My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Keras Kepala


__ADS_3

Perlahan Yoan membuka matanya, pandangannya yang kabur pun berubah menjadi lebih jelas.


Matanya melirik ke berbagai arah,


"Yoan? Syukurlah kau sudah sadar~" seru dokter Wang,


Yoan mencoba menduduki dirinya namun dilarang oleh dokter Wang.


Ia dapat melihat semua orang di ruangan ia kehilangan kesadaran berada di satu ruangan dengannya,


Pandangannya fokus pada gadis yang menatapnya khawatir, ya~ dia adalah istri kecilnya.


"Aku akan periksa keadaanmu terlebih dahulu" jelas dokter Wang


"Bagaimana keadaan Yoan, Bae?" tanya Tao Ming,


"Ia terlalu berat memikirkan hal yang lampau, itu membuat kepalanya terasa sakit" jelas dokter Wang,


"Seperti nya Yoan akan dira ..-"


"Aku ingin pulang saja" sela Yoan cepat,


Dokter Wang Bae menatap Yoan yang menutup mata nya dengan pergelangan tangannya


"Tapi Yoan, kau butuh pemantauan dari .."


"Aku baik baik saja"


"Yoan, bahkan tadi .." - Tao Ming,


"jangan anggap aku ini sedang sakit, aku tidak sakit!!" seru Yoan menahan emosinya,


"Akh!!" rintih Yoan memegang kepalanya dan menduduki dirinya,


"Yoan, jangan paksakan dirimu, turuti saja yang terbaiknya bagaimana" seru Ammar memegang pundak Yoan,


"Aku . Ingin . Pulang" seru Yoan yang tertunduk sambil memegang kepalanya,


"Yoan ayolah~" seru Anna menghela nafasnya,


Yoan tak menyahut, ia hanya tertunduk sambil menahan denyutan nyeri di kepalanya, sang nenek menghampiri nya sambil mengusap usap pundak Yoan.


Ammar dan Anna menatap Stephannie dan Tao Ming bergantian, Anna dan Ammar menuntut keputusan dari keduanya.


"Tidak! Jangan turuti kemauannya!!" seru Haara tegas,


Semua menatap Haara terkejut dengan ucapan gadis itu,


"Biarkan dia disini! Dia akan dirawat disini!" seru Haara lagi mantap,


Yoan mendecih saat mendengarnya,


"Apa apaan kau ini?" seru Yoan menatap Haara sinis,


"Turuti saja yang diminta dokter Wang, ini demi kebaikkanmu juga!" sahut Haara gugup,


"Cih, benar benar menyebalkan, dasar bocah!" sahut Yoan mendecih,


Haara mendengus kesal, ia melangkah sambil menghentakkan kakinya kesamping kamar Yoan,


"Apa? Bocah?! Aku ini bersikap dewasa, aku memahami mana yang lebih baik! kau sendiri yang bersikap seperti anak-anak, di minta agar dirawat saja yang ada meminta pulang, dasar bocah!" omel Haara bertelak pinggang.


Semua terdiam saat mendengar omelan Haara,


Yoan membulatkan matanya dan menganga mendengar penghinaan gadis itu,


"Ahahaha! Baru kali ini ada yang berani menentang kemauan kak Yoan yang keras kepala sampai membuatnya ternganga" tawa Yifan tertawa,


Hal itu membuat semua yang ada diruangan tertawa kecil, kecuali Haara dan Yoan sang korban pembicaraan Yifan.


Yoan mendengus menatap Haara kesal,


"Kenapa kau membalikkan fakta ha?!" seru Yoan


"Aku tidak membalikkan fakta, memang fakta nya itu mengartikan dari kelakuanmu, turuti saja baiknya bagaimana, tuan Yoan!" sahut Haara menggebu,


Yoan mendengar tawa yang bersahutan, semua orang diruangan mentertawainya saat ini,

__ADS_1


Ia menatap Haara tajam dan menusuk,


"Apa? Kau tak terima aku marahi? Ha?!" seru Haara menyadari tatapan maut pria itu,


"Akan ku balas kau!" seru Yoan kesal.


●•●•●•●•●


Haara membuka pintu ruang rawat Yoan berada dan kembali menutupnya saat ia telah masuk,


"Pulang sana" seru Yoan


Haara menatap Yoan seketika,


"Kau .. Kau mengusirku?" tanya Haara,


"Ya!"


"Tidak! Aku akan menginap disini"


"Pulang!"


"Tidak mau!"


