My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
We Promise


__ADS_3

"Papa bangun~ ayo bangun papa~" seru Haara menirukan suara anak kecil.


Yoan membuka matanya sedikit, namun tak lama pria itu kembali tertidur.


Terlihat Yiran yang memeluk tangan Yoan yang sedang tertidur, sesekali Yiran menggigit baju yang Yoan gunakan, Yiran seperti berusaha untuk membangunkan Yoan yang tengah tertidur pulas.



"Papa bangun~ ayo main papa~ Yiran mau main papa~" seru Haara.


Yoan yang tidur telungkup pun terbangun saat merasa tangannya basah dengan air liur Yiran.


"Hey sayang~" seru Yoan dengan suara serak.


Yiran yang melihat wajah Yoan tertawa, kaki Yiran menendang-nendang senang.


"Ciluk ... Ba~" -Yoan.


Hal itu pun sukses membuat Yiran tertawa.


"Sudah kenyang ya anak mama, dengar suara papa, Yu Xi juga ingin ikut main ya sama papa dan kak Yiran~" seru Haara menyimpan botol susu milik Yu Xi.


"Benarkah? Tak ku sangka jika memang seperti itu, ayo Yu Xi ikut main sama papa dan kak Yiran yuk!" senang Yoan mengucek-ngucek matanya, pria itu pun menggendong Yu Xi dari Haara.


"Aku mau mandi, kamu jagain mereka ya? Jangan tidur lagi." peringat Haara.


Yoan mengangguk paham.


"Ah, cium dulu." seru Yoan menahan Haara.


Haara pun langsung mencium pipi kanan, pipi kiri, kening dan yang terakhir bibir pria itu sekilas.


"Sudah, aku mandi ya?" seru Haara.


Yoan tersenyum cerah, pria itu mengangguk.


●•●•●•●•●


Haara terkekeh saat melihat Yu Xi yang di gendong oleh Yoan, memakai jaket berwarna kuning dengan tudung jaket itu menutupi kepala Yu Xi.


sungguh sangat menggemaskan sekali.


Merasa tak ingin melewatkan moment menggemaskan yang di tunjukkan anaknya, Haara pun memotret Yu Xi.


"Yoan Yoan, lihat~ menggemaskan iyakan?" antusias Haara menunjukkan foto Yu Xi.



Yoan terkekeh saat melihatnya.


"Sangat menggemaskan sekali, kau kirim padaku fotonya ya?" seru Yoan, Haara pun mengangguk.


"Mereka menggemaskan mirip aku~" seru Haara.


"Aku tidak?" tanya Yoan.


"Iya kamu juga menggemaskan, kamu itu bayi besar ku." sahut Haara.


Yoan yang mendengarnya merangkul Haara, ia mencium pipi Haara gemas.


●•●•●•●•●


Mereka kini telah tiba di rumah Lucy dan Juan, saat-saat sedih saat inilah telah tiba, meski hanya dua hari, tapi rasanya berat sekali.


Haara tersenyum sendu menatap Yiran dan Yu Xi yang di gendong oleh mama dan papa nya, jujur saja ia tak tega meninggalkan kedua anaknya selama dua hari ke depan.


Namun, mama dan papa nya menyuruhnya untuk pergi berlibur bersama Yoan, hanya berdua dan membiarkan kedua anaknya di jaga oleh mereka.


Bruk!


Yoan menutup bagasi mobil taksi setelah memasukkan koper ke dalam bagasi.


Haara menatap Yoan yang melangkah menghampiri Yiran dan Yu Xi di kini sudah berada di stroller.


Pria itu berlutut di depan kedua malaikat kecil mereka, senyuman manis pria itu kini terlihat jelas di wajahnya.


"Yiran~ Yu Xi~ mama dan papa pergi selama tiga hari ya sayang, jadilah anak yang baik ya?" seru Yoan yang kini jiwa orang tua nya sedang menguasai dirinya.


Pipi gembul merah dengan bola mata berwarna coklat bulat dan bersinar dari Yiran dan Yu Xi kini tengah fokus menatap Yoan sang papa bicara.


Bola mata berwarna coklat dengan tatapan tajam yang di miliki Yiran dan Yu Xi itu mereka dapatkan dari Yoan, sedangkan mata bulat yang cerah itu mereka dapatkan dari Haara.


