
"Tunggu? Jadi kak Ammar saat itu tidak ikut ke Jepang dengan Yoan??" tanya Haara merasa semuanya tak masuk akal,
Anna menatap Haara yang terlihat kebingungan.
"Tidak, selagi Yoan di Jepang karena ada urusan keluarga, Ammar di suruh Yoan untuk menggantikan pekerjaannya di kantor" jelas Anna fokus mengemudi
Haara membuang wajahnya ke arah jendela mobil, ia terkejut atas penjelasan yang ia dengar dari Anna,
Ia ingat sekali jika pria itu mengatakan jika ia akan pergi ke Jepang dengan Ammar dan akan mengurus masalah pekerjaan disana, namun alasan pria itu berbeda.
"Kakak serius, kak Ammar tak ikut ke Jepang?" tanya Haara lagi,
"Ngga Haara, masa kakak bohong, kamu ini!~, bukan berarti kemana pun Yoan pergi Ammar harus ikut loh, lagi pula bukan urusan pekerjaan juga Yoan ke Jepang" kekeh Anna,
"Lagi pula urusan perusahaan di Jepang itu tidak ada sangkut paut nya dengan Yoan lagi, karena perusahaan di Jepang sudah di pegang oleh paman Liu Zheng, papanya Yuu" jelas Anna santai,
Haara makin terkejut saat mendengarnya,
'Lalu jika faktanya ia ke Jepang karena ada urusan keluarga, kenapa ia harus berbohong padaku?' batin Haara tak percaya.
Haara meremas rok nya kuat, ia merasa jika dirinya telah di bohongi oleh pria itu,
'Sepertinya aku harus meminta penjelasan pada Yoan langsung, aku akan menemuinya sepulang sekolah, aku akan pergi ke rumah sakit' batin Haara menahan marah.
●•●•●•●•●
• • •
Bel istirahat berbunyi, Haara benar benar tak fokus sekali tadi saat belajar, ia terus kefikiran ucapan Anna tadi
'Aku ingin sekali menemui nya segera~'
"Aku ke toilet dulu ya" seru Haara bangkit berdiri,
"Tidak di antar?" tanya Alka,
"Tidak usah"
"Baiklah cepatlah kembali" seru Riza,
Haara mengangguk dan melangkah pergi.
Mood nya benar benar hancur sekali, jantungnya benar benar berdetak kencang menahan kesal, dirinya benar benar tak sabar menemui pria itu dan meminta penjelasan,
'Zhao Cheng Yuu' batinnya.
Ia jadi teringat dengan tingkah aneh Yuu yang terlihat bingung dan banyak bertanya saat ia tak mendapat kabar dari Yoan dan selalu bertanya tanggal bahkan waktu.
Ia dengan cepat mencari kontak Yuu dan menelfon pria itu,
Lorong yang sepi ia menyandarkan dirinya di dinding,
Tak lama menunggu pria itu mengangkat telfon nya.
Yuu:
"Hallo? Haara, Ada apa?"
Haara:
"Aku tak mengganggu kan?"
Yuu:
"Tidak kok, kenapa?"
Haara:
"Aku ingin mengajakmu bertemu, ada hal yang ingin ku tanyakan padamu"
Yuu:
"Sekarang?"
Haara:
"Sekarang aku masih sekolah tahu, nanti malam saja, aku akan beritahu dimana kita bertemu"
Yuu:
__ADS_1
"Ba ..ik.. lah"
Haara:
"ku tutup"
Yuu:
(Menyahut dengan deheman)
.
Haara menghela nafasnya, ia menyisir rambutnya kebelakang,
"Sepertinya Yuu tahu sesuatu, hanya dia sumber jawabanku jikalau Yoan membohongiku lagi" seru Haara pening.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Singkat waktu, jam pulang sekolah telah tiba, semua siswa pun bersorak bahagia setelah mendengar bel pulang berbunyi,
"Beli hamburger yuk, sudah lama tidak makan disana" ajak Alka,
"Baiklah ayo" setuju Riza,
"Maaf ya, aku tidak bisa, aku buru buru, lain kali saja oke" seru Haara buru buru memasukkan peralatan belajar nya ke dalam tas, ia pun memakai tas nya sambil lari keluar sekolah
"Ehh Haara~" panggil Riza
"Dari tadi Haara aneh sekali, kenapa ya?" tanya Alka pada Riza
"Entahlah" sahut Riza juga bingung.
• • •
Haara lari ke arah luar gerbang, ia pun langsung masuk ke dalam taksi yang ia pesan.
Suatu sisi ia senang akan bertemu pria itu untuk mendapat jawaban sesungguhnya dari pria itu dan suatu sisi lain ia takut mendengar penjelasan pria itu, apalagi mengingat tingkah Yuu yang aneh
'Semoga penjelasannya tidak membuatku makin kecewa, kumohon Yoan jangan buat aku kecewa' batin Haara takut.
Memakan waktu cukup lama, karena jalanan sedikit macet, membuat dirinya geram sekali, namun akhirnya ia tiba di rumah sakit dimana dokter pribadi Yoan berada.
