My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Aku? Seorang Biksu?!


__ADS_3

...🚨Sebelum lanjut ke update an baru, aku mau menjelaskan sesuatu nih.🚨...


maaf sekali aku ganti cover dari novel ini lagi ya😭 karena author merasa jika cover yang author pake sebelumnya itu banyak sekali yang pakai😭


Jadi aku pakai cover yang kebetulan dari tokoh asli dari Zhao Yoan Ti En dari short drama MV nya.😊


Oke, sebelum baca jangan lupa Like dan komentarnya ya kakak😇


Happy Reading❤


●•●•●•●•●


Haara mendorong tubuh Yoan membuat pria itu terdorong.


"Yoan! Ini tempat umum! Bagaimana kalau ada yang dengar!" seru Haara menutup wajahnya malu.


"Hm? Mereka tak akan paham bahasa kita, AtHaara. Kau ini pelupa sekali." goda Yoan.


Haara ingin berteriak, ia terlalu bodoh untuk memberikan kembali sebuah alasan, kini ia juga tampak bodoh di depan pria itu.


Yoan tertawa melihat tingkah gadis itu.


"Duìbùqǐ."


Yoan menatap pelayan yang membawa makanan pesanan dirinya dan Haara.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Hari telah menjelang petang, namun langit masih terlihat terang.


Yoan baru saja selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe-nya.


ia menatap Haara yang menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan malam ini.


"Pakai ini saja, lebih terlihat keren." seru Haara.


Yoan tersenyum ia mengusap rambut Haara senang.


"Terima kasih ya." seru Yoan lembut dan tulus.


Haara mengangguk senang.


Yoan pun membawa pakaian ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.


beberapa menit kemudian telah berlalu,


ponsel pria itu berbunyi, membuat Haara mengalihkan fokusnya pada ponsel pria itu.


Haara mengambil ponsel itu sambil melangkah ke pintu kamar mandi.


Tok! Tok! Tok!


"Yoan, ada yang menelfonmu."


Tak lama pintu pun terbuka, pria itu mengambil ponselnya yang gadis itu sodorkan dan mengangkat panggilan itu.


Haara terkagum-kagum melihat penampilan pria itu, terlihat sangatlah tampan~


Rambut hitam yang tak sepenuhnya menutupi rambut coklat terang asli pria itu, Yoan sengaja tak menyemir sepenuhnya berwarna hitam rambutnya itu.


"AtHaara." panggil Yoan setelah mengakhiri panggilan.


"Ya?" sahut Haara membuyarkan lamunannya.


"Paman ku sudah di bawah." seru Yoan.


"Ah! ya sudah temui pamanmu, nanti aku menyusul turun ke bawah." sahut Haara.


"Baiklah."


Cup!


Haara terdiam saat Yoan mencium keningnya.


"aku tunggu kamu di lobi ya." seru Yoan tersenyum.


Haara menahan senyumnya dan mengangguk


●•●•●•●•●


Yoan tersenyum saat berada di dalam lift, ia tak bisa berhenti tersenyum saat mengingat wajah menggemaskan gadisnya itu.


Ting!


Yoan mengancingkan kancing jas nya dan melangkah keluar dari lift,


"Dà jiù.(paman.)" panggil Yoan,


Sang paman pun bangkit berdiri dari sofa di lobi,


Sang paman tersenyum senang dan menghamburkan pelukan pada Yoan.


Ucapan rindu pun terlontar dari mulut sang paman untuknya, Yoan senang sekali mendengar ucapan sang paman pada nya.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Ting!


Haara menghela nafasnya dari mulutnya, ia melangkah keluar dari lift dengan jalan mengendap-endap.


"Kenapa dia bisa lupa untuk memakai dasi nya sih~" seru Haara memegang dasi pria itu yang berwarna abu-abu tua.


Haara mengintip dari sebalik dinding,


Pria itu tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya, ia yakinkan jika pria paruh baya itu adalah pamannya.


"Paman Yoan bule ternyata." gumam Haara.


Gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari pintu utama apartemen.


Terlihat pria paruh baya itu sedang mengangkat telefon, dan dimana Yoan yang tengah fokus pada sebuah buku yang ia baca untuk pembahasan acara pameran teknologi baru yang akan ia presentasikan di depan awak media nanfi.


"Stt! Yooooaaaan~" panggil Haara berbisik bersembunyi di balik dinding.


Yoan mencari asal suara itu, tatapannya terhenti pada gadis yang mengintip di balik dinding yang memperlihatkan mata gadis itu saja.


Haara melambaikan tangan padanya.


"Sejak kapan ia lewat?" gumam Yoan pelan.


Gadis itu menghilang dari pandangannya.


"where's your wife? I want to meet her.


(Dimana istrimu? Aku ingin bertemu dengannya.)" seru sang paman.


"my wife is outside, she is waiting outside.

__ADS_1


(Istriku ada diluar, dia menunggu di luar.)"


"In outside??"


• • •


Yoan dan paman pun melangkah keluar, langkah Yoan terhenti saat melihat Haara yang sedang jalan bulak balik dengan langkah santai di dekat jalan.


