My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Ancaman Mertua


__ADS_3

Nanami masih syok dengan perlakuan Haara yang menamparnya tiba-tiba, itu sungguh sangat menyakitkan sekali, pipi nya terasa berdenyut kencang sekali.


"(Da-darah!!!?)" terkejut Nanami saat melihat sudut bibir nya.


"Argh!!"


Haara sontak menatap Yoan yang meringis kesakitan saat tangannya di kunci ke belakang tubuh dengan paksa dengan kedua bodyguard itu.


"(Lepaskan dia.)" seru Haara menatap kedua bodyboard itu tajam.


"(Jangan dengarkan dia! Tahan lebih erat psikopat itu!)" perintah Nanami merasa emosi.


"Akhh!!!" ringis Yoan menunduk menahan sakit.


"(Pukul dia!)" perintah Nanami lagi.


"(Tid ..)"-Haara.


Bugh!!


"Aghhh!!!" erang Yoan saat perut nya di pukul kuat.


"(Tidak! Hentikan!!!)" teriak Haara.


Nanami yang melihatnya tersenyum senang.


"A-aw! Awww!!" ringis Nanami, seketika senyumnya tergantikan dengan raut menahan sakit, karena Haara pun mengunci tangan Nanami kebelakang dengan sangat kuat.


"(Jika kalian berdua menyakitinya, ku pastikan tangan wanita ini patah!!!)" ancam Haara kepada kedua bodyguard Nanami.


Kedua bodyguard nya merasa ragu-ragu.


"(Le-lepaskan dia!)" seru Nanami tak tahan.


Seketika kedua bodyguard itu melepaskan Yoan dan membuat Yoan jatuh berlutut memegangi perutnya.


"Uhuk! Uhuk!!"


Haara sontak langsung menghampiri Yoan dengan raut yang tentu saja khawatir dan panik.


"Yoan?? Yoan, apa mereka memukul mu sangat kencang?? Tanganmu juga bagaimana?? mana yang sakit??" tanya Haara bertubi-tubi.


"Ka-kamu, kenapa kamu bisa disini??" tanya Yoan menatap Haara sendu dan raut menahan sakit, ia tak menghiraukan pertanyaan Haara.


"Itu tidak penting! Yang penting sekarang bagaimana denganmu??" tanya Haara.


"(Ahaha, ini tidak sesakit saat melihatmu hampir di perkosa oleh pria bernama Zen.)" seringai Yoan.


Nanami yang mendengarnya terkejut.


Haara bangkit berdiri membantu Yoanbberdiri.


"(Hey, wanita gila, aku tak tahu siapa namamu, tapi aku tak ingin mengetahui siapa namamu.)" seru Haara menatap Nanami datar.


"(Tak punya sopan santun kamu, beraninya kamu tamu tak di undang datang marah-marah dan membuat rusuh di rumah kedua orang tua ku.)" -Haara.


"(Perlu kau ketahui, aku tak pernah menggoda suamimu itu, tapi dia sendiri yang datang padaku dan minta flashback padaku.)" -Haara.


"(Ahaha~ apa aku akan percaya, bodoh!)" tawa Nanami.


"(Kau lebih bodoh jika kau mempercayai suamimu yang brengs*k itu.)" sahut Haara tajam.


"(Ka-kau!)" emosi Nanami.


"(Hey, bisakah kau diam dan dengarkan ceritaku mengenai perlakuan suamimu padaku? Kau sangat berisik!)" seru Haara dengan wajah savage.


"(Hh! Mendengarkan? Mendengarkan dongengmu yang tak sesuai fakta itu? Buang buang waktu.)" sahut Nanami menatap Haara sinis.


"(Dongeng? Bahkan ini lebih pantas di sebut sebuah sejarah, sejarah yang sangat toxic)" sahut Haara datar.


Yoan melirik Haara disebelahnya, ia akan diam dan akan menyaksikan perdebatan gadisnya itu dengan Nanami, bahkan ia merasa Haara tak memerlukan Bantuannya.