Pipi yang gembul namun garis rahang tegas kembali di dapatkan dari Haara dan juga Yoan, dan mengenai senyuman dan saat tertawa, Yiran mewarisi dari Yoan sedangkan Yu Xi mewarisinya dari Haara, sungguh keadilan dalam hal mewarisi dari Yoan dan Haara pada anak-anak mereka.


Yoan menggenggam tangan Yu Xi yang memegang pipi nya.


Pria itu merasa tak tahan, akhirnya Yoan kembali menggendong Yu Xi.


"Ayolah, jangan tunjukkan wajah seperti itu sayang~ papa jadi bimbang sekarang~" seru Yoan.


Haara pun merasakan hal yang sama seperti yang Yoan rasakan.


"Ayo Yu Xi kemarilah, nenek gendong yuk!" seru Lucy.


Yoan perlahan memberikan Yu Xi pada Lucy.


"Kalian berhati-hatilah ya, jaga diri kalian baik-baik." seru Juan.


"Baik papa." sahut Yoan dan Haara bersamaan.


"Ya sudah, kalau seperti itu kami berangkat, kami titip Yu Xi dan Yiran ya mah, pah." seru Haara.


"Iya sayang, berbahagialah, nikmati liburannya ya." seru Lucy.


Haara pun mengangguk, ia pun melangkah masuk ke dalam mobil taksi


perlahan pun mobil taksi pun melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah.


●•●•●•●•●


• • •


• •



🛫BANDARA SOEKARNO-HATTA.


Genggaman erat tangan Yoan kini dapat Haara rasakan.


Ia menatap tangan Yoan yang menggenggam tangannya erat, ia jadi kembali teringat saat dimana dirinya pernah tersesat di bandara tepat saat akan mengantar nenek yang akan terbang kembali ke Jepang, pria itu menggenggam tangannya erat karena takut dirinya kembali tersesat.


Proses demi proses kini telah di lewati, kini mereka telah berada di dalam pesawat.


Haara mendongak saat melihat Yoan yang sibuk menyimpan sesuatu di atas mereka.


"Sudah?" tanya Haara saat melihat Yoan duduk di sebelahnya.


"Sudah, kenapa?" tanya Yoan.


Haara menyandarkan dirinya di dada bidang Yoan.


"Aku ngantuk~" rengek Haara.


"Jika seperti itu, tidurlah." sahut Yoan merangkul Haara.


Haara mengangguk, dan ia mulai tertidur.


●•●•●•●•●


🛬BANDARA INTERNASIONAL NGURAH RAI-BALI.


Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, dan kini sungguh sangat di sayangkan sekali, jalanan yang macet saat mereka akan tiba di pantai.


Hari telah menjelang petang, setelah mereka mendarat, mereka pun langsung pergi lagi untuk kepenginapan.


"Macet sekali, sepertinya mereka juga ingin merayakan malam tahun baru di pantai ya~" seru Haara menatap Yoan di pundaknya.

__ADS_1


"Hampir semua tempat wisata padat, jadi wajari saja ya." seru Yoan mencium telapak tangan Haara.


Haara tersenyum cerah, ia mengangguk cepat.


●•●•●•●•●


Kini mereka telah tiba di penginapan, Haara menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Hahh~ akhirnya sampai juga~" hela nafas Haara memejamkan matanya


Perlahan Haara membuka matanya karena merasakan ada bayangan.


"Kamu ngapain di atas aku?" tanya Haara melihat Yoan yang mengunci pergerakkannya di bawah.


"Mau tiduran di pelukkanmu sayang~" sahut Yoan menjatuhkan dirinya di atas Haara.


Haara menahan geli saat Yoan menggelayut manja di dadanya.


"Hentikan, geli Yoan~" tawa Haara memeluk Yoan erat, hal itu membuat Yoan tak bisa bergerak.


Namun, Yoan memiliki seribu cara kali ini, kini tangannya perlahan menyelinap masuk ke dalam baju Haara, mengelus perut Haara yang terasa sungguh menggelitik.


"Ahahahahah!! Yoan tanganmu! Singkirkan tanganmu! Geli!" tawa Haara.


Yoan ikut tertawa saat mendengar Haara yang tertawa.


Haara membelalakkan matanya saat pria itu memasukkan kepalanya kedalam bajunya.


"Yo-Yoan, astaga! Kamu benar-benar ya! Yoan keluar tidak!?" panik Haara.


Pria itu tak mrnghiraukan ucapannya sedikitpun, Yoan melakukan aksinya di dalam baju Haara.


Lagi-lagi, dirinya hanya pasrah dengan apa yang Yoan inginkan, ia tak bisa menolak keinginan Yoan kali ini, gadis itu berhenti memberontak.


