My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Tidak Peka


__ADS_3

Haara melangkah mondar mandir di kamarnya, ia merasa gugup dan bingung saat ini, sudah terhitung berapa menit ia mondar mandir di kamarnya.


ia gugup, gugup untuk bertemu Yoan dan bingung hal apa yang harus ia lakukan dan katakan nanti,


Ia melirik jam dinding di kamarnya, jam menunjukkan jam 7 pagi, ia harus buat sarapan,


Ia menyusun kalimat saat bertemu dengan pria itu nanti,


"Ahh, setelah aku jujur pada diriku sendiri jika aku menyukainya, aku seperti orang bodoh saja sekarang" kesal Haara,


Haara menarik nafas dalam dalam, ia mengumpulkan keberaniannya untuk keluar dari kamar,


Haara membuka pintu kamar nya


Ceklek!!


Suara pintu diseberang terbuka, sigap Haara langsung kembali masuk kedalam kamarnya,


Brakk!!


Haara meringis, ia merutuki dirinya yang bertindak bodoh,


"Memang benar, cinta itu membuat orang menjadi bodoh" seru nya merengek,


Tok tok tok!!


Haara tercegang,


"Haara? Aku kenapa?" seru Yoan dari balik pintu,


"Ti tidak kok!!" sahut Haara,


"Lalu setelah keluar dari kamar kenapa masuk lagi?" tanya Yoan bingung,


"Ee, a aku lupa menyisir rambutku, ahahaha" seru Haara pura pura tertawa,


Tak ada sahutan dari pria itu, Haara pun bernafas lega,


"Haara~ kamu harus tenang oke, terlihat seperti Haara yang biasanya" seru Haara pelan,


Ia pun membuka pintunya,


Betapa terkejutnya ia melihat Yoan yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan datar


"Yo Yo Yoan??!!" terkejut Haara gelagapan,


Yoan mengerutkan keningnya bingung, keterkejutan gadis itu sangat tak wajar,


"Kau .. Masih demam?" tanya Yoan ragu,


Haara menetralkan tenggorokkannya dan mencoba bersikap biasa saja,


"Tidak kok, a aku .. Hanya terkejut saja melihatmu ada didepan pintu kamarku" sahut Haara memalingkan pandangannya,


"Sudah membaik?" tanya Yoan


"Mm~ aku mau buat sarapan dulu" seru Haara melangkah pergi meninggalkan Yoan,


Yoan mengerutkan keningnya menatap kepergian Haara,


"Tingkahnya aneh sekali, apa itu efek dari demam ya?" seru Yoan pada dirinya sendiri.


●•●•●•●•●


Haara menghela nafasnya entah sudah ke berapa kalinya,


Ia akan membuat omelete hari ini,


"Biar ku bantu" seru Yoan tiba tiba

__ADS_1


"Mm, tidak usah, biar aku saja" seru Haara mengambil telur di kulkas,


Yoan menarik tangan Haara membuat gadis itu berbalik dengan wajah terkejut,


Haara membelalakkan matanya, Yoan menatap Haara datar, pria itu meletakkan telapak tangannya di kening gadis itu,


"Panasnya sudah turun"


Haara membuang pandangannya,


"Keadaanku sudah membaik kok" seru Haara pelan,


"Tingkahmu yang aneh pagi ini" seru Yoan melangkah pergi,


Haara ingin teriak saat ini, jantungnya benar benar tak sehat jika seperti ini terus, pria itu mengatakan jika ia aneh, membuat dirinya merasa seperti orang bodoh sungguhan sekarang.


'Fokus Haara fokus, sekarang fokus masak saja oke~' batin Haara.


• • •


Setelah sarapan, Haara langsung di tuntun Yoan untuk minum obat, mau tak mau Haara tak bisa menolak.


Haara meminum airnya setelah meminum obatnya, Yoan bangkit berdiri untuk menyimpan gelas itu di dapur,


Haara merasa jika pria itu sangat perhatian saat ia sedang sakit seperti ini, jujur saja, ia suka dengan sikap Yoan yang perhatian saat ini,


Haara melangkahkan kakinya ke jendela besar di penthouse nya, cuaca yang cerah terlihat dari sebalik jendela penthousenya, ia merasa senang sekali hari ini.


