
Yoan membantu menurunkan tas istrinya dari mobil, hari ini adalah hari dimana hari yang membuat Haara senang sekali, yaitu berkemah. namun seketika senyumnya luntur karena ada sesuatu yang kurang lengkap,
"Jaket?! Ya ampun aku lupa!!" panik Haara,
"Tadi kan sudah ku ingatkan untuk memakainya, kau selalu mengatakan nanti dan nanti" sahut Yoan menahan kesal
Haara tak menyahut, ia merasa dirinya sangat bodoh,
"Pakai jaket ku" seru Yoan menyodorkan jaketnya yang sudah dilepas,
"Eh, tidak .."
"Pakai!"
Haara tak mengelak, ia mengambil jaket milik Yoan dan memakainya.
Tercium aroma khas pria itu lagi, sungguh ia sangat menyukainya,
Srett!!
Haara menatap Yoan terkejut saat pria itu memakaikan juga topi milik pria itu padanya,
"Yoan??"
"Pakai saja, biasanya cuacanya tak menentu disana, kadang panas terik"
"Hmm, tapi jaket ini, kebesaran untukku"
"Salahkan kecerobohanmu" seru Yoan tajam,
"Iya iya ini salah ku" shaut Haara,
"Lebih baik kebesaran daripada tak pakai jaket, pasti malam malam disana dingin" sahut Yoan,
Seketika Haara salah tingkah saat mendengarnya,
"Ingat pesanku, jika kau pulang dalam keadaan tak baik baik saja, nantilah hukuman dariku"
"Kenapa menghukumku? Bahkan yang merasakan itu aku, bukan kamu" kesal Haara,
"Kau jauh dari pengawasanku, karena kau sudah menjadi tanggung jawabku saat ini"
Jantungnya .. Bagaimana kabar jantungnya saat ini
Pria ini tengah mengkhawatirkan dirinya rupanya.
"Pakai terus jaketnya jangan di lepas, entah kenapa belakangan ini angin berhembus lebih dingin" seru Yoan melihat langit,
Haara tertegun, dan kadang ia merasa pria ini seperti peramal cuaca
"Paham?" tanya Yoan,
Haara mengangguk kaku,
"Haara~ yeay!! Kamu akhirnya ikut!!" seru Alka memeluk Haara,
"Aku titip bocah ini, jika dia melakukan hal yang bahaya, marahi dia" seru Yoan pada Alka, Riza dan Yifan.
"Ya, kami akan mengawasinya" seru Riza,
"Marahi seperti apa?" tanya Yifan,
"Ancam hukuman yang akan menantinya dariku" sahut Yoan masuk kedalam mobilnya dan melaju pergi,
'Jika dia terus bersikap seperti ini padaku, bisa bisa aku menyukainya~' batin Haara.
●•●•●•●•●
Haara fokus melihat keluar jendela, ia duduk di pojok dekat jendela membuatnya tidak bosan untuk melihat pemandangan di luar jendela.
Saat ia akan menghirup, harum khas Yoan yang berasal dari jaket itu terus tercium, hal itu membuatnya terus memikirkan pria itu.
"Kenapa bau khas nya tak hilang hilang? Ini membuatku gila" gumamnya frustasi membuka jaketnya,
Riza yang melihatnya membuka aerphone nya,
"Haara? Kenapa jaketnya dibuka??" tanya Riza tepat disampingnya,
__ADS_1
"Hmm, sedikit pengap, jadi aku buka"
"Dingin lho, Padahal AC nya sudah di tutup, masih saja dingin, pakai saja" seru Riza prihatin
Haara kembali memakai jaket milik Yoan, jantungnya berdegup kencang saat menghirup harus khas pria itu.
• • •
Jalan lika liku naik turun, membuat keributan didalam bus, karena banyak nya siswa siswa yang mabuk disana, begitu repotnya anggota OSIS memberikan perawatan dan plastik kepada siswa siswa yang mabuk,
perut Haara berguncang, ia merasa mual sekali, seperti jya ia juga mabuk kendaraan, ia hanya sarapan sedikit sekali pagi tadi karena dirinya kesiangan.
