
Yoan membantu Haara duduk di kursi bar dapur, hari ini Yoan mengatakan jika ia akan membuatkan sarapan menggantikan Haara.
"Kamu mau buat apa?" tanya Haara melihat Yoan yang sudah berdiri di dekat kulkas.
Pria itu tak menjawab, pria itu fokus pada ponselnya.
Haara tertunduk sedih, pria itu kembali mencuekinya.
"Kamu bicara apa tadi?"
Haara dengan cepat menegakkan kepalanya.
"Ha?"
"Tadi aku sedang baca pesan dari Ammar, kau bicara apa tadi? Aku tak mendengarnya." seru Yoan mengetik pesan dan melirik Haara sekilas.
"Ah! Itu, kamu ..." gantung Haara.
"Aku, kenapa?" tanya Yoan meletakkan ponselnya di meja bar.
"Kamu mau masak apa?" tanya Haara ragu.
Pria itu tampak sedang berfikir.
"Kamu mau apa?" tanya balik Yoan menatap Haara.
"Aku ... aku mau makan mi." sahut Haara takut.
"Mi??"
Haara mengangguk ragu.
"Aku sudah lama tak makan mi, bahkan hampir satu bulan ini aku tak makan mi, boleh ya?" tanya Haara takut.
"Baiklah, kau mau ku buatkan mi apa?" tanya Yoan mengambil panci dan air.
"Aku mau di buatkan mi berkuah!" sahut Haara menahan senyumnya.
"Baiklah." sahut Yoan yang sibuk menyiapkan bahan-bahan.
Haara merasa Yoan sudah mulai sedikit perhatian lagi dengannya, meski masih terkesan sedikit aneh sikapnya, ia akan sabar menunggu seorang Yoan yang ia rindukan itu kembali.
Haara memerhatikan Yoan yang fokus memotong sosis dan bahan-bahan lainnya untuk campuran mi.
Beberapa menit kemudian mi yang di buatkan Yoan pun jadi.
Haara menelan saliva nya merasa tambah lapar saat melihat Yoan membuka tutup panci itu, aroma mi pun membuat perutnya bunyi.
Yoan menyimpan panci berisi mi itu di depan Haara.
Haara tersenyum senang saat pria itu terlihat seperti sedang melayaninya, mengambilkannya minum, sendok, sumpit, dan cemilan lainnya.
"mmm .. Yoan? Kamu tak buat mi juga? Apa kamu tak mau makan mi?" tanya Haara yang melihat Yoan duduk di sampingnya fokus bermain ponsel.
"Aku belum lapar, nanti saja." sahut Yoan sedang mengetik pesan.
Haara menatap mi nya, mi itu sangatlah banyak.
"Kamu buat berapa mi nya?" tanya Haara.
"Dua bungkus, aku tahu kau makan satu bungkus saja tak akan kenyang." sahut Yoan tanpa menatap Haara.
'Bahkan ia tahu jika aku suka membuat mi dua bungkus sekaligus.' batin Haara.
Yoan fokus membaca pesan dari Ammar dan membalas pesan dari sahabatnya itu.
Yoan mengepalkan tangannya kuat saat membaca isi pesan dari Ammar.
"Yoan?"
Yoan yang terpanggil melirik Haara di sebelahnya.
"Ki-kita makan bersama yuk!"
"Makan saja, aku akan buat mi ku sendiri nanti." sahut Yoan yang merasa hatinya bergemuruh.
Pria itu benar-benar menahan emosi sekali saat ini karena membaca isi pesan dari Ammar.
"Yoan masih marah denganku ya?"
Yoan yang mendengar ucapan Haara pun menatap gadis nya itu.
"Mood ku sedang buruk sekarang, ini bukan disebabkan oleh mu lagi." sahut Yoan.
"Jika seperti itu makan mi bersama denganku ya? Aku suapi." seru Haara melilitkan mi nya dengan sumpit di tangannya.
Yoan terdiam memerhatikan Haara yang sedang membujuknya.
"aaa~" seru Haara menyodorkan mi nya.
"..."
Haara menunduk sedih.
Grep!
Haara sedikit terkejut saat Yoan menarik tangannya memakan mi di sumpit yang Haara pegang.
Haara tersenyum sendu melihat respon cepat Yoan.
Gadis itu kembali melilitkan mi nya dengan sumpitnya.
"Yoan, aaa~" seru Haara tersenyum.
"Kamu dulu, kamu belum memakannya." sahut Yoan memposisikan dirinya duduk menghadap ke arah gadisnya.
"Ah iya, aku lupa!" kekeh Haara malu.
Tk!
