
Tubuh Haara gemetar seketika saat mengetahui siapa yang datang.
Seketika ia tersulut emosi saat melihat siapa pria di hadapannya ini.
Plak!!
Yifan, Yuu dan Yoan terkejut saat melihat Haara menampar pria itu.
Mikki yang tertampar sangat kencang pun seloyongan, karena tamparan Haara begitu keras.
"DASAR SIAL*N KAMU MIKKI!!" teriak Haara memukul-mukul tubuh Mikki dengan tenaga yang ia punya.
"AtHaara, maafkan aku AtHaara~ maaf aku telah menjebakmu, maafkan aku~" mohon Mikki yang berlutut di depan Haara.
"Aku bahkan percaya padamu itu tidak sebrengsek Zen! Tapi dengan teganya kau melakukan ini padaku!!" teriak Haara yang menangis.
"Ze-Zen mengancamku AtHaara~ aku tak punya pilihan lain~"
"Lalu menjadikanku korban?? Sial*n kamu Mikki!!!" sulut emosi Haara kembali memukul Mikki dengan tenaga yang tersisa.
Tak!
"Sudah AtHaara, hentikan, tubuhmu masih lemah." seru Yoan menahan tangan Haara.
"Aku benci dia Yoan! aku kesal karena berani-beraninya ia menjebakku, bahkan mereka bekerja sama agar Zen bisa memperkosaku Yoan, betapa takutnya diriku di ambang mencoba mempertahankan diri~" isak Haara memeluk Yoan erat.
Yoan yang mendengar itu jantungnya berdegup memancarkan rasa sakit ke sekujur tubuh nya, sangat menyakitkan.
"Kalian berdua mempermainkan ku! Kalian bukan manusia!! Aku tak akan bisa bayangkan bagaimana nasibku jika semua itu terjadi, mungkin aku akan bunuh diri karena setres, diriku telah kotor, dan telah mengkhianati Yoan!!" teriak Haara histeris.
Yoan merasa bertambah sakit di hatinya karena Haara yang menangis histeris memeluknya, ia menatap Mikki dengan tatapan kilat dan penuh kebencian, membuat Nikki ketakutan bukan main.
Tubuh Haara melemah, ia meringis memegang kepalanya.
"Akh!"
Yoan, Yifan dan Yuu terkejut saat Haara yang terlihat kesakitan memegang kepalanya.
"AtHaara, kamu kenapa??" terkejut Yoan menahan tubuh Haara yang melemah.
"Kepalaku sakit Yoan~" ringis Haara.
"Haara pasti setres karena terus kefikiran hal yang terjadi kemarin kak." seru Yuu.
Yoan yang mendengar ucapan Yuu membenarkannya.
"Lebih baik Haara beristirahat di sofa saja kak." seru Yifan.
Yoan mengangguk menyetujui.
"Aku tidak mau!" teriak Haara menolak.
"Aku ingin memberi pelajaran padanya dulu Yoan, aku ingin ia merasakan rasa sakit di hatiku~" histeris Haara mencengkram baju kemeja Yoan.
Hati Yoan hancur berkeping-keping saat melihat Haara yang seperti sekarang, rasa hatinya sangat sakit melebihi apapun.
"Yuu, Yifan, kemari kalian."
Yifan dan Yuu tentu menurut.
"Papahkan AtHaara." seru Yoan pada Yuu dan Yifan.
"AtHaara, biar aku saja yang memberinya pelajaran yang berharga dalam hidupnya." seru Yoan melepaskan pelukan Haara perlahan.
"Yo ..." -Haara.
BUGH!!
Haara, Yuu dan Yifan terkejut atas apa yang Yoan lakukan, ia memukul Mikki dengan tenaga penuh membut pria itu membentur dinding dan terjatuh.
Tubuh Haara berdiri tak seimbang melihat Yoan yang brutal itu, Yuu dan Yifan sigap menahan tubuh Haara yang hampir jatuh.
"Yo-Yoan sudah cukup Yoan, jangan kotori tanganmu lagi, sudah~" seru Haara lemah.
Yoan yang mendengar nya gerakannya terhenti.
"Uhuk!! Uhuk!!" batuk Mikki sambil meringis kesakitan di perut hingga wajahnya.
Ting Tong!
Suara bel pintu berbunyi.
"Siapa lagi?"-seru Haara lemah.
Yifan pun berinisiatif melangkah membukakan pintunya.
"Ka-kak Ammar~ kak Anna~" seru Haara terisak.
Anna yang melihat Mikki babak belur sudah paham, itu adalah ulah Yoan, adik iparnya.
Anna pun langsung melangkah cepat menghampiri Haara dan memeluknya.
Tangis Haara pecah saat itu juga di pelukan Anna.
Haara tak mengatakan apapun selain menangis di pelukan sang kakak.
"Bawa dia turun dan serahkan pada polisi." seru Yoan menatap Nikki datar.
"Uhuk! Po-polisi!!?" terkejut Mikki.
"Ammar, Yuu, Yifan, aku minta tolong pada kalian, aku serahkan pada kalian." seru Yoan menatap Yuu, Yifan, dan Ammar bergantian.