"Yoan, ayo kita jalan-jalan saja yuk, jika di kamar fikiranmu tak akan pernah beres." seru Haara.


Pria itu tak menyahut.


Haara menahan dirinya agar dirinya tak mengeluarkan suara yang membuat hasrat Yoan semakin memuncak, ia tak akan biarkan itu terjadi.


"Yoan?" panggil Haara dengan suara tertahan.


"..."


"Sayang~" panggil Haara lagi.


"Iya apa sayang?"


Haara memutar bola matanya saat melihat reaksi Yoan saat dirinya memanggil Yoan dengan sebutan 'sayang'.


"Ayo jalan-jalan malam, sambil kita nunggu tengah malam Yoaan~" rengek Haara menduduki dirinya.


"Panggil aku 'sayang' dulu." seru Yoan.


"Yoan sayang~ ayo ih." rengek Haara merapihkan rambut Yoan.


"Pakai jaketnya, baju yang tebal dan celana panjang." seru Yoan.


"Baik!!"


●•●•●•●•●


Jalan raya yang macet dan padatnya orang-orang dari penduduk asli maupun orang asing mau dari luar negeri maupun luar kota kini bercampur menjadi satu disini.


Haara tersenyum senang saat Yoan yang sungguh menjaga sekali dirinya dari keramaian, seperti biasa pria itu menggenggam erat tangannya dan melindunginya dari desakan orang-orang.


"Berhati-hatinya suami ku ini." seru Haara merangkul tangan Yoan.


"Tentu aku harus berhati-hati, tubuhmu sangat kecil dan aku tak akan biarkan kau tersesat di keramaian ini." seru Yoan fokus pada jalanan.


"Aku? Kecil?? Menurutku tidak, kau ini terlalu berlebihan." seru Haara.


"Tubuhmu itu memang nyatanya sangat kecil AtHaara, lihatlah tanganmu ini, aku seperti menggenggam tangan anak SMP." seru Yoan.


"Tanganmu yang terlalu besar! tak apa punya tubuh kecil juga yang penting kamu itu sangat tertarik denganku." sahut Haara sombong.


Yoan terkekeh saat mendengarnya.


"Jika sudah di curi, ia tak akan tinggal diam, dia pasti akan merebutku kembali dan berteriak, 'dia adalah gadis ku, dia milikku seorang!' seperti itu." oceh Haara.


Yoan tertawa saat Haara mencontohkan dirinya.


"Lalu jika sudah berhasil di rebut, dia akan menciumi ku di pipi, kening, hidung, kedua mata dan terakhir di bibirku yang paling lama." oceh Haara yang tak berujung.


"Kenapa cium? Padahal aku akan memelukmu erat seerat-eratnya hingga kau kesulitan bernafas?" tanya Yoan mencoba menahan tawanya, ia merangkul Haara erat.


"Nanti aku kesulitan nafas nanti kamu nangis~" ledek Haara.


Yoan merasakan dirinya relah ternistakan oleh Haara.


Haara membelalakkan matanya saat Yoan tiba-tiba menangkup wajahnya dan menciumnya bertubi-tubi.


"Yoan! Hentikan! Ini tempat umum Yoan!" panik Haara.


"Beraninya kamu meledek suamimu ya hm??" seru Yoan mencoba menahan kedua tangan Haara.


"Huwaa~ maaf maaf~"


●•●•●•●•●


Hari pun semakin malam dan juga semakin banyaknya wisatawan yang berdatangan.


Semua orang pun kini telah mencari tempat untuk menikmati letusan kembang api di tengah malam.


"Yoan, disini saja." seru Haara pada Yoan.


Yoan pun menyetujuinya, pria itu pun menggelar karpet untuknya dan Haara.


"Hahh~ beruntung dapat tempat di tengah keramaian, jadi kita tak sia-sia." seru Haara.


"Kau benar, aaa~" sahut Yoan menyuapi Haara cemilan.


"Hm~ enak, ah iya, aku mau beli mi cup, kamu mau?" tanya Haara.


"Mi cup? Dimana?" tanya balik Yoan.


"Disana, dekat kok." sahut Haara.


"Biar aku yang beli." seru Yoan bangkit berdiri.


"Tidak tidak, aku saja, aku tak akan tersesat kok ya, kamu disini saja ya." tolak Haara melangkah pergi.


• • •


Beberapa puluh menit mengantre akhirnya Haara pun kembali membawa dua mi cup.


