My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Keyakinan Hati


__ADS_3

Tatapan kosong.


Yoan menatap Haara yang berada di dalam peti dengan gaun yang Haara kenakan.


Sangatlah cantik.


...'Yoan~'...


Suara panggilan Haara terus terputar di benaknya, terus memanggil namanya.


...'Yoan~'...


Yoan tanpa sadar sudah memejamkan matanya pun membuka matanya saat terlintas wajah Haara yang tersenyum manis padanya.


Pria itu mencengkram bajunya kuat.


"Bisakah kau berhenti menghantui fikiranku dengan bayang-bayang dirimu dan suaramu? kau sungguh semakin kejam padaku AtHaara~" seru Yoan menatap Haara yang terkujur kaku di dalam peti dengan tatapan tajam.


Yoan pun melangkah pergi meninggalkan peti yang kini menjadi tempat tinggal baru gadisnya yang ia sebut kejam itu.


• • •


Langit gelap karena mendung, kini membuat suasana duka menjadi semakin terasa sekali.


Peti kematian Haara kini telah masuk ke dalam lubang tanah.


Tanah demi tanah kini terlempar masuk ke dalam lubang tanah mulai menutupi peti kematian Haara.


Tatapan Yoan benar-benar kosong, ia tak bisa berekspresi saat ini.


Ts! Ts! Ts! Crazzz~


Tetes demi tetes air hujan kini semakin deras menetes membasahi tanah.


Yoan menatap langit yang mendung, wangi tanah tercium jelas di indra penciuman Yoan saat ini.


Bajunya kini telah basah sepenuhnya, namun ia tak memiliki niat untuk berteduh, tatapannya terfokus pada gundukan tanah yang sudah mengubur peti kematian Haara.


...'Yoan akan jadi papa dan aku jadi mama~'...


" ... pembohong!" seru Yoan penuh penekanan.


"Pembohong?"


Deg!


'Suara ini ...!'


Yoan dengan cepat menatap ke sampingnya.


Matanya membelalak sempurna.


"Apa maksudmu ... aku yang berbohong??"


'Tidak mungkin?!!' tercegang Yoan.


"Yoan??"


"..."


"Yoaaaann~ kau melihatku kan??" melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Yoan.


" ... AtHaara???!"


"Ahaha! Ku kira kau tak melihatku~"


Ya, seseorang itu adalah Haara.


Dengan baju berwarna hitam lengan panjang, panjang baju selutut, dan rambut terurai panjang, hal itu membuat hati Yoan berdegup kencang saat melihat wajah pucat gadis itu yang mencoba menatap wajahnya.


"Untung aku bawa payung, kamu ... kenapa hujan-hujanan? Nanti bisa sakit lho~"


Yoan terdiam, ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Haara, ia yakin jika ia berhalusinasi.


Tatapan Yoan terfokus pada sesuatu yang aneh dari gadis itu.


Perut gadis itu rata, perut gadis itu tidak lagi buncit.


"Yoan? Bagaiman penampilanku? Apa aku cantik?"


"Perutmu ... Kenapa perutmu tak buncit? dimana anak kita?" tanya Yoan datar.


"Mmm~ mereka sedang tidur, ah! Kau tahu? Mereka sungguh sangat lucu sekali lho!"


Yoan terkekeh mendengarnya.


"Aku benar-benar sudah gila sekarang~" tawa Yoan menutup matanya dengan tangannya.


"Gila?? Kamu ini bicara apa? Oh iya, kenapa kamu disini??"


"Apa kau tak lihat?? Aku sedang menghadiri pemakamanmu!!" seru Yoan menatap Haara emosi.


"Pemakamanku??"


"Kau sudah mati AtHaara!" bentak Yoan.


"Hmm~ benarkah??"

__ADS_1


Yoan menjambak rambutnya frustasi.


"Pergi." seru Yoan pelan.


"Pergi??"


"Aku ingin kau pergi AtHaara." seru Yoan lemah.


"Kenapa kau mengusirku?"


"Aku mau kamu pergi AtHaara." seru Yoan merasa pertahanannya akan runtuh.


"Aku tidak mau Yoan, lagi pula kenapa aku harus pergi??"


"Pergi AtHaara, jangan menghantuiku!!" sulut emosi Yoan.


"..."


"Bisakah kau jangan membuatku berimajinasi akan kehadiranmu yang sudah tiada?? Aku akan dianggap gila jika seperti ini!! Apa kau ingin menyiksaku?? Membuatku mati secara perlahan?? Apa itu maumu??!" tangis Yoan.


"Aku tidak seperti itu Yoan."


"Ku mohon pergi~ jangan menyiksaku AtHaara~" mohon Yoan.


"Aku bilang aku tak akan pergi, bahkan kau bilang padaku agar aku tak boleh meninggalkanmu, kan?"


Yoan perlahan menatap Haara yang menunjukkan wajah polosnya.