Mereka bertiga pun paham, Yuu dan Yifan membawa Mikki merangkul tubuh Mikki.
"AtHaara, ku mohon maafkan aku, jangan bawa aku ke kantor polisi AtHaara, kumohon~" mohon Mikki.
Haara tentu tak menggubrisnya, ia terus menangis dalam pelukan Anna.
Bruk!
"Ya ampun Haara!" terkejut Anna hal itu membuat Yoan pun terkejut.
Haara jatuh pingsan.
"AtHaara hey! AtHaara bangun AtHaara~" panik Yoan menepuk-nepuk lembut pipi Haara.
"Yoan, bopong tubuh Haara ke sofa!" panik Anna, Yoan pun langsung membopong tubuh Haara dan membawa nya ke sofa.
●•●•●•●•●
Suara bising terdengar samar dan semakin jelas di indra pendengaran Haara.
Perlahan ia membuka matanya.
__ADS_1
Suara perdebatan antar kakaknya dan Yoan terdengar jelas membuat ia takut mendengarnya.
"Aku tahu! Tapi Haara lakukan itu pasti karena memiliki maksud tertentu! Kepolosan Haara lah yang dapat di manfaatkan Zen dan Mikki!" seru Ammar kesal.
Haara mencari sosok Yoan di sekitar perdebatan itu.
Tatapannya terfokus pada Yoan yang berdiri di sebelah sofa yang ia tiduri saat ini.
"Lalu? Apa aku tak boleh memberikan hukuman pada nya? Sekarang itu adikmu adalah istriku, aku berhak mengambil keputusan yang aku mau saat dia buat kesalahan!" sahut Yoan emosi.
"Lalu apa yang kau lakukan padanya semalam?? Dia sampai pingsan, bahkan Haara itu anaknya tak mudah pingsan! Apa kau menyakitinya??!" tanya Anna.
"Ya, aku menyakitinya." sahut Yoan.
Ammar yang mendengarnya menarik kerah kemeja Yoan.
"Kau ...!!"
"Hentikan~"
Ammar dan Yoan sontak menatap Haara yang berusaha memisahkan mereka.
"AtHaara?? Kamu sudah siuman ternyata." seru Anna menghampiri Haara dan membantu adiknya itu duduk.
"Kak Ammar, Kak Anna, aku tak apa-apa kak." seru Haara.
"Jangan berusaha membelanya AtHaara! bahkan dia menyakitimu!" sulut emosi Ammar.
"Yoan tak pernah melukaiku kak, Yoan tak melakukan kekerasan seperti memukul, menampar, atau semacamnya kak, Yoan tidak pernah lakukan itu padaku kak Ammar~" seru Haara menjelaskan.
" ... Sungguh?" tanya Ammar.
"Tapi Yoan bilang ..."-Anna.
"Yang ku maksud adalah aku telah menyakiti perasaannya tanpa ku sadari." sela Yoan buka suara.
Anna dan Ammar yang mendengarnya pun terdiam.
"Yoan menyakiti perasaanku saat Yoan marah besar padaku, itu sungguh sangat melukai perasaanku sekali." seru Haara menunduk.
Empat orang tamu di ruang santai yang mendengarnya bernafas lega.
"Jadi hukuman yang kau lakukan pada Haara semalam beradu argumen??" tanya Anna.
"Itu ... Kalau itu ..."-Haara.
"Ya, kami beradu argumen." sahut Yoan cepat.
"Mencurigakan, tapi sepertinya kita tak perlu bertanya lebih dalam lagi." seru Yuu.
"Ya, yang penting mereka sudah damai, benarkan kalian sudah damai?" tanya Yifan.
Haara melirik Yoan di sampingnya ragu.
Srek!
"Hm, kami sudah damai." sahut Yoan mengacak-acak rambut Haara.
"Aduduh, Yo-Yoan!" kesal Haara paling tidak suka rambut nya di acak-acak, namun karena Yoan yang mengacak-acaknya di saat-saat tertentu ia merasa senang.
"Apa?"
"Rambut aku acak-acakan tahu!" seru Haara pura-pura merajuk.
"Syukurlah, aku lega melihat kalian kembali damai." lega Ammar.
"Yoan."panggil Anna.
"Hm?"
Anna menarik tangan Yoan menjauh dari yang lain.
"Kalian mau kemana?" tanya Yifan.
"Aku ingin bicara sama anak ini, empat mata, antara kakak ipar dan adik ipar." seru Anna.
• • •
Yoan mengerutkan keningnya bingung.
"Ku rasa di sini sudah agak jauh dari mereka." seru Yoan.
Anna menghentikan langkahnya, ia melipat kedua tangannya menatap Yoan tajam.
"Apa?" tanya Yoan bingung.
"Kau apakan Haara semalam?" tanya Anna menatap Yoan tajam.
Yoan megalihkan pandangannya tak berani menatap tatapan tajam Anna.
"Aku lihat di lehernya yang ketutupan rambut saat pingsan banyak sekali tanda merah, itu ulah mu atau ulah ... Zen?" tanya Anna serius.