Yoan menghela nafasnya kasar,


"Apa kau marah karena aku memarahimu tadi?" tanya Haara santai melangkah ke samping kamar Yoan,


Yoan tak menyahut,


"Aku lakukan itu agar mereka semua tak khawatir denganmu" seru Haara lagi,


"Aku sudah menuruti kemauanmu untuk dirawat disini, jadi bisa kau turuti kemauanku?" tanya Yoan,


Haara menatapYoan bingung,


"Aku minta kamu pulang"


"Kenapa kau terus mengusirku? Bahkan kau disini!"


"Karena esok kau sekolah"


Yoan melempar tatapan terkejut saat gadis itu dengan nada santai


"Baiklah jika itu maumu, aku akan membuatmu mengerjakkan 50 soal fisika esok" sahut Yoan,


"Hee?? Itu terlalu kejam!"


"Sekolah atau 50 soal dariku?" tanya Yoan,


"Baik baik, aku akan sekolah saja"


"Ya sudah sana pulang"


"Bagaimana bisa aku pulang sedangkan suamiku sendiri disini!" sahut Haara cepat


Yoan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan gadis itu baru saja,


Haara memalingkan wajahnya


"Lu lupakan saja ucapanku" seru Haara gugup beranjak akan pergi,


Langkah nya terhenti saat Yoan memegang pergelangan tangan Haara,


"A ada a apa?" gugup Haara


"Mengkhawatirkanku?" tanya Yoan,


"Ti tidak!"


"Pembohong"


"Aku .. Aku hanya keceplosan"


"Ahh, jadi kau mengkhawatirkanku"


"Bu bukan .."

__ADS_1


"Kenapa sangat sulit mengatakan sejujurnya padaku? .. Istriku?"


Deg!


Jantung Haara seolah mencelos mendengarnya,


"U ucapanmu terlalu menggangguku" sahut Haara gugup


'Hiburan bagiku' batin Yoan,


"Mengganggu dimananya? Bahkan kau memang istriku nona"


Jantung Haara makin memompa saat mendengar nya


"Lepas tidak??" tuntut Haara menatap tangan Yoan yang memegang pergelangan tangannya,


Yoan menunjukkan wajah polosnya tanpa disadarinya sambil memiringkan kepalanya saat Haara menatap nya,


Haara memajamkan matanya saat itu juga, Yoan terlihat seperti anak anak saat menunjukkan raut seperti itu, apalagi saat memiringkan kepalanya, Haara merasa Yoan sangat menggemaskan.


"Ada apa? Kau baik baik saja" tanya Yoan,


"Ti tidak ada, aku baik baik saja!" sahut Haara cepat mencoba melepaskan genggaman Yoan,


Sret!!


Matanya terbelalak saat Yoan meletakan telapak tangannya di kening Haara.


"Wajahmu merah, kau sakit?" tanya Yoan serius,


"Aku baik baik saja Yoan, aku tidak sakit" sahut Haara gugup,


"Aku pernah melihat wajahmu semerah ini saat aku mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu" seru Yoan menarik tangannya,


"Eh?"


"Apa kau sedang gugup denganku?"


Matanya membulat seketika, ia ketahuan!


Haara terdiam, mulutnya bungkam


Terdengar suara tawa dari pria itu membuatnya menatap pria itu bingung,


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Yoan yang masih tertawa,


"Aku bingung kenapa kau tertawa?!" kesal Haara,


"Karena ekspresimu terciduk denganku membuatku tak tahan menahan agar tidak tertawa" sahut Yoan kembali tertawa


Haara mendengus kesal tapi ia sedikit merasa tenang sekarang melihat pria di hadapannya sekarang tertawa,


Seketika kesedihan Haara sendiri saat mendengar ucapan tentang masa lalu pria itu lenyap,


sebelum pria ini pingsan, ia mendengar suara ribut ribut membuat ia terbangun dan mencari asal suara ribut ribut itu,


Dan ternyata suara ribut itu berasal dari pria dihadapannya ini,


Semua perasaan pria itu tadi tergambar jelas dari ucapan keluhannya pria itu kepada keluarga nya tadi.


Haara tersenyum dalam lamunannya,


"Hoi? Kenapa kau tersenyum? Bahkan aku sedang mengejekmu" seru Yoan,


"Begitukah? Maaf aku tak dengar" sahut Haara santai, tangannya sudah dilepaskan dari genggaman Yoan sendiri


Haara melangkah ke jendela yang menapakkan pemandangan kota disana.


"Apa kau mendengar semuanya tadi?"


"ha?".


...•...


...•...


...{Bersambung}...

__ADS_1


...•...


hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏


__ADS_2