
Hari demi hari, minggu demi minggu dan berganti ke bulan demi bulan kini telah menginjak awal bulan Maret, hari Sabtu awal di bulan Maret.
Ujian sekolah semakin dekat, tepat di pertengahan bulan Maret ujian di laksanakan, itu membuat Haara takut sendiri dan gugup jika membayangkan ujian nya nanti.
"Yoaaan~ sebentar dulu ya~ mataku lelah~" keluh Haara kelelahan.
Yoan menghela nafasnya, ia menatap Haara yang menyandarkan punggungnya di sofa, ia akan membiarkan gadis itu istirahat sebentar.
Disaat seperti ini pekerjaan pria itu tidaklah padat, pria itu menyempatkan dan menjadikan sebuah kewajiban memberikan waktu pada Haara untuk turun tangan mengajarkan istri kecilnya belajar untuk ujian yang di adakan 9 hari mendatang.
"Kepala ku terasa berat sekali, kepalaku pusing, sepertinya setiap rumus di kepalaku sedang rebutan tempat penyimpanan~" keluh Haara memijat pelipis nya.
Yoan terkekeh.
"Kemarilah biar ku pijat." seru Yoan dengan mudah menarik tubuh Haara mendekat ke sebelahnya.
"Yoan, aku boleh tiduran dulu? Aku rasa jika tiduran akan lebih baik." seru Haara pelan.
Yoan yang mendengarnya tersenyum, karena gadisnya itu belakangan ini mengeluh tak bisa tidur alasannya karena terus bermimpi jika ia sedang ujian.
Puk! Puk!
"Kemari, tiduran di pahaku." seru Yoan menepuk-nepuk pahanya.
Gadis itu pun seketika merasa gugup.
"Ng-ngga mau."
"Hm? Kenapa? Katanya mau tidur?"
"Ta-tapi bukan di paha mu, aku tiduran ..."
"Tiduran di pahaku saja, biar aku mudah memijat pelipis mu." sela Yoan menarik Haara agar tiduran di paha nya.
Haara tak bisa menolak karena ia kini telah tiduran di paha pria itu.
Dia salah tingkah saat Yoan menunduk menatap nya lekat.
Terdengar pria itu terkekeh.
"Kenapa dengan wajahmu? Kau gugup?" tanya Yoan.
"Mmm ... I-iya." sahut Haara mengalihkan pandangannya karena Yoan terus saja menatap nya.
"Kenapa gugup, hm? Kau masih saja gugup denganku, padahal kita sudah 5 bulan bersama, ah tidak, maksudku akan 6 bulan kita bersama." seru Yoan.
"mm~ karena ini kali pertama aku tiduran di paha seorang pria, perdana nya itu Yoan, aku merasa gugup, dan juga Yoan terus menatapku, hal itu membuat wajahku merasa panas dan juga tubuhku merinding." salah tingkah Haara.
Yoan tertawa mendengarnya, Yoan mencubit hidung Haara gemas.
"Ahahahaha!! Jadi karena aku tatap ya? Tapi aku nya suka natap kamu, gimana dong?" goda Yoan menatap Haara jahil.
"Ihhh~ Yoaan~" malu Haara menutup wajahnya.
"Ughh! Gemasnyaaa~" greget Yoan menangkup kedua pipi Haara kencang.
Haara yang merasa tersiksa menduduki diri nya.
"Ihh Yoan sakittt~" rengek Haara dengan mulut maju seperti bebek.
Cup!
Yoan mencium bibir Haara yang merengek padanya.
Namun seperti biasa, Yoan selalu di buat mabuk dengan bibir mungil istrinya itu, ia akan merasa rugi jika ia hanya mengecup singkat bibir mungil gadis nya itu.
"Mmmph~ Yoan! Mulai deh~" seru Haara mendorong pelan tubuh Yoan.
Haara menatap Yoan yang terus menatapnya.
"Ja-jangan menatapku dengan tatapan ancaman untukku itu!" takut Haara.
Dengan gerak cepat Yoan kembali mencium Haara membuat Haara jatuh tiduran di sofa.
Haara membelalakan matanya saat lidah pria itu masuk ke dalam mulutnya dan memaksa ludahnya untuk bermain.
