My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Honey Moon?


__ADS_3

Haara membuka matanya perlahan, suara bising seseorang yang sedang berbicara di telfon membuat tidurnya terganggu.


Pandangan yang buram dan lama-lama menjadi jelas, tubuh jangkung seorang pria yang berdiri membelakanginya yang terdengar sedang berbicara dengan lawan bicaranya lewat telefon pria itu.


Haara menduduki dirinya sambil mengucek-ucek matanya, ia tak paham apa yang pria itu ucapkan,


Ia dapat menyimpulkan jika pria itu sedang berbicara menggunakan bahasa Mandarin.


Haara mengerjapkan matanya yang masih terasa berat.


Suara hembusan nafas terdengar dari pria itu setelah mengakhiri panggilannya.


"hm? sudah bangun?" tanya Yoan menghampiri Haara dan duduk di tepi kasur.


Haara mengangguk.


"Kau sedang telfonan dengan siapa tadi? Terdengar serius sekali." tanya Haara dengan suara yang terdengar lucu.


"Dengan paman ku yang berada di Guangzhou, China." sahut Yoan merapihkan rambut gadis itu yang terlihat berantakan.


"Paman? Kau ini punya berapa paman? Banyak sekali sepertinya~" heran Haara memejamkan matanya dengan posisi masih duduk.


"Dia itu paman dari mama ku." kekeh Yoan.


Haara mengangguk-angguk paham.


"Tidur lagi saja jika mengantuk, hm?"


"Sudah jam berapa?"


"Jam setengah sepuluh kurang."


"Sungguh??"


"Ya, kau lapar?" tanya Yoan.


"Iya, perutku bunyi, apa kau tak dengar." cemberut Haara.


"Tidak, kalau seperti itu biar aku dengar langsung." goda Yoan.


Haara memeluk perutnya menatap Yoan tajam.


"Jangan macam-macam, tuan!"


"Aku bercanda, pergi mandi sana, habis itu kita makan." seru Yoan.


Haara memijakkan kakinya di lantai dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Yoan menatap layar ponselnya, ia larut dalam fikirannya.


●•●•●•●•●


• • •


• •



Haara meminum habis airnya, ia merasa senang perutnya sudah merasa kenyang.


"Biar aku saja." seru Haara mengambil piring pria itu, ia akan mencuci piringnya.


Yoan menghela nafasnya berat, ia pun melangkah mendekati Haara dan menduduki dirinya di meja set dapur, ia menatap Haara ragu.


"Kau terlihat gelisah dari tadi? Apa ada hal yang ingin kau katakan padaku?" tebak Haara menatap Yoan sekilas.


"Hm, kau bisa menebaknya ternyata." sahut Yoan, ia tertegun dengan kepekaan gadis itu.


"Ada apa? Hm?" tanya Haara lembut, ia mengeringkan tangannya sehabis mencuci piring.


Yoan menatap Haara.


"Aku akan ke China malam ini."


"Eh? Malam ini??" terkejut Haara.


Yoan mengangguk.


"Ada acara khusus besok malam, acara pameran teknologi baru yang akan di publish di China. Dan juga ada pameran Seni yang mengundangku hadir dua hari mendatangnya." jelas Yoan.


Haara mengerutkan keningnya bingung.


"Publish di China?"


"Ya, paman sudah menyelesaikan rancangan kedua yang sebelumnya ku buat dan kini tinggal mengenalkannya pada media di China." jelas Yoan.


"Lalu, apa hubungannya denganmu menghadiri acara pameran seni itu?" tanya Haara.


Yoan tersenyum tipis.


"Karena aku telah menyuntikkan dana untuk acara pameran seni itu, mereka pasti akan mengutamakan diriku dan mengharapkan kehadiranku." jelas Yoan.


Haara mengangguk-angguk paham, ia baru memahaminya.


"Berapa lama?" tanya Haara penasaran.


"Entahlah, karena aku juga akan membantu paman untuk berdiskusi untuk proyek baru di Guangzhou juga, aku tak bisa memastikan hingga kapan." sahut Yoan.

__ADS_1


"Ah, seperti itu." sahut Haara tersenyum tipis.


Yoan menatap Haara bingung.


"AtHaara?"


"Hm?"


"Ikutlah denganku ke China."


Haara yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut.


"Ka-kau mengajakku ke China??!"


Yoan mengangguk.


Haara larut dalam fikirannya.


"Ta-tapi ngapain aku di sana? sedang kan kau akan mengurus pekerjaan disana."


"Pekerjaanku cuma ada di Indonesia AtHaara. aku itu ke China untuk membantu paman dan menghadiri undangan pameran seni juga di Guangzhou." seru Yoan menggenggam tangan Haara.


"Aku takut menganggu konsentrasimu~" sahut Haara pelan.


"Kau akan menganggu fikiranku jika kau tak ikut denganku ke China." sahut Yoan.


"Sungguh tak menganggu??" tanya Haara ragu.


"Aku malah senang jika kau ikut, kita akan liburan di sana mengunjungi beberapa tempat sampai kita merayakan malam tahun baru bersama di Guangzhou nanti, bagaimana?" seru Yoan penuh harap.


Haara menatap Yoan dengan tersenyum cerah, ia mengangguk mantap.


"Sungguh?" tanya Yoan memastikan.


"Iya Yoan, aku ikut!" sahut Haara mantap.


"Ya sudah, kita minta izin ya." seru Yoan mengacak-acak rambut Haara gemas.


"Kebiasaan kamu ini Yoan~" kesal Haara menatap Yoan yang tertawa, pria itu melangkah pergi meninggalkan Haara di dapur.


