
Haara yang duduk dikamar rawat Yoan memainkan tangannya, ia merasa gugup saat ini. ia melirik Yoan yang duduk disebelahnya, pria itu sedang membuang wajahnya.
Entah kenapa rasanya Haara ingin sekali melihat wajah Yoan yang sehabis menangis.
Haara menarik nafasnya, ia merasa hidungnya tersumbat saat ini,
"Jangan bilang siapa siapa jika aku tadi menangis ya" seru Yoan dengan suara serak,
"Ah! mm iya!" sahut Haara,
Haara tertegun mendengarnya, Yoan berkata sangat lembut dengannya.
"Ini kali pertama aku menangis seperti tadi" seru Yoan,
"Su sungguh?" tanya Haara tak percaya,
Yoan mengangguk,
Haara menganga, ia menutup mulutnya tak percaya, seketika ia merasa menjadi seseorang yang .. istimewa.
Suara kekehan terdengar, Haara kembali menatap Yoan disampingnya, pria itu sedang tertawa.
"Ada apa dengan ekspresimu? Kau terlihat sangat terkejut mendengar aku kali pertama menangis didepanmu" seru Yoan menatap Haara
"Ahh, aku hanya tak percaya saja"
"Kenapa tak percaya? Bahkan ini kali pertamanya aku tak dapat membendung dan menyembunyikan sosok diriku yang rapuh" sahut Yoan melamun,
"Berarti aku adalah orang pertama dong?" tanya Haara semangat,
Yoan terkekeh mendengarnya,
"Ada apa? Apa ucapanku lucu?" tanya Haara,
"Tidak juga" sahut Yoan langsung diam,
Haara menghela nafasnya sambil menarap Yoan lekat
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" bingung Yoan,
"Sewaktu kau kuliah, jurusan apa yang kau ambil?" tanya Haara,
"Kenapa tiba tiba bertanya tentang jurusan ku saat kuliah?" tanya balik Yoan,
"Apa kau masuk jurusan akting?"
"Tidak, tidak berminat"
"Hmm, bahkan kau sangat pintar merubah ekspresimu dalam sekejap, seperti ini" seru Haara mencontohkan Yoan yang tadi terkekeh dan merubah ekspresinya jadi datar,
"Jangan mencoba coba mengikuti perubahan ekspresiku" Yoan mengacak acak rambut Haara membuat Haara geram,
"Aduh, Yoan~ menyebalkan!"
"Kau tidur dimana?"tanya Yoan,
"Mm disana" sahut gadis itu menunjuk sofa,
"Tidur di kasur saja"
Sontak Haara langsung menatap Yoan takut,
"Ha?! Tidak tidak tidak! Apa kau ingin melanggar janjimu sendiri agar tidak tidur satu kamar!" kesal Haara,
"Tidur? Satu kamar?" bingung Yoan mengerutkan keningnya,
"Tentu saja, kau mengajakku tidur dikamar ini bersama, itu benar benar pelecehan!" seru Haara emosi,
"Fikiranmu terlalu jauh" seru Yoan menunjukkan smirknya
"Eh? Maksudnya?"
"Aku menyuruhmu tidur dikasurku, biar aku tidur di sofa"
"A ah~ be begitu ya~" malu Haara
Haara merutuki dirinya yang berfikir terlalu berlebihan,
"Jadi kau berfikir aku dan kau akan tidur dikamar ini? Bersama?"
"Ti tidak!" sahut Haara dengan cepat melangkah ke sofa,
"Hei, mau kemana?"
"Aku saja yang tidur di sofa" sahut Haara menidurkan dirinya,
Yoan terkekeh melihat tingkah istrinya itu,
"Oh iya!" seru Haara membalikkan tubuhnya menarap Yoan,
Yoan menyahut dengan deheman,
"Kita dalam satu ruangan, jangan berfikir macam macam denganku" ancam Haara,
"Berfikir macam macam? Ah, bahkan bukannya itu fikiranmu sendiri tadi? Berfikir jika ucapanku mengartikan memintamu tidur satu kamar denganku, nona?" tanya Yoan menyeringai,
__ADS_1
Haara mengerjapkan matanya beberapa kali danmembalikkan tubuhnya lagi,
"Jangan dibahas!" malunya
Yoan menahan dirinya agar tidak tertawa.