Yoan terdiam terpana dengan Haara yang belum menyadari kehadiran nya dan sang paman.


"Is she your wife??(dia istrimu??)" tanya sang paman.


"Yes, she is my wife.(ya, dia adalah istriku.)" sahut Yoan terpesona.


"She is really very beautiful." kagum sang paman.


"Yeah, i know that. (yeah, aku tahu itu.)" sahut Yoan bangga.


Yoan terfokus pada baju gadis itu.



"Did you and your wife deliberately wear the same color? very sweet.


(apa kau dan istrimu sengaja memakai baju dengan warna yang sama? sangat manis.)" puji sang paman.


Yoan menahan senyumannya melihat warna dress Haara dan jas yang ia kenakan warna nya sama.



(anggap warnanya sama saja, oke😂?)


Haara menyadari kedatangan Yoan dan sang paman pun membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada sang paman tepatnya.


"Nǐ hǎo, Wǒ shì AtHaara Martin." seru Haara kaku.


Sang paman terkekeh merasa gemas dengan Haara yang terlihat kaku padanya.


Yoan ikut terkekeh melihat Haara yang tak paham apa yang di katakan sang paman pada nya.


●•●•●•●•●


Bruk!


Suara pintu mobil tertutup terdengar.


Yoan menatap Haara dalam.


Haara yang di tatap seperti itu oleh Yoan merasa salah tingkah.


"Kenapa menatapku seperti itu??" tanya Haara gugup.


"Tak seharusnya aku tadi belikan kamu make up." seru Yoan.


"Kenapa begitu??" heran Haara.


"Make up yang kau pakai menjadi bencana untukku." sahut Yoan.


"Bencana??"


"Ya, pasti banyak pria yang melirikmu dan menatap kagum dirimu." seru Yoan menatap Haara tajam.


"Maksudmu ... aku memakai make up terlalu tebal ya Yoan??" tanya Haara polos.


"Tidak, bukan itu maksudku." seru Yoan membuang pandangannya.


"Lalu apa sih??" bingung Haara.


"Kau terlihat tambah cantik, itu membuatku takut jika banyak pria yang mengagumi dan melihat betapa cantik nya kamu." sahut Yoan pelan.


Haara menahan senyumnya, ia menatap Yoan yang terlihat malu saat mengatakan jika dirinya itu cantik.


"Mengenai dress mu, apa kau sengaja memilih warna yang sama dengan warna setelan jas ku?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa membuang wajahmu, hm?" tanya Yoan mencoba menatap Haara.


"A-aku asal pilih kok!" sahut Haara mengelak.


"Ha? Benarkah itu?? Jawaban yang meragukan." seru Yoan serius.


Haara memejamkan matanya rapat-rapat, tidak seharusnya ia memakai dress yang sengaja ia samakan warna nya sama dengan setelan jas pria itu.


Ia merasa jika Yoan tidak menyukainya.


"Aku suka, aku sangat menyukainya." seru Yoan.


Haara menatap Yoan terkejut.


Yoan mengerutkan keningnya melihat ekspresi gadis itu terlihat aneh.


"Ada apa?" tanya Yoan.


"Aku ingin tanya, kau jawab dengan jujur." seru Haara menatap Yoan serius.


Yoan yang mendengarnya pun ikut serius.


"Baik, ingin bertanya apa??" tanya Yoan serius.


"Kau itu ... Mantan seorang Biksu ya?"


CTAZZ!!


Yoan tertohok mendengarnya, pria itu tanpa sadar membuka mulutnya tak percaya dengan penuturan gadis itu.


"Aku? Biksu?!" terkejut Yoan membulatkan matanya.


Haara mengangguk mantap menatap Yoan serius.


"Tunggu tunggu! kenapa kau memiliki fikiran seperti itu padaku???" tak percaya Yoan.


"Karena kau selalu saja bisa menebak isi fikiranku!" sahut Haara.


"Ha??!"


"Jawab jujur! Kau itu seorang Biksu ya??" tuntut Haara.


Yoan tak habis fikir mendapat tuduhan seperti itu dari istrinya.


"Apa kau sedang melawak?? Itu sungguh tak lucu lho." seru Yoan serius.


"Dimana kau bertapa?? Saat itu kau kan tinggal di Jepang, apa kau bertapa di gunung Fuji??" tanya Haara bertubi-tubi.


"Hey hey hey, hentikan! Aku hanya menebak isi fikiranmu yang kebetulan benar saja kok." sahut Yoan serius


"Bohong! kau suka sekali menebak dnegan benar isi fikiranku! tak apa jujur saja jika kau itu adalah mantan Biksu, Yoan!" seru Haara bersikeras.


"Aku . bukan . mantan . seorang . Biksu." sahut Yoan tegas dan penuh penekanan.


"Ahh~ apa kau masih menjadi seorang Biksu?" tanya Haara lagi.


Yoan menghela nafasnya kasar sambil memijat pelipisnya pening.


"AtHaara." seru Yoan serius.


"Hm?"


Yoan memajukan kepalanya menatap Haara lebih dekat.


"Eh? Mau ngapain?? Ada pak supir ih!" seru Haara was-was.