"Dan aku juga sudah janji akan tetap bersamamu lho."


"Tapi kau sudah mati AtHaara, kau dengan kejamnya meninggalkanku AtHaara~ kau ... sudah mati~" isak Yoan lemah.


Tangis Yoan terhenti saat ia merasakan tangan Haara menyentuh pipinya.


Terasa nyata dan ... hangat~


Cup!


Yoan membulatkan matanya sempurna saat Haara mencium bibirnya lembut.


Kehangatan seketika menjalar ke seluruh tubuh nya saat ini.


Hatinya berdegup sangat kencang sekali.


Saat Yoan akan larut dalam ciuman itu, seketika Haara menyudahinya, dengan berat hati untuk menyudahinya, Yoan menatap Haara sendu.


"Kau ... Nyata??" tak percaya Yoan.


"Yoan, bisakah kau sekarang terbangun dari tidur lelapmu?"


"Ti-tidur lelap?"


DEG!!


Yoan kini baru teringat sesuatu, ia baru tersadar!


Terakhir kali, ia jatuh pingsan saat melihat Haara yang di nyatakan meninggal di ruang UGD.


Ya, ingatannya benar!


"Jangan buat aku sedih ku mohon~ bukalah matamu, tidurmu sudah terlalu lama lho~"


"AtHaara~" panggil Yoan lemah.


"Kau mencintaiku, iyakan?"


"Aku mencintaimu! Aku sungguh sangat mencintaimu AtHaara!" sahut Yoan sangat serius.


"Jika kau mencintaiku, buka matamu dan bangunlah~" seru Haara dengan tatapan sendu.


Yoan mengepalkan tangannya kuat, saat ia menatap Haara, ia panik seketika.


Dengan perlahan, seperti sebuah debu, tubuh Haara perlahan terbang terbawa angin dikit demi sedikit.


"AtHaara!!"


Yoan seketika panik saat Haara yang akan hilang seperti debu, Yoan mencoba mengambil debu demi debu tubuh Haara yang teebawa angin, namun ia tak bisa menggapainya.


"AtHaara! AtHaara!!"


●•●•●•●•●


• • •


• •



DEG!


"ATHAARA!" teriak Yoan membuka matanya.


"Hahh!! Hahh!! Hahh!! Hahh!!" ngos-ngosan Yoan dengan mata membelalak.


Ruangan berwarna putih, bau obat-obatan, dan juga suara sebuah alat monitor detak jantung membuat bising di ruangan itu.


"Akh!" ringis Yoan mencoba menduduki dirinya.

__ADS_1


Yoan membuka alat bantu pernapasan dan alat infusnya dengan kasar.


Saat akan turun, pria itu terjatuh, ia merasa kakinya terasa lemas sekali, namun ia berusaha untuk bangkit.


"AtHaara~" ringis Yoan.


Ceklek!


"Astaga! Kak Yoan!" panik Yifan menghampiri Yoan yang berusaha ingin berdiri.


"Kak Yoan, syukurlah lah kau sudah siuman~" senang Yifan.


"AtHaara, dimana AtHaara!"


Yifan terdiam seketika.


"AtHaara ... Dimana dia Yifan?!" tanya Yoan meringis.


"Kak ..."


"Bawa aku bertemu dengannya, dia masih hidup iyakan??" tanya Yoan penuh harap.


"Biar aku ambilkan kursi roda untukmu." sahut Yifan.


"Aku bisa berjalan!"


"Kak Yoan, kau ..."


"Bantu aku jalan, ku mohon~" mohon Yoan dengan mata memerah.


Yifan perlahan mengangguk, ia pun merangkul Yoan membantu kakak sepupunya itu berjalan.


●•●•●•●•●


Yoan mengerutkan keningnya saat Yifan membawanya ke sebuah lorong yang sepi, ia semakin takut sekali kali ini.


"Yifan, kau mau membawaku kemana?" curiga Yoan.


"Menemui Haara, kau bilang ingin bertemu Haara bukan?" tanya Yifan pelan.


"Sungguh bercandamu tidak lucu Yifan!"


"Aku tak bercanda! Bahkan kau sudah tahu jawabannya saat aku membawaku kesini iyakan??" tanya Yifan heran.


Yoan menutup matanya rapat-rapat, jantungnya berdegup sangat kencang saat ini.


Sampai dimana mereka pun telah tiba, kini mereka berdiri di depan sebuah pintu.


"Yifan?" tak menyangka Yoan.


Yifan hanya diam menatap Yoan.


"Kau ingin bertemu Haara bukan? Masuklah." seru Yifan.


Yoan menatap Yifan tak percaya dengan tangan gemetar Yoan perlahan membuka pintu itu.


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author:...


..."Yoan siuman saat di bangunkan oleh Haara dalam mimpi, dengan sebuah keyakinan, Yifan bawa Yoan ke ruang apakah itu??🤔"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...


...see you next tomorrow❤...

__ADS_1


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2