
Hari ini, tepat sore hari setelah pergi keliling membeli pernak-pernik aksesoris dan sebagainya mereka pun kini telah berada di bandara, mereka akan terbang ke Jakarta sore ini.
Liburan yang sangat menyenangkan sebelum besok kembali berkegiatan, mau itu pergi ke sekolah maupun pergi ke kantor.
Kini mereka berada di lestoran yang berada di bandara, mereka akan makan terlebih dahulu di lestoran Jepang.
Sofa yang melingkar dengan meja bundar besar membuat keunikan tersendiri di lestoran itu.
Yoan dan Yuu baru saja kembali dari toilet, Yoan menduduki dirinya tentu di sebelah gadisnya itu.
Haara berhenti berbincang dengan Alka dan Riza saat mendapati Yoan duduk di sampingnya.
Yoan memicingkan matanya saat pandangannya tak sengaja menatap Alka dan Riza.
"kenapa mereka menatapku? apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Yoan pada Haara.
"Eh? Masa ah? Tidak kok." gelagap gadis itu.
"kalian menggosipkan ku ya?" tanya Yoan curiga.
"Kok menggosipkan kamu sih? Aku itu bicara sesuai fakta." sahut Haara.
"Ha! Ketahuan kau sungguh membicarakanku." seru Yoan menjebak Haara.
Haara merapatkan bibirnya rapat-rapat.
"apa yang kalian bahas, hm?" tanya
"Hahh~ aku ketahuan." kekeh Haara.
"Ayo cerita."
"Baiklah, tadi Alka dan Riza menggodaku saat kau minum air botol bekas aku sebelum ke toilet."
"Terus?"
"Kata mereka itu seperti ciuman secara tak langsung, lalu ku jawab deh." seru Haara.
"Kamu jawab apa?"
Haara bungkam, gadis itu menahan senyumnya. Ia sungguh malu mengutarakannya.
"Hey, kau jawab apa??" penasaran Yoan.
"Aku jawab, bahkan ciuman secara tak langsung tak semengejutkan ciuman secara langsung." malu Haara.
"Terus?"
"mereka langsung peka, dan mereka bertanya apa aku sudah pernah ciuman sama kamu? aku jawabnya sering." jelas Haara menunduk menahan malu.
Yoan menatap Haara dengan tatapan nakal.
"Bilang juga jika kau sekarang sudah berani menciumku lebih dulu seperti kemarin." seru Yoan.
"Ti-tidak! Nanti mereka berfikir macam-macam padaku." malu Haara.
"Ahh~ aku paham." seru Yoan menidurkan kepalanya di atas meja agar bisa menatap Haara yang menunduk.
"Pasti mereka akan mengira jika seorang AtHaara yang polos ini sudah mulai berfikir liar, benar kan??" tanya Yoan.
"Lagi-lagi, kenapa tebakkan mu selalu saja benar sih??" tak percaya Haara.
"Mungkin aku sedang bertelepati dengan isi fikiranmu." sahut Yoan.
"Mengacau saja." kekeh Haara.
Yoan ikut terkekeh.
"AtHaara, kau tahu? Kau semakin pandai saja memimpin ciuman kita kemarin, ka ..."Yoan.
"Stt! Kenapa bahas di sini sih Yoan!" panik Haara menutup mulut Yoan.
"Apa suara ku terdengar kencang? Padahal aku merasa suaraku ini sudah sangat pelan." seru Yoan.
"Tapi kalau mereka dengar bagaimana? Jika mereka sampai dengar, tak akan kuberikan ciuman untukmu, mau itu kau yang meminta padaku atau itu inisiatifku sendiri yang menciummu tanpa kau minta!" ancam Haara.
Yoan mengerjapkan matanya.
"Wah! Ancamanmu membuat hatiku mencelos mendengarnya." seru Yoan memegang dadanya.
"Terserah kamu, mau tetap bahas, silahkan. tapi, jika mereka sampai dengar, maka ingat ancamanku!" seru Haara.