"Tentu itu ulahku." sahut Yoan cepat.
Anna menghela nafasnya lega.
"Sungguh?" tanya Anna memastikan.
"Itu sungguh ulahku, aku yang melakukannya, jika itu ulah di perset*n itu, aku sudah mematahkan tulang leher nya, sampai kh pastikan dia tak bisa makan." seru Yoan.
"Dasar psikopat, jangan berfikir terlalu gegabah, aku tak mau adikku memiliki suami seorang tahanan, menyebalkan." seru Anna.
Yoan yang mendengarnya menyandarkan dirinya di dinding sambil tertawa.
"Hey, Yoan." kembali menatap Yoan tajam.
"Tatapanmu menyeramkan, apa?" tanya Yoan sedikit takut.
"Beraninya kau membuat kecupan di leher adikku sebanyak itu!"
Yoan yang mendengarnya kikuk.
"Maafkan aku, Itu hukuman yang ku berikan padanya, agar membuatnya sadar jika dia itu adalah milikku seorang." sahut Yoan pelan.
Anna yang mendnegarnya tertegun.
"Aku maafkan, tapi awas kau berani macam-macam padanya, jangan kau memaksanya melakukan hal itu, awas jika kau berani melakukan itu pa ..."
"Dia istriku, aku berhak melakukannya." sela Yoan.
Anna yang mendengarnya membelalakan matanya.
"Apa?! Jangan bilang kamu sudah .. Kau memaksanya??!"
__ADS_1
"Memaksa? Memaksa apa?"
Yoan dan Anna sontak menatap Haara.
"Memaksa ..."-Yoan
Tak!
"AW!!" ringis Yoan saat Anna menendang tulang keringnya, hal itu membuat pria itu jongkok meringis kesakitan, tendangan Anna sungguh membuatnya mengumpat dalam hati.
"Ahaha, ngga kok, bukan apa-apa, hehe~" tawa Anna.
"Kakak, kenapa nendang kaki Yoan??" tanya Haara menghampiri Yoan yang jongkok.
"Itu ... Itu hukuman karena dia menyakiti perasaanmu, belum saja selesai aku menghukumnya kau sudah datang." seru Anna meninggalkan mereka.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Haara.
"Kakakmu, benar-benar wanita menyeramkan." seru Yoan mengumpat.
"Dia itu kakak iparmu, tak boleh begitu." kekeh Haara.
"Dia sungguh akan menganiaya ku jika kau tak datang, menyebalkan sekali dia." gerutu Yoan.
Haara tertawa kecil mendengarnya.
"Kenapa tertawa? Kau senang melihat suamimu kesakitan begini??"
"Bukan Yoan, aku salut denganmu, kamu sepertinya tak berani melawan jika kak Anna yang berbuat seperti ini, tapi jika Yifan, Yuu, kak Ammar melakukan hal seperti ini pasti kau lebih dulu menatap mereka dengan tatapan mautmu." tawa Haara mengecek kaki Yoan.
Yoan tersenyum saat melihat Haara tertawa dan bercerita.
"Ku pastikan mereka tak akan berani berbuat seperti Anna tadi, jika mereka berani, mereka akan memohon ampun padaku." sahut Yoan.
"Kau ini menyeramkan." seru Haara.
"Kau takut?"
"Ya, aku pun takut denganmu, menyeramkan." sahut Haara tertawa.
Yoan menatap Haara tajam.
"Maaf." seru Haara menghentikan tawanya sesegera.
Haara yang tak mendapat sahutan ia perlahan melirik Yoan.
Pria itu masih senantiasa menatapnya, hal ituembuat Haara salah tingkah.
"Mmm~ Yifan, Yuu dan dan kak Ammar katanya mau main PS, boleh tidak, katanya?" tanya Haara ragu.
"..."
"mm~ Yoan?" panggil Haara semakin salah tingkah.
Haara menatap tangan Yoan yang perlahan mendekati wajahnya, dan ...
Cup!
Haara terkejut saat Yoan tiba-tiba menciumnya, namun ini bukan sekedar ciuman biasa, pria itu ******* bibirnya habis.
"Mmmph! Yoan~" panik Haara menengok ke belakangnya.
"Berani menolakku?" tanya Yoan.
"Bu-bukan begitu Yoan~" gelagap Haara takut Yoan salah tanggap.
"Lalu? Takut aku macam-macam lagi sama kamu?" tanya Yoan mengangkat sebelah alisnya.
"Ngga Yoan~ nanti kalau mereka melihat bagaimana??" panik Haara.
"Tapi kau terlihat ketakutan, kau masih takut denganku, katakan saja." sahut Yoan.
"Huwaa~ Yoan~ tolong jangan berfikir seperti itu~" rengek Haara.
"Sungguh? Jika aku mau melakukan hal seperti semalam berarti kau tak takut dong?"
Deg!
Haara yang mendengarnya hatinya seketika loncat terkejut.
'Mati aku.' -Haara.
...•...
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: "hadehh~ Yoan nih pandai membolak-balikkan topik pembicaraan nih, jadilah begini😆"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