Cukup lama ia menatap Haara, yang ia yakini jika gadis itu sudah tertidur. ia tak menyangka jika gadis itu telah membuatnya berfikir dan sadar akan dirinya yang selalu melibatkan masa lalunya ke kehidupannya yang jelas jelas sudah baik ini.
Suara ketukan terdengar,
Yoan turun dari tempat tidurnya dan melangkah untuk membuka pintu.
Dapat dilihat dokter pribadinya, Wang Bae menunjukkan ekspresi ragu ragu.
"Kau .. Tak melukai istrimu kan?" tanya Bae ragu,
"Untuk apa aku melukainya, dia baik baik saja" sahut Yoan membuka pintu makin lebar,
Wang Bae pun mengintip kedalam dan bernafas lega melihat Haara baik baik saja.
"Lalu, tadi kau baik baik saja? Aku sangat kefikiran, takut kau .."
"Aku hanya bertanya tentang apa yang ia fikirkan setelah ia tahu rahasiaku, ku kira ia akan takut tapi yang ada ia menenangkan ku" jelas Yoan menatap Haara terkekeh,
"Menenangkan mu?"
"Hm, ini kedua kalinya ia menenangkanku saat fikiran traumaku menguasai fikiranku, pertama saat aku hampir membunuh seseorang yang menculiknya" jelas Yoan,
Wang Bae menepuk pundak Yoan, Yoan pun menatap Wang Bae bingung dengan senyum pria itu,
"Memang perjodohan kalian tidak salah, dia sepertinya serius ingin memahamimu" senyum Wang Bae.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
"AtHaara, bangunlah" seru Yoan menepuk nepuk pundak gadis itu.
Hari sudah menjelang pagi, jarum jam menunjukkan jam 5 pagi.
Bukannya bangun, gadis itu memiringkan tubuhnya membelakangi Yoan,
"Hei, kau harus siap siap sekolah" seru Yoan,
Haara membuka matanya tiba tiba dan menduduki dirinya,
"Jam berapa sekarang??" tanya Haara panik,
"Jam 5?"
"Hm, kau pulang ke penthouse, mandi dan siap siap kesekolah" seru Yoan,
Haara menggaruk garuk rambutnya dan tatapannya terhenti pada dua orang pria dibelakang Yoan, Yoan ikut menatap kemana arah pandang Haara.
"A apa yang kalian lihat?" tanya Haara panik dan polos
Wang Bae dan Yuu terkekeh melihat ekspresi panik dan wajah polos Haara,
"Ee Yoan~" panggil Haara menarik narik baju bagian lengan Yoan
Yoan menatap Haara,
"Apa aku berkelakuan aneh saat tidur?" bisik Haara kepada Yoan,
"Kau mendengkur" sahut Yoan santai,
"Ap apa?? Mendengkur?! Tidak mungkin!" tak percaya Haara,
Yoan bangkit berdiri,
"Yuu akan mengantarmu ke penthouse dan mengantarmu kesekolah" jelas Yoan,
"Ap apa? De dengan Yuu??!" terkejut Haara bangkit berdiri,
"Tu tunggu, tapi aku tidak pandai berbicara menggunakkan bahasa mandarin Yoan~" panik Haara
Yoan menatap Yuu dengan pandangan yang sulit Haara artikan,
"Hallo kakak ipar!" seru Yuu
Sontak Haara terkejut bukan main mendengarnya,
"Ka kau!"
"Hahahahaha!! Jika tak bisa tak perlu bicara dengan bahasa mandarin, bahasa indonesia saja, kakak ipar" jelas Yuu tertawa,
"Meresahkan diriku saja~" hela nafas Haara.