Haara bergegas turun dari taksi, ia menarik nafas nya dan menghembuskannya, ia mencoba membuat dirinya lebih tenang
"Apa ia sudah datang ya?" serunya melihat mobil yang terparkir rapih, jalan untuk masuk ke pintu masuk rumah sakit memang melewati parkiran.
Langkahnya terhenti saat menyadari jika ada mobil yang tak asing selain mobil Yoan,
"Mobil ini .. Bukannya ini mobilnya Yuu?" tanyanya pada diri sendiri,
Haara kembali mengeceknya,
Mulai dari gantungan yang terpantul dan juga warna kursi mobil dan yang membuatnya semakin yakin, ada jaket pria itu didalam mobil,
"Aku ingat sekali, jika itu adalah jaket milik Yuu, saat itu ia memakainya saat aku dan ia pergi ke toko buku, dan juga gantungannya, aku yakin sekali, ini mobil Yuu, dan plat mobilnya juga!" seru Haara yakin,
"Yuu ada disini? Sedang apa .."
Ucapannya terhenti saat melihat Yuu menarik Yoan paksa ke arah lain,
Haara yang melihat itu pun langsung lari untuk mengejar mereka.
• • •
Haara merasa ketakutannya semakin menjadi jadi, hatinya merasa tak siap, namun kaki dan dirinya ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Haara bersembunyi di balik dinding yang menghalangi dirinya dan kedua pria bermarga Zhao itu
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Yoan datar
"Kemana kau saat itu?" tanya Yuu
"Kemana?"
__ADS_1
"Kau yang saat itu pergi ke Jepang " sahut Yuu,
"Darimana kau tahu jika aku pergi ke Jepang?" tanya Yoan
"Aku tahu dari Haara"
Yoan menatap Yuu datar
"Papaku telah memegang perusahaan di Jepang, itu tidak ada sangkut pautnya lagi denganmu bukan? Bahkan perusahaan baik baik saja di Jepang, lalu kemana kamu? Sampai tega sekali kau membohongi Haara!" tanya Yuu
Yoan membuang wajahnya
"Bahkan alasan yang kau berikan ke kak Ammar dan ke Haara itu jauh sekali, sangat berbeda jauh, Yoan!"
Yoan terkekeh
"Apa kau sekarang ingin menjadi seorang detektif, Yuu?"
"Bukan waktunya bercanda Yoan" seru Yuu serius
"Apa kau masih mempercayai omong kosong teman temanmu di Jepang? mengenai mereka bertemu dengan wanita yang mirip dengan Irene!? kau masih mengharapkan hal apa Yoan!!" teriak Yuu
Deg!
Haara membelalakan matanya, nafasnya naik turun saat mendengar ucapan Yuu
"Irene sudah meninggal Yoan, sadarlah! Bahkan kau sendiri pun melihat jasad Irene sendiri!" naik pitam Yuu
"Kenapa kau sangat ikut campur urusan rumah tangga ku?" tanya Yoan sinis
"Rumah tangga? Bahkan tak akan ada namanya rumah tangga jika salah satu dari peran rumah tangga membohongi peran kedua, contohnya seperti kau yang membohongi Haara" sahut Yuu
"Kau tak pantas menyebut kalimat itu, kau sungguh tak pantas Yoan" tambah Yuu tajam,
"Kau terlihat sangat tidak terima saat aku membohonginya, apa kau menyukai istriku?" tanya Yoan menatap Yuu dalam
"Menyukai? Ahahaha, aku sadar diri jika ia itu sudah menikah dengan sepupuku sendiri, ia sudah aku anggap adikku sendiri, aku tak gila seperti mu yang mengharapkan gadis yang sudah mati itu kembali ke dunia ini" seru Yuu menyindir
Yoan menarik baju Yuu dan bersiap untuk menghajar Yuu
Haara terkejut saat itu juga, sisi lain ia ingin memisahkan mereka, namun dirinya tidak ingin menunjukkan dirinya,
"Ingin memukulku? Bahkan kau lebih membela wanita yang sudah tak bernyawa dan berbeda alam dibanding istrimu sendiri" seru Yuu menyeringai,
Yoan langsung melepaskan cengkramannya pada baju Yuu
Yuu menatap Yoan dengan ekspresi tak dapat ditebak
"Jangan bilang" -Yuu
"Jangan bilang, kau masih mencintainya hingga sekarang??" tanya Yuu serius
Yoan enggan menjawab
Haara mengepalkan tangannya kuat, jantungnya berdegup sangat cepat, ia takut akan jawaban pria itu
'Katakan tidak Yoan ku mohon katakan kau tidak mencintainya lagi' batin Haara memohon, ia memejamkan matanya rapat rapat
"Yoan, jangan bilang .."
"Bagaimana jika aku masih mencintainya hingga sekarang? Apa itu ada urusannya denganmu?" -Yoan.
...•...
...•...
...BERSAMBUNG...
...•...
terima kasih sudah tetap stay di cetitaku😉 semoga makin kesini makin suka dengan ceritanya😍
jangan lupa di :
Like👍
tambah ke favorit❤
Rate⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
dan komentarnya💭 yang selalu aku nantikan❤