Dulu jika di ingat, ia benar benar benci dengan perjodohan keluarganya, sampai melibatkan dirinya yang masih anak sekolah, dirinya juga pernah bertengkar dengan Yoan, ia pernah mengutarakan kekesalannya kepada pria itu atas perjodohan dirinya dan Yoan,


Namun sepertinya ia tak merasa benci lagi atas perjodohan ini, ia sangat senang, dan juga ia sudah menyukai Yoan, dia tak akan takut jika pria itu mengagumi wanita lain, pria itu miliknya sekarang, miliknya secara SAH.


Jika di fikir fikir, baru saja di hari Jum'at ia meragukkan jika dirinya jangan jangan menyukai pria itu, namun di hari Sabtu nya ia sudah mengakui pada dirinya sendiri jika dirinya menyukai pria itu, benar benar ajaib untuknya.


Haara memegang jendela sambil melirik gelang yang ia kenakan, gelang milik pria itu melingkar manis di pergelangan tangannya dan juga cincin pernikahannya yang ia pakai di jari manis tangan kirinya, Haara terkekeh saat melihatnya.


Haara tersenyum saat tak sadar dirinya bukan melirik pria itu lagi, namun menatap pria itu, hal itu membuat Yoan yang sadar di perhatikan, ia pun menatap Haara,


"Kenapa menatapku?"


Haara mengerjapkan matanya,


"Ti tidak"


Yoan menyipitkan matanya menatap Haara curiga,


"Mm kau bertingkah seperti seorang kakak saja" sahut Haara beralasan,


"Aku memang seorang kakak" sahut Yoan,


"Ahh, mengenai itu, kau berapa bersaudara?" tanya Haara,


Yoan terdiam sejenak,


"Dua"


"Dua? Kau dan adikmu berarti?"


Yoan mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke depan,


"Yoan~" panggil Haara,


Yoan yang terpanggil melirik gadis itu


"Apa?"


"Aku ingin jalan jalan pagi, di taman dekat gedung ini" senyum Haara.


• • •

__ADS_1


Haara menekuk wajahnya menatap tajam Yoan yang duduk di ruang santai sambil membaca buku,


"Kenapa belum pergi?" seru Yoan fokus ke bukunya


"Kau .. Kenapa belum siap siap?!" seru Haara kesal,


"Siap siap kemana?" tanya balik Yoan


"Ke taman Yoan!"


Yoan menatap Haara datar,


"Kau yang mau kesana, aku tidak ikut" sahut enteng Yoan,


"Aku takut jika sendirian!"


"Ya sudah jangan pergi"


"Aku ingin kesana~" rengek Haara menahan kesal,


"Ya sudah sana" seru Yoan kembali membaca bukunya,


"Temani aku~" rengek Haara,


"Tidak" sahut Yoan cepat


Nafas Haara naik turun, ini tidak sesuai ekspetasinya, benar benar membuatnya kesal,


"Nanti kalau aku tersesat gimana?" tanya Haara cemberut


"taman itu bukan hutan, bahkan kau bisa bertanya pada orang orang jika tersesat" sahut Yoan enteng


"Kau tidak takut kalau aku di culik!?"


"Siapa yang akan menculikmu? Bahkan kau bukan anak kecil" sahut Yoan fokus membaca,


Haara mengepalkan tangannya kesal,


"Ya sudah!! Jika kau tak ingin menemaniku!! Biar aku pergi sendiri!! Aku tak takut ada sebuah keajaiban jika Daniel keluar dari penjara dan menculikku lagi!! Huhh!" seru Haara mengawur, ia dengan kesal melangkah keluar dari penthouse,


Yoan menatap kepergian gadis itu, ia sungguh terkejut dengan pernyataan gadis itu,


"Keajaiban? Apa ia sedang mendo'a kan stalker itu bebas dari penjara?".


●•●•●•●•●


Haara menghentak hentakkan kakinya keluar dari apartemen, ia terus merutuki Yoan sepanjang jalannya,


"Sebal sebal sebal!! Benar benar tidak peka!! Aku bilang ingin ke taman itu bukan berarti aku ingin pergi sendiri! Artinya itu aku ingin di temani, huwaa~ sebal~" gerutu Haara,


"Lihat saja, aku pulang sore nanti! Biar dia mencariku!!" seru Haara emosi.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...


...hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku😍...


...jangan lupa like👍...


...rate⭐⭐⭐⭐⭐...


...dan komentarnya 💭😊...


...tambahkan juga ceritaku ke favorite❤ agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏...

__ADS_1


__ADS_2