●•●•●•●•●


• • •


• •



"Pergi ke China??" terkejut Juan, papa Haara.


"Iya, saya tahu jika ini terlalu tiba-tiba, paman menelfonku mengatakan jika rancangan yang paman ku buat yang berawal dariku telah selesai di rancang copy-annya dan besok akan mempublishnya secara besar-besaran."


"Dan juga saya di undang hadir ke acara pameran seni itu 2 hari mendatang, saya pun harus mempersiapkan 2 hal yang harus dipersiapkan untuk acara-acara itu." jelas Yoan


"Jadi saya akan membawa AtHaara bersama saya, karena saya entah sampai kapan disana." seru Yoan setelah menjelaskan.


"Kau disana apa akan sibuk, Yoan? Jika kau sibuk, kasihan Haara akan kesepian di sana." nasihat Stephannie.


"Tidak ma, Haara akan ku ajak kemana pun, tak akan ku tinggal sendirian." jelas Yoan.


"Bagaimana dengan AtHaara? Apa ia ingin ikut atau tidak denganmu?" tanya Tao Ming.


"Iya benar sayang. Kamu mau ikut Yoan ke China?" tanya Lucy.


"Aku mau ikut Yoan mama." sahut Haara mantap.


"Baiklah, papa izinkan kalian, jaga AtHaara dan jaga diri mu juga." izin Juan martin.


"Iya papa, terima kasih." senyum Yoan.


"Kalian mau honey moon ya?" tanya Anna curiga.


"ho-honey moon???" seru Haara terkejut.


"Tidak, kami sekalian pergi berlibur." sahut Yoan.


"Sama saja, berlibur itu sama seperti honey moon, Yoan." seru Ammar.


Yoan mengulas senyum terpaksa.


"Kami pergi bukan untuk berbulan madu, kakak-kakak iparku~" sahut Yoan.


"Papa berharap besar dan percaya padamu Yoan, jangan melakukan hal diluar batas pada AtHaara, ingatlah dia masih seorang siswi SMA." seru Juan serius.


"Baik papa, akan aku ingat." sahut Yoan menatap Ammar dan Anna tajam.


Anna dan Ammar cekikikkan.


• • •


Haara melangkah masuk ke dalam kamarnya dan mengintip hal apa yang pria itu lakukan sekarang.


Pria itu kini tengah sibuk memilih beberapa setel jas.


"Yoan?"


Yoan yang terpanggil pun menengok.

__ADS_1


"Kau sedang apa?" tanya Haara bingung.


"Bisa kau bantu aku memilihkan jas mana saja yang akan aku gunakan nanti?" seru Yoan menatap Haara.


"Hm? Mmmm ..." dehem panjang gadis itu berfikir keras.


"Jas Kotak-kotak berwarna Abu-abu ini aku suka, dan juga jas biru tua ini juga aku suka." seru Haara mengangkat dua jas milik pria itu untuk di cocokan di tubuh Yoan.


"Ah, kau pantas menggunakan model apapun." seru Haara kebingungan memilih antara kedua jas itu.


Yoan terkekeh.


"Apa itu sebuah pujian?" tanya Yoan.


"Ey~ bahkan kau sering mendapat pujian, kenapa kau senang sekali aku memujimu?" seru Haara mencoba mencocokkan dengan kemeja-kemeja milik pria itu.


"Lebih terdengar mengharukan kau yang memujiku." kekeh Yoan menduduki dirinya di tepi kasur.


"bisa saja kamu." malu Haara.


"Untuk yang jas biru tua, kemeja nya biru muda dan dasi nya .. Merah saja, cocok!" seru Haara sibuk sendiri.


"Aku tak mendapati kopermu, kemana?" tanya Yoan.


"Hahh~ aku ke Jepang itu tanpa membawa salinan pakaian tahu." sahut Haara.


"Lalu bajumu ini? Kau membelinya??"


"Aku di pinjamkan oleh Xi Cha, kebetulan kami satu size." sahut Haara enteng.


"Memalukan aku saja." seru Yoan.


"Apa maksudmu?" heran Haara.


"Kau meminjam baju adik ipar mu sendiri. Kau mempermalukanku sebagai suamimu, hahh~ mau taruh di mana wajahku jika istriku sendiri itu meminjam baju." hela nafas Yoan.


Haara tertawa mendengarnya.


"Mereka pasti mengataiku seorang CEO internasional yang tak mampu membelikan baju untuk istrinya sendiri, hahh~" seru Yoan malu membayangkannya.


Tawa Haara pecah saat itu juga, ia menutup wajahnya malu.


"Ayo." seru Yoan bangkti berdiri.


"Eh?? kemana??" tanya Haara.


"Pergi beli baju, akan ku beli satu toko baju untukmu." seru Yoan.


"Hey hey hey, kau bercanda kan?" tak habis fikir Haara.


"Aku serius, satu toko saja tak akan membuatku bangkrut." sahut Yoan serius.


"Wah, sombong sekali~"


"Aku tidak sedang menyombongkan diri." sahut Yoan.


"Hahh, terserah apa katamu, beli baju nya satu pasang saja untuk dipakai saat berangkat." sahut Haara.


"Satu pasang???"


"Nanti aku ingin beli baju disana saja, aku malas membawa koper." cengir Haara.


"Hahh, baiklah~ ayo." ajak Yoan.


Haara pun tersipu malu.


...•...


...•...


...Author: " ini bisa di sebut honey moon bukan ya😂?"...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...


...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...


...❗Jangan lupa untuk❗:...


...✔like,...


...✔vote,...


...✔rate 5 star, dan...


...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...


...📜Pesan dari Author:...


..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...


...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...


...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...

__ADS_1


__ADS_2