Haara menghentikan pergerakan tangannya saat Yoan menahan tangannya.
__ADS_1
Ia memerhatikan Yoan yang mengambil ikat rambutnya yang ia jadikan gelang di pergelangan tangannya.
Haara menatap Yoan bangkit berdiri dan melangkah ke belakangnya.
Haara terdiam saat Yoan mengikatkan rambutnya.
"Kenapa tak di ikat? hanya ada kita berdua disini, tak perlu malu mengekspos lehermu." seru Yoan menatap leher bekas kecupan hasil karyanya yang tertutup rambut gadis itu tadi.
Seketika wajah Haara terasa panas, tanpa ia sadari ia melamun mengingat kejadian semalam.
"Aku mau lagi mi nya." seru Yoan yang sudah duduk di samping Haara.
"Ah iya, tunggu, nah! buka mulutmu." seru Haara tersenyum lebar.
Yoan memakan mi yang Haara sodorkan lagi.
●•●•●•●•●
"Ahh~ kenyangnya~ mi nya enak!" seru Haara tersenyum senang.
Yoan meminum air nya hingga habis, karena Haara ia akhirnya ikut makan padahal tadi mood nya sedang buruk karena isi pesan dari Ammar hal itu membuat rasa laparnya hilang, namun karena ia tak tega menolak kemauan Haara, ia berakhir makan di suapi gadisnya itu.
Yoan mengerutkan keningnya, ia mengusap sudut bibir Haara.
"Makan seperti anak kecil saja." seru Yoan
Tanpa Haara duga perhatian Yoan kini kembali timbul dikit demi sedikit hal itu membuat Haara senang bukan main.
Grep!
Yoan terkejut saat Haara tiba-tiba memeluknya erat.
"Hiks!"
Yoan yang mendengar Haara terisak pun terkejut dan mencoba menatap Haara yang memeluknya erat.
"Yoan~ aku rindu dengan Yoan yang perhatian, dan posesif padaku! Aku rindu~" histeris Haara.
Yoan memejamkan matanya rapat-rapat.
"Ku mohon maafkan aku, dan kembalilah seperti Yoan yang selalu menunjukkan rasa cintanya padaku~" mohon Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan.
"..."
"Yoan~ jawab aku Yoan~ jika kau masih marah padaku, marahi aku saja, aku lebih baik kamu marah padaku daripada sikap kamu berubah padaku seperti sekarang Yoaan~" histeris Haara memukul-mukul dada bidang Yoan.
"Ak-aku rela kau menghukumku lagi, aku tak akan mengeluh asal kau memaafkanku~" histeris Haara.
"Kau rela di hukum lagi denganku?? Apa kau tahu hukuman yang menjadi andalanku itu apa, nona?" tanya Yoan mengangkat sebelah alisnya.
Haara terdiam sejenak.
"Ak-aku tahu." sahut Haara pelan.
Yoan menunduk menatap Haara yang masih memeluknya erat.
"Se-semalam aku telah memberontak, aku janji setelah nya aku tak akan memberontak jika kau menginginkannya~" isak Haara mencengkram kemeja Yoan kuat.
'apa ucapanku telah membuatku kembali dalam bahaya?' batin Haara linglung
"Aku akan berikan apa yang Yoan mau, aku janji!" seru Haara bertekad.
"Sungguh?? Kau belum begitu memahami hasrat pria dewasaku sepenuhnya ternyata, bahkan semalam itu aku masih menahannya." seru Yoan membisikkan pada Haara.
Haara yang mendengarnya merinding dan takut.
"Jadi kau serius?" tanya Yoan.
Haara terdiam sejenak.
'aku rasa aku salah berucap.' batin Haara merutuki dirinya sendiri.
"Ak-aku ..."
Secara mengejutkan Yoan memeluk Haara erat.
Yoan mengelus rambut Haara sayang.
"Aku bercanda, jangan anggap serius." kekeh Yoan.
"E-eh!?"
Yoan yang menyadari keterkejutan Haara tertawa kecil.
"Yo-Yoaan! Aku sedang bicara serius padamu~ di saat aku sedang meminta maaf pa ..."
"Kau sedang bicara serius? Ah~ berarti tak masalah jika aku melakukannya, dimana pun, kapan pun, iya kan??" goda Yoan menarik dagu Haara.
"Huwaa~ kau menjebakku~" kesal Haara.
Yoan tertawa melihat Haara menahan kesal.
Haara membuang wajahnya menahan malu dan kesal, dan satu hal lagi, ia merutuki ucapannya yang memberi lampu hijau kapan pun itu pada Yoan.
"Maafkan aku juga ya? AtHaara." seru Yoan merasa bersalah.