Haara menyipitkan matanya, seketika nafasnya naik turun saat melihat ada dua orang wanita yang kini duduk di karpetnya.


Ia tahu apa maksud dua wanita yang duduk di karpet nya.


"Tujuanku pergi agar dia tak di godain wanita lain, ini kenapa saat di tinggal ada wanita lain yang menggodanya sih!" kesal Haara dengan langkah cepat


Terlihat Yoan yang mencueki kedua wanita itu yang sedang mengajaknya bicara, mode savage pria itu telah keluar.


Belum sempat Haara memanggil Yoan, pria itu menyadari kehadirannya.


"Sayang? Kamu sudah kembali?" seru Yoan tersenyum pada Haara.


"Sudah sayang, mereka siapa?" tanya Haara menatap sinis dua wanita itu.


"Sales mungkin, aku juga tak tahu." sahut Yoan santai.


Sontak kedua wanita itu terkejut dengan ucapan Yoan.


"Ppfft!" tahan tawa Haara.


"Maaf ya tuan, tapi kami bukan sales seperti yang anda maksud." tak terima wanita pertama.

__ADS_1


"Lalu? Kalian sedang apa di sini? Berbicara panjang lebar tak jelas." tanya Yoan dingin.


"Ka-kami hanya ..."


"Sudah selesai bicara, iyakan? Bisa kalian pergi?? Istri saya ingin duduk." seru Yoan datar.


"Istri?? Jadi kalian sudah menikah??" tak percaya wanita kedua.


"Kami juga sudah memiliki dua anak." sahut Haara tak bersahabat.


"Dikira masih berpacaran, maaf maaf." tak enak kedua wanita itu pergi.


Haara menduduki dirinya di sebelah Yoan.


"Menyebalkan sekali mereka, ish!" gerutu Haara.


"Sudahlah, jangan hiraukan mereka." kekeh Yoan mengelus-elus rambut Haara.


Haara tersenyum tipis dan mengangguk.


• • •


Tepat 5 menit lagi, jam akan menunjukkan jam dua belas malam, pergantian hari, tanggal, bulan, dan tahun pun sebentar lagi.


Suara dan orang-orang disana pun semakin memadatkan tempat.


"Sedikit lagi, pergantian tahun, apa permohonan mu AtHaara?" tanya Yoan.


"Permohonanku? Aku berharap jika lembaran baru di tahun 2022 menjadi lembaran yang baik untuk kita dan kedua anak kita, Yiran dan Yu Xi, aku ingin hidup bahagia bersama mu dan kedua anak kita, bagaimana denganmu?" tanya Haara.


"Aku pun berharap seperti itu, aku ingin melihat Yiran dan Yu Xi tumbuh, memanggil kita mama dan papa, lalu beranjak dewasa." seru Yoan.


Yoan menadap Haara dalam sambil mengelus rambut Haara sayang.


"Sampai rambut ini memutih, sampai kulitmu keriput, dan suara mu yang terdengar lemah, aku akan tetap mencintaimu selamanya." ucap Yoan serius.


Haara tersenyum sendu, ia menangkup kedua pipi Yoan.


Yoan memejamkan matanya saat Haara mencium kedua pipi nya lembut.


"Sampai tua nanti, aku pun akan mencintaimu, selamanya. mau kau susah dan sakit, rasa cinta ku padamu tak akan pernah berubah Yoan." seru Haara dengan mata yang memerah.


Yoan tersenyum senang mendengarnya.


"Yoan, terima sudah mencintaiku, terima kasih telah memberikan cinta yang sangat besar untukku, aku sungguh sangat senang saat mengetahui perjuanganmu yang berusaha membuat ku kembali mencintaimu saat itu, aku sungguh sangat bahagia bisa di cintai dan mencintai pria seperti dirimu." isak Haara.


Yoan sungguh tersentuh dengan ucapan Haara padanya.


"Yang ada akulah yang berterima kasih padamu, jika aku tak bertemu denganmu saat itu, aku tak yakin jika diriku masih hidup, mungkin saja aku memilih untuk bunuh diri, tapi aku bertemu denganmu, kau menyelamatkan hidupku dan memberikan kehidupan serta cinta padaku, aku sungguh sangat bersyukur." seru Yoan sendu.


"Kau merubahku, merubah kehidupanku, kau telah menyembuhkanku dari traumaku, fikiranku terbuka karena mu, kau sungguh wanita misterius yang dapat mengubah sosok lain dalam diriku menjadi diriku sendiri." tambah Yoan mengelus pipi Haara.