'Oh tidak! Posisi ini!' batin Haara was-was.
Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat mencoba mengimbangi permainan lidah Yoan dalam mulutnya.
Haara merasa ciuman yang Yoan berikan semakin panas dan brutal, nafas berat dan tersegal dapat ia rasakan juga dari Yoan.
Deg!
Haara membelalakkan matanya cepat saat merasakan tangan Yoan masuk ke dalam baju seragamnya,Yoan mengelus-elus perut rampingnya.
"Mph~ Yoan!" seru Haara mendorong tubuh Yoan kuat.
"AtHaara, ada apa?" tanya Yoan dengan mata sayu.
"Ti-tidak untuk yang lain se-selain ciuman." gugup Haara.
"Tapi aku menginginkannya AtHaara~" memelas Yoan.
__ADS_1
"Ak-aku tahu, ta-tapi aku sedang datang bulan Yoan." sahut Haara ragu.
"Ha? Tapi kau selalu datang bulan di akhir bulan AtHaara?" tanya Yoan curiga.
"Aku sedikit telat, ini sudah hari ketiga aku datang bulan." jelas Haara malu.
Yoan menduduki dirinya sambil memijat pelipisnya.
Pria itu kecewa.
"Yo ..."
"Jika kau sedang tidak datang bulan, apa kau akan mengabulkan keinginanku?" tanya Yoan.
Haara terdiam sejenak, Yoan yang tak kunjung dapat sahutan menatap Haara yang duduk di sebelahnya.
"Ak-aku belum siap." sahut Haara sejujurnya.
"Ah~ benar juga, lagi pula waktu itu aku yang memaksamu melakukan hal itu." seru Yoan melamun.
Haara menunduk mendengarnya, ia tak bisa berkata apa-apa, jujur saja ia sungguh belum siap melakukan hal itu lagi dengan Yoan, ia masih belum siap.
"Maafkan aku Yoan."
Yoan menatap Haara yang tiba-tiba meminta maaf padanya.
"Maafkan aku karena aku masih belum siap melakukannya, aku masih takut." seru Haara.
"Takut? Kenapa?"
"Takut jika aku hamil meski banyak cara mencegah kehamilan, aku takut jika ketakutan ku terjadi." sahut Haara mengepalkan tangannya kuat.
"aku akan merasa tenang sedikit jika aku sudah lulus." seru Haara lagi.
Yoan yang mendengarnya menarik tubuh Haara ke dalam pelukkan nya.
Cup!
Ia mengecup pucuk kepala Haara dan mengelus sayang rambut gadisnya itu.
"Aku tahu apa yang kau fikirkan, aku yang terlalu egois seharusnya aku sadar status mu dan umurmu yang terpaut jauh denganku, maafkan aku ya? karena kau selalu kebingungan menghadapi keinginan pria dewasa seperti ku." seru Yoan lembut.
Haara membalas pelukan Yoan erat, ia menghirup harum khas pria itu.
"Kita saling memahami ya? Kamu pahami aku, begitu juga aku pahami kamu, oke?" seru Haara.
Yoan terkekeh.
"Baiklah."
"Hm?"
"Aku ... mau tidur." seru Haara ragu.
"Mau tidur juga hari sudah menjelang petang, kamu mau tidur di kamar?" tanya Yoan lembut.
"Ngga, tidur di sini, di sofa."
"Ya sudah, tidurlah." senyum Yoan.
"Tapi ... mau nya tiduran sama Yoan di sofa ini." seru Haara malu.
"Tiduran di sofa ini? Sofa nya sempit seperti ini lho, pasti akan memotong jarak sekali di antara kita, kau yakin?" tanya Yoan menaikkan sebelah alisnya.
"Mmm~"
"Aku sih tak masalah, yang ada aku senang sekali, tapi kau harus berhati-hati saja denganku." seru Yoan menggoda Haara.
Haara perlahan berfikir lalu lalang, ia tak ingin hal yang hampir terjadi tadi akan terulang.
"Ahh~ kemarilah, biar aku nina bobo kan." seru Yoan menidurkan dirinya di sofa, menepuk-nepuk ruanh tersisa untuk Haara tiduran.