__ADS_1


"Lihat wajahku, apa wajahku itu terlihat seperti seorang Biksu?" tanya Yoan tajam.


Haara mengerjapkan matanya.


"jika kepala mu gundul kauterlihat seperti seorang Biksu." sahut Haara.


Yoan emghela nafasnya kasar.


"Jika aku seorang Biksu tak mungkin aku memiliki rambut, karena menjadi seorang Biksu memiliki rambut adalah sebuah larangan." jelas Yoan tajam.


Haara membenarkan ucapan pria itu, pria itu benar.


Wajah pria itu terlihat tak ada gambaran seperti seorang Biksu, wajah pria itu terlihat tak menggambarkan sosok seorang Biksu pada umumnya.


'dia tak pantas menjadi seorang Biksu, karena wajahnya itu seram.' batin Haara.


Haara menatap Yoan ragu, pria itu menatap nya datar.


"Masih meragukan aku seorang Biksu??" tanya Yoan tajam.


"Ha?" gelagap Haara.


Yoan menarik dagu Haara yang berusaha menghindar dari tatapannya.


"Masih mencurigai suamimu ini adalah seorang Biksu, hm?" tanya Yoan dalam.


"Ti-tidak Yoan, maaf." sahut Haara merasa bersalah.


Yoan memundurkan tubuhnya menyandarkan dirinya sambil menghela nafasnya kasar.


"Seorang biksu bisa membaca fikiran? Aku seorang Biksu? Apa kau sedang membuat sejarah baru tentang ku?" seru Yoan masih tak menyangka.


"Ya aku ngga tahu, setahuku seorang Biksu itu hebat, ada yang bisa melakukan hal seperti sulap dan hal-hal yang tak semua orang bisa, mereka itu sangat mengagumkan! mana ku tahu mereka tak bisa baca fikiran." sahut Haara merasa bersalah telah menuduh Yoan.


Haara mencuri-curi pandang ke arah Yoan, terlihat wajah pria itu terlihat tak mood.


Rasa bersalahnya makin menjadi-jadi pada pria itu.


●•●•●•●•●


Mobil terparkir rapih di parkiran bawah tanah,


Haara tersenyum tipis pada seorang supir yang membukakan pintu untuknya,


Ia melangkah ragu mendekati pria itu.


Terlihat pria itu melangkah tengah merapihkan jas nya dan berbicara dengan sang paman.


'Yoan sepertinya marah denganku.' batin Haara sedih.


• • •


Yoan mengerutkan keningnya merasa ada yang hilang.


"Kemana Haara?" guman Yoan mencari, ia memutar tubuhnya melihat gadis itu melangkah ragu ke arahnya.


"Hahh, ku kira kau di samping ..."


"Yoan marah sama aku ya?" tanya Haara ragu.


"Marah?" tanya Yoan bingung.


"Tentang tadi aku menuduhmu seorang ... Biksu." seru Haara takut.


Yoan menghela nafasnya, ia tak menyangka jika gadis nya itu mudah sekali berfikir jika dirinya marah dengannya.


"Tidak, aku tidak marah." sahut Yoan mengusap pipi Haara lembut.


"Maafin aku telah menuduhmu yang tidak-tidak, ya?" merasa bersalah Haara.


"Aku tidak marah, hey~" seru Yoan menangkup kedua pipi Haara.


"..."


"Tatap aku." -Yoan.


Haara menatap mata pria itu.


"Aku tak marah denganmu karena hal tadi, jangan berfikir negatif, ya?" seru Yoan meyakinkan Haara.


"Benar tak marah?" tanya Haara ragu.


Yoan mengangguk,


"Aku tak marah, aku menganggap tuduhanmu itu tadi adalah sebuah candaan saja, jangan difikirkan lagi ya?" senyum Yoan lembut.


Haara mengangguk.


"What's wrong?"


Yoan dan Haara menatap sang paman yang kebingungan.


"It's nothing." sahut Yoan tersenyum tipis pada pamannya.


"Ayo kita masuk."


"ah! tunggu dulu! Aku baru ingat! Kamu lupa memakai dasi!" ingat Haara.


"Dasi??"


"Iya, lihat ini." seru Haara mengacungkan dasi pria itu.


"Ah, iya aku lupa." ingat pria itu.


"Dà jiù(paman) wait a minute." seru Yoan menyuruh sang paman tunggu.


Sang paman pun memberi intruksi pada penjaga berjas untuk tunggu.


Yoan menatap Haara penuh arti, sedangkan gadis yang ia tatap terlihat salah tingkah.


"Kalau seperti itu aku ingin kau pakaikan untukku." bisik Yoan.


"Ha?! Ta-tapi disini ..."


"Pakaikan aku dasinya, nyonya Zhao." seru Yoan menatap Haara penuh harap.


...•...


...•...


...Author : " Yoan makin ga ada obatnya saja nih bucin nya, manja pula sama Haara wheheh😋"...


...•...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak-kakak Readers👋...


...Hai, kakak-kakak author👋...


...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...


...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...


...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...


...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...

__ADS_1


...See you tomorrow😇...


 


__ADS_2