"Baiklah tak akan aku bahas lagi." kekeh Yoan.
"Ehem! Ehem!"
Yoan yang mendengar deheman itu pun menduduki dirinya tegak.
"Mesra-mesraan terus! Aku yang sudah menikah saja iri!" seru Anna.
"Kami sedang bicara, mesra-mesraan darimana nya AtHanna?" tanya Yoan.
"Itu tadi ..."
"Kak Anna, mudah saja, ajak kak Ammar bermesraan sama kakak saja." sela Yuu.
"Hoi, Yuu. Bahkan Yoan seperti itu pun karena berguru dari Ammar, kau tahu?" sahut Anna.
"Tapi sepertinya sekarang lebih jago kak Yoan daripada kak Ammar." ledek Yifan.
"Ya, benar! Kak Ammar guru payah." setuju Yuu dengan ucapan Yifan.
"Hahh~ wajar saja, Yoan itu baru bucin sekarang-sekarang ini, wajar saja dia seperti itu, tapi yakinlah nanti aku akan mengalahkan nya." pembelaan diri Ammar.
"Kak Yoan jawab dong, diam saja sih?" tanya Yifan kecewa.
"Aku harus jawab apa?" tanya Yoan.
"Sahut apa saja, kak Ammar sedang berpendapat tentang dirimu lho kak." seru Yifan.
"Wah! Biang onar kamu Yifan, kamu mau buat keributan ya??" tak percaya Haara.
"Bukan begitu, hanya saja biasanya kak Yoan akan membalas, namun sekarang diam saja." sahut Yifan.
"Mungkin ucapan ku tidak salah, Yoan akan diam tak menjawab jika itu benar, betul begitu kan Yoan?" tanya Ammar.
"Hm." dehem Yoan.
"tuh 'Hm' katanya tuh kan, benar berarti!" seru Ammar penuh kemenangan.
Haara menahan senyumnya yang tak bisa ia tahan.
"Dasar bucin." seru Haara pada Yoan berbisik.
"Kau samanya." sahut Yoan pelan.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Sesampainya di rumah Juan Martin dan Lucy Martin, kedua orang tua nya Anna dan Haara.
Haara merasa kesal saat ini, karena Yoan mengatakan jika dirinya menyuruh Haara untuk tinggal satu malam dengan kedua orang tua nya, sedang kan pria itu akan pulang ke Penthouse.
"Lalu? Jika kamu pulang ke Penthouse, kenapa menyuruhku tinggal satu malam lagi disini?? dan kau pulang ke Penthouse tanpa aku! Aku tak paham apa maksudmu deh!" kesal Haara.
"Kamu belum membereskan persiapan untuk besok sekolah, jika kamu pulang ke Penthouse hari ini, kau pasti harus membawa buku-buku mu serta pakaianmu untuk di bawa kembali ke Penthouse, itu akan membuang energi mu lagi." jelas Yoan.
"Hari juga sudah menjelang malam, kamu persiapkan untuk persiapan besok sekolah saja ya? Lalu langsung istriahat, tidur lebih awal. kamu harus cukup stamina untuk besok." tambah Yoan memegang kedua pundak Haara.
"Setidaknya kamu makan malam di sini dulu sebelum kembali ke Penthouse, ya? Kamu belum makan malam lho." perhatian Haara.
Yoan tersenyum dan mengangguk.
"Besok pagi juga, berangkat lebih pagi kesini, aku akan buatkan sarapan untukmu." seru Haara lagi.
"Lebih pagi?"
"Ya, jika tidak seperti itu, kau pasti akan pergi ke kantor tanpa sarapan, bahkan besok juga kamu pergi ke kantor dan mengurusi pekerjaanmu yang menumpuk karena kau tinggalkan bulan lalu." seru Haara panjang lebar.
Yoan terkekeh, ia mengacak-acak rambut Haara gemas.
__ADS_1
"Iya iya, besok aku akan datang lebih pagi kesini, aku akan makan sarapan buatanmu." senyum Yoan.
