My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sikap Posesif


__ADS_3

"Ja-jadi AtHaara sudah bertunangan dengan ... Tuan Yoan???" seru Yura terkejut.


"Cih, Chikushō! (sialan!)." umpat Zen pelan, ia bangkit berdiri.


Sret!!


Dengan gerak cepat Yoan menarik kerah baju Zen dan menunjukkan tatapan kilat pada Zen.


"Anata wa ... rokudenashi! (*kau ...baj*ngan*!)" seru Yoan menekankan kalimatnya.


Zen terkejut saat Yoan memahami ucapan bahasa tanah air nya dan dapat berbicara bahasa Jepang.


"Saya minta padamu jangan pernah ganggu lagi gadisku! Jangan pernah berharap kau bisa merebut dia dariku! Jika kau berani bergerak untuk mencoba merebutnya lagi, ku pastikan kau akan lumpuh tak bisa berjalan!!" ancam Yoan masih menekankan kalimatnya.


Bruk!


Zen didorong dan jatuh terduduk di aspal lapangan.


"Kau hanya seorang mantannya saja, jangan berfikir kau bisa mendapatkan gadisku kembali, mantan hanyalah mantan, menjijikan." seru Yoan mendecih.


Zen yang mendengarnya merasa tersinggung.


"sadar dirilah, tingkatan mu itu dengan tingkatanku berbeda jauh, jangan buang-buang tenaga mu, lebih baik kau pulang ke Jepang dan meminta maaflah pada istrimu di rumah." seru Yoan kencang.


Keterkejutan kini kembali menyelimuti banyak tim penyimak di berbagai sudut dan tempat.


"Ap-apa??? Kak Zen! Ka-kau sudah beristri????" tak percaya Rey.


Zen tak bisa menimpalinya, ia mati kutu.


"Saya akan memecatmu dan memulangkanmu ke Jepang, lebih baik sekarang kau kembali ke apartemenmu dan bereskan semua barang-barangmu." seru Yoan datar.


Yoan menarik tangan Haara untuk pergi dari sana, namun ...


"Bisakah anda mengembalikkan Haara pada saya? Bahkan cinta pertamanya adalah saya."


Yoan mengehentikkan langkahnya saat mendnegar ucapan Zen.


Haara terkejut mendengarnya, dengan cepat ia menatap Yoan yang menunjukkan raut tersulut emosi.


Bahkan Zen telah membuat posisinya dalam bahaya.


"Yoan, tak usah hiraukan, ayo kita ..."Haara.


"Bahkan saya yang lebih memahami siapa Haara dibandingkan dengan anda, anda hanya ..."


BUK!!


Zen untuk kesekian kalinya terjatuh, dia sungguh terkejut karena dengan gerak cepat Yoan sudah berada dihadapannya dan menghajar wajahnya kuat membuat sudut bibirnya berdarah.


"Bed*bah! Dasar hama sial*n!!" sulut emosi Yoan yang kembali menghajar Zen.


Siswa-siswi di sana pun panik bukan main termasuk para senior di sana yang tak berani memisahkan Yoan dengan Zen.


"Yoan! Hentikan Yoan!" seru Haara yang berniat akan memisahkan Yoan dari Zen.


"Haara jangan mendekat! Nanti kamu ..." -Yura.


"Lepaskan aku kak!" seru Haara memberontak.


'Sial! Pukulannya benar-benar membuat pergerakanku terkunci!' batin Zen menahan sakit.


"Yoan sudah Yoan, hentikan, ini di sekolah Yoan!" seru Haara menarik tangan Yoan untuk menjauh dari Zen.


Yoan tak bisa melawan ucapan Haara dan memberontak saat Haara mengunci pergerakkan tangannya.


"Yoan tenanglah, tenangkan dirimu." seru Haara lembut.


"Hey hey! Ada apa ini??"