"(Aku inginnya kau percaya pada ceritaku, tapi ... mempercayai cerita dari musuh sendiri itu sangat tidak masuk logika sekali, bukan?)" tanya Haara pada Nanami.


Nanami hanya diam dengan fikirannya yang berkecamuk.


"(Aku malas sekali menceritakan semua nya padamu, itu akan buang-buang suara ku, bagaimana kalau kau tanya sendiri dengan ... Mikki? Bahkan dia adalah dalang di balik semua ini fan juga dia adalah orang yang kau fikir satu pihak denganmu, kan??)" tanya Haara menaikkan sebelah alis nya.


"(Mikki?!)"


Haara mengangguk.


"(Aku tak percaya Mikki melakukan ini padaku!!)" sergah Nanami.


"(Untuk apa juga aku berani bohong? Bahkan banyak saksi matanya, ada kakak ipar ku, kedua sepupu dan tunanganku yang menyaksikan dimana suamimu yang hampir memperkosaku.)" sahut Haara larut dalam fikirannya.


Haara melirik Yoan yang mengusap-usap lembut rambutnya, pria itu tersenyum hangat padanya.


"(Mungkin kau juga ga akan percaya pada keluargaku yang di sebut sebagai saksi, mungkin kau bisa tanyakan pada semua siswa di sekolah gadis ku ini.)" seru Yoan melirik Haara.


"(Kenapa aku harus tanya mereka semua yang tak tahu menahu!?)" tanya Nanami ketus.


"(Ah! Kau benar Yoan! Kau salah besar nyonya, mereka semua adalah saksi yang tepat untuk kau jadikan sekumpulan saksi, mereka akan jawab sejujurnya apa yang terjadi saat itu, dimana suamimu yang menyatakan cinta padaku di depan para siswa dan siswi di sekolah.)" jelas Haara.


"(Ap-apa??!)"


"(Bahkan dia menjadi topik hangat di sekolah karena ketahuan telah beristri namun masih punya muka menyatakan cinta padaku hingga mengajakku flashback, dan juga yang jelas-jelas dia sudah tahu jika aku sudah bertunangan, itu adalah lawakan yang sangat lucu~)" tawa Haara.


Nafas Nanami tersegal-segal, ia masih sulit mempercayai ucapan Haara dan Yoan.


"(Maaf saya angkat bicara.)" seru pengacara Nanami.


"(Mengenai kekerasan yang anda lakukan pada tuan Zen itu tidak bisa kami diamkan, kami akan menindak lanjutkan permasalahan kekerasan ini.)" seru pengacara itu.


Nanami tersenyum senang mendengarnya.

__ADS_1


Tak hanya Yoan dan Haara, semua terkejut mendengarnya.


"(Tuan, kami akan mengajak anda untuk menyelesaikannya di kantor polisi.)"


"(Melaporkan?)"


Yoan dan Haara menatap seseorang yang berbicara.


"Hanabi-san?" seru Haara menatap Hanabi yang beridir di sebelahnya.


"Hanabi??" bingung Yoan berbisik.


"Dia adalah tunangannya Yuu." bisik Haara.


"Ahh~ ya aku baru ingat." angguk-angguk Yoan.


"(Apa anda sadar? Kemana kah anda akan melapor? Kepada polisi di Indonesia?)" tanya Hanabi berdiri di samping Haara.


"(Tentu.)" sahut pengacara nya Nanami.


"(Apa kalian tak sadar siapa kah kalian di negara ini? Hanya seorang turis yang hanya di batasi dari tanggal sekian ke tanggal sekian untuk berada di Indonesia?)" tanya Hanabi.


"(Melaporkan kejahatan rakyat ini kepada sang korban dari negara asing itu tak akan mudah di proses, atau bisa saja laporan di ragukan karena kalian tak punya cukup bukti.)" tambah Hanabi.


Seketika pengacara itu dan Nanami bungkam.


"(Dan juga, apa kalian tahu kenapa Zen dan Mikki dengan cepat masuk ke dalam penjara? Karena mereka telah berbuat kejahatan untuk salah satu rakyat di negara ini, itu sangat mengganggu tentunya, maka dari itu proses nya akan cepat di tangani.)" seru Hanabi lagi dengan profesional.