"Riza~ aku pusing~!" rengek Haara bersandar dipundak Riza,
Riza dan Alka pun panik saat melihat wajah Haara yang semakin pucat,
"Aduhhh~ gimana ya? Alka, panggilin Yifan di belakang dong, jangan teriak teriak oke, bilang Haara mabuk, tolong mintain plastik buat muntah" panik Riza,
Alka yang mengerti pun bangkit berdiri,
Riza mengoleskan minyak angin di leher, pelipis kanan kiri Haara,
Riza memijat mijat tengkuk sahabatnya itu,
Suasana kini semakin ramai karena banyaknya siswa siswi yang mabuk kendaraan,
"Za ini plastiknya, Haara pindah duduk ditengah aja deh" seru Alka panik,
Riza mengangguk, ia bangkit berdiri mempersilahkan Haara duduk ditempat Riza,
"Haara mabuk?" tanya Yifan yang tiba tiba datang,
Riza mengangguk,
"Tolong mintakan obat dong Yifan, sama air hangat, teh juga tak apa apa" panik Riza,
Yifan yang paham pun pergi,
"Muntahkan ya Haara biar lebih baik ya" seru Alka,
"Tak bisa, kepalaku pusing sekali" seru Haara merengek,
Haara memejamkan matanya rapat rapat ia menyandarkan kepalanya ke pundak Alka,
"Dia sudah muntah belum? Jika belum percuma minum obat, nanti takut termuntahkan" seru Yifan,
"Belum" sahut Alka,
"Coba bujuk dia, biar lebih enakkan" seru Yifan,
Haara tiba tiba menutup mulutnya,
"Plastik plastik!!" seru Alka,
Sontak Haara mengambilnya dan muntah,
Yifan, Riza dan Alka membuang wajahnya menahan mual
Haara mengikat plastik itu dan menyimpannya di bawah,
Ia menyandarkan dirinya, tubuhnya terasa lemah sekali,
"Minum dulu" seru Riza mengambil teh hangat yang di pegang Yifan,
Haara meminumnya, ia merasa lebih baikkan,
"Hahh, pucat sekali wajahmu Haara~ apa kata tuan Yoan melihat kesdaanmu seperti ini" prihatin Alka,
"jangan fikirkan kak Yoan, Haara minum obat ini, agar tak mabuk perjalanan lagi, mungkin akan memakan waktu lama, karena bus kita nyasar" seru Yifan memberikkan obat pada Haara,
"Nyasar??" terkejut Alka,
"Ya, ini sudah putar balik, benar benar tak fokus sekali supirnya" sahut Yifan,
"Dibawa tidur saja Haara, agar tak merasa pusing" seru Yifan,
Haara mengangguk, Yifan pun pergi
__ADS_1
"Bersandar di pundakku sini" seru Alka,
Riza mengangkat kaki Haara agar kakinya berselonjor,
"Aku cinta kalian Riza Alka~" seru Haara pelan dengan mata terpejam
"Wah mabuk benar ini anak" kekeh Riza terkejut Haara mengatakan hal yang baru saja ia ucapkan.
●•●•●•●•●
Jam telah menunjukkan jam 13:12 mereka baru tiba di puncak tempat berkemah mereka.
Haara membuka matanya, bus sudah sepi, ia menduduki dirinya, melihat Alka yang juga ikut terbangun,
"Sudah sampai ya Alka?" tanya Haara pelan,
"Hoam~!! Sudah, bagaimana keadaanmu?" tanya Alka,
"Lebih baik, lho Riza mana?"
"Riza sedang buat tenda untuk kita"
"Lho?? Dia sendiri?? Aduh maaf aku benar benar terlalu lelap, ayo bantu dia kesian" panik Haara,
"Ada Yifan dan Rizal yang membantu Riza, Riza bilang jangan bangunkan kamu, biar kamu istriahat saja, urusan tenda serahkan pada mereka saja, itu katanya" jelas Alka memakai tas nya,
Haara mengangguk paham dan ikut memakai tas nya dan melangkah keluar.
●•●•●•●•●
Riza menyadari kedatangan Alka dan Haara pun bangkit berdiri,
"Tendanya sudah jadi" seru Haara polos
"Sudah, dibuatkan sama Yifan dan Rizal tadi" sahut Riza,
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Riza,
"Sudah lebih baikkan kok"
Riza yang mendengarnya mengangguk, namun tak lama terkekeh,
"Riza? Kau baik baik saja?" tanya Alka bingung,
"Ah, aku baik baik saja kok, aku hanya teringat kejadian pak Billy menggoda Yifan" kekeh nya,
"Menggoda? Maksudnya??"
"Tadi pak Billy tak sengaja lewat, beliau bingung mungkin karena aku hanya sendiri, lalu pak Billy bertanya Haara kemana? Aku jawab dengan sejujurnya tadi jika kau mabuk" jelas Riza,
"Ahh pantas saja tadi pak Billy ke bus, ternyata tahu darimu" seru Alka,
"Pak Billy ke bus?"
"Iya, katanya sih tuan Yoan menitipkan mu pada pak Billy" seru Alka menyenggol Haara,
"Alka, apaan sih~" malunya
Seketika Haara salah tingkah,
"Lalu, maksudmu Yifan digoda pak Billy itu apa?" tanya Alka bingung,
"Sepertinya setelah pak Billy mengecek kalian di bus, pak Billy kembali, dia menunjuk nunjuk Yifan, dan ku dengar 'nantikan hukuman dari Yoan lho~' begitu, bicaranya pun sambil tertawa" kekeh Riza menjelaskan,
"Lalu lalu? Gimana ekspresi cowokmu?"
"Gelagapan, katanya 'itu panggilan alam paman, bukan kesalahanku' seperti itu, ada ada saja jawabannya" tawa Riza, Alka ikut tertawa
Haara yang mendengarnya pun juga ikut tertawa.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...