Billy dan beberapa guru pun datang menghampiri nya,Yoan, dan yang lainnya.


"Lho? Yoan? AtHaara? Ada apa ini??" tanya Billy bingung.


"Zen dan Yoan bertengkar, pak." seru Haara berat Hati.


Billy menghela nafasnya kasar.


"Yoan AtHaara, ikut dengan paman." seru Billy pening.


"Pak Haris, tolong bawa Zen ke UKS." perintah Billy melangkah pergi.


●•●•●•●•●

__ADS_1


• • •


• •



Billy memijat pelipis nya pening saat mendengar alasan dari Yoan yang bediri di seberang meja nya.


"Paman tahu kamu kesal dan marah, tapi bisakah jangan bawa urusan pribadi kalian sampai membuat sekolah serta pada siswa siswi mempertontonkan kalian?? Bahkan itu adalah aib kalian!" emosi Billy.


"Maafkan aku paman, aku salah." sahut Yoan menunduk dengan tatapan kosong.


"Ahh~ pusing kepalaku! Harus bagaimana aku menangani peristiwa ini sekarang??" frustasi Billy.


"Pak Billy." panggil Haara.


"Ada apa? Apa kau ingin membela Yoan??" seru Billy pening.


"Pak, dengarkan saya, saya ingin mengatakan sesuatu mengenai sikap buruk Zen terhadap saya belakangan ini." seru Haara memohon.


"Sikap buruk? Apa maksudmu?" tanya Billy.


Haara pun buka suara dan mulai menceritakan hal buruk tentang Zen yang selalu mengganggunya dan bahkan hampir berbuat kurang ajar padanya, hal itu membuat Billy terkejut.


"Jadi tujuan Yoan kesini yaitu ingin memberitahu pada paman dan mengambil tindakan atas kelakuan Zen pada ku, bahkan dia sudah menikah, dengan mudah nya dia berkata akan menceraikan istrinya dan ingin bersama saya, ia menyatakan perasaannya pada saya dan mengajak saya menikah di lapangan, di pertontonkan siswa siswi, itu adalah lelucon paling gila pak Billy." jelas Haara panjang lebar.


Billy benar-benar tak habis fikir, bahkan kini kemarahannya mereda pada Yoan dan beralih pada Zen.


"Paman akan mengurus ini segera, paman akan tinggal kalian berdua disini." seru Billy pergi.


Haara tersenyum tipis saat melihat Billy akan mengambil tindakan mengenai Zen.


"Maafkan aku."


Haara mengalihkan pandangannya pada Yoan yang berdiri di sampingnya.


"Maaf telah membuat keributan, membawa hal privasi kita berdua dan menyebarkannya, aku minta maaf AtHaara." seru Yoan bersalah.


Haara menatap Yoan sendu.


"Yoan." panggil Haara.


Yoan yang terpanggil pun perlahan menatap Haara disebelahnya.


Dapat dilihat gadis itu merentangkan tangannya dan tersenyum manis padanya.


Yoan yang melihatnya tak bisa berkata-kata, pria itu pun langsung memeluk Haara erat.


Pria itu memeluk Haara erat, tubuh pria itu seketika melemah saat di pelukan Haara.


"Aku minta maaf, aku minta maaf AtHaara~" seru pria itu dengan nada sangat bersalah.


"Tidak apa-apa Yoan~" sahut Haara lembut.


"Apa kau membenciku?" tanya Yoan.


"Eh?"


"Apa kau membenci sikapku? Apa kau benci aku yang terlalu posesif padamu?" tanya Yoan lemah.


"Yoan apa yang kau bicarakan??" kebingungan Haara.


"Jika kau membencinya, katakan padaku, jika kau tak suka sikapku yang terlalu posesif aku akan merubah sikapku, aku tak mau kau membenciku." seru Yoan dengan nada takut.