Haara ikut tersenyum.
"Ayo, kita makan malam, bergabung dengan mama, papa, kak Anna dan kak Ammar." seru Haara menggenggam tangan Yoan erat.
●•●•●•●•●
• • •
Haara menghela nafasnya kasar, ia baru saja selesai mempersiapkan seragam, sepatu buku, alat tulis dan semacamnya untuk besok.
"Hahh, Yoan benar, bahkan aku baru selesai jam 10 untuk mempersiapkan perlengkapan untuk sekolah besok, jika saja aku membenahi bajuku dan kebutuhanku malam ini dan ikut pulang ke Penthouss, bisa-bisa aku selesai tengah malam sekali." seru Haara menidurkan dirinya di atas kasur.
"Yoan sudah tidur belum ya? Biar aku video call dia, awas saja dia tak mendengar ucapanku, dan masih belum tidur!" seru Haara memanggil panggilan pada suaminya itu.
Tak lama, Yoan mengangkat video call dari istrinya itu.
Dapat dilihat wajah pria itu terkekeh.
Yoan:
"Kenapa hm? Rindu denganku hm?" (terkekeh)
Haara:
"Benar dugaanku." (menghela nafas)
Yoan:
"Dugaan ... Maksudmu?"
Haara:
"Kenapa belum tidur?? Bahkan kau kini berada di ruang kerja mu!" (raut kesal)
Yoan:
"Ahh~ ketahuan aku."
Haara:
"Pergi tidur sana! Dasar pembantah!"
Yoan:
"Sebentar lagi ya? Aku lagi mempelajari jadwal ku untuk besok, karena besok tak ada waktu lagi."
Haara:
(Kembali menghela nafasnya) "baiklah, aku akan menemanimu."
Yoan:
"Senang aku mendengarnya, tapi lebih baik kamu pergi tidur sana, mempersiapkan perlengkapan sekolah untuk besok sudah belum??" (fokus membaca lembar kertas jadwal nya.)
Haara:
"Sudah Yoan, ya sudah aku akan diam, kamu fokus membaca nya saja, aku tak akan ganggu, aku akan mengawasimu sampai selesai dan pergi tidur."
Yoan:
(Menatap Haara sambil tertawa kecil) "wah! Jantungku, ucapanmu membuat ku terharu." (mengusap-usap dada nya)
Haara:
"Bisa saja kamu~ sudah fokus sana." (terkekeh)
Yoan menyimpan ponselnya yang masih dalam sambungan video call, ia menyandarkan ponselnya di tumpukkan buku dan kini Yoan fokus mempelajari jadwal nya besok.
Raut yang serius terlihat sangar di wajah tampan suaminya itu, tak ada perbincangan antara mereka berdua.
Kadang terlihat pria itu memijat pelipisnya dengan raut yang sedang larut dalam fikirannya.
Beberapa kali juga pria itu menuliskan sesuatu di kertas jadwal itu.
20 menit telah berlalu, pria itu masih fokus membaca tulisan di beberapa lembar di tangan pria itu.
Haara sungguh sangat suka memandang wajah suaminya yang sedang serius itu, tak pernah bosan ia memandangnya, sungguh sangat terlihat sangat keren dengan pesona yang terus keluar dari suaminya itu.
Helaan nafas terdengar dari pria itu.
Haara:
"Sudah selesai?"
Yoan:
"Sudah, sekarang kamu tidur."
Haara:
"Sungguh sudah selesai? Kenapa tak langsung tiduran di kasur??"
Yoan:
"Iya habis ini aku tidur, AtHaara~" (gemas Yoan dengan sikap protektif Haara yang sangat ia sukai.)
Haara:
"aku tunggu sampai kau tidur, aku tak akan tidur, yang ada nanti kamu balik ke ruang kerjamu jika aku akhiri video call ini." (cemberut)
Yoan:
"Engga AtHaara~ aku sudah selesai, sungguh~" (tertawa kecil.)