"Aku hampir lupa, jika tunangannya Zen itu mengambil jurusan Hukum." gumam Yoan.


Haara yang mendengarnya terkekeh.


"(Aku selaku pengacara dari mereka ingin menegaskan tentang pencemaran nama baik dari tuan Yoan dan nona AtHaara terima dari anda nyonya Nanami, kami juga bisa melaporkan anda ke polisi, dan anda akan secepatnya di proses hukum di negara ini.)" ancam balik Hanabi.


Seketika Nanami takut mendengarnya.


"(Ja-jangan! Jangan laporkan aku ke polisi, ku mohon!)" ketakutan Nanami.


"(Bagaimana kak Yoan? AtHaara? Ingin melaporkan nya ke polisi?)" tanya Hanabi.


Haara melirik Yoan, pria itu mengisyaratkan terserah padanya.


"(Dengan syarat nyonya, dengan syarat kau pergi dari sini dan jangan pernah kau menganggu hidup kami dan keluarga besarku, aku ingin kau jaga suamimu dan kerabatmu agar tak memiliki niat lagi untuk menganggu kami!)" seru Haara tegas.


Nanami mengisyaratkan pada kedua bodyguard nya dan pengacara nya.


"(Hoi! jawab dulu!!! apa kau tuli!!)" bentak Haara.


"(i-iya, aku dengar!)" sahut Nanami pergi


• • •


• •



Haara sedikit linglung saat semua nya bertepuk tangan kecuali dirinya dan Hanabi.


"Kita beri tepuk tangan pada Haara dan Hanabi!!" seru Yuu kencang.


Hanabi dan Haara pun tersipu malu, mereka berdua saling bertatapan dan tertawa.


"Wah! Sungguh sangat savage nya kakak ipar saat awal tadi! Kakak ipar sampai tampar wanita tadi hingga berdarah! Kak Yoan, kau mengajarkan Haara berkata savage seperti itu kah??" tanya Yifan kagum.


"Aku tak pernah mengajarkannya." sahut Yoan.


"Mungkin Haara mendapat contoh dari Yoan saat bersikap savage seperti itu, Haara jadi terinspirasi deh!" seru Anna.


"Aku sampai merinding, ternyata Haara kita semua sudah berubah mengikuti jejak suaminya ya." seru Ammar.


Semuanya pun membenarkan ucapan Ammar.


"Untuk kalian berdua, Yoan AtHaara." seru Juan.


"Iya papa?" tanya Haara.


"Papa ingin kalian berdua ceritakan apa yang terjadi." seru Juan serius.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Juan dan Tao Ming menghela nafasnya kasar saat mendengar cerita Haara yang menceritakan kejadian yang menyebabkan keributan yang Nanami berikan tadi.


"Fikiranku sudah kalang kabut sekali, aku sungguh tak tahu harus apa, aku terus memberontak, aku sungguh tak mau ia menyentuhku~" sedih Haara memaksa dirinya mengingat kejadian saat itu.


Stephannie menduduki dirinya di sebelah Haara dan menarik tubuh Haara kepelukannya.


"Aku sungguh ketakutan sekali saat itu~ didalam benak ku aku berharap aku selamat dan dia tak menyentuh ku sedikit pun~" seru Haara dengan mata memerah.


"Dalam fikiranku aku harus berusaha bebas, aku menanamkan tekad untuk aku tak boleh mengkhinati Yoan, aku tak mau mengkhianati Yoan~" isak Haara tak dapat membendungnya.


Semua yang mendengarnya ikut sedih dan terharu atas jalan fikir Haara.


"Jika saja Yoan tak datang saat itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi, jika aku suruh memilih antara harus berakhir dengan perlakuan Zen yang melecehkanku dan harus patah tulang karena Zen terus mencoba menahan pergerakanku, aku lebih memilih tulang ku patah!" seru Haara histeris dengan suara serak.


