tidak peka' ia pun mengejar Haara, ia mengekori Haara di belakang,


"Aku? Tidak peka?"


"Siapa lagi? Aku itu tadi bilang ingin ke taman itu bukan berarti aku akan pergi sendiri, aku mau kau juga menemaniku! Bukannya menemani malah mengusirku pergi"


"Siapa yang mengusir?"


"Kamu! Sudahlah lelah aku bicara dengan mu" seru Haara jalan lebih cepat,


Tak!


Yoan menahan tangan Haara, langkah gadis itu pun terhenti,


"ah, jadi kau marah?"


Haara tak menyahut,


"aku minta maaf" seru Yoan,


Haara masih nggan menjawab,


"Mau ditemani tidak?" tanya Yoan,


"Tidak"


"hahh~ bahkan cuma ke taman, bahkan ada pria yang memalakmu nomor telefon"


Haara yang mendengarnya hanya diam,


"mengenai do'a mu yang mengatakan jika ada sebuah keajaiban si Daniel itu bebas dari penjara lalu kembali menculikmu, itu sangat mustahil sekali. tapi setelah ada pria titisan si Daniel itu, aku tak dapat mengatakan itu mustahil"


Haara sedikit terkejut mendengarnya, ia merasa sangat menyesal,


'ternyata benar kata orang orang, ucapan saat dikatakan dengan serius itu bisa menjadi nyata' batin Haara


"aku akan kembali ke penthouse, sebelumnya aku ingatkan padamu, ada banyak pria yang lebih bahaya dari pria tadi, bahkan sama bahaya nya dengan stalkermu yang masih menjadi seorang penghuni penjara di balik jeruji besi" seru Yoan,


Haara menunduk, ucapan Yoan benar.


Yoan menghela nafasnya saat melihat gadis itu menunduk,


"ikut pulang atau tetap disini?" tanya Yoan,


Haara tak menyahut


"Matahari semakin terik, kau juga baru sembuh dari demam, pulang ke penthouse saja ya?" tanya Yoan,


Haara pun mengangguk.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...


...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...


...jangan lupa like👍...


...rate⭐⭐⭐⭐⭐...


...dan komentarnya 💭😊...


...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...

__ADS_1


__ADS_2