Rasa kesal Haara pun langsung hilang saat mendengar ucapan Yoan yang meminta maaf padanya, Haara memegang kedua pipi Yoan tersenyum.
"Aku sudah memaafkanmu kok, lagi pula hanya waktu saja yang menentukan kapan aku memberikan tubuhku padamu, mungkin kemarin malam adalah waktu dimana aku melepas status gadis ku." senyum Haara.
Yoan tersenyum sendu.
Tuk!
Yoan memeluk leher Haara, menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu.
"Bagiku kau tetap gadis ku, wanita ku, istri kecilku." seru Yoan dalam.
Haara yang mendengarnya pun tersenyum bahagia.
"Kau seperti bicara pada anak perempuanmu saja~" kekeh Haara.
__ADS_1
Yoan menduduki dirinya tegak.
"Benarkah? Berarti aku sudah pantas jadi seorang papa." goda Yoan.
"Kau sudah pantas, tapi aku belum pantas, jangan berfikir kalang kabut!" kesal Haara.
Yoan tertawa kecil mendengarnya.
"Itu menyenangkan~" sahut Yoan santai.
"Ka-kau! Padahal baru minta maaf padaku, kenapa kamu kembali membahas hal yang semalam memaksaku sih??!" malu Haara.
"Minta maaf? Memaksa? Aku tidak berminta maaf mengenai apa yang aku lakukan padamu semalam."
"Eh??"
"Aku minta maaf karena membuatmu takut, aku tak pernah berfikir apa yang aku lakukan semalam padamu itu salah, karena itu adalah tuntutan ku sebagai suami yang harus kau berikan padaku." jelas Yoan.
Haara bungkam seketika.
"sepertinya bercandaanku yang tadi kau anggap sedikit serius saja." ucap Yoan lagi.
"Aku mau tak ada lagi penolakan jika aku menginginkannya kapan pun itu, jadilah istri penurut, paham?" tanya Yoan.
Haara menunduk malu dan merasa merinding saat Yoan mengatakan itu, ia berfikir jika sewaktu-waktu Yoan bisa menerkamnya tanpa di duga-duga.
Tk!
Yoan menarik dagu Haara membuat Haara sedikit terkejut.
"Kebiasaan selalu menunduk saat di ajak bicara, kau paham dengan yang ku katakan tadi, hm?" tanya Yoan lembut.
'Benar-benar, dia seperti memiliki banyak sisi kepribadian, ada berapa kepribadian yang ia punya?? Sekarang sosok nya berbeda lagi! Huwaa~' batin Haara.
"AtHaara~"
"H-ha?"
Yoan menatap Haara tajam.
"Ak-aku belum siap Yoan." sahut Haara takut.
"Lho? Kenapa belum siap?? Bahkan tadi kau bilang rela jika aku kembali menghukummu, kau bahkan paham hukuman yang ku maksud itu apa, bukan?" tanya Yoan bingung, ia menyelipkan rambut Haara di belakang telinga.
"Aku tahu~ tapi ... Aku takut aku hamil, kurang lebih masih ada lima bulan lagi hari kelulusanku, meski sudah lulus juga, aku belum siap Yoan." sahut Haara memancarkan tatapan memohon.
Cup!
Yoan yang tak tahan melihat wajah menggemaskan Haara pun mencium bibir gadisnya itu sekilas dan memeluk Haara erat.
"maaf aku menuntutmu seperti ini, tapu aku tak menjamin aku bisa menahan diri, daripada hal yang belum di inginkan terjadi, lebih baik kau rutin minum obat pencegah kehamilan ya?" seru Yoan lembut.
Haara tersenyum tipis, gadis itu mengangguk.
"Iya Yoan."
"Gadis baik." seru Yoan mencium pucuk kepala Haara.
Ting! Tong!
Yoan dan Haara dengan kompak menatap ke arah pintu.
Srtt!
Yoan menarik ikat rambut Haara dan merapihkan rambut gadis itu.
"Yoan? Memangnya siapa yang datang?" tanya Haara yang kebingungan saat Yoan mencoba menyembunyikan jejak kecupan di leher Haara dengan rambutnya lagi.
"Kau akan tahu." seru Yoan pergi untuk membukakan pintu.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "waspada untuk Haara sudah di peringatkan sama Yoan😆 Haara nya juga ngepancing Yoan dari awal, jadilah sebuah tuntutan dari Yoan😆...
...kira-kira siapa yang datang ya? apa ada hubungannya sama isi pesan dari Ammar yang buat Yoan bad mood?🤔"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
__ADS_1
...see you next tomorrow❤...
🎐我的命运是赵先生🎐