"Ti-tidak jadi deh." seru Haara salah tingkah, ia pun dengan cepat bangkit berdiri.
"Hey hey, mau kemana? Katanya mau tidur di sofa sama aku, kemarilah." seru Yoan menahan tangan Haara.
"Ngga jadi! aku tidur di kamar saja." gelagap Haara.
"Hahh~ aku benci di saat kau telah membuatku senang kini melunturkan rasa bahagia ku." seru Yoan kecewa.
"Ta-tapi janji jangan macam-macam!"
"Macam-macam? Bahkan kau sendiri yang harus jaga ucapanmu dan tingkah mu agar aku tak terpancing, kadang aku begitu juga karena kamu yang selalu menggodaku."
"Mana ada! Tidak perna .. Kyaaa!!"
Bruk!
Haara membelalakkan matanya saat Yoan menarik nya hingga tubuhnya jatuh menindih tubuh Yoan.
"Yo-Yoaan!"
Yoan memiringkan tubuh Haara di sudut sofa, ia tak akan biarkan Haara tidur di ujung sofa, tentu ia takut gadis itu jatuh.
__ADS_1
Glek!
Mata Haara bertemu dengan mata Yoan yang menatap nya dalam.
"Ak-aku tak akan bisa tidur." seru Haara membuang pandangannya
"Kenapa?" tanya Yoan dengan suara bariton nya.
"Su-suaramu kondisikan, merinding aku dengarnya." gugup Haara bersembunyi di dada bidang Yoan.
Yoan terkekeh mendengarnya.
"Lalu? Suara ku harus bagaimana? aku sedang bicara rendah karena kamu di pelukkanku, tak mungkin aku meninggikan suaraku." seru Yoan masih dengan suara baritonnya.
"Keterlaluan." gerutu Haara.
"Keterlaluan?"
"Ya, kau selalu mudah sekali membuat jantungku berdegup kencang, padahal hanya dengan suara berat mu itu tapi itu sukses membuatku merinding!" jujur Haara.
"Ahh~ coba aku mau dengar." seru Yoan mencoba untuk meletakkan telinganya di dada Haara.
"E-eh! Yoan ngga Yoan! Kamu! Mesum dasar mesum!!" panik Haara memeluk dirinya sendiri.
"Aku mau dengar, itu tidak adil bagiku, aku selalu memperbolehkanmu mendengar detak jantungku, tapi kenapa kamu tak memperbolehkanku??" tak terima Yoan.
"Ng-ngga boleh pokok nya! No comment!" tolak Haara lagi tersipu merah.
"Hahh~ baiklah jika tak boleh dengar, pegang boleh?" tanya Yoan tersenyum penuh arti sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Peg-pegang maksudmu??" was-was Haara.
Yoan menaik turunkan alisnya dengan tatapan mesum.
Tak!
"Ahaw~ sakit AtHaara~" cekikikan Yoan.
"Malas aku! Dasar mesum!" kesal Haara mencoba bangkit.
Tuk! Bruk!
"Ehey~ mau kemana? Tetap disini, jangan kabur." seru Yoan menarik kening Haara hingga gadis itu kembali tiduran.
"Ngga mau! Topik pembicaraanmu sudah ngga beres!" seru Haara memberontak.
"Diam, jangan harap aku melepaskan mu, lagian siapa yang mulai bahas detak jantung, hm?" seru Yoan memeluk Haara hingga membuat gerakan Haara terkunci.
"Aku cuma bicara mengenai detak jantungmu! Bukan menawarkan diri mu untuk mencoba mendengar detak jantungku!" sahut Haara cepat.
"Memangnya kenapa aku tak boleh mendengar detak jantung mu? kau melarangku juga untuk merasakan detak jantungmu menggunakan tanganku, bahkan aku sudah pernah memegang pa ..."
"YOAAAANNN!!"
...•...
...●...
...🎐Bersambung🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author: " pintarnya Yoan yang suka membulak-balikkan topik pembicaraan😆 gimana nih tanggapan di part kali ini kakak-kakak sekalian? aku mau tahu nih~ tulis di komentar ya😇😇"...
...•...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
...Sehat selalu untuk kalian semua😍😍...
...see you next tomorrow❤...
__ADS_1
🎐我的命运是赵先生🎐