Yoan yang mendengarnya mengepalkan tangannya kuat, ia benar-benar ingin kembali menghajar Zen lagi sekarang.


"Aku sangat bersyukur sekali, Yoan datang, sungguh aku terselamatkan sekali oleh Yoan~" isak Haara menatap Yoan sendu.


Yoan yang menyadari tatapan Haara pun membalas tatapan gadisnya itu dengan senyuman hangat.

__ADS_1


"Aku ucapkan terima kasih Yoan telah mewujudkan ambisiku padamu." seru Haara lembut.


Yoan mengangguk, ia mengusap air mata Haara yang terus menetes.


"Sudah jangan menangis lagi, hm? Semua sudah berlalu." ucap Yoan lembut.


"Mama sangat senang sekali mendengarnya, terima kasih untukmu juga dari mama dan papa, Yoan." seru Lucy.


"Sudah kewajibanku menjaga dan melindungi Haara papa mama, maaf aku sedikit telat." sahut Yoan merasa bersalah.


"Yang penting Haara kini bisa kembali tersenyum lagi." sahut Juan tersenyum tipis.


Yoan yang mendengarnya senang.


"Papa sempat emosi saat mendengar berita ini tiba-tiba, sangat mengejutkan karena kami tak tahu menahu masalahnya." seru Tao Ming.


"Benar sekali, kami jadi kebingungan sekali harus apa, kami tidak tahu sama sekali." seru Stephannie juga.


"Sungguh sangat mengejutkan sekali, tapi aku meyakinkan sesuatu, Yoan tak mungkin asal memukul seseorang, kecuali seseorang itu telah membuat masalah dan kesalahan." seru Lucy meyakinkan.


Yoan yang mendengarnya kikuk.


"Jadi, bagaimana dengan status hubungan kalian? Apa kalian sudah saling mencintai?" tanya Juan.


Haara menduduki dirinya tegak, ia menatap Yoan yang sudah menatapnya entah sejak kapan.


"Tentu sudah papa." sahut Yoan menatap Haara dalam.


"Kalau Haara?" tanya Tao Ming.


"Su-sudah papa." sahut Haara menunduk malu.


Enam orang lain yang menyimak sejak tadi yang melihat ekspresi malu-malu Haara menahan tawanya.


"Uuu~ lucunya~ gemas deh~ lihatlah menantu kecilku ini Tao Ming, sungguh sangat menggemaskan! iyakan? Yoan??" tanya Stephannie memeluk Haara erat membuat Haara tersipu malu.


"Aku tahu itu mama, bahkan aku selalu melihat tingkah nya yang seperti saat ini di penthouse." sahut Yoan cepat.


"Huwaa~ Yoaaan!" malu Haara menutup wajahnya malu.


Hal itu membuat semuanya yang melihat tingkah Haara tertawa.


"Papa senang sekali mendengarnya, setelah rumah tangga kalian yang penuh cobaan dan hampir memutuskan hal yang tak pernah di harapkan, namun kini kalian telah menciptakan keharmonisan di antara kalian berdua." seru Juan bahagia.


Haara dan Yoan beradu tatap sekilas dengan melemparkan senyuman kesatu sama lain.


"Dan papa ingin peringatkan satu hal yang serius sekarang, ini di khususkan untukmu Yoan." seru Juan serius.


Yoan megerutkan keningnya dan menunjukkan wajah serius.


"Papa mau kamu jangan, macam-macam dan memaksa Haara melakukan hal itu!" seru Juan tajam.


Deg!


Sontak Haara dan Yoan terkejut dalam diam.


"Jika itu terjadi, papa akan sunat kamu Yoan!" ancam Juan menatap Yoan tajam.


CTAZZZ!!


"papa sendiri yang turun tangan!" seru Juan lagi.


Yoan seketika membulatkan matanya, tubuhnya mematung seketika.


glek!


'SU-SUNAT??!'


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author: "ancamannya mujarab ga ya kira-kira buat Yoan😆 tapi sudah melanggar duluan, otw sunat nih😆 semoga Anna ga ngadu😆😆"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...

__ADS_1


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2