Haara menutup mulut nya, ia sungguh tak bisa menahan isaknya, dengan cepat Haara memeluk Yoan erat.


Pria ini, Zhao Yoan Ti-En.


Pria yang memiliki sikap dingin dan menyeramkan, pria ini pun memiliki masa lalu yang misterius.


Pria yang sungguh tak pernah tertarik dengan hal-hal yang menurutnya tak penting kini telah berubah 180 derajat, sungguh perubahan yang sangat terasa jelas.


Semua berawal dari pertemuan nya di lestoran hamburger, pesanan mereka yang tertukar, dan dimana Haara menuduh Yoan adalah 'om mesum' karena tiba-tiba menanyai dimana tempat tinggalnya.


Sungguh memang sebuah takdir, mereka kembali bertemu di pertemuan keluarga, sungguh mengejutkan mereka pun di jodohkan oleh keluarga dan menikah.


Ia sungguh tak menyangka jika dirinya harus menikah dengan seorang Zhao Yoan Ti-En, CEO internasional yang memiliki cabang perusahaan di berbagai negara.


Perjalanan hingga kisah rumah tangganya dengan Yoan pun berjalan naik turun dan berlika-liku.


Ia akan menjalani kehidupan seperti seorang suami istri layaknya, meski Haara tak begitu paham bagaimana peran seorang istri.


Mereka tak mengenal satu sama lain, namun tanpa perlu menceritakan masa lalu masing-masing, dengan banyaknya hal yang kebetulan terekspos membuat kisah masa lalu di antara mereka berkuak tanpa di inginkan dan mereka pun telah memahami kisah mereka masing-masing di masa lalu.


Cinta masa lalu dan cinta pertama pun menjadi ujian terberat dalam hubungan mereka, dan juga kesalah pahaman membuat hubungan mereka menjadi retak dan hampir terpecah belah.


Namun perpisahan tidak akan pernah terjadi karena sebuah cinta telah datang diantara mereka, hal itu membuat mereka bertahan hingga kesalah pahaman terbukti dan mereka memutuskan untuk memperbaiki semuanya, memperbaiki pernikahan mereka yang hampir pecah.


Waktu pun terus berjalan, dua cinta pun telah hadir di rumah tangga mereka dan sampai tiba saat nya Haara pun hamil lalu memiliki dua calon bayi di perutnya.


namun, terjadi sebuah insiden kecelakaan sungguh sangat menyayat hati dan Haara di nyatakan meninggal meski hanya sementara saja.


karena takdir masih menyayangi mereka, mereka pun di beri kesempatan untuk bersama dan hidup bersama kedua malaikat kecil mereka, takdir pun menginginkan mereka bisa memantau pertumbuhan kedua anak mereka dengan baik.


DUARRR~!!


Lembaran baru kini kembali dimulai ditahun baru 2022, Yoan dan Haara kini menatap langit yang telah di hiasi letusan kembang api yang sangat besar, sungguh sangat indah sekali.


"Selamat tahun baru AtHaara, aku mencintaimu~" seru Yoan tersenyum.


"Selamat tahun baru juga tuan Zhao, aku pun juga mencintaimu." sahut Haara.


Mereka saling menatap dan perlahan memotong jarak di antara mereka.


Ciuman lembut nan hangat di bawah sinar letusan kembang api, sungguh kenangan di tahun baru yang sangat indah.


Haara menempelkan hidungnya pada hidung Yoan mereka tersenyum cerah menatap satu sama lain.


'Forever, my destiny is you, Mr Zhao.' batin Haara tersenyum menatap Yoan dalam.


'because you are mine forever, Mr Zhao Yoan Ti-En.' batin Haara lagi.


...•...


...●...


...🎐THE END🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author:...


..."huwaa~ sedih nya tamaaat😭 kehidupan mereka sudah bahagia, happy ending yang seperti inilah yang ingin author utarakan untuk mereka😭 "...


...❗❗❗...


..."eits!! sesuai dengan pertanyaan Author kemarin tentang bonus part tentang kisah Yiran dan Yu Xi sudah besarnya nih, jadi karena banyak yang setuju, author akan buatkan bonus part tentang Yiran dan Yu Xi sudah besarnya nih, yuhuu!!🎉🎉...


...kira kira berapa part bonus nih ya?? hm hm~🤔"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍 ...


...❤salam dari Yoan dan AtHaara❤...

__ADS_1



🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2