"Yoan, aku tak pernah benci padamu, apalagi dengan sikapmu yang posesif padaku, aku tak pernah bilang aku tak menyukainya, dan juga yang awal menyebarkan privasi itu Zen yang memulai, bukan kamu." seru Haara serius.


"Sungguh?"


"Iya sungguh, dan juga perlu kau ketahui, aku suka sekali dengan sikapmu yang posesif padaku, aku merasa jika aku benar-benar sangat dicintai oleh mu, bahkan dengan sikapmu yang sekarang padaku itu sangat menggambarkan semua perasaanmu padaku." jelas Haara mengelus-elus rambut Yoan sayang.


"Jadi kau menyukainya??" tanya Yoan memastikan.


"Aku menyukainya, sangat menyukainya, aku sangat suka kau hanya berlaku posesif padaku seorang." sahut Haara.


Di balik itu Yoan tersenyum senang mendengarnya, sangat senang sekali.


"Terima kasih AtHaara." seru Yoan melepaskan pelukkan nya menatap Haara sendu.


"aku juga berterima kasih padamu karena sudah menunjukkan rasa cintamu padaku dengan perlakuanmu." sahut Haara tersenyum manis.


●•●•●•●•●


• • •

__ADS_1


• •



Disinilah Haara sekarang, di kantor perusahaan milik suaminya.


Ini adalah kali kedua ia datang ke kantor suaminya itu, kenangan pertama yang buruk mungkin tak perlu di anggap, itu terlalu menyesakkan meski hanya salah paham.


"Yoan, aku takut menganggu pekerjaanmu." bisik Haara saat melihat beberapa karyawan menatapnya.


"Tidak, kau ikut denganku, kau akan ku awasi belajar di ruanganku." seru Yoan semakin menggenggam tangan Haara erat masuk ke dalam lift.


"Ha?? Mengawasiku belajar?? Bahkan itu tak perlu, aku bisa belajar sendiri di penthouse." sahut Haara.


"Tidak, aku tak ingin kau membantah."


Haara yang pasrah hanya mengangguk meng'iya'kan.


Haara membuntuti Yoan masuk ke dalam ruangan pria itu.


Sungguh sangat memukau sekali ruangan kerja seorang CEO, ia terkagum-kagum melihatnya, terlihat modern sekali.


Sangat aesthetic.


Haara menduduki dirinya di sofa.


"Hahh~ nyaman sekali, pantas kau suka sekali kerja lembur." seru Haara cemberut.


Yoan terkekeh, ia ikut menduduki dirinya di sebelah Haara.


"Lebih nyaman di penthouse, aku lebih suka tidur daripada harus memilih berhadapan dengan tumpukkan dokumen." sahut Yoan.


"Hobimu itu kan bekerja, sejak kapan kau mulai mengesampingkan hobimu dan memilih tidur daripada berhadapan dengan setumpuk dokumen??" tanya Haara menyindir.


Yoan memajukkan tubuhnya, pria itu ingin memotong jarak antara mereka.


"Aku mengganti hobiku menjadi tidur itu sejak ... Kau tidur satu kamar denganku, itu menjadi hobi baruku~" seru Yoan tersenyum menggoda.


"H-ha??"


"Apalagi jika tidurnya sambil memeluk kamu, aku menyukainya sekali!" seru Yoan lagi berbisik telinga Haara.


Blush~


...•...


...•...


...●...


...🎐Bersambung🎐...


...●...


...•...


...•...


...Author: "ngga kenal orang kayaknya Zen, Yoan pun di tantang, apa Zen bakal sadar ya habis ini?🤔"...


...•...


...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...


...⭕Jangan lupa:...


...👍 Like,...


...🏷Vote,...


...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...


...❤Favorite,...


...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...


...💃谢谢大家!💃...


...(Xièxiè dàjiā!)...


...(Terima kasih semuanya!)...


...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...

__ADS_1


...see you next tomorrow❤...


🎐我的命运是赵先生🎐


__ADS_2