"Dia akan kuliah di Indonesia, maka dari itu ia mempelajari bahasa indonesia beberapa bulan yang lalu" jelas Yoan,
Haara mengangguk angguk paham, terdengar lancar namun logatnya yang terdengar seperti orang china pada dasarnya.
__ADS_1
"Ingat ucapanku padamu tadi" seru Yoan pada Yuu,
"Oke, ayo kakak ipar!" seru Yuu membawa tas Haara dan pergi.
●•●•●•●•●
Sesekali Haara mencuri pandang kearah Yuu yang sedang fokus mengemudikan mobil,
"Ada apa kakak ipar?" tanya Yuu yang mengetahui dirinya dipandang,
Haara langsung mengerjapkan matanya saat ketahuan,
"Mm bisa jangan memanggilku kakak ipar?"
"Hm? Kenapa? Aku suka memanggilmu dengan sebutan kakak ipar" sahut Yuu,
"Saat di sekolah nanti aku harap kamu tidak menyebutku .."
"Ah, kalau itu tenang saja, At-Haa-ra" sela Yuu mengeja nama Haara,
Haara bernafas lega,
"Kamu ini benar benar persis sekali dengan Yifan"
"Yifan? Kenapa dengan anak itu?"
"Suka sekali menyebutku kakak ipar dan suka sekali menggodaku!" sahut Haara kesal,
Yuu yang mendengarnya tertawa,
"Mungkin karena mama kami bersaudara, dan papa kami juga berasal dari keluarga besar Zhao" sahut Yuu,
"Mm, mama kalian bersaudara, lalu papa kalian pun bersaudara, bagaimana bisa?"
"Bisa saja, kalau papa kami berbeda orang tua, keluarga Zhao itu memilki banyak sekali keluarga, tak hanya di china dan di indonesia, bahkan di Jepang, Korea, dan juga benua eropa pun ada" kekeh Yuu,
"Lho kok bisa?"
"Karena mereka merantau ke negera negara lain" sahut Yuu,
Haara mengangguk paham, ia benad benar terkagum mendengarnya
"Tapi .. Aku rasa, Yoan berbeda dengan kalian" seru Haara,
"Hm? berbeda bagaimana?"
"Sikapnya dan sifatnya"
"Dulu dia juga satu server dengan aku dan Yifan, kak Yoan itu sangat ceria orangnya"
Haara mengerutkan keningnya saat mendengar cerita Yuu,
"Semenjak kak Yoan SMA, ia menjadi pemurung dan selalu menyendiri, Ia selalu mengunci dirinya di kamar" jelas Yuu,
"Apa karena traumanya?"
"Belum, Ia menghilang setelah lulus dari SMA, sejak ia ditemukkan, ia mengalami trauma yang cukup berat"
Haara terkejut,
"Lalu? Maksud dari mengurungkan diri itu ia kenapa?"
Yuu terdiam mendengarnya,
"Yuu?"
Yuu melirik Haara sebentar,
"Karena saat itu hidupnnya mulai terancam"
Haara membulatkan matanya terkejut,
"Te terancam!?"
"Hm, saat itu hidupnya penuh dengan ancaman dan kewaspadaan, sampai kak Yoan berfikir untuk berhenti sekolah dan memilih mengurung dirinya sendiri"
Haara terdiam mendengarnya, fikirannya larut sekali dalam membayangkan menderitanya Yoan saat itu,
"Namun, bibi tidak ingin melihat anaknya putus asa karena ancaman itu, jadi kak Yoan tetap sekolah dengan pegawalan yang ketat" seru Yuu,
Haara memijat pelipis nya pening,
"Kau baik baik saja?"
"Mm, kepalaku pening saat membayangkan betapa menderitanya Yoan saat itu" sahut Haara pelan,
"Itu lah yang kami fikirkan saat itu, aku benar benar sangat kasihan dengan kak Yoan yang dulu"
"Aku masih tidak paham! Mama Stephannie tidak menceritakkan detailnya padaku tentang Kenapa psikopat itu sangat ingin Yoan mati Yuu? Kenapa?? Dan siapa psikopat itu??" tuntut Haara.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
__ADS_1
...•...
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