Haara:
"Aku curiga."
Yoan:
"Curiga? Curiga kenapa??"
Haara:
"Kamu tertawa, apa kecurigaan ku benar?" (curiga)
Yoan:
"Bukan begitu~ jika kau ingin menungguku sampai tiduran di kasur, berati kau akan terus tersambung video call denganku sampai urusan ku selesai."
Haara:
"Ya, sampai kau tiduran di kasur! urusan apalagi sih!"
Yoan:
"Ahh~ bagaimana ini~" (tertawa.)
Haara:
"Bagaimana apanya?"
Yoan:
"urusan yang ku maksud itu aku ingin mengganti pakaian ku dengan pakaian tidur, namun sebelumnya aku ingin mandi air hangat." (memberikan tatapan nakal.)
Haara:
"E-eh!!?"
Yoan:
"Sungguh ingin tetap tersambung video call denganku? Aku mau mandi lho~" (menggoda)
Haara:
"Ke-kenapa tak bilang dari awal!!" (tersipu)
Yoan:
"Aku tak enak padamu, tak apa jika kau ingin tetap dalam sambungan video call, aku akan membawa ponselku ma ..."
Haara:
__ADS_1
"Tidak!! Yoan berhenti!! Dasar mesum!!" (panik saat melihat Yoan masuk ke dalam kamar mandi.)
Yoan:
(Tertawa lepas)
Haara:
"Ya-ya sudah, a-aku tutup, habis mandi langsung tidur, mengerti??"
Yoan:
"Siap sayang~"
Deg!
Haara makin tersipu malu, tersipu bukan main saat Yoan memanggilnya 'sayang'.
Haara:
"A-aku tutup ya." (malu-malu)
Yoan:
"Ah, kau berhutang padaku."
Haara:
"Berhutang??"
Yoan:
"Ya, berhutang night kiss padaku." (merajuk)
Haara yang melihat Yoan merajuk pun tertawa.
Haara:
"Ya ampun~ lucu banget sih~" (gemas)
Yoan:
"Aku tak suka di bilang lucu."
Haara:
"Tapi aku suka melihatmu yang menggemaskan kayak sekarang."(tertawa kecil)
Yoan:
"Nona, kau berhutang padaku, bagaimana kau membayarnya??"
Haara:
(Terkekeh) "besok aku akan bayar double, untuk night kiss sekarang dan untuk besok morning kiss."
Yoan:
"Tidak, aku ingin tiga kali."
Haara:
"Baiklah tiga kali." (malu.)
Yoan:
"Tidak, empat .. Ah! enam kali."
Haara:
"Terus saja! Berbunga terus! Menyebalkan!"
Yoan:
"Berbunganya manis kok, enam kali ya?"
Haara:
"Baiklah enam kali, berarti dua hari kedepan tak ada morning kiss dan night kiss untukmu."
Yoan:
"Hahh?? Tidak bisa!"
Haara:
"Ya sudah, pilih sendiri, mau enam kali apa tiga kali?"
Yoan:
"tiga kali saja." (pasrah)
Haara:
"Baiklah, tiga kali, ya sudah aku sudah mengantuk, aku tutup ya?"
Yoan:
"Good night AtHaara." (tersenyum manis)
Haara:
"Good night Yoan."
Haara menghela nafasnya.
"Dari dua ke tiga, dari tiga ke empat, dan dari empat ke enam, hahh dasar Yoan." kekeh Haara menyimpan ponselnya di atas nakas dan mulai memejamkan matanya.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "kenapa harus ngomong Yoan😆 udh bawa aja sambungan video call nya ke dalam kamar mandi😆 oke Haara berhutang lagi😆"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...🚨Please penilaiannya ya kakak-kakak semua🚨...
...karena itu semua sangat berharga untuk author sendiri😇🙏...
...Hallo kakak-kakak Readers dan kakak-kakak author hebat😍...
...Terima kasih telah setia membaca karya pertama